
Setelah kejadian di perusahaan alvaro, sekarang hubungan mereka semakin baik. Meski Amoora belum menerima Alvaro sepenuhnya, tapi untuk sekarang dia sudah tidak lagi bersikap dingin seperti sebelumnya.
Mereka juga beberapa kali pergi bersama walau dengan alasan pekerjaan, setidaknya Amoora sudah mau memenuhi ajakan Alvaro untuk makan diluar bersama.
Siang ini Alvaro menjemput Amoora di perusahaan A.L Group untuk makan siang bersama, kali ini tanpa sepengetahuan Amoora dia datang kesana.
Resepsionis yang sudah tahu Alvaro langsung mempersilahkan dia untuk naik kelantai atas tanpa menanyakan janji temu padanya terlebih dulu.
Di lantai atas Alvaro sedang berdiri didepan pintu ruang kerja Amoora, tapi saat dia akan membuka pintu tiba-tiba dia mendengar suara gebrakan meja dari dalam dan suara teriakan Amoora yang sepertinya sedang memarahi karyawannya.
Selama ini Alvaro tidak pernah mendengar atau melihat Amoora membentak orang lain seperti saat ini, mungkin karena karyawan yang ada didalam melakukan hal yang membuat Amoora emosi, maka dia seperti itu.
Alvaro hanya bisa menunggu diluar bersama dengan sekertarisnya, karena jika dia masuk pasti dia akan ikut terkena bentakan Amoora.
10 menit kemudian dua orang karyawan keluar dari ruang kerja Amoora sambil menunduk, wajah mereka terlihat muram dan ketakutan.
Alvaro yang melihat itu hanya bisa diam, didalam dunia bisnis jika ingin maju dan berdiri stabil maka dia harus kuat, disiplin dan jujur.
'tok tok tok'
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Alvaro masuk kedalam ruang kerja Amoora. Disana Alvaro melihat Amoora sedang berdiri didepan jendela besar menatap gedung perusahaan yang lain.
Alvaro menutup kembali pintu ruangan lalu berjalan mendekati Amoora.
Dipeluknya wanita yang tengah marah itu dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan padanya.
"Apa kau sudah makan?"Tanya Alvaro pelan.
Amoora diam, dia masih berusaha untuk menekan emosinya yang sempat meluap tadi.
Alvaro yang mengetahui itu diam, dia lalu menarik tubuh Amoora agar bersender padanya.
"Kata orang ini bisa meredakan emosi kita."Ucap Alvaro lagi.
Amoora masih diam, dia membiarkan Alvaro melakukan itu karena dia sedang malas berdebat dengan siapapun.
Beberapa saat kemudian Amoora menjauhkan dirinya dari Alvaro.
"Aku bosan."Ucap Amoora.
"Aku tahu toko kue yang tidak jauh dari sini."
"Aku sedang tidak ingin makan apapun."
"Jadi lakukan apa yang kau ingin lakukan sekarang."
Amoora menatap Alvaro yang kemudian diangguki oleh Alvaro meyakinkan Amoora.
"Baiklah kalau begitu."
Alvaro melepaskan pelukannya lalu melihat Amoora berjalan kearah meja kerjanya dan mengambil tas miliknya.
"Kita akan kemana?"Tanya Alvaro.
"Jika kau mau ikut, maka ikut saja."
Amoora berjalan kearah pintu yang disusul oleh Alvaro yang setengah berlari menyusul Amoora lalu menggandeng tangannya keluar dari perusahaan.
Alvaro membawa Amoora ke suatu tempat dimana Amoora tunjukan. Sampai disana Alvaro mengerutkan keningnya karena saat ini mereka tengah berada disebuah surkuit mobil balap.
Amoora berjalan kearah pintu masuk.
"Apa kau tidak mau ikut?"
"Tunggu."
Alvaro menyusul Amoora yang sudah membuka pintu, tentu saja dengan kartu anggota khusus tempat mobil balap itu.
Ternyata Amoora sering mendatangi sirkuit mobil balap ini jika dia sedang meluapkan emosinya.
"Amoora!"Panggil seseorang.
Amoora melambaikan tangan pada seorang laki-laki yang memanggilnya.
"Sudah lama kau tidk kesini, aku pikir kau tidak akan kesini lagi."
__ADS_1
"Aku sibuk akhir-akhir ini."
"Apa kau ingin coba lagi?"
"Apa ada lawan?"
"Tentu saja, untukmu akan selalu ada."
"Hahaha baiklah kalau begitu."
Amoora akan mengikuti laki-laki itu, tapi tangannya diraih oleh Alvaro yang sejak tadi diam dibelakangnya.
"Apa kau akan balapan?"Tanya Alvaro.
Amoora mengangguk "Iya."
"Amoora, itu sangat berbahaya."
"Ayolah, aku sudah sering melakukannya. Hanya satu putaran."
Alvaro tetap menggenggam tangan Amoora dengan erat, dia tidak berniat melepaskannya dan tidak akan membiarkan Amoora melakukan hal yang berbahaya.
"Alvaro, kau sudah berkata jika aku bisa melakukan apa yang aku inginkan untuk meluapkan emosiku. Iya kan?"
"Tapi bukan dengan ini, Amoora..."
"Hanya satu putaran, aku sudah mendapatkan lawan."
Alvaro menatap Amoora dengan tidak suka.
"Jika kau tidak suka, kau bisa pulang. Aku bisa kembali sendiri."
