The Queen Psycho

The Queen Psycho
45


__ADS_3

Sehari setelah Alvaro datang kerumah keluarga Alexander, Amoora sering melamun sendirian dikamar. Seperti sekarang ini, dia lebih memilih untuk diam dikamar selesai makan.


Amoora melihat ponselnya, membaca sebuah pesan yang ada dilayar ponselnya berkali-kali.


"Hah. Sebenarnya apa mau mu, tidak bisakah kau melepaskan aku?"Gumam Amoora.


Flashback on


Amoora yang masih tidur tidak tahu jika ada seseorang didepannya sedang memperhatikan dirinya terlelap.


Sampai sekitar 25 menit kemudian Amoora baru bangun, dan melihat orang yang tak dia duga berada didepannya.


"Kau, bagaimana bisa kau masuk ke kamarku?"Ucap Amoora dengan terkejut.


Alvaro tersenyum "Kakak mu memintaku untuk menunggu mu didalam, dan dia bilang kau masih tidur."


"Kak Lexi!"Gumam Amoora dengan kesal.


"Maaf kalau sudah membuatmu tidak nyaman, bagaimana keadaan mu?"


"Terima kasih, berkat orang yang menyukai tuan muda Fernandez keadaan saya jadi seperti ini."


"Aku minta maaf, aku tidak tahu jika wanita itu akan melakukan hal ini padamu."


"Jika anda ingin saya memaafkan anda, lebih baik anda sekarang keluar dan tidak perlu lagi menemui saya."


"Nona Amoora, tidak apa-apa jika kau tidak bisa memaafkan saya. Tapi tolong jangan meminta saya untuk menjauhi anda."


"Tuan muda Fernandez."


"Aku tahu jika kita baru beberapa kali bertemu, tapi aku benar-benar mempunyai perasaan tersendiri denganmu. Aku ingin selalu melindungimu dan selalu ingin memelukmu ketika kamu dalam masalah."


"Lelucon anda tidak lucu tuan."


Alvaro tiba-tiba berlutut, diam menatap kedua mata Amoora dengan lekat.


"Aku tidak pernah bermain dengan perasaan orang lain, aku tahu bagaimana rasanya dihianati dan ditinggalkma oleh orang yang kita sayangi. Aku juga tahu kau pasti tidak percaya dengan perasaanku, jadi nona Amoora Alexander. Aku akan mengejarmu dan membuktikan jika aku sangat menyukaimu, kau akan melakukan semuanya sampai kau bisa melihat dan menerima perasaanku yang benar-benar ingin memiliki dan melindungimu."


Amoora terkejut melihat Alvaro yang tiba-tiba berlutut dan mengatakan hal diluar dugaannya.


"Tuan muda Fernandez, ada banyak wanita hebat yang bisa anda pilih. Bahkan mereka juga rela melakukan segalanya bersama dengan anda, jadi..."


"Aku tidak menginginkan mereka. Aku hanya ingin kamu."


Deg


Deg


Jantung Amoora tiba-tiba berdetak dengan kencang, laki-laki yang ada didepannya sudah membuat dirinya menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.


Alvaro melihat wajah Amoora yang begitu cantik, walaupun dia masih sedikit pucat.


"Beri aku kesempatan, aku mohon."Ucap Alvaro lagi.

__ADS_1


Amoora diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Alvaro.


Melihat Amoora diam, Alvaro berdiri dan mencondongkan sedikit tubuhnya pada Amoora, dan...


'Cup'


Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Amoora. Dan itu membuat Amoora terkejut namun tidak mendorong Alvaro untuk menjauh.


"Aku pulang dulu, besok aku akan kesini lagi."


Amoora masih tidak menjawab, dia menatap Alvaro dengan tatapan yang penuh tanya.


"Karena kau terus diam, maka aku anggap kau menyetujuinya."


Alvaro mengelus kepala Amoora dengan lembut sebelum dia keluar dari kamar Amoora.


Flashback off


Amoora menggelengkan kepalanya mengingat apa yang sudah terjadi pada mereka berdua kemarin.


