
Keesokan harinya Amoora kembali bekerja seperti biasanya, dia tidak ingin terus-terusan berdiam didalam kamarnya.
Saat ini bagi Amoora memajukan perusahaan adalah yang utama, meski perusahaan itu sudah sangat terkenal dan maju di negara Z. Tapi tetap saja semua usaha Lexi harus tetap di pertahankan.
Keluarga Alexander mungkin bukan keluarga kaya pertama di negara Z, tapi mereka cukup kuat menjadi bahan pertimbangan bagi banyak pengusaha.
"Amoora."
Amoora menoleh "Kakak, bukannya kakak akan berangkat hari ini?"
"Sore nanti kakak baru akan berangkat."
Amoora mengangguk mengerti.
"Bagaimana, kau sudah terbiasa?"
"Hmm, ini lumayan."
"Lumayan?"
"Iya, lumayan membuat waktu tidur siangku berkurang."
"Kau ini."
Lexi berjalan kebelakang Amoora dan melihat laporan yang tengah Amoora lihat.
"Perusahaan ini...."
"Hmm, kenapa kak?"
"Apa ada masalah dengan perusahaan ini?"
"Tidak ada, aku hanya sedang mengecek satu persatu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kita."
"Hmm aku mengerti, sepertinya kakak mulai bisa melepaskan kamu mengurus perusahaan ini."
"Noo! Aku tidak mau mengurus perusahaan ini selamanya."
"Sekarang kau bilang tidak, tapi kakak yakin setelah terbiasa kau akan mau."
"Tidak, aku tidak mau terlibat dalam pusaran dunia bisnis yang sangat mengerikan."
Lexi hanya tertawa ringan mendengar alasan penolakan Amoora.
"Hmm sudahlah, aku akan bersiap untuk kembali keluar negeri, kalau ada sesuatu kau beritahu kakak."
"Siap bos."
Lexi mengacak-acak rambut Amoora dan tertawa.
"Kakak, kau menyebalkan."
Lexi yang merasa tidak berdosa itu pergi dari ruang kerja Amoora begitu saja setelah membuatkannya kesal.
**
Ditempat lain, Alvaro sedang melihat beberapa file dan tentu saja duduk didepannya seorang wanita yang sudah membuat gempar banyak orang terutama para wanita yang mengenal Alvaro Fernandez.
__ADS_1
Foto-foto mereka sudah banyak yang melihat, dan mereka sangat yakin jika hubungan Alvaro dan wanita itu serius. Itu karena mereka melihat beberapa kali Alvaro keluar bersama dengan wanita itu.
Meski Alvaro sudah tidak tahan dengan wanita itu, tapi dia harus bertahan karena sedikit lagi dia akan berhasil mendapatkan informasi yang dia inginkan.
Wanita yang duduk didepan Alvaro, mengamati Alvaro bekerja.
"Ternyata dia cukup tampan kalau sedang bekerja."
Alvaro tidak peduli dengan tatapan wanita itu, dia bahkan menganggap jika wanita itu tidak ada didepannya saat ini.
Jika pun dia memikirkan seorang wanita, itu adalah Amoora dan hanya Amoora.
"Alvaro, aku sangat bosan."Ucap wanita itu.
"Kalau kau bosan, kau bisa pergi ke kantin perusahaan atau keluar jalan-jalan ke mall atau tempat lain."
"Tapi aku ingin keluar denganmu."Ucapnya lagi dengan manja.
"Pekerjaanku sedang banyak hari ini."
"Ayolah Alvaro."
Alvaro tidak peduli, itu karena dia mendapat kabar dari Daniel jika informasi yang dia butuhkan dari wanita itu sudah didapatkan.
Dan tentu, setelah mendapatkan semuanya Alvaro tidak perlu lagi menuruti keinginan wanita yang sudah membuat hubungan dia dengan Amoora merenggang.
Melihat Alvaro tidak mendengarnya, wanita itu berdiri dan berjalan kearah belakang kursi Alvaro.
Tangan wanita itu mulai menyentuh bahu Alvaro lalu sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Sayang, aku mohon. Aku ingin keluar denganmu."
"Alvaro."
Alvaro tidak peduli dengan seruan wanita itu, dia lalu meminta sekertarisnya untuk mengeluarkan wanita itu dari ruangannya.
"Alvaro, apa maksud mu? Aku tidak mau keluar, aku menyukai mu dan aku tahu kau juga menyukaiku."
