
Untuk ketiga kalinya Amoora masuk kedalam rumah keluarga Alexander.
Walau sudah menjadi anggota keluarga, tapi Amoora masih jarang untuk datang kerumah besar itu.
"Kamu sudah yakin akan melakukannya?"Tanya Lexi.
"Tentu kak, aku sudah bekerja sama dengan tuan George dari negara tetangga. Dia setuju karena sudah lama dia mengincar Bella."
"Lalu apa kau yakin mereka akan menyerahkan Bella begitu saja pada si tua George?"
"Aku tahu bagaimana Imanuel Steve dan istrinya. Mereka adalah orang yang tidak mau hidup susah dan akan melakukan banyak hal demi tetap berada pada posisinya, bahkan dia rela menyingkirkan keluarganya sendiri demi mendapatkan kekuasaan."
Tangan Amoora mengepal dengan kuat mengingat bagaimana perlakuan Imanuel kepada ibu dan dirinya dulu.
Lexi penepuk bahu Amoora pelan.
"Aku akan mendukung mu. Kau bisa mengatakan pada kakakmu ini apa yang kau butuhkan."
"Terima kasih kakak."
Amoora benar-benar sangat beruntung memiliki seorang kakak seperti Lexi. Walaupun mereka bukan saudara kandung, tapi Amoora merasa dia sangat bahagia menjadi anggota keluarga Alexander.
"Baiklah, kita lakukan sesuai dengan rencana mu."
Amoora mengangguk penuh keyakinan.
"Hana, Imanuel dan Bella. Aku harap kalian sudah siap dengan semua kejutan yang akan aku berikan."
Lexi merasa jika semakin lama dia melihat Amoora, semakin mengerti bagaimana sifat adiknya itu.
"Kakak harap kamu bisa lebih kuat kedepannya."
"Kalau begitu kakak keluar dulu."
"Kakak mau kemana?"
"Kakak mau siap-siap sebelum pergi membeli beberapa perlengkapan untuk Alice."
"Perlengkapan?"
Lexi mengangguk "Iya, Alice bilang dia ingin menginap ditempat mu. Apa Alice belum bilang?"
"Tidak, Alice tidak mengatakannya."
"Anak itu selalu saja."
"Sudahlah tidak apa-apa kak. Lagipula aku sudah menyiapkan kamar untuk Alice disana."
"Iya."
Lexi pergi ke kamarnya meninggalkan Amoora diruang keluarga.
Didalam rumah keluarga Alexander yang begitu besar, Amoora merasa sedikit bosan karena mereka hanya tinggal bertiga bersama dengan para pelayan yang sudah lama bekerja di keluarga Alexander.
"Nona."Ucap salah seorang pelayan.
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Tadi sebelum tuan Lexi ke kamar, dia berpesan supaya kami memberikan puding untuk nona."
"Puding."
"Benar, tuan berkata puding akan membuat nona Amoora sedikit lebih tenang."
"Baiklah, kalau begitu berikan pudingnya padaku."
"Baik nona, silahkan."
Pelayan itu memberikan puding yang dia bawa kepada Amoora.
Para pelayan dirumah keluarga Alexander sudah terbiasa melayani Amoora, selain Amoora baik dan ramah dia juga tidak pilih-pilih makanan, itu membuat para pelayan menyukai Amoora.
"Terima kasih. Puding ini sangat enak, dimana kalian beli?"
"Di toko kue yang ada di ujung blok, nona."
"Sore nanti bisa antar aku kesana?"
"Baik, nanti saya antar nona kesana."
"Terima kasih."
Pelayan itu mengangguk lalu meninggalkan Amoora untuk kembali melakukan pekerjaannya.
"Sudah cukup lama aku tidak memakan dessert yang enak seperti ini."
Amoora berencana akan membeli puding dan juga kue untuk anak buahnya di mansion.
Selesai memakan puding, Amoora berjalan menuju kamarnya. Ya, setelah Amoora resmi menjadi anggota keluarga Alexander, Lexi menyiapkan kamar untuk Amoora didalam rumah besar keluarga Alexander.
Masuk kedalam kamar yang sudah beberapa hari ini tidak dia masuki.
"Kak Lexi selalu malakukan yang terbaik. Bahkan memberikan kamar yang begitu indah dan besar."
Dulu dikeluarga Steve, Amoora tidur di salah satu kamar berukuran 3x3. Ukuran yang sama seperti kamar pelayan dirumah keluarga Steve.
Tapi sekarang, kamarnya jauh lebih besar. Kamar mandi, ruang ganti, lemari yang cukup besar, meja rias yang cantik ditambah satu set sofa dengan tv menghiasi kamar itu.
