The Queen Psycho

The Queen Psycho
71


__ADS_3

Sudah dua hari ini Amoora mengurus semua hal untuk pernikahannya dengan Alvaro. Kepalanya sudah sangat pusing dan emosinya sudah cukup terkuras.


Mulai dari menghadapi orang-orang dari butik yang akan membuatkan gaun pengantin dan gaun pesta untuk Amoora, lalu memilih model pernikahan yang dia inginkan.


"Hah, tidak bisakah kita tidak perlu melakukan semuanya. Biarkan saja, aku tidak ingin lagi menghadapi orang-orang itu."


Amoora melemparkan tubuhnya keatas ranjang dengan kesal.


Tok tok tok


"Nona, tuan muda Fernandez datang." Ucap seorang pelayan didepan pintu kamar Amoora.


Amoora menatap pintu kamarnya dengan malas.


"Biarkan saja dia, bilang saja aku lelah."


Amoora tidak mendengar jawaban dari pelayan yang tadi didepan pintu kamarnya.


Ceklek


Amoora menoleh kearah pintu yang terbuka. Disana ada Alvaro yang berdiri dengan pakaian kasualnya.


"Ada apa?"


Alvaro tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat sangat kesal padanya dengan wajah kusut.


"Ayo, aku ajak kau keluar."


"Aku tidak mau, aku ingin tidur. Aku cape."


Alvaro berjalan mendekati Amoora lalu duduk disampingnya.


"Sayang, terima kasih sudah bekerja keras beberapa hari ini. Setelah ini aku yang akan menanganinya."


"Sungguh?"


Alvaro mengangguk, dia membelai rambut Amoora dengan lembut.


"Jadi, mari kita keluar."


Amoora mengangguk.


Mereka lalu keluar bersama. Dan seperti apa yang Alvaro katakan, semua urusan pernikahan ditangani oleh dirinya dan itu membuat Amoora sangat bahagia.


Alvaro membawa Amoora pergi ke sebuah mall, dia ingin melewati hubungan dengan Amoora seperti apa yang sepasang kekasih lainnya lakukan, karena selama ini mereka sibuk dengan urusan meraka masing-masing.


Dengan bahagia mereka berdua memasuki mall, pasangan yang tengah jadi perbincangan banyak orang itu terlihat sangat senang dan tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan.


"Kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Amoora.


"Aku ingin melakukan banyak hal yang sepasang kekasih lakukan."


"Maksudmu?"


"Menonton film, makan siang bersama, jalan-jalan dengan bergandengan tangan. Itu bisa disebut dengan kencan."


"Kencan?"


"Em, bukankah kita belum pernah melakukannya?"


Amoora diam, dia mengingat apa yang sudah mereka lakukan bersama selama ini.


"Jika diingat, kita memang belum pernah melakukannya."


"Jadi hari ini aku ingin kita melakukannya. Setidaknya sebelum kita menikah kita pernah pergi berkencan seperti pasangan yang lainnya."


Amoora mengangguk mengerti.


Mereka terus berjalan ke bioskop. Alvaro dan Amoora berdiri untuk mengantri membeli tiket.


"Setelah ini kita beli minuman dan popcorn."


"Kau juga ingin makan popcorn?"

__ADS_1


"Tentu saja, katanya tidak lengkap kalau nonton tidak makan popcorn."


"Hahaha, logika apa itu Alvaro?"


"Entahlah. Aku mendengarnya dari Daniel."


"Dan kau percaya?"


Alvaro mengangguk, dan itu membuat Amoora tertawa keras.


"Sudah, ayo."


Kini mereka berada didepan petugas penjual tiket.


"Kau mau film yang mana?" Tanya Alvaro.


Amoora melihat daftar film yang ada pada layar dibelakang petugas penjual tiket.


"Bagaimana kalau yang itu?"


Amoora menunjuk salah satu film action yang ada disana.


"Oke."


Alvaro lalu memesan dua tiket pada petugas itu dan dia mendapatkan dua tiket untuk film yang akan mereka tonton.


Setelah itu Alvaro dan Amoora membeli popcorn dan minuman.


"Ayo kita masuk, filmnya 30 menit lagi akan dimulai."


"Iya."


Amoora dan Alvaro masuk kedalam ruang bioskop, disana sudah cukup banyak orang-orang yang menempati kursi mereka.


Alvaro meminta Amoora duduk di kursi paling ujung, karena dia tidak mau Amoora duduk disamping laki-laki lain.


Amoora yang tidak tahu maksud Alvaro hanya menurut dan duduk di kursi paling ujung.


Selama dua jam mereka menikmati film yang mereka pilih di bioskop. Setelah itu berkeliling dan membeli beberapa pakaian dan juga tas.


