The Queen Psycho

The Queen Psycho
31


__ADS_3

Pagi ini terjadi hal yang bisa dikatakan paling langka selama hidup Lexi, yaitu lari pagi di taman yang tidak begitu jauh dari rumahnya.


Lexi mengajak Amoora untuk ikut lari bersamanya, alasan Lexi adalah tubuh Amoora sudah terlihat seperti bayi panda besar yang gemuk.


Amoora yang masih ingin tidur, tidak mendengarkan kakaknya. Apakah itu dia seperti bayi panda gemuk atau bayi koala, Amoora tidak peduli.


Tapi bukan Lexi jika dia tidak bisa membuat Amoora bangun dari tidur lelapnya.


Dan saat ini Amoora sedang menatap dengan tajam Lexi yang berlari kecil didepannya.


"Ayo lari lebih cepat Amoora, jika tidak kau akan menjadi panda gemuk."Ucap lexi.


"Jika aku panda maka kakak adalah beruang gemuk!"Gerutu Amoora.


Amoora sangat kesal pada Lexi. Ini adalah akhir pekan, dan dia semalam melakukan banyak hal hingga jam 3 dini hari. Tapi dia harus bangun jam 6 pagi karena ulah kakaknya.


Lexi tertawa kecil melihat wajah Amoora yang sudah dilipat menjadi beberapa bagian itu.


"Hahaha sayang sekali Alvaro, kau akan melihat wajah masam Amoora pagi ini."


Ya, Lexi melakukan itu agar Amoora dan Alvaro bisa bertemu. Karena Alvaro berkata jika Amoora tidak memberikannya satu kesempatan pun untuk menjalin hubungan dengan dirinya tanpa alasan apa-apa.


Lexi yang tahu bagaimana Amoora memutuskan untuk membantu Alvaro.


"Kak, aku sangat ngantuk. Kau lari saja sendiri aku akan duduk disini."Ucap Amoora sambil duduk disebuah kursi yang ada di taman.


"Tidak, kau harus ikut lari."


Lexi menarik tangan Amoora agar dia bangun dan kembali berlari (walaupun sejak tadi Amoora hanya berjalan dengan malas).


Tidak jauh dari tempat mereka, Lexi melihat Alvaro yang sedang berlari mendekati mereka.


Amoora yang setengah mengantuk tidak memperhatikan siapa saja orang yang dia lewati maupun orang yang ada didepannya, dia hanya mengikuti kakaknya dibelakang.


"Selamat pagi tuan Alexander."Sapa Alvaro.


"Pagi juga, selain dikantor atau pertemuan bisnis, tidak bisakah kau memanggil namaku seperti biasa?"


"Hahaha baiklah."


Alvaro memperhatikan wajah Amoora yang kesal namun sambil menahan kantuk setengah mati dibelakang Lexi.


"Apa kau menyeretnya saat dia masih tidur?"Tanya Alvaro.


"Iya."


"Kau tidak perlu melakukannya."


"Tidak apa-apa, dia...."


"Kakak apakah sudah selesai larinya. Aku benar-benar ingin tidur."Ucap Amoora dengan nada kesal namun sedikit merengek.


"Belum, kau cobalah buka matamu dan siapa yang berdiri didepan ku."


Amoora mencoba menyadarkan dirinya dari kantuk dan membuka matanya lebar-lebar.


"Tuan muda... Fernandez?"


"Selamat pagi nona Amoora Alexander."


Amoora menatap kedua pria didepannya secara bergantian.


"Kalian, apa kalian sudah..."


"Ayo kita duduk kursi itu, bukankah kau ingin istirahat."Ucap Lexi memotong ucapan Amoora agar tidak berkata macam-macam (walaupun memang benar😁)


"Aku ingin pulang."

__ADS_1


"Amoora, sangat jarang kita melakukan lari pagi. Lihatlah dirimu yang sudah penuh lemak ini."


Amoora melirik tajam pada Lexi. Tubuhnya begitu kecil tapi kakaknya malah berkata jika dia penuh lemak dan seperti panda gemuk.


Mendapat serangan mata yang memakutkan itu, akhirnya Lexi mengaku jika dia merencanakan lari pagi ini agar bisa mempertemukan Amoora dengan Alvaro.


"Kau tidak perlu melakukannya kak."


"Kakak tahu, tapi cobalah kalian saling terbuka. Oke."


Amoora mendengus kesal.


"Aku akan menunggu kalian disana, bicara baik-baik."


Lexi menepuk bahu Alvaro sebelum dia berlari dengan kencang meninggalkan Amoora dengan Alvaro.


"Kita duduk disana."Ajak Alvaro.


"Tuan muda Fernandez, bukankah kemarin saya sudah mengatakan kepada anda jika saya...."


"Saya tahu."Sela Alvaro.


"Tapi apa nona Amoora tahu, jika semakin kuat anda mendorong laki-laki yang sudah menyukai anda, maka kelak anda akan lebih menyayanginya."


"Apa selama beberapa hari ini tuan Alvaro membaca buku panduan mengejar seorang wanita?"


"Tidak."


Amoora tidak tahu kenapa laki-laki didepannya saat ini sangat keras kepala seperti kakaknya, Lexi.


"Sudahlah, tuan muda Fernandez. Saya tidak ingin berdebat dengan anda."


Amoora berbalik dan akan melangkah pergi, tapi tangan Amoora ditarik.


Tubuh Amoora langsung masuk kedalam pelukan Alvaro, Amoora diam.


