
Dihari berikutnya Amoora sedang makan siang dengan Anggie, Amoora merasa dia harus memberikan kompensasi pada calon kakak iparnya karena makan siang sebelumnya di ganggu oleh kakaknya, Lexi.
Siang ini di restoran yang berbeda Amoora mengajak Anggie makan siang.
"Apa kau baik-baik saja?"Tanya Anggie.
"Ya aku baik-baik saja, setidaknya aku masih bisa menangani semua masalah disini."
"Itu cukup bagus."
Amoora meminum jus yang dia pesan.
"Aku dengar hubunganmu dengan CEO Fernandez sangat dekat."
"Ya lumayan."
"Hahaha tidak bisakah kau bersikap sedikit romantis dengan pasanganmu?"
"Oh ayolah, kita baru beberapa hari. Belum tahu bagaimana kedepannya."
Anggie mengangguk.
"Lagipula aku tidak tahu seperti apa dia, apakah dia mempunyai wanita lain atau tidak, aku sama sekali tidak tahu."
"Ya kau benar, apalagi dia adalah CEO yang diincar banyak wanita."
"Hahaha kau tahu itu."
Ketika mereka tengah menikmati waktu mereka, seorang wanita datang didepan meja mereka dengan aura yang tidak baik.
Amoora dan Anggie menatap wanita yang berdiri didepan meja mereka.
"Kau yang bernama Anggie?"Tanya wanita yang tidak mereka kenal.
"Iya aku Anggie, maaf anda siapa?"
"Jadi kau yang sudah membuat Lexi tidak mau mendengarkan penjelasanku dan tidak mau lagi menganggkat telfon dari ku!"
Anggie mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti apa yang wanita itu katakan. Begitu juga dengan Amoora yang ikut bingung.
"Anda sangat lucu, aku tidak mengenal anda. Dan juga hubunganku dengan Lexi, apa ada hubungannya dengan anda?"
"Kau, dasar wanita j*lang! Kau sudah membuat Lexi meninggalkanku. Dan sekarang kau pura-pura tidak tahu apa-apa!"
Beberapa orang yang ada disana menoleh kearah mereka.
Amoora diam, dia berusaha tenang sambil melihat apa yang akan wanita itu lakukan selanjutnya.
"Maaf nona, selama aku mengenal Lexi. Dia tidak mempunyai pacar."
"Itu tidak mungkin, aku calon istrinya dan kau hanya wanita j*lang yang membuat hubunganku dengan dia berantakan."
Tangan Anggie mengepal kuat, dua kali wanita itu memanggilnya dengan panggilan wanita j*lang didepan banyak orang.
Sepertinya wanita itu tidak tahu jika keluarga Anggie cukup berpengaruh dinegara Z, sehingga dia berani mengatakan hal itu pada Anggie.
"Ehem, maaf boleh saya tahu siapa nama anda?"Tanya Amoora dengan santai.
"Siapa kamu, ini tidak ada urusannya dengan mu. Jadi jangan ikut campur."
"Kau tidak tahu siapa aku, tapi kau mengaku sebagai calon istri Lexi."
"Aku memang calon istrinya, tapi aku sama sekali tidak mengenalmu."
Amoora mengangguk, dia lalu berdiri meghadap kearah para pengunjung restoran.
"Maaf, apa diantara kalian ada yang mengenal saya?"Tanya Amoora pada para pengunjung restoran.
Beberapa orang mengangkat tangan mereka.
__ADS_1
"Anda adalah Amoora Alexander, adik perempuan tuan Lexi Alexander. Kakak perempuan dari nona Alicia Alexander."Ucap salah seorang pengujung.
Amoora tersenyum mendengar ucapan orang itu.
"Terima kasih tuan."
Amoora menatap wanita yang berdiri didepannya dengan senyuman yang mematikan.
Wanita itu terkejut dengan ucapan orang itu yang mengatakan siapa Amoora sebenarnya.
"Jadi nona, sebagai calon istri dari kakak laki-laki ku, kenapa kau tidak mengenalku dan aku juga tidak mengenalmu?"
Wanita itu meremas ujung baju yang dia pakai karena kesal dan juga menahan malu.
"Sepertinya dia hanya wanita pembual."Ucap orang yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Benar, dia mungkin berhalusinasi menjadi calon istri tuan Alexander."Ucap yang lain.
"Dasar tidak malu, menjijikan. Mengaku-ngaku calon istri orang didepan kekasih orang itu."Ucap yang lain lagi.
Mendengar ucapan yang begitu memalukan, wanita itu mengepalkan tangannya lalu menatap Anggie dan Amoora dengan tajam.
"Kalian, aku akan membuat kalian menyesal sudah membuatku malu hari ini."
Setelah mengatakan itu, wanita yang entah dari mana datangnya pergi dengan cepat dari restoran itu.
"Huh, benar-benar menyebalkan."Gerutu Amoora.
"Sudahlah, dia hanya wanita yang tidak ada pekerjaan."
