
Dalam rumah besar terlihat Alvaro tengah menikmati kopi sambil membaca koran paginya.
"Kau tidak ke kantor?"Tanya wanita tua berusia 80 tahunan.
"Hari ini akhir pekan nek, aku ingin dirumah saja. Lagi pula minggu depan nenek berulang tahun."
"Walaupun nenek akan berulang tahun, tapi kau adalah seorang pemimpin perusahaan. Jadi jangan jadikan nenek sebagai alasanmu."
Alvaro menggeser duduknya dan memeluk neneknya dari samping "Baik nenek, aku mengerti."
"Oh iya,apa kau masih ingat keluarga Steve?"
"Keluarga Steve? Maksud nenek, Imanuel Steve?"
"Benar."
"Ada apa dengan keluarga itu?"
"Apa kau lupa, anak perempuan kekuarga Steve pernah menolong nenek dulu, dan nenek sangat ingin memperkenalkan kamu dengan dia."
"Nenek, jangan mncoba untuk menjodohkan aku lagi."
"Tidak, kali ini nenek yakin kamu akan menyukainya."
"Ayolah nek, hentikan."
"Tunggu nenek punya fotonya."Ucap sang nenek tidak menghiraukan ucapan Alvaro.
"Nenek."
"Jika kau tidak mau melihat fotonya, maka jangan harap nenek akan merayakan ulang tahun minggu depan."
Alvaro yang tidak bisa membantah neneknya hanya bisa diam dan menurut.
Nenek mengeluarkan ponselnya yang selalu dia bawa kemana-mana, lalu membuka folder album. Dia mencari sebuah foto disana.
"Nah ini dia, kamu lihatlah."Ucap nenek senang.
Nenek memberikan ponselnya pada Alvaro.
Alvaro melihat foto seorang wanita yang tengah duduk diatas meja, memakai pakaian yang sangat pas dengan postur tubuh dan wajahnya.
Dengan serius Alvaro menatap foto itu dan teringat wanita yang pernah membuatnya penasaran beberapa minggu yang lalu.
"Dia.. Bukankah dia Amoora?"
"Kau mengenalnya?"Tanya nenek Alvaro dengan antusias.
"Iya, kami pernah bertemu untuk membicarakan bisnis."
"Bisnis?"
"Iya, beberapa waktu yang lalu aku membeli sebuah mobil sport. Dan dia adalah orang yang menjual mobil itu."
"Wah ini benar-benar jodoh."
"Nenek."
"Alvaro, usiamu tidak muda lagi. Nenek juga ingin melihatmu menikah dan menggendong cicit darimu. Ulang tahun nenek minggu depan, kamu harus bisa mengajaknya berdansa nanti."
"Nenek, kami hanya rekan bisnis tidak lebih."
"Jadi kau harus menjadikannya lebih. Kalian sudah saling mengenal, ini sangat bagus."
Alvaro yang sangat mengerti sifat neneknya hanya bisa diam.
"Baiklah nek."
Alvaro juga selalu penasaran dengan Amoora, wanita dengan sikap dingin dan cara bicara yang sedikit acuh membuatnya tertarik.
Dan sejak terakhir kali Amoora menghubunginya, mereka tidak pernah saling berkomunikasi atau pun bertemu.
Amoora juga seperti telah di telan bumi, karena Alvaro sudah meminta asisten pribadinya untuk mencari dimana Amoora, tapi hasilnya tidak pernah ketemu.
__ADS_1
"Ini kesempatanku untuk bertemu dan berbicara lebih banyak, nona Amoora Steve."
Alvaro tidak tahu apa yang terjadi pada Amoora setelah pembicaraan terakhir mereka, bahkan dia juga tidak tahu jika sekarang Amoora bukan lagi anggota keluarga Steve dan sudah menjadi anggota keluarga Alexander.
***
'Dor dor dor'
Suara tembakan memenuhi ruang latihan pagi itu.
