The Queen Psycho

The Queen Psycho
52


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini negara Z di gemparkan oleh berita Alvaro Fernandez bersama dengan seorang wanita disebuah pesta.


Ya, berita itu terus mendapatkan berbagai macam tanggapan. Terlebih mereka tahu siapa wanita yang bersama dengan Alvaro didalam berita itu, siapa lagi jika bukan Amoora Alexander.


Foto yang ada dalam berita itu adalah foto dimana Alvaro tengah memberikan jus pada Amoora dan ketika Alvaro sedang menyentuh pipi Amoora saat dipesta pamannya kemarin.


Berita itu sendiri pasti sudah mendapatkan izin dari Alvaro, karena tidak akan mungkin mereka berani mempublikasikan berita tentang kehidupan pribadi seorang Alvaro secara langsung.


Disisi lain Alvaro sangat senang dengan berita itu, tapi tentu saja tidak bagi Amoora. Saat ini dia sedang menahan kesal karena berita-berita itu.


Ditambah kakaknya tidak mau membantunya untuk memblokir berita itu dengan alasan itu adalah urusan Alvaro bukan urusannya.


Lexi memang sengaja tidak mau membantu Amoora, karena dia ingin kedua orang itu sering berkomunikasi. Ya walaupun dia harus menahan telinganya karena teriakan dan seruan Amoora pada Alvaro.


Amoora akhirnya menemukan cara untuk menyingkirkan berita dan memblokir beberapa media yang sudah menyebarkan berita tentangnya dan Alvaro itu.


Dengan cepat Amoora masuk kedalam ruang kerja dan menguncinya.


"Alvaro, kau sendiri yang memancingku untuk melakukannya."


Jemari Amoora bergerak dengan lincah diatas keyboard, dia mencoba mengambil alih semua komputer dari beberapa media itu, dia juga tidak lupa melakukan hal yang sama pada komputer perusahaan Alvaro.


Kurang dari satu jam Amoora berhasil melakukan keinginan, dia tersenyum puas melihat hasil kerjanya.


Sementara Amoora tersenyum senang. Alvaro didalam perusahaan bingung karena tiba-tiba semua komputer diperusahaannya tidak bisa digunakan.


Tim IT diperusahaannya pun tidak bisa melakukan apa-apa.


"S*alan, sebenarnya siapa yang melakukan semuanya.!"


Alvaro kalang kabut, karena ini sudah lebih dari dua jam. Dan jika terus seperti ini akan membuat perusahaannya mengalami kerugian yang besar.


Dengan kepala yang hampir pecah karena dirinya juga tidak bisa memecahkan kode rahasia milik Amoora, akhirnya dia menghubungi Lexi untuk meminta bantuan.


"Lexi."


"Kenapa, tumben sekali?"


"Semua sistem komputer di perusahaanku tidak berfungsi. Sepertinya ada seorang hancker yang ingin bermain denganku."


"Bukankah kau sangat pintar, kenapa kau tidak membobol kodenya."


"Aku sudah mencoba tapi tidak bisa."


"Coba katakan kodenya seperti apa padaku."


"4M0X...."


"Tunggu, kode ini...."


"Ada apa, kau tahu kode itu?"


"Hahaha, maaf aku tidak bisa membantumu."


"Lexi."


"Ya aku tidak bisa, tapi mungkin Amoora bisa membukanya."


"Amoora?"


"Iya, sepertinya berita tentang dia dan kamu beberapa hari ini sudah membuatnya kesal."


"Jadi maksudmu...."


"Ya... Itu adalah kode khusus yang Amoora buat. 4 kode pertama adalah kode untuk jati dirinya, tapi kode berikutnya hanya dia yang bisa membuka."


"Kau sedang tidak berbohongkan?"


"Tentu saja tidak, karena aku juga pernah mengalami yang kau alami saat ini."

__ADS_1


"Jadi kau juga?"


"Iya, kau pasti belum tahu jika kehebatan Amoora dalam hal menyadap, dan yang lainnya."


"Iya."


"Ah, dia juga seorang hacker handal. Belum ada satu orangpun yang bisa memecahkan kode yang dia buat. Itu kenapa aku berkata untuk tidak membuatnya kesal, karena akan sulit meredakan emosinya."


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Datangi dia dengan makanan kesukaannya."


"Makanan kesukaan?"


"Iya. Jangan bilang kau tidak tahu."


"Aku memang tidak tahu, dia sangat misterius."


"Hahahaha. Aku tidak percaya seorang Alvaro Fernandez akan mengalami hal seperti ini,hahaha."


"Diamlah! Cepat beritahu saja."


"Baiklah, bawa kue kering jahe, kue coklat almond dan green tea dengan madu."


"Hanya itu."


"Iya, tapi semua itu harus membelinya di kota A."


"Apa? Kenapa jauh sekali."


"Itu satu-satunya toko yang sering dia datangi dengan ibunya dulu dan toko itu juga satu-satunya toko dengan kue jahe terenak di negara Z ini."


"Hmm, baiklah aku mengerti. Tapi jika dia tidak mau?"


"Aku tidak tahu, selama ini hanya itu yang aku lakukan untuk Amoora jika dia kesal."