Alvaro tidak menjawab, dia menarik tengkuk Amoora dan
'cup'
Satu kecupan mendarat dengan indah pada bibir tipisnya.
"Hanya satu putaran."Ucap Alvaro.
"Itu hukuman kecil karena berani menentangku."
"Hei tuan muda Fernandez, aku sudah bilang jika kau tidak suka kau bisa pulang. Jadi untuk apa kau melakukannya?"
"Untuk memberitahu mereka, jika kau milikku dan mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mendekatimu."
Amoora menoleh ke belakang dan ternyata disana ada beberapa orang yang melihat Alvaro mengecup bibir Amoora.
"Kau sengaja?"
Alvaro mengangguk enteng lalu membelai kepala Amoora "Lakukan dengan baik, dan jangan sampai melukai dirimu."
Amoora mengangguk lalu berbalik dan berjalan menjauh dari Alvaro.
Alvaro memilih tempat duduk yang bisa melihat arena balap dengan jelas.
Dari tempat Alvaro duduk, dia melihat Amoora keluar dari dalam ruangan. Dia sudah mengenakan pakaian khusus untuk balapan lengkap dengan helm nya.
"Apa lagi yang tidak aku ketahui dari dirimu Amoora?"
Sebelum bertanding, Amoora terlebih dulu memeriksa mobilnya. Dia tentu tidak mau melakukan kecerobohan sebelum bertanding dengan tidak memeriksa mobil yang akan dia pakai.
Setelah selesai dan merasa semua oke, Amoora masuk kedalam mobil sport miliknya.
Lawan Amoora pun sudah siap didalam mobil.
Tatapan mata Amoora lurus kedepan, dia menekam gas mobil beberapa kali sambil menunggu lampu hijau menyala didepannya.
Brummm
Brummm
Merah
Kuning
__ADS_1
Hijau
Mobil sport yang Amoora kemudikan melesat diatas sirkuit dengan indah, belokan demi belokan yang ada di sirkuit dia lewati dengan baik.
Alvaro yang baru pertama kali melihat Amoora balapan terpana dan juga khawatir, karena Amoora melakukannya dengan begitu cepat.
Selama ini Lexi juga tidak pernah berkata jika Amoora sangat handal dalam bermain diatas sirkuit seperti saat ini.
Waktu satu putaran yang Amoora lakukan adalah 5 menit 60 detik, dengan kecepatan 120km/jam.
Semua orang bersorak saat Amoora melesat dengan cepat dan melewati semuanya dengan bagus seperti biasa.
"Waah! Kau sangat luar biasa. Aku pikir kau akan lupa bagaimana cara berbelok dengan indah disana."Ucap teman laki-laki nya Amoora.
"Hahaha bagaimana mungkin aku lupa dengan itu. Sirkuit ini memberiku rasa nyaman tersendiri, aku merasa menjadi diriku sendiri untuk beberapa saat."
"Kau sangat hebat, kau yang terbaik."
Amoora dan teman-temannya tertawa bahagia.
Alvaro yang melihat wajah bahagia Amoora hanya bisa berdiri disudut sambil melipat kedua tangannya diatas dada.
Amoora melihat Alvaro disana lalu berjalan mendekati Alvaro.
"Kau sudah melihatnya?"Tanya Amoora.
"Iya, kau sangat hebat. Aku sampai terpukau."
Amoora hanya tersenyum mendengar pujian Alvaro.
"Sekarang ganti pakaian mu, aku ingin makan."
"Baiklah tunggu disini."
Alvaro mengangguk.
Amoora pergi mendekati teman-temannya untuk berpamitan karena dia harus melakukan sesuatu yang lain. Setelah itu Amoora masuk kedalam sebuah ruangan untuk berganti pakaian.
Saat Amoora berganti pakaian, seorang laki-laki berjalan mendekati Alvaro.
"Maaf, apa kau teman Amoora?"Tanya laki-laki itu.
Alvaro menggelengkan kepalanya "Bukan, aku kekasihnya."
"Kau... Kekasihnya, sejak kapan? Aku tidak pernah tahu Amoora punya kekasih."
"Sejak satu minggu yang lalu."
Laki-laki itu diam.
"Aku tahu kau menyukainya, jadi aku minta agar kau menjauh darinya dan tidak berharap padanya."
Laki-laki itu sedikit terkejut karena Alvaro mengetahui jika dia menyukai Amoora. Tapi sekarang Amoora sudah mempunyai kekasih, jadi tentu dia tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya lagi.
Amoora keluar dari ruangan dan melihat Alvaro sedang berbicara dengan temannya.
"Apa yang kalian bicarakan, sepertinya sangat serius."
Alvaro tersenyum lalu mengusap kepala Amoora.
"Kau sudah selesai?"
Amoora mengangguk.
"Kalau begitu ayo."
Amoora melihat kearah temannya "Aku pergi dulu, terima kasih untuk hari ini."Ucap Amoora pada temannya.
"Ah, iya. Aku harap kau bisa sering kesini lagi."
"Iya."
Alvaro menggandeng tangan Amoora lalu mereka berjalan keluar dari area sirkuit itu.
Amoora melihat ada yang aneh pada Alvaro setelah berbicara dengan temannya, tapi dia tidak ingin ikut campur dengan urusan Alvaro jadi dia hanya diam dan berjalan keluar dengan Alvaro.
__ADS_1