
Didalam sebuah rumah, terdengar suara barang-barang pecah dan juga sesekali terdengar jeritan dari seorang wanita dari dalam salah satu kamar dirumah itu.
Para pelayan dirumah itu tidak ada yang berani mendekati apalagi masuk kedalam kamar.
Ya, rumah itu adalah rumah keluarga Gabriel dan wanita yang berteriak-teriak adalah satu-satunya cucu perempuan dikeluarga besar itu, Anasya Gabriel.
Dia yang sekarang menjadi lumpuh karena salah satu kakinya dipatahkan oleh anak buah Amoora tidak terima, dia membuang semua barang-barang yang ada didalam kamar dan juga memaki Amoora dengan keras dan penuh kemarahan.
Tuan besar Gabriel hanya bisa membiarkan Anasya seperti itu, semua karena salahnya sendiri yang mencelakai Amoora.
Beruntung saat ini perusahaan mereka tidak lagi ditekan oleh Alvaro dan Lexi, walaupun ada beberapa kerjasama diantara mereka yang dibatalkan.
"Suruh anak manja itu berhenti berteriak dan membuat kebisingan."Perintah tuan besar Gabriel pada menantunya yang tak lain istri Gabriel.
"Iya Pa."
Menantu itu pergi kekamar Anasya untuk mencoba menenangkan putrinya.
"Cih, dasar tidak tahu diri. Sendiri yang ditolak oleh tuan muda Fernandez, tapi malah mnyalahkan orang lain yang disukai oleh tuan muda Fernandez dan mencelakainya."Ucap adik perempuan Gabriel.
"Diam, kau tidak perlu ikut bicara."Gabriel menatap tajam adiknya.
"Apa, kenapa? Semua yang aku katakan benar. Karena anak mu yang kalian manjakan itu, kita hampir saja kehilangan perusahaan dan hidup sengsara."
"Kau!"
"Apa?"
"Cukup!"Tuan besar Gabriel angkat bicara.
"Ayah.."
"Bawa putrimu pergi keluar negri, dan jangan biarkan dia kembali sebelum dia berubah menjadi lebih dewasa."
"Tapi ayah..."
"Itu keputusanku. Aku tidak akan membiarkan dia kembali berulah dan membuat perusahaan terlibat lagi. Akan ada ratusan karyawan yang menanggung akibatnya, kau tahu itu."
Gabriel terdiam "Aku mengerti ayah."
Hanya itu yang bisa tuan besar Gabriel lakukan agar Anasya tidak membuat onar lagi, karena dia tahu jika setelah ini Anasya pasti tidak akan tinggal diam.
***
Ditempat lain, Amoora sedang mengaduk-aduk es kopi yang dia pesan sambil menatap laki-laki yang ada didepannya dengan tajam.
Tapi meskipun ditatap dengan tajam, laki-laki itu justru tersenyum manis pada Amoora. Hingga akhirnya Amoora merasa jengah sendiri.
"Bagaimana bisa kau tahu aku disini?"Tanya Amoora.
"Bahkan jika kau berada dilubang semutpun aku akan tahu."
"Fuan Alvaro Fernandez!"
"Sssttt, kamu bisa menganggu ketenangan orang lain."
"Kau yang sudah mengganggu ketenanganku."
"Kau sangat menggemaskan saat sedang marah."
Amoora menahan kesalnya setengah mati, entah berhutang apa dia pada Alvaro dikehidupannya yang dulu sehingga saat ini sangat sulit sekali membuat Alvaro menjauh darinya.
"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Aku ingin mengajakmu keacara peresmian cabang perusahaan milik pamanku besok."
"Aku tidak mau."
"Aku tidak mendengar sebuah penolakan, terutama itu darimu."
"Siapa kamu, percaya diri sekali."
"Aku? Tentu aku calon suamimu Amoora Alexander."
Mata Amoora membulat dan hampir saja es kopi yang dia minum tersembur keluar.
Dengan cepat Alvaro mengambil tisu lalu menyeka kopi yang sