The Queen Psycho

The Queen Psycho
47


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Amoora sudah bisa berjalan. Walaupun belum begitu baik.


Selama masa pemulihan, Amoora belum memberi pelajaran pada cucu dari keluarga Gabriel karena dia tidak mau membuat anak buahnya kesulitan saat harus membantunya berdiri. Dan sekarang Amoora akan memberikan hukuman dengan perlahan padanya.


Lexi memberitahu pada keluarga Gabriel untuk membawa Anasya datang kerumahnya.


Walaupun tidak rela, mereka harus melakukannya karena mereka tidak mau membuat Lexi semakin marah.


Saat ini keluarga Gabriel sudah tidak bisa melakukan hal yang bisa memancing emosi Lexi atau Alvaro, karena dua orang itu sudah benar-benar menekan perusahaan Gabriel karena kecelakaan yang menimpa Amoora oleh cucu perempuan keluarganya.


2 jam setelah Lexi meminta keluarga Gabriel membawa Anasya, mereka datang dengan sebuah mobil.


Anasya diseret dengan paksa karena dia tidak mau turun oleh dua anak buah Amoora. Anasya masih saja merasa jika dirinya tidak bersalah pada Amoora dan Amoora pantas mendapatkan itu karena sudah menggoda laki-laki yang dia sukai.


Setelah masuk kedalam rumah, Anasya didorong hingga dia jatuh keatas lantai oleh dua anak buah Lexi yang tadi membawa paksa Anasya dari mobil keluarga Gabriel.


"Aaagh! Kalian sangat berani melakukan ini padaku!"Teriak Anasya.


"Kau masih sangat kuat nona Anasya, suara mu sangat kencang."Ucap Amoora yang sejak tadi duduk disofa.


"Kau! Kau hanya anak angkat tapi berani memperlakukanku seperti ini. Kau kira jika tidak ada keluarga Alexander, kau bisa melakukannya?"Seru Anasya sambil berdiri.


Sepertinya Anasya lupa tentang siapa Amoora, yang bahkan tanpa nama keluarga Alexander dia bisa membuat perhitungan pada diri cucu Gabriel yang sombong itu.


"Nona Anasya, jika bukan karena keluarga Alexander yang mempunyai hubungan baik dengan keluarga Gabriel. Aku mungkin sudah menguliti dan melemparmu kedalam kandang buaya milikku."


Anasya terkejut, dia langsung mundur beberapa langkah mendengar ucapan Amoora yang sangat mengerikan itu.


"Jadi nona Anasya yang sudah membuatku seperti ini karena tidak bisa mendapatkan hati tuan Alvaro Fernandez, katakan padaku bagaimana aku harus memberimu pelajaran?"


"Kau... Kau sungguh berani! Keluarga ku tidak akan diam melihatmu menyakitiku."


"Oh, sungguh? Tapi sekarang kau ada disini karena mereka yang mengirimmu nona Anasya. Yang artinya aku bisa melakukan apapun yang aku mau untuk menghukum mu dan melepaskan perusahaan kelurgamu."


Anasya menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan apa yang Amoora katakan. Keluarganya tidak mungkin melakukan itu, dia yakin jika mereka akan menyelamatkan dirinya.


"Kalian bawa nona Anasya, biarkan dia berada diruangan itu beberapa jam. Agar dia bisa berfikir hukuman apa yang pantas untuk dirinya sendiri."Ucap Amoora pada anak buahnya.


"Baik bos."


Dua anak buah Amoora langsung membawa Anasya.

__ADS_1


"Lepaskan! Aku tidak mau ikut dengan kalian. Amoora kau akan menyesal melakukan ini padaku! Alvaro tidak akan pernah bersama denganmu!"Teriak Anasya.


Amoora tidak peduli dengan apa yang Anasya katakan, dia hanya membiarkan Anasya berteriak sepanjang jalan menuju mobil yang akan membawanya ke mansion milik Amoora.


"Aku rasa kau yang seharusnya berkaca sebelum bertindak, walau tidak ada keluarga Alexander yang melindungiku. Aku masih bisa membuatmu dan keluargamu hancur."


Amoora berdiri dan berjalan ke kamarnya, dia tidak ingin melakukan apapun dulu pada Anasya sampai dia merasakan ketakutan didalam ruangan yang gelap dan kotor di mansion Amoora.