Saat ini Amoora tengah mengajari beberapa anak buahnya menggunakan sniper. Walaupun dia seorang perempuan, tapi tidak di pungkiri jika Amoora mempunyai kehebatan dalam membidik dan menembak tepat sasaran.
"Wah bos hebat! Semuanya mengenai target dengan baik."Ucap salah seorang anak buah Amoora.
"Benar, lihatlah. Kepala, jantung dan leher. Semua adalah organ vital yang bisa membuat orang mati seketika."Ucap yang lainnya.
Terlihat Amoora meletakkan sniper yang tadi dia gunakan.
"Baiklah tadi adalah jarak 200 meter. Aku ingin kalian bisa menembak musuh dengan tepat pada jarak itu dalam latihan kali ini."Ucap Amoora.
"Baik bos."Jawab mereka serentak.
Setelah itu Amoora memberikan sedikit pelatihan pada anak buahnya.
Selesai dengan semuanya, Amoora keluar meninggalkan ruang latihan dan membiarkan anak buahnya berlatih seperti apa yang sudah dia tunjukan tadi.
"Kak Amoora!"
Amoora melihat Alice berlari kecil mendekatinya.
"Dengan siapa kamu kesini?"Tanya Amoora.
"Dengan kak Lexi."
"Tumben sekali, apa dia tidak sibuk?"
"Tidak, justru dia ingin berbicara sesuatu denganmu."
"Benarkah?"
"Kak, aku dengar disini ada kolam renang, apa benar?"
"Iya, itu ada di halaman belakang."
"Wah, apa aku boleh berenang disana?"
"Tentu saja."
"Bagus, karena ditempat kak Lexi kolam renangnya tidak bisa dipakai oleh ku."
"Itu karena untuk latihan, jadi tidak mungkin kamu ikut berenang juga disana."
"Tapi kenapa disini tidak?"
"Karena aku membuat dua kolam renang lain untuk latihan mereka. Jadi yang disana bisa untuk kamu berenang."
"Waaaahh, terima kasih kak Amoora."
Alice memeluk tubuh Amoora dengan bahagia.
"Apa yang dia dapatkan sampai-sampai dia memelukmu dengan senyum lebarnya itu Amoora?"Tanya Lexi.
"Ah, dia senang karena dia bisa berenang disini."
"Benarkan? Aku sudah bilang kalau dia akan sangat senang. Dan kau akan melihat katak berenang sebentar lagi Amoora."
"Kakak!"Alice melotot pada Lexi.
Amoora dan Lexi tertawa melihat raut wajah Alice yang begitu menggemaskan.
"Sudah, kau berenanglah. Kakak mau bicara dengan kak Amoora."
"Oke kak."
Alice langsung berlari keruang ganti yang letaknya tidak jauh dari kolam renang. Sementara Lexi dan Amoora berjalan keruang tv.
__ADS_1
"Kata Alice, kau ingin bicara denganku. Ada apa?"Tanya Amoora begitu mereka duduk.
"Hmm. Amoora, keluarga Alexander mendapat undangan ulang tahun dari keluarga Fernandez."
"Lalu?"
"Kemungkinan besar keluarga Steve juga pasti di undang, karena keluarga besar seperti Fernandez selalu mengundang keluarga-keluarga besar lainnya, termasuk keluarga Steve."
"Itu artinya, semua teman-teman ku akan datang juga di pesta itu."
Lexi mengangguk. Dia melihat Amoora yang matanya mulai sendu.
Amoora tidak masalah jika harus bertemu dengan keluarga Steve, karena sekarang dia bukan lagi bagian dari keluarga itu. Tapi dia tidak ingin bertemu dengan teman-temannya, bagi Amoora akan sangat canggung saat bertemu dengan mereka yang sudah meninggalkan dia.
"Jika kau tidak mau datang tidak apa-apa. Aku akan kesana dengan Alice."