...Kamar Amoora di Rumah Keluarga Alexander ...
Amoora berbaring diatas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.
Jika dulu dia hanya akn melihat langit-langit berwarna putih, sekarang dia bisa melihat lampu-lampu kecil yang tertata rapi pada plafon kamarnya.
"Ibu, sekarang aku sudah hidup lebih baik dari sebelumnya. Apa ibu sudah bisa tenang disana?"
Tanpa terasa air mata Amoora mengalir dari sudut matanya. Tidak bisa dia pungkiri, jika hidupnya sangat sulit setelah kepergian ibunya.
"Cukup Amoora. Kau tidak perlu lagi menangis untuk keluarga itu. Sekarang kau harus memulai pembalasan agar mereka tahu bagaimana dirimu yang sekarang."
Amoora bangkit lalu berjalan kearah lemari untuk mengambil sesuatu.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari dilemari, Amoora keluar dari kamar.
__ADS_1
"Kau akan pergi?"Tanya Lexi yang ternyata baru keluar dari kamarnya.
"Iya kak."
"Tidurlah dirumah untuk beberapa hari."
"Tentu. Aku akan kembali setelah melakukan ini semua."
"Baiklah, aku dan Alice akan menunggu mu untuk makan malam."
"Siap kak."
Amoora lalu bergegas menuruni tangga dan menghilang dibalik pintu utama rumah yang besar itu.
Hari itu Amoora akan pergi ke sebuah tempat dimana George akan membawa Bella. Dia akan memasang beberapa CCTV didalam tempat yang dia siapkan.
Kali ini dia akan membuat Bella dan keluarga Steve terpukul dan sangat malu atas perbuatan putri nya.
Amoora melajukan mobilnya dengam cepat dijalan raya. Saat akan pergi ke tempat itu Amoora melihat dua orang anak buahnya sedang mendapatkan masalah dengan beberapa orang yang sepertinya dari anggota mafia yang lain disebuah taman yang cukup sepi.
Amoora menepikan mobilnya lalu turun dengan tatapn dinginnya.
Berjalan dengan pasti Amoora mendekati mereka.
"Hei kalian!"Seru Amoora pada beberapa anggota mafia yang ternyata sudah memukuli anak buahnya.
Amoora melihat wajah dua anak buahnya lebam karena pukulan beberapa orang itu.
"Hey nona, lebih baik kau tidak ikut campur. Ini masalah orang dewasa."
Amoora tidak menggubris ucapan salah seorang dari mereka. Amoora terus berjalan mendekati mereka dengan tangan mengepal kuat.
"Kalian berdua, bukankah kalian sudah diajari bagaimana cara menggunakan kedua tangan dan kaki kalian saat sedang berhadapan dengan para anj*ng!"Ucap Amoora pada dua anak buahnya.
Kedua anak buah Amoora diam, mereka merasa bersalah karena mereka tidak bisa melawan orang-orang itu.
"Nona, siapa yang kua maksud dengan anj*ng?"
Dua orang diantara mereka berjalan mendekati Amoora bermaksud untuk memukul wajah Amoora, namun...
'Buuuugh buuugh!'
Dua orang tadi terpental karena pukulan Amoora yang mengenai perut mereka berdua.
Beberapa orang teman mereka yang melihat itu menjadi kesal.
"Kurang ajar! Beraninya kau memukul kami. Apa kau tidak tahu siapa kami?"
"Aku tidak peduli siapa kalian. Yang aku tahu, jika kalian berani menyakiti orang-orang ku. Maka kalian harus mendapatkan 100x lipat dari apa yang sudah kalian lakukan pada mereka."
"Cih, sombong sekali."
4 orang yang tersisa berlari kearah Amoora untuk memberi Amoora perhitungan, namun lagi-lagi mereka mendapatkan pukulan dari Amoora.
10 menit kemudian 6 orang yang menyerang Amoora tadi terkapar diatas tanah dengan luka di tubuh mereka.
"Katakan pada bos kalian. Jika ingin memberi perhitungan, maka datang dan temui aku. Ketua dari Dark Angel."
__ADS_1
Amoora lalu membawa dua orang anak buahnya untuk mendapatkan pengobatan di mansion.
Sementara 6 orang tadi hanya bisa menahan rasa sakit. Mereka tidak tahu siapa Amoora dan hubungan Amoora dengan Lexi Alexander sang penguasa dunia bawah, sehingga mereka dengan berani memukul anak buah Amoora bahkan menyerang Amoora.