The Queen Psycho

The Queen Psycho
46


__ADS_3

Hari ini Amoora terpaksa menerima ajakan Alvaro, dengan terpaksa juga Amoora mau menggunakan kursi roda yang sejak awal dia tolak untuk memakainya.


Dengan pelan dan hati-hati Alvaro mendorong kursi roda masuk kesebuah mall terbesar dinegaga Z.


"Untuk apa kita kesini?"Tanya Amoora.


"Kau akan tahu nanti."Jawab Alvaro tenang.


Alvaro masih dengan setia mendorong kursi roda Amoora, sampai didepan toko perhiasan Alvaro mendorong kursi roda masuk kedalam toko itu.


"Tunggu, untuk apa kita kesini?"Tanya Amoora lagi.


Alvaro berjalan kedepan lalu berlutut didepan Amoora.


"Aku membuat satu set perhiasan disini. Jadi aku ingin mengambilnya."


Alvaro tersenyum pada Amoora.


"Aku tunggu disini saja, kau bisa masuk sendiri."


"Itu tidak mungkin, bagaimana aku bisa tahu apakah itu akan cocok atau tidak kalau kau diluar."


Amoora menatap Alvaro, saat ini dia sangat ingin mendorong Alvaro. Dia benar-benar orang yang sangat sulit dihadapi.


"Setelah dari sini, aku akan membawamu kesebuah tempat."


"Kemana?"


"Nanti kau akan tahu. Sekarang kita harus masuk kedalam dulu."


Alvaro kembali tersenyum pada Amoora sebelum dia berdiri dan kembali mendorong kursi roda masuk kedalam toko perhiasan itu.


Sejak dua hari yang lalu Amoora mulai memanggil Alvaro dengan lebih santai, dan mengurangi bahasa formal padanya.


"Selamat datang tuan muda Fernandez."Sapa manager toko.


"Iya. Ambilkan perhiasan yang aku pesan."


"Baik tuan muda, mohon tunggu sebentar."


Manager itu ternyata sudah tahu jika Alvaro akan datang, jadi dia menyiapkan kursi untuk Alvaro.


Amoora melihat sekeliling, dia berpikir harusnya dia tidak ikut dengan Alvaro hari ini.


"Sebentar, aku ke kamar mandi dulu." Ucap Alvaro.


Amoora hanya mengangguk menjawab Alvaro.


Alvaro berdiri lalu pergi ke kamar mandi yang ada didalam toko permata itu.


Disisi lain, seorang wanita datang ke toko permata itu. Wanita itu adalah Clara, mantan kekasih Alvaro dulu.


Clara melihat Amoora lalu menghampirinya.


"Nona muda Alexander."Sapa Clara.


Amoora menatap Clara penuh tanya.


"Kau pasti lupa denganku, aku Clara..."


"Amoora."


Amoora dan Clara menoleh, mereka melihat Alvaro mendekat.


"Kau juga disini?"Tanya Clara.


Alvaro tidak menjawab perkataan Clara. Dia mengusap kepala Amoora tanpa peduli jika disamping Amoora ada Clara.


"Maaf lama."Ucap Alvaro pada Amoora.


Melihat itu ada perasaan yang tidak nyaman pada Clara. Walaupun dia sudah bertunangan, tapi sikap acuh Alvaro terhadapnya masih bisa membuat hatinya merasa tidak enak.


"Tuan muda Fernandez, ini adalah perhiasan yang anda pesan."Ucap manager toko sambil membawakan perhiasan yang Alvaro pesan.


Alvaro menerima sebuah kotak kaca lalu membukanya. Dia berlutut didepan Amoora.

__ADS_1


"Apa ini cantik?"Tanya Alvaro.


Amoora mengangguk pelan.


Alvaro tersenyum mendapat jawaban yang memuaskan dari Amoora.


Perhiasan itu dipenuhi oleh berlian dan juga mutiara yang sangat indah, dipesan secara pribadi oleh Alvaro dan hanya akan ada satu-satunya didunia.



"Ini adalah perhiasan termewah yang tuan muda Fernandez pesan, terbuat dari berlian dan mutiara terbaik di dunia."Ucap manager.


Clara melihat perhiasan yang diperlihatkan pada Amoora, dulu dia juga mendapatkan perhiasan dari Alvaro. Tapi tidak seindah dan semewah itu.


"Ini bagus, apa kau ingin memberikannya pada nyonya Fernandez?"


Alvaro terkekeh, dia lalu menarik hidung Amoora pelan.


Melihat sikap Alvaro yang seperti itu Clara dan manager toko terkejut. Itu karena Alvaro tidak pernah tersenyum pada sembarangan orang di tambah dia menarik hidung Amoora.


Alvaro yang terkenal dengan orang yang tidak mau menyentuh wanita lain selain ibu dan Clara (dulu), sekarang tanpa di duga justru bersikap lembut dan memanjakan.


"Untuk apa aku membelikan mama ini? Kalau mama mau, dia akan memesannya sesuai keinginannya sendiri."


"Jadi?"


Alvaro mnegambil kalung berlian itu lalu berjalan kesamping Amoora.


Amoora mengira kalau Alvaro akan memberikanmya pada Clara, karena dia berdiri dibelakangnya.


Tapi tanpa Amoora duga, Alvaro memakaikan kalung berlian itu pada leher putihnya.


Setelah memakaikan, manager toko memberikan sebuah cermin pada Alvaro.


"Lihatlah, bukankah sangat cantik?"Bisik Alvaro pada Amoora.


Amoora melihat pantulan dirinya di cermin dan dia melihat kalung berlian melingkar sempurna di lehernya.


"Ini memang cantik, tapi aku tidak mau memakainya."