"Harusnya aku mendorong dia kemarin dan berkata padanya agar tidak perlu datang lagi."Gerutu Amoora.


Amoora yang masih tidak bisa leluasa karena kakinya hanya bisa duduk diatas ranjang saat merasa kesal seperti saat ini.


Karena tidak ada hal ingin dia lakukan, Amoora hanya tiduran didalam kamarnya.


'tok tok tok'


Suara ketukan membuat Amoora yang baru saja akan memejamkan mata kembali terbuka lebar.


"Letakkan saja diluar dulu."


"Tapi tuan Lexi bilang anda harus menerimanya."


Amoora diam, dia berpikir sejenak.


"Nona muda."


"Baiklah bawa bunganya masuk kedalam."


'ceklek'


Pintu kamar terbuka, pelayan tadi membawa bunga mawar biru kedalam kamar Amoora dan meletakkannya diatas meja.


"Siapa yang mengirim bunga itu?"


"Tuan Lexi bilang kalau bunga itu dari temannya."


Amoora melihat bunga mawar biru yang ada diatas meja, mendengar itu dari teman Lexi. Amoora tahu siapa yang memberi bunga itu padanya.


"Baiklah terima kasih. Bisakah kau letakkan bunga itu didalam vas bunga?"


"Tentu nona muda, saya akan meletakkannya didalam vas bunga. Tolong nona muda tunggu sebentar."

__ADS_1


"Iya terima kasih."


Pelayan tadi mengangguk lalu keluar dari kamar Amoora membawa seikat bunga mawar biru bersamanya.


"Dia benar-benar."


Tak lama pelayan itu masuk kedalam kamar Amoora lagi membawa sebuah vas bunga yang sudah berisi bunga mawar biru tadi.


"Letakkan saja diatas meja."


"Baik nona muda."


Pelayan itu meletakkan vas bunga mawar biru itu diatas meja sesuai dengan keinginan Amoora.


"Terima kasih banyak."Ucap Amoora.


"Kalau begitu, saya akan kembali ke dapur."


"Iya."


Setelah pelayan itu keluar dari kamar, Amoora melihat bunga mawar biru itu.



"Sampai kapan kamu akan bertahan?"Gumam Amoora.


Beberapa hari setelahnya, Amoora juga mendapatkan bunga mawar yang sama.


Lexi sendiri tahu hal itu, tapi dia tidak melakukan apapun. Karena itu urusan Alvaro dan Amoora.


Jika Amoora menolak dan membuang bunga-bunga yang Alvaro kirimkan, itu sudah menjadi resiko Alvaro yang sedang menunjukkan sedikit bukti perasaannya pada Amoora.


"Kak, tidak bisakah kau bicara dengan teman mu agar tidak lagi mengirimiku bunga-bunga itu?"Tanya Amoora saat mereka sarapan.


"Kau bisa langsung mengatakan padanya Amoora, bukankah kau mempunyai nomor dia?"


"Kakak. "


"Kalian sudah sama-sama dewasa, dan juga pernah mengalami hal yang membuat kalian berdua sangat sulit untuk percaya pada orang lain."


"Tapi kak..."


"Kakak sudah bilang, jika kau tidak suka. Kau bisa langsung mengatakan padanya dan memintanya pergi. Kakak yakin dia akan mengerti."


Selama ini Amoora memang tidak pernah mengatakan jika dia tidak menyukai Alvaro. Dia juga tidak bilang agar Alvaro pergi dari hidupnya.


Lexi melihat Amoora termenung.


"Aku yakin kau sudah mulai menyukainya, kalian ini benar-benar sulit untuk bisa mengerti perasaan kalian masing-masing."


Lexi meraih tangan Amoora "Kakak pergi dulu, kalau terjadi sesuatu hubungi kakak."


Amoora mengangguk "Aku tahu. Hati-hati."

__ADS_1


Lexi mengangguk, dia lalu pergi meninggalkan Amoora.


Amoora memikirkan apa yang Lexi katakan padanya. Apa yang kakaknya katakan benar, dia harus membuat keputusan untuk dirinya dan Alvaro.


__ADS_2