The Queen Psycho

The Queen Psycho
73


__ADS_3

Bugh!


Bugh!


Bugh!


Brak!


Suara pukulan dan barang berjatuhan menggema didalam ruangan yang tidak begitu gelap itu. Amoora dengan nafas terengah-engah menatap nanar beberapa laki-laki yang sudah tumbang didepannya.


Amoora berjalan mendekati salah satu dari orang-orang itu yang dia yakini sebagai ketua mereka.


"Katakan siapa yang memerintah kalian untuk melakukan ini padaku?" Tanya Amoora sambil mencengkeram baju pria itu.


"Aku... Aku tidak tahu."


"Sepertinya aku harus mematahkan kedua tanganmu agar kau mau bicara."


"Tidak tidak, aku mohon jangan lakukan itu. Ampun."


"Jadi katakan siapa!"


Laki-laki itu menatap Amoora dengan takut, tubuhnya sudah babak belur dan gemetar.


"Dia... Dia seorang wanita dari keluarga besar Fernandez."


"Wanita dari keluarga Fernandez. Siapa namanya?"


"Ampun ampun. Namanya... Namanya Allie."


Amoora menghempaskan tubuh pria itu keatas lantai.


"Allie, harusnya aku tahu ini semua perbuatanmu."


Pria yang tadi ditanyai Amoora melihat kearah Amoora dengan tidak percaya. Hanya seorang wanita yang terlihat lemah, tapi mampu membuat dirinya dan keenam anak buahnya babak belur dan kalah.


"Kau, katakan pada Allie jika kalian sudah berhasil melakukan tugas kalian."


"Baik baik. Saya akan melakukannya."


Amoora berjalan pergi meninggalkan tempat dimana dia di culik.


Flashback on


Amoora yang sudah siap untuk ikut bersama dengan Alvaro ke toko bunga mendapat pesan dari seseorang yang tidak dia kenal.


Setelah membaca pesan itu, wajah Amoora berubah. Ada kekhawatiran dan juga marah disana.


Dengan cepat Amoora berjalan menuju garasi mobil dan melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Sampai di tempat dimana yang tertulis di pesan itu, Amoora turun dari mobilnya. Dia berjalan kedepan dan melihat sekeliling mencari seseorang.


Saat dia tengah mencari tanpa disadari seseorang berjalan mendekati Amoora dan langsung membekap dirinya dari belakang dan membawanya pergi dari tempat itu.


Disebuah bangunan yang cukup besar namun seperti tak terurus, Amoora duduk di kursi. Kedua tangannya terikat dan mulutnya ditutup lakban.


"Emm..."


Amoora yang di bius mulai sadar dan perlahan membuka matanya.


Setelah beberapa saat Amoora melihat ke kanan dan ke kiri. Dia juga merasa tangannya sakit karena di ikat pada kursi yang dia duduki.


"Sepertinya nona muda kita sudah sadar. Apakah kau bermimpi indah nona?" Ucap seorang pria yang perlahan berjalan mendekati Amoora.

__ADS_1


Amoora yang tidak bisa berkata hanya bisa melihat sebuah bayangan yang perlahan terlihat jelas didepannya, Amoora mendongakan kepalanya dan mencoba melihat dengan jelas siapa yang sedang berbicara padanya.


Tap


Tap


Tap


Tap


Langkah kaki pria itu semakin dekat, dan sekarang Amoora bisa melihat wajah orang yang berbicara dengannya.


Pria yang diperkirakan berusia 40 tahun itu menatap Amoora sambil tersenyum lebar dan memperlihatkan giginya.


"Kau cukup cantik, tapi sayang hari ini kau akan menjadi wanita tercantik yang mati ditangan kami."


Suara gelak tawa memenuhi ruangan itu, Amoora bisa mendengar lebih dari 5 orang yang tertawa disana.


"Em.. Emm..."


Pria itu memperhatikan Amoora.


"Bos, sepertinya dia ingin bicara." Ucap seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh dari tempat Amoora duduk.


"Oh, benarkah? Kalau begitu aku akan menolongmu membuka ini."


Kraaakk


"Aaakh!"


Amoora berteriak saat lakban itu dibuka dengan keras oleh pria yang berdiri didepannya.


"Ternyata suaramu cukup keras nona, dan juga cukup nyaring. Hahaha."


Amoora menatap tajam pria yang ada didepannya.


"Kau tidak perlu tahu nona. Karena hari ini akan menjadi hari terakhir mu."


Amoora tersenyum mengejek pada pria itu "Benar-benar menyebalkan."


"Apa kau bilang? Kau..."


Bugh


"Aaaaaaakh! Kau! Beraninya kau menendangku!"


Pria itu terjatuh ke lantai sambil memegangi daerah vitalnya karena ditendang oleh Amoora dengan keras.


"Dengan kau dan orang-orang mu ini ingin membunuhku, Apa kau sedang bermimpi?"