"Mau kemana lagi kita?" Tanya Amoora.


"Hmm, kau ingin pergi ke suatu tempat? Mungkin ada tempat special."


Amoora berfikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak begitu suka keluar rumah. Jadi aku tidak tahu tempat-tempat yang bagus di kota ini."


Alvaro mengangguk "Kalau begitu kita habiskam sisa waktunya dirumah saja."


"Dirumah?"


"Iya. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu."


"Oke."


Alvaro menambah kecepatan laju mobil ke rumahnya.


20 menit kemudian mereka sampai didepan rumah Alvaro. Di halaman mereka melihat ada sebuah mobil terparkir.


Alvaro melihat mobil itu baik-baik dan bergumam "Untuk apa dia kesini?"


"Ada apa?"


Alvaro menatap Amoora dan menggeleng.


"Kau kenal mobil itu?"


"Mobil itu...."


Belum selesai Alvaro berkata, seorang wanita keluar dari dalam rumah dan melambaikan tangannya kearah mobil mereka.


"Dia melambai kesini, sepertinya kalian saling kenal." Ucap Amoora.

__ADS_1


"Dia anak paman ku yang ada diluar kota."


"Oh."


"Ayo turun. Kebetulan aku bisa memperkenalkan kamu padanya."


"Hmm, sepertinya akan ada satu wanita lagi yang patah hati."


"Kau ini. Aku tidak peduli mau berapa banyak wanita yang patah hati, karena aku hanya akan menikah denganmu dalam hidup ini."


"Waw, semakin lama tuan muda Fernandez ini semakin ahli dalam berbicara manis."


"Tapi hanya pada nyonya muda Fernandez yang ada didepan ku ini."


"Hahaha, baiklah ayo kita turun."


Alvaro mengangguk.


Mereka turun dari mobil dan berjalan ke rumah dengan bergandengan tangan.


Wanita yang sejak tadi berdiri didepan rumah Alvaro dengan tersenyum lebar, seketika cemberut saat melihat Alvaro menggandeng tangan Amoora.


"Kak Alvaro. Aku sangat merindukan mu."


Wanita itu berniat Alvaro, tapi langsung berhenti saat Alvaro menatapnya dengan tajam.


"Jaga tingkahmu Allie. Dan kenalkan dia adalah calon istriku, jadi kedepannya kau harus memanggilnya kakak ipar."


Wanita bernama Allie itu menatap Amoora dengan tidak suka.


"Aku adalah sepupu dan calon istri yang paling pantas untuk kak Alvaro. Wanita bernama Clara sudah bertunangan dengan laki-laki lain, dan sekarang malah muncul wanita liar lainnya."


"Jangan berfikir macam-macam, aku tidak akan segan menguburmu hidup-hidup jika kau berniat tidak baik padanya."


Allie terdiam, dia mengepalkan tangan dan pergi dari hadapan Amoora dan Alvaro dengan kesal.


"Tidak perlu dipikirkan, dia masih seperti anak kecil."


Amoora hanya mengangguk.


"Dia mungkin seperti anak kecil didepanmu. Tapi aku tetap harus berhati-hati. Karena orang yang cemburu dan iri akan melakukan hal yang tidak terduga."


Alvaro membawa Amoora masuk kedalam rumah, dan mereka langsung pergi ke kamar Alvaro.


"Dimana orang tuamu?" Tanya Amoora.


"Mereka sedang ada urusan. Mungkin sore baru pulang."


Amoora mengangguk, dia berjalan kearah balkon dan berdiri disana.


Alvaro melepaskan jaket yang dia pakai lalu berjalan mendekati Amoora dan berdiri dibelakangnya.


"Disini cukup sepi."


"Em, cukup tenang."


Alvaro memeluk tubuh Amoora dari belakang dan mengecup bahunya.


"Aku benar-benar sangat beruntung memiliki mu sayang."


Amoora memegang tangan Alvaro dan tersenyum.


"Aku tidak sabar melihat perut ini membuncit." Alvaro mengelus perut Amoora yang rata.


"Hahaha, bagaimana kalau kamu yang buncit nanti?"


"Hahaha, jika aku yang buncit bukankah itu namanya aku kelebihan makan, hmm?"


Amoora tertawa mendengar Alvaro.


Alvaro membalikan tubuh Amoora, dia menatap mata Amoora dengan lekat dan mendekatkan bibirnya pada bibir Amoora.


Mereka berciuman diatas balkon kamar sambil berpelukan.

__ADS_1


Allie yang melihat mereka dari bawah semakin kesal, dia sangat tidak rela dengan hubungan Amoora dan Alvaro saat ini.


__ADS_2