Wanita yang kaya seperti Anasya tidaj akan sanggup untuk duduk didalam ruangan yang gelap dan kotor, itu adalah hukuman kecil baginya sebelum Amoora memberikan hukuman yang sebenarnya.


'ddddrrtttt ddrrrrrttt'


Amoora melihat ponselnya yang terus bergetar diatas nakas.


"Iya kak, ada apa?"Ucap Amoora tanpa basa basi.


"Apa dia sudah sampai?"Tanya Lexi diujung telfon.


"Sudah, anak buahku sudah membawanya ke mansion."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Dia sudah membuatku kesulitan dalam berjalan, tentu aku harus meminta kompensasi yang seimbang padanya."


"Tentu kak."


"Kalau sudah selesai, hubungi kakak. Aku akan membantumu membawanya kembali ke keluarga Gabriel."


"Baiklah."


Amoora mematikan sambungan telfonya lalu melemparkan ponselnya keatas rajang.


"Saat ini keluarga Steve sudah hancur, aku dengar Imanuel tinggal disebuah desa. Dia memang pantas mendapatkannya."


Amoora membaringkan tubuhnya.


'ting'


Sebuah pesan masuk di ponselnya, Amoora mengambil ponselnya lalu membuka pesan itu.


George : "Nona muda Alexander, kemarin aku sudah membawa Hanna kemari. Sekarang ibu dan anak ada ditangan saya. Saya sangat berterima kasih karena nona muda, saya bisa menikmati kedua wanita ini. Dan juga kerjasama saya dengan klien saya semakin baik karena pelayanan dari mereka berdua."

__ADS_1


Amoora menyeringai, saat ini Imanuel pasti sangat kesal karena wanita yang sudah dia cintai dan dia bawa kedalam rumah keluarga Steve ternyata mengkhianati dirinya.


"Ibu, apa kau melihatnya? Mereka yang sudah membuatmu menderita sudah mendapatkan hukuman. Apa kau bahagia disana ibu?"


Air mata Amoora mengalir tanpa izin, hatinya begitu sesak mengingat semua perlakuan keluarga Steve pada ibu dan dirinya dulu.


Sekarang semuanya sudah jauh lebih baik, kehidupan Amoora juga sudah sangat bagus. Dia mendapatkan keluarga yang menyayangi dan melindungi dirinya.


Tuhan maha adil, setelah dia dikucilkan, di bully dan dihina oleh keluarganya sendiri. Kini dia mendapat kasih sayang dari keluarga baru yang begitu hangat memeluknya.


Amoora menyeka air matanya, dia bangun dari atas ranjang lalu berjalan keluar.


"Saatnya mengambil kompensasi dari perempuan manja itu."Ucap Amoora dengan dingin.


Amoora berjalan keluar rumah.


Mobil yang Amoora inginkan sudah siap didepan rumah, juga dengan anak buah yang menjadi supirnya.


"Bos."Ucap anak buahnya sambil membukakan pintu.


Amoora mengangguk, dia lalu berjaaln dan masuk kedalam mobil.


Mobil itu melaju menuju mansion, dimana Anasya sudah menunggu disana.


***


Di perusahaan, Alvaro sedang menatap beberapa orang pemegang saham dari perusahaan milik keluarga Gabriel.


Mereka datang ke perusahaan Alvaro untuk memohon agar dia menarik tekanan pada perusahaan tempat mereka berdiri.


Bahkan ayah dari Anasya juga ikut datang ke perusahaan Alvaro.


"Aku akan melakukan tindakan setelah mendapat kabar dari seseorang. Jadi lebih baik kalian kembali ke perusahaan kalian."Ucap Alvaro datar.


"Tapi tuan muda Fernandez..."


Alvaro menatap orang yang berbicara dengan tajam, suasana didalam ruang rapat itu sungguh sangat pekat. Alvaro benar-benar mempunyai aura yang mampu membuat orang lain merasa terintimidasi hanya dengan tatapannya saja.


"Kalau begitu kami akan menunggu kabar baik dari tuan muda Fernandez."Ucap Gabriel.


Alvaro diam. Semua orang berdiri lalu keluar dari ruang rapat itu karena mereka tidak mau terus-terusan ditekan oleh aura yang dimiliki Alvaro.

__ADS_1


Setelah semuanya keluar, Alvaro membuka ponselnya dan tersenyum saat membaca sebuah pesan singkat.


"Dia sangat pendendam, wanita itu akan sangat menyedihkan. Orang yang malang."


__ADS_2