
Semakin hari hubungan Alvaro dan Amoora semakin baik, Alvaro juga kadang membantu Amoora di perusahaannya.
Lexi yang mendapat kabar itu menjadi lega karena Amoora sudah menerima Alvaro, dia juga bisa lebih fokus pada anak perusahaan disana karena Alvaro membantu Amoora di negara Z.
"Kapan kau akan pulang?"Tanya Amoora sambil memainkan bolpoin ditangannya.
"Paling lama minggu depan, aku sedang memberi pelajaran pada para penjilat ini dulu."Ucap Lexi disana.
"Baiklah kalau begitu."
"Kau ingin oleh-oleh?"
"Bawakan saja makanan kesukaan Alice, aku ingin mengunjunginya di asrama nanti."
"Baiklah, aku akan membawa lebih banyak nanti."
"Iya."
Itu adalah percakapan Amoora dan Lexi di telfon.
Sudah dua minggu Lexi di luar negri karena ada beberapa karyawan perusahaannya yang melakukan kecurangan dalam bekerja dan berusaha menjadi penjilat bagi perusahaan saingan Lexi.
Walaupun Lexi terkenal kejam didunia bisnis maupun di dunia bawah, tapi nyatanya masih ada orang yang berani melakukan hal yang membuat diri mereka akan merasakan lebih baik mati dari pada berurusan dengan orang berdarah dingin itu.
Setelah selesai menghubungi kakaknya, Amoora kembali berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk seperti biasa.
Amoora tidak mengerti bagaimana bisa Lexi begitu mudah melakukan pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaga itu, seolah-olah tubuh dan pikiran Lexi sudah menyatu dengan semua pekerjaan.
Mungkin ini yang disebut dengan raja bisnis, bahkan Alvaro saja bertepuk tangan dengan kehebatan Lexi dalam berbisnis.
'tok tok tok'
"Masuk."Ucap Amoora.
Orang yang mengetuk pintu, Alvaro masuk sambil membawa bungkusan ditangannya.
Amoora mendongak dan tersenyum tipis.
"Kau datang?"
Alvaro mengangguk "Jika aku tidak datang, wakil CEO yang sibuk ini akan melewatkan makan siangnya lagi."
Ya, selama Lexi di luar negeri Amoora telah diangkat menjadi wakil CEO di perusahaan A.L Group untuk menggantikan dirinya sementara waktu.
"Apa ini sudah jam makan siang?"
"Jika tidak?"
Amoora melihat ponselnya.
"Hah, sepertinya aku memang beruntung mempunyai tuan muda Fernandez yang sangat perhatian ini."
"Tentu saja, apa kau baru tahu?"
Amoora mengangguk.
"Makanlah dulu, pekerjaan mu tidak akan lari."
"Iya."
Amoora lalu berjalan mendekati Alvaro yang sudah duduk disofa.
"Apa yang kau bawa?"
"Makanan yang bisa memulihkan tenagamu."
Alvaro membuka satu persatu makanan yang dia bawa.
"Wah, kau tidak takut bangkrut setiap hari membawakan aku makanan seperti ini?"
"Aku rela, asal kamu selalu memakannya."
__ADS_1
"Ck, dasar."
"Sudah, ayo makan."
Amoora dan Alvaro menikmati makan siang yang Alvaro bawa bersama.
"Bagaimana pekerjaan hari ini, apa ada kesulitan?"
Amoora menggelengkan kepalanya "Tidak ada."
Alvaro mengangguk mengerti.
20 menit kemudian mereka selesai makan, Amoora membereskan semua kotak makanan yang sudah kosong lalu membuangnya ke tong sampah.
"Apa kau tidak sibuk?"Tanya Amoora.
"Tidak."
"Sungguh?"
"Iya, paling nanti sekitar jam 3 ada pertemuan dengan klien."
"Oh."
"Jadi kapan rencanamu mengelola kembali perusahaan ibu mu yang pernah diambil oleh Imanuel?"
"Aku masih menunggu keputusan kak Lexi, karena bagaimana pun dia yang sudah mengakuisisi perusahaan itu."
"Hmm begitu."
"Iya."
Amoora dan Alvaro berbincang cukup lama.
"Kau sebaiknya kembali, ini sudah jam 2 lewat."
"Baiklah, kau jangan bekerja terlalu berlebihan."Alvaro mengusap pipi Amoora.
Alvaro berdiri "Aku kembali keperusahaan dulu."
Amoora mengangguk "Iya."
'cup'
Dan lagi, tanpa Amoora duga Alvaro mengecup kening Amoora sebelum dia keluar dari kantor Amoora, dan tentu Amoora hanya bisa diam terpaku karena terkejut.