"Kau ini, bagaimana bisa kau tidak tahu? Kau adalah kakaknya."


"Ayolah Lexi."


"Amoora orang yang sulit ditebak, kau bawa saja dia ke toko kue di kota A. Lalu bicara pelan-pelan dengannya."


"Baiklah, aku mengerti."


Alvaro tidak menyangka jika semua ini adalah ulah Amoora yang sedang kesal padanya.


"Jika aku tahu, aku tidak akan pernah membiarkan berita-berita itu keluar."Gerutu Alvaro.


Tanpa menunggu lagi, Alvaro bergegas meninggalkan perusahaan untuk menemui Amoora di mansionnya.


Dengan cepat Alvaro pergi ke mansion, dia harus bisa membuat Amoora tidak lagi kesal dan marah padanya.


"Benar-benar tidak terduga, jika semua ini dia yang membuat."


Alvaro menghubungi Daniel untuk memberikan perintah pada beberapa media agar mereka tidak lagi menyebarkan berita-berita itu, tapi tanpa diduga oleh Alvaro jika beberapa media itu juga mengalami hal yang sama seperti dirinya.


Apa yang terjadi hari ini membuat Alvaro semakin mengerti bagaimana Amoora, dan bagaimana cara dia untuk bisa mendapatkan hati Amoora tanpa membuatnya kesal lagi.


Sampai didepan mansion, Alvaro langsung turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam mansion lewat pintu samping karena dia mendengar kebisingan disana.


Mata Alvaro tidak berkedip saat melihat Amoora sedang memperlihatkan tektik menembak dengan menggunakan dua pistol di tangan kanan dan kirinya pada anak buahnya.


Dor


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


Suara tembakan saling bersautan di udara, Alvaro reflek menelan ludahnya melihat aksi Amoora itu.


"Baiklah, kali ini kalian harus bisa melakukannya dengan baik. Latihan selanjutnya didalam ruangan saja. Sepertinya salju sudah mulai turun lagi."Ucap Amoora yang semakin pelan diakhir kata.


"Baik bos."


Amoora memberikan dua pistol itu pada Albert dan berjalan kearah mansion.


Langkah Amoora terhenti saat melihat Alvaro berdiri didepan pintu samping dan tengah melihat kearahnya.


"Sepertinya tuan muda Fernandez sangat senggang akhir-akhir ini, jadi bisa datang sesuka hati."Ucap Amoora.


"Bagaimana aku tidak senggang, seseorang sudah membuat semua komputer di perusahaanku mati."


Amoora mengacuhkan Alvaro dan terus berjalan masuk kedalam mansion.


Alvaro mengikuti Amoora masuk kedalam, dia lalu memeluk Amoora dari belakang.


"Aku minta maaf karena sudah membuatmu kesal dan marah."Ucap Alvaro lembut.


Amoora hanya diam.


"Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membuatmu bahagia denganku, aku juga tidak tahu harus berbuat apa agar kau selalu merasa nyaman disisiku. Aku.. aku..."


Alvaro tidak melanjutkan ucapannya dia memper-erat pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Amoora.


"Apa ini salah satu cara agar aku melepaskan perusahaanmu?"


Alvaro menggeleng pelan.


"Tidak, aku tidak apa-apa jika perusahaan itu hancur. Tapi kau harus mengurusku setelahnya."


"Apa kau sudah gila! Itu tidak mungkin."


"Aku memang sudah gila, semua karena aku tidak tahu harus berbuat apa didepanmu. Aku selalu merasa ingin melakukan yang terbaik untukmu, tapi aku justru selalu membuatmu kesal dan marah."


Amoora tertegun mendengar semua itu, dia tidak menyangka jika seorang Alvaro yang terkenal kejam dalam dunia bisnis juga bisa mengatakan hal yang seperti itu. Ditambah dia berkali-kali meminta maaf pada Amoora.


"Lepaskan aku, aku tidak bisa bergerak."


"Aku tidak akan melepaskanmu."


"Apakah begini sikap seorang presdir terkenal?"


"Aku bilang aku tidak akan melepaskanmu, aku juga tidak peduli dengan ucapan orang lain."


Amoora menarik nafas dalam lalu membuangnya.


"Jika kau tidak melepaskanku, bagaimana aku bisa membebaskan perusahaan mu?"


Alvaro diam, dengan pelan dia terpaksa melepaskan pelukannya.


"Kau tunggu disini."


Amoora berjalan dengan cepat ke ruang kerjanya, dan Alvaro menuruti ucapan Amoora untuk menunggunya.


Tidak sampai 10 menit Amoora keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri Alvaro.


"Sudah selesai, sekarang ayo pergi."


"Pergi?"


"Iya, kak Lexi bilang kau akan membawaku ke toko kue kering jahe di kota A."


Wajah Alvaro bersinar, senyumnya kembali terlihat.


"Ayo."


Alvaro dan Amoora pergi ke kota A.

__ADS_1


Ternyata sebelum Alvaro datang ke mansion, Lexi sudah memberitahu jika Alvaro akan datang dan membawanya ke toko kue itu. Lexi juga menasehati Amoora agar lebih bisa menahan emosinya yang sering meledak.


__ADS_2