Amoora menggelengkan kepalanya "Tidak, aku akan ikut. Cepat atau lambat aku pasti bertemu dengan mereka, entah itu di jalan atau di pesta seperti ini."
Lexi meraih tangan Amoora dan menggenggamnya.
"Kau sudah menjadi adikku. Jadi apapun yang terjadi, aku akan melindungimu. Sebagian besar tamu yang akan datang pasti sudah mengenalku dan mengenal siapa kamu. Tidak akan ada orang yang berani menyinggung mu disana."
"Iya, terima kasih kakak."
"Baiklah, setelah Alice selesai berenang kalian bisa pergi ke butik untuk mencari gaun yang bagus. Leon akan mengantar kalian."
"Leon?"
"Ah aku lupa memberitahu mu. Aku meminta salah satu orang kepercayaan ku kesini untuk mengawasi Alice selama dia berlibur, dan namanya Leon."
"Hmm aku mengerti."
"Kalau begitu aku akan kembali, dan satu lagi. Aku sudah menyiapkan orang-orang untuk memijatmu dan Alice besok lusa."
"Apa? Tidak, aku tidak mau di pijat."Tolak Amoora.
"Kenapa? Hampir semua wanita menyukai hal seperti ini."
Amoora tidak menjawab Lexi. Bagaimana mungkin dia akan memberitahu seperti apa tubuhnya yang penuh dengan bekas luka pada Lexi dan para pemijat itu.
Lexi melihat Amoora yang enggan menjawab, dia lalu menepuk bahu Amoora pelan.
"Baiklah jika kau tidak mau, maka Alice akan mendapatkannya sendirian."
Amoora mengangguk pelan.
"Kalau begitu aku kembali dulu ke markas. Biarkan Alice disini dulu."
"Iya kak. Hati-hatilah."
Lexi mengangguk, dia berjalan keluar rumah.
Amoora sebenarnya tidak ingin merahasiakan apapun dari Lexi dan Alice. Tapi tubuhnya yang menurut dia begitu mengerikan, takutnya mereka akan merasa jijik saat melihatnya.
Amoora berjalan kedalam kamarnya, dia akn mencari baju untuk dia pakai keluar bersama Alice nanti.
25 menit kemudian Alice sudah selesai berenang dan juga berganti baju.
Alice naik ke lantai atas karena tidak melihat Amoora dimanapun di lantai bawah. Saat sampai di depan kamar Amoora dia melihat pintu kamar Amoora sedikit terbuka.
Alice masuk kedalam kamar dengan pelan, dia mencari dimana Amoora. Dan saat melihat Amoora tengah mengenakan pakaian diruang ganti yang ada didalam kamarnya, mata Alice membulat melihat tubuh Amoora.
"Apa itu, apa yang sudah kak Amoora alami? Kenapa begitu banyak bekas luka ditubuhnya."
Alice berjalan menjauh dengan perlahan dan pelan, dia keluar dari kamar Amoora dan berjalan cepat masuk kedalam kamarnya.
Bekas luka yang Alice lihat begitu jelas diingatnya, dia tidak menyangka selama ini alasan Amoora tidak pernah memakai baju yang terbuka karena untuk menutupi bekas luka-luka itu.
"Kakak pasti tidak tahu tentang bekas luka yang kak Amoora punya. Aku harus memberitahu kak Lexi tentang ini."Ucap Alice pelan.
Amoora yang sudah selesai berganti pakaian keluar dari ruang ganti tanpa merasa curiga sama sekali. Amoora duduk didepan meja riasnya, menatap pantulan dirinya didalam cermin itu.
"Haruskah aku bertemu dengan mereka? Dan bagaimana sikap mereka saat tahu kalau aku sudah menjadi bagian dari keluarga Alexander?"
Sebenarnya Amoora masih ragu untuk ikut ke pesta ulang tahun itu, tapi dia harus datang kesana karena undangan itu di tujukan untuk keluarga Alexander, dan dirinya sekarang juga termasuk keluarga Alexander.
__ADS_1