"Semakin berharga suatu barang, akan sangat sulit untuk menjaganya. Kau tahu kehidupan ku, aku tidak..."


'Cup'


Alvaro tiba-tiba mengecup pipi Amoora dan membuat Amoora diam seketika.


"Aku tidak ingin menerima alasan penolakan apapun darimu."


Amoora menatap Alvaro, beberapa hari ini dia sudah melakukan hal yang sudah membuat Alvaro semakin berani padanya. Dan sekarang Amoora tiba-tiba merasa sedikit menyesalinya.


"Al..."


"Kalau kau menolak lagi, aku akan mencium bibirmu kali ini."


Mata Amoora membulat, dia benar-benar dihadapkan dengan makhluk yang tidak tahu malu saat ini.


Alvaro kembali berdiri tegak, dia lalu meminta manager untuk mengambilkan pesanannya yang lain.


Sementara Clara yang masih berada dibelakang Amoora dan Alvaro menjadi sedikit sesak, walau dia sudah meninggalkan Alvaro dan bertunangan dengan orang lain. Tapi hubungan selama lebih dari 4 tahun dengan Alvaro masih menyisakan sedikit rasa.


"Sepertinya tuan muda Fernandez sangat mencintai nona muda Alexander, aku akan sangat senang jika bisa datang ke acara pernikahan kalian nanti."Ucap Clara.


Amoora baru ingat jika Clara masih ada dibelakang, itu membuat Amoora tidak enak padanya.


Bukan karena Clara adalah mantan kekasih Alvaro, tapi karena dia mengabaikan Clara yang sudah menyapanya terlebih dulu.


"Ini semua karena CEO yang sok mendominasi ini, aku jadi tidak enak sudah mengacuhkan nona Clara."Amoora melirik tajam pada Alvaro.


"Kami tentu akan mengundang mu saat kami menikah nanti."Ucap Alvaro tenang.


"Siapa yang akan menikah denganmu?"


Alvaro membungkukkan tubuhnya dan menatap kedua mata Amoora.


"Apa kau lupa dengan apa yang aku katakan? Aku tidak akan pernah menikah jika itu tidak dengammu."

__ADS_1


Amoora sedikit memundurkan wajahnya dari Alvaro.


"Teruslah bermimpi tuan muda Fernandez terhormat."


Alvaro meraih tangan Amoora lalu mengecupnya.


"Tidak akan ada orang yang bisa menikahimu selain aku nona Amoora tersayang."


Hari ini toko perhiasan itu melihat bagaimana Alvaro mengejar cinta Amoora Alexander. Semua yang ada didalam toko perhiasan tidak menyangka jika mereka akan melihat itu semua dengan mata mereka sendiri.


Benar-benar pemandangan yang sangat langka dan romantis.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggunya."Ucap Clara lagi.


Clara berbalik lalu keluar dari toko perhiasan itu, dia tidak lagi mood untuk membeli perhiasan saat ini.


"Tuan muda, ini cincin yang anda pesan."Ucap manager toko membawa sebuah kotak.


Alvaro mengambil kotak itu.


"Aku tidak mau memakainya."Ucap Amoora tanpa melihat cincin itu.


Alvaro tersenyum "Kau belum melihatnya, tapi kau sudah berkata tidak mau pakai. Anak nakal!"


Amoora hanya bisa menghela nafas dengan kasar, dia sangat ingin pergi dari toko itu karena kesal. Tapi dia tidak bisa karena saat ini dia memakai kursi roda.


Alvaro membuka kotak itu lalu berlutut didepan Amoora.


"Aku ingin kamu memakainya."Ucap Alvaro dengan lembut.


Amoora melihat cincin yang Alvaro bawa lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku bukan wanita bodoh, itu adalah cincin yang hanya dipakai oleh menantu keluarga Fernandez."


"Benar, dan kau adalah calon menantu keluarga Fernandez."


"Aku bukan."


Alvaro hanya tersenyum mendengar ucapan Amoora, walau Amoora berteriak tidak tapi Alvaro tahu jika dihati Amoora sudah ada dirinya. Dan hanya waktu yang bisa menjawab kapan Amoora akan jujur pada dirinya.


"Baik,baik."


Alvaro meraih tangan Amoora lalu menggenggamnya.


"Ayo pulang, aku sudah lapar."Ucap Amoora.


Alvaro terkekeh mendengar Amoora.


"Pakai cincinnya dulu, setelah itu kita pulang."


"Kau pakai saja sendiri!"


Amoora menghempaskan tangan Alvaro, itu membuat manager dan karyawan toko terkejut dan juga khawatir Alvaro akan marah.


"Baiklah, nanti kau juga akan memakainya dengan senang hati."


Ternyata Alvaro bukan hanya tidak marah, tapi juga masih berkata dengan lembut pada Amoora.


Apakah dia masih tuan muda Fernandez yang terkenal dingin dan tak tersentuh itu?


Itulah yang dipikirkan oleh orang-orang yang melihat Alvaro dan Amoora.


Alvaro berdiri dan meminta manager untuk membungkus semua pesanannya dan mengirimkan semua kerumahnya.


"Ayo kita cari makan."Ucap Alvaro.


"Aku ingin makan dirumah."


"Tidak untuk hari ini. Aku sudah memutuskan untuk seharian bersamamu, jadi kau harus menemaniku."


"Kau selalu berbuat sesukamu."


"Aku hanya ingin memanjakan calon istriku."


Amoora langsung terdiam, rasa percaya diri yang Alvaro miliki tidak bisa dihadapi dengan mudah.

__ADS_1


Sementara Alvaro semakin bahagia karena Amoora tidak menolak saat dia berkata seperti itu.


__ADS_2