Beberapa anak buah pria itu melihat pria itu terjatuh dan kesakitan segera maju, satu orang menolong pria itu dan yang lain berdiri mengelilingi Amoora.


"Habisi wanita s*alan ini!" Seru pria itu.


Dua orang yang beridri disamping Amoora mengeluarkan pisau kecil dan yang lain bersiap untuk menghajar Amoora.


Mereka berjalan cepat kearah Amoora dan mengarahkan pisau padanya.


Amoora yang tahu pergerakan mereka segera berputar, pisau yang seharusnya mengenai dirinya berhasil dia hadang dengan kursi dan tali yang mengikat tangnnya pun terputus.


Amoora yang sudah tidak lagi terikat pada kursi berdiri dengan tegak, matanya menatap tajam semua laki-laki yang berdiri mengelilinginya. Aura membunuh terpancar begitu kuat dari Amoora, membuat semua laki-laki yang ada disana terkejut dan beberapa orang mundur.


"Kalian ingin membunuhku? Masih terlalu cepat, kalian perlu 100 tahun lagi untuk bisa membunuh ku!"

__ADS_1


Amoora berlari dan langsung memukul salah satu orang yang membawa pisau.


Pergulatan diantara 7 orang laki-laki melawan Amoora pun tak bisa dihindari.


Flashback off


Setelah keluar dari rumah itu Amoora membawa mobil milik bos sekelompok laki-laki itu yang kuncinya dia ambil sebelum dia keluar.


Dengan cepat dia melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Alexander. Dia tahu saat ini semua orang pasti tengah khawatir dan mencari dirinya yang tiba-tiba menghilang.


Sampai didepan rumah, Amoora melihat beberapa mobil terparkir dihalaman. Apa yang dia pikirkan benar.


Amoora segera turun dari mobil dan berjalan kearah rumah besar itu.


"Bos!" Seru Albert yang melihat Amoora berjalan masuk.


Semua orang yang ada didalam ruang tamu menoleh dan menatap Amoora.


Lexi dan Alvaro yang sangat mengkhawatirkan Amoora langsung berjalan dengan cepat kearahnya.


"Kau kemana saja. Kau membuatku sangat khawatir." Ucap Alvaro.


"Maaf."


Lexi menatap Amoora dengan serius.


"Apa yang terjadi, siapa yang membuatmu seperti ini?" Tanya Lexi sambil mengangkat tangan Amoora dan memperlihatkan bekas ikatan disana.


"Apa seseorang telah menculikmu?" Tanya Alvaro.


Amoora menatap Alvaro dan Lexi bergantian.


"Seseorang yang tidak rela aku menikah denganmu meminta sekelompok orang bodoh untuk membunuhku."


"Apa? Siapa dia?"


Amoora menatap Alvaro "Menurutmu siapa wanita terakhir yang kita temui beberapa hari yang lalu?"


Alvaro mengingat siapa wanita yang sudah dirinya dan Amoora temui beberapa hari ini, yang mempunyai alasan kuat untuk membunuh Amoora karena dirinya.


"Allie! Amoora apa kau serius? Dia..."


Amoora menatap Alvaro yang nampak terkejut dengan apa yang sudah di ingatnya.


"Tapi memang dia. Bahkan kemarin dia datang ke perusahaanku dan berkata agar aku meninggalkanmu."


"Tapi dia...."


"Cukup! Dia sudah membuat adikku terluka dan berniat membunuh adikku. Aku sendiri yang akan mengurus wanita ini."


"Tapi Lexi, kita tidak punya bukti untuk menuduh Allie. Dia masih muda dan tidak mungkin berani melakukan itu pada Amoora."


"Alvaro! Kau bahkan tidak percaya pada Amoora?" Tanya Lexi dengan kesal.


Alvaro tersentak, dia lalu menatap Amoora yang masih menatapnya penuh tanya.


"Aku minta maaf sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu, jika ini memang perbuatannya, aku sendiri yang akan memberinya hukuman." Alvaro memeluk Amoora erat.


Lexi menatap Alvaro dan adiknya, meski Alvaro berkata jika Alvaro akan menghukum wanita bernama Allie itu. Tapi dia tetap akan melakukan perhitungan karena sudah berani mneyentuh Amoora.


**


Di tempat lain, Allie yang mendapat kabar dari orang suruhannya merasa puas. Dia tertawa bahagia karena akhirnya orang yang menghalangi dirinya bersama dengan Alvaro sudah tidak ada.

__ADS_1


"Amoora, Amoora. Kau ternyata hanya wanita lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengandalkan keluarga Alexander. Beraninya kau berebut kak Alvaro denganku!"


Allie yang tidak tahu jika kabar yang dia dapatkan adalah kebohongan segera mentransfer bonus yang dia janjikan pada orang-orang itu, lalu bersiap pergi ke bar untuk merayakan keberhasilannya dengan teman-temannya.


__ADS_2