Alvaro merapikan jasnya dan menatap wanita itu dengan hina.
"Menyukaimu, aku? Apa aku sudah buta menyukai wanita seperti mu?"
"Tapi... Tapi beberapa hari ini kita...."
"Ah itu, maaf aku mendekatimu karena ingin mengetahui sebuah informasi penting dari mu. Dan aku sudah mendapatkannya, jadi terima kasih."
Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan apa yang Alvaro katakan padanya.
"Kau bohong, aku tahu kau menyukaiku. Alvaro, aku tidak mau pergi. Aku sangat menyukai mu."
"Apa kau tidak tahu jika didunia ini aku hanya menyukai satu wanita setelah ibuku? Apa kau tahu siapa wanita itu?"
Wanita itu diam.
"Dia adalah Amoora Alexander. Aku hanya menyukainya dan aku hanya akan menyukai dan mencintainya selama hidup ku."
Tanpa Alvaro tahu, dibalik pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka. Amoora sedang berdiri sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
Amoora yang salah paham pada Alvaro beberapa hari ini, merasa tidak tahu harus bagaimana bertemu dengan Alvaro.
Praaang!
Karena langkahnya agak terhuyun kebelakang, Amoora menyenggol vas besar yang ada disamping pintu ruang kerja alvaro.
Alvaro dan yang lain terkejut, sekertaris Alvaro lalu segera keluar dari ruangannya untuk melihat siapa yang sudah membuat keributan.
Saat dia keluar, tidak ada siapapun diluar ruang kerja Alvaro.
"Siapa?"Tanya Alvaro.
"Tidak ada siapapun tuan muda."
Alvaro mengerutkan keningnya, dia tidak percaya jika tidak ada siapapun diluar dan vas itu akan jatuh dengan sendirinya.
Amoora yang tidak ingin ketahuan langsung berlari dan bersembunyi, setelah itu dia langsung masuk kedalam lift dan turun kelantai bawah.
Dengan cepat Amoora berjalan keluar dari perusahaan Alvaro.
Sementara Alvaro yang sudah tahu jika Amoora tadi datang dari resepsionis segera keluar dari ruangannya untuk mengejar Amoora.
Sampai dilantai bawah, Alvaro bertanya pada resepsionis dimana Amoora.
"Nona Alexander sudah pergi sekitar 5 menit yang lalu tuan muda."
Alvaro mengepalkan tangannya, dia lalu berlari menuju lift untuk menuju tempat parkir perusahaan yang ada di bawah tanah.
Amoora yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alvaro melajukan mobilnya dengan sangat cepat.
Kurang dari dua jam, Amoora sampai didepan mansionnya. Dia langsung berlari kedalam mansion dan menuju kamarnya.
Carlos yang melihat bos nya tidak beres, langsung menghubungi Lexi yang ada di perusahaan.
Lexi yang mendapat kabar tentang Amoora, tentu langsung bergegas pergi ke mansion. Dia tidak mau terjadi sesuatu lagi pada adiknya.
Sampai di mansion Amoora, Lexi melihat mobil Alvaro sudah ada didepan mansion.
Dengan cepat Lexi turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam mansion.
"Alvaro Fernandez!"Lexi memanggil Alvaro dengan begitu kencang.
Alvaro menoleh dan melihat Lexi berjalan dengan cepat kearahnya.
"Untuk apa kau kesini?"
"Aku ingin menjelaskan semuanya pada Amoora."
"Menjelaskan? Harusnya kau melakukan itu sejak kemarin."
"Aku tahu, aku juga tidak punya pilihan lain Lexi."
Alvaro menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
"Ayahku memintaku untuk menyelidiki satu keluarga, wanita itu adalah salah satu anak dari keluarga yang sedang aku selidiki. Aku mendekatinya untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak dan akurat. Aku tidak tahu jika tindakanku akan membuat semuanya kacau seperti ini."
"Kau bisa memberitahu hal itu pada kami lebih dulu."
__ADS_1
"Aku tahu, tapi aku tidak sempat. Karena wanita itu tiba-tiba datang padaku dengn sendirinya. Aku mempunyai kesempatan bagus untuk memulai semua rencana yang sudah aku rangkai, karena kelurga itu sangat sulit didekati."
Lexi duduk didepan Alvaro, saat ini dia tidak tahu apakah dia harus memaafkan Alvaro karena sudah membuat adiknya terluka atau membantunya untuk membuat mereka kembali berbaikan.