"Aku harus bertanya pada kak Lexi dan memberi perhitungan dengan wanita itu."
"Hahaha kau ini, sudah tidak apa-apa. Ayo kita makan lagi saja."
Walau Anggie mengatakan hal itu, tentu saja dia akan melakukan sesuatu pada wanita yang sudah sangat lancang itu dan bertanya pada Lexi tentang siapa wanita itu.
Selesai makan mereka keluar dari restoran, dan betapa terkejutnya mereka melihat beberapa orang preman bertubuh kekar menghadang mereka saat mereka akan berjalan menuju mobil.
"Kau tidak perlu tahu, yang perlu kau tahu hari ini aku akan membuatmu tidak bisa berjalan lagi."Ucap salah seorang preman yang sepertinya adalah ketua dari beberapa preman itu.
Anggie menggandeng tangan Amoora lalu berbisik.
"Sepertinya wanita itu langsung bertindak."
Amoora mengangguk "Kau tenang saja kak, mereka tidak akan bisa menyentuh kita."
Anggie menatap Amoora dengan bingung.
"Hey kalian! Cukup bisik-bisiknya. Ayo kita seret mereka berdua!"
"Baik ketua!"
Lebih dari 6 orang preman maju kedepan untuk menangkap Amoora dan Anggie.
Bugh
Bugh
"Aaagh!!"
"Aaagh!!"
Anggie dan beberapa preman yang belum menyerang diam terpaku melihat Amoora membuat preman yang mendekat tersungkur karena tendangannya.
"Kur*ngajar! Kalian maju bersama. Tangkap wanita s*alan itu!"
Preman yang tersisa maju bersama menuju Amoora dan mereka berkelahi didepan restoran.
Anggie yang melihat itu hanya diam, tapi setelahnya dia mengambil ponsel lalu menghubungi polisi.
__ADS_1
7 dari 10 preman termasuk ketuanya terkapar tak berdaya diatas tanah karena Amoora.
Orang-orang yang melihat sangat terkejut dan kagum pada kekuatan Amoora yang bisa dengan mudah membuat mereka tak berdaya, dan dari jauh wanita yang menyuruh para preman itu berdiri dengan gemetar melihat bagaimana aksi Amoora.
Tak berapa lama polisi datang dan membawa semua preman yang menganggu Amoora dan Anggie.
"Kau tidak apa-apa?"Tanya Anggie sambil melihat tubuh Amoora.
"Aku tidak apa-apa."
"Kau, bagaimana kau bisa melakukan itu?"
"Aku adalah adik dari Lexi Alexander. Jadi untuk orang-orang itu bukanlah masalah."
"Kau membuatku takut."
Anggie memeluk tubuh Amoora karena takut.
"Amoora!"
Anggie langsung melepaskan pelukannya dan melihat orang yang memanggil Amoora.
"Alvaro."
Alvaro menatap Amoora tajam, dia berjalan dengan langkah lebarnya mendekati Amoora.
Sata ini bisa dilihat bagaimana wajah Alvaro yang tampak suram dengan aura dinginnya.
Sampai didepan Amoora, Alvaro langsung menarik tangan Amoora dan menenggelamkan tubuh Amoora pada pelukannya.
Amoora terkejut dalam pelukan Alvaro, bisa dengan jelas Amoora mendengar detak jantung Alvaro yang sangat kencang saat dia memeluk Amoora.
"Alvaro."
"Diam, tidak bisakah kau membuatku tenang. Kau bisa menghubungiku jika dalam bahaya."
"Tapi aku bisa menghadainya."
"Teruslah menjawab!"
Amoora diam, dia membiarkan Alvaro terus memeluknya dengan rasa takut yang tidak bisa ditutupi.
Anggie yng melihat bagaimana Alvaro memperlakukan Amoora hanya bisa tersenyum. Ternyata kabar tentang bagaimana Alvaro yang dingin dan tidak tersentuh, hanya berlaku bagi orang-orang yang tidak Alvaro ingini.
"Ehem."
Alvaro melepaskan pelukannya ketika mendengar suara Anggie.
"Maaf kalau aku mengganggu kalian. Amoora sepertinya aku harus pergi, karena masih ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Oh iya, terima kasih untuk hari ini kak."
"Iya."
Anggie pergi meninggalkan sepasang kekasih itu.
Amoora melotot pada Alvaro yang memeluknya terlalu lama sehingga membuat Anggie pergi.
"Ayo ikut aku."
Alvaro menarik tangan Amoora tanpa peduli dengan tatapan yang Amoora lemparkan padanya.
"Kita mau kemana?"
"Rumah sakit."
"Aku tidak apa-apa, aku sama sekali tidak terluka."
Alvaro menatap Amoora tajam.
__ADS_1
"Astaga, bagaimana bisa laki-laki ini begitu mendominasi?"
Amoora hanya bisa menuruti Alvaro yang sedang merasa khawatir padanya.