"Dia benar-benar selalu melakukan hal yang tidak bisa di duga."
Amoora berjalan menuju meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sore harinya Amoora membereskan meja kerjanya dan bersiap akan meninggalkan ruang kerja.
'ceklek'
Amoora dikejutkan oleh pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk, tuan muda Fernandez?"
Alvaro tersenyum "Kau sudah siap?"
Amoora hanya bisa menghela nafas melihat sikap Alvaro saat ini, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa padanya karena percuma saja.
"Sudah."
"Ayo."
Amoora dan Alvaro berjalan keluar, meskipun Alvaro sudah sering datang ke perusahaan Amoora. Tapi karyawan yang ada disana selalu menatap Alvaro dan Amoora seolah mereka baru saja melihat mereka berdua bersama hari itu.
"Kita makan malam dulu?"Tanya Alvaro.
Amoora menggeleng "Tidak, hari ini aku ingin makan dirumah dan tidur lebih awal. Rasanya sangat lelah hari ini."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."
Alvaro melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Alexander.
Selama Amoora menggantikan Lexi di perusahaan, Amoora tinggal dirumah. Karena jarak antara mansion dan perusahaan cukup jauh.
"Kita sudah sam...."
Alvaro melihat Amoora tertidur disampingnya, dia tersenyum.
Dengan pelan Alvaro keluar dari mobil lalu membantu Amoora melepaskan seatbelt dan mengangkat tubuhnya.
Alvaro menggendong Amoora masuk kedalam rumah.
"Selamat sore tuan, nona."Sapa kepala pelayan.
"Ssstttttt, biarkan Amoora istirahat, kau bisa siapkan makan malam agak malam."
"Baik tuan."
Alvaro berjalan naik kelantai dua menuju kamar Amoora.
Dengan hati-hati Alvaro membaringkan Amoora diatas ranjang lalu melepaskan sepatu yang Amoora pakai dan menyelimuti tubuhnya.
"Mimpi indah sayang."
Alvaro membelai dan mencium pipi Amoora sebelum dia keluar dari kamarnya.
"Nanti sekitar jam 7 malam bangunkan nona."Ucap Alvaro pada pelayan dirumah Alexander.
"Baik tuan."
Alvaro berjalan keluar lalu melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Bukan hanya diperusahaan, dirumah keluarga Alexander pun semua orang sudah tahu bagaimana hubungan diantara Amoora dan Alvaro.
Ya semua berkat Alvaro yang membuat hubungan mereka diketahui oleh banyak orang. Bahkan jika Amoora datang ke perusahaan Alvaro, dia akan disambut dengan ramah dan kadang ada yang memanggilnya dengan sebutan nyonya muda.
Malam harinya Amoora bangun karena salah seorang pelayan membangunkan dirinya.
"Jam 7? Sepertinya aku tertidur didalam mobil Alvaro sore tadi."Gumam Amoora.
Amoora bangun lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah kurang lebih 15 menit, Amoora keluar dengan wajah yang lebih segar.
Dengan setelan piyama berwarna navi, Amoora keluar dari kamar dan berjalan ke ruang makan.
"Selamat malam nona."Ucap kepala pelayan.
"Selamat malam."
"Makan malam sudah disiapkan."
"Baik, terima kasih."
Amoora duduk dikursi dan menatap beberapa menu makan malam yang sudah tertata rapi diatas meja.
"Apa Alvaro langsung pulang setelah membawaku ke kamar?"
"Benar nona, setelah tuan muda Fernandez keluar dari kamar anda, dia meminta pelayan untuk membangunkan anda dan juga berpesan pada saya untuk membuat makan malam agak malam supaya anda bisa tidur lebih lama."
"Oh begitu."
Amoora mengambil makanan yang ada diatas meja lalu dengan perlahan mulai memakannya dengan tenang.
Tidak menyangka jika urusan kantor akan menguras tenanga, sampai Amoora tertidur didalam mobil Alvaro hari ini.
Selama dia bekerja di perusahaan dulu, di tidak begitu sibuk karena dia hanya seorang karyawan biasa dan juga mempunyai pekerjaan paruh waktu sebagai hacker. Bisa dikatakan hidupnya cukup santai,jika keluarganya tidak mengganggu dirinya.
Tidak sampai 15 menit Amoora sudah selesai makan malam, dia lalu kembali kedalam kamarnya untuk melihat pekerjaan yang belum dia selesaikan dikantor.
__ADS_1
Walaupun Lexi melarang Amoora untuk bekerja saat dirumah, tapi selama Lexi tidak tahu Amoora akan melakukannya. Seperti apa yang Amoora lakukan saat ini.