Amoora mendengar setiap perkataan Alvaro, dia juga mendengar suara detak jantung Alvaro yang sangat cepat dan keras.


"Tolong lepaskan saya tuan muda Fernandez."


"Tidak, sebelum kau memberiku kesempatan."


Amoora bertambah kesal oleh Alvaro, dia lalu menginjak kaki Alvaro dengan kencang.


"Aaaagh."


Amoora mendorong tubuh Alvaro dan berhasil terlepas dari pelukannya.


"Aku sudah pernah mengatakannya padamu, jika aku tidak bisa. Jadi tolong tuan muda Fernandez jangan melakukan hal seperti itu lagi."


Amoora pergi meninggalkan Alvaro yang sedang menahan rasa sakit pada kakinya yang di injak oleh Amoora.


"Nona Amoora tunggu, nona!"


Amoora tidak mau mendengarkan teriakan Alvaro yang memanggil namanya, Amoora terus berjalan hingga dia tidak terlihat lagi oleh Alvaro.


Melihat adiknya pergi, Lexi yang sejak tadi mengamati dari jauh langsung berlari menghampiri Alvaro.


"Kau baik-baik saja?"Tanya Lexi sambil menepuk bahu Alvaro.


"Aku tidak apa-apa. Tapi bisakah kau menceritakan padaku tentang dia? Aku mungkin tidak bisa menghadapinya jika aku tidak tahu apa yang ada didalam pikirannya."


Lexi menghela nafas pelan, dia lalu menuntun Alvaro dan mereka duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka.


"Apa kau benar-benar tidak akan meninggalkan Amoora jika kau tahu siapa Amoora sebenarnya?"Tanya Lexi dengan serius.


"Aku tidak akan menelan ucapaku yang sudah keluar mulut ku, Lexi. Kau tahu itu."

__ADS_1


Lexi menatap lurus kedepan.


"Amoora, dia adalah seorang mafia. Ketua dari salah satu kelompok mafia."


Alvaro menatap Lexi tidak percaya.


"Kau sedang tidak bercanda bukan?"


Lexi menatap Alvaro "Aku berkata yang sebenarnya."


Alvaro diam, dia lalu ingat jika semua informasi tentang Amoora yang seolah ditutupi denga rapat. Hanya informasi yang sudah dia dapatkan yang dia tahu.


Sekarang mendengar sendiri dari Lexi siapa Amoora, dia jadi mengerti kenapa informasi tentang Amoora sangat sulit didapatkan.


"Dia hidup bersama dengan keluarga yang tidak menginginkannya. Bahkan teman-temannya meninggalkan dia karena ibu dan adik tirinya menghasut keluarga teman-temannya agar menjauh dari Amoora. Mungkin itu yang menyebabkan dia takut untuk dekat dengan orang lain. Takut kau akan meninggalkannya setelah tahu siapa dia seperti teman-temannya."


Alvaro mengangguk mengerti.


"Terima kasih, sepertinya aku sudah tahu bagaimana harus menghadapi adikmu."


Lexi menepuk bahu Alvaro "Jika kau sudah tahu, maka lakukan yang terbaik dan jangan pernah membuatnya merasakan sakit yang pernah dia rasakan dulu."


"Tentu saja. Percaya padaku, aku tidak akan melakukan itu pada Amoora."


Lexi mengangguk dan tersenyum.


"Amoora, aku harap kamu mau membuka dirimu untuk orang lain."


Lexi berdiri "Baiklah, dia pasti sudah menungguku di mobil dengan wajah kesalnya."


"Itu pasti. Dia pasti marah karena ini."


"Yaah ini semua memang salahku yang tidak mengatakan lebih dulu."


"Yasudah, cepat temui dia. Jika tidak adikmu akan semakin marah."


"Iya. Oke aku tinggal."


Alvaro mengangguk.


Lexi berlari meninggalkan Alvaro menuju mobilnya yang dia parkir diluar taman.


Benar saja, didalam mobil Amoora sedang duduk sambil melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap Lexi yang baru saja membuka pintu mobil.


Lexi yang mendapatkan tatapan itu merasa seperti dejavu, dia seolah melihat Alice yang sedang marah padanya.


"Kenapa mereka berdua sangat mirip saat marah."


Lexi masuk kedalam mobil dan duduk disamping Amoora tanpa mengucapkan apapun.


Mobil melaju menuju rumah keluarga Alexander.


"Jadi katakan kenapa kakak melakukan itu?"Tanya Amoora dengan datar.


"Amoora, sudah waktunya kamu membuka dirimu untuk orang lain. Setelah semua selesai kau tidak mungkin akan terus hidup sendirian."


"Aku mempunyai anak buahku di mansion. Aku tidak akan sendirian."


"Aku tahu, tapi kelak mereka akan menikah dan mempunyai keluarga. Walaupun mereka masih bekerja denganmu tapi..."


"Kak, aku hanya ingin melihat keluarga itu menderita bahkan hancur. Untuk urusan seperti ini, aku belum memikirkannya sama sekali."


"Jadi, apa setelah ini semua selesai kau akan..."


"Aku belum tahu."


Lexi diam, dia mengerti bagaimana rasanya hidup seperti Amoora. Rasa trauma yang begitu pahit akan selalu membayangi kehidupannya.

__ADS_1


Hanya saja Lexi ingin Amoora sedikit demi sedikit membuka dirinya untuk dunia luar yang berbeda dan mau membuka dirinya dengan orang lain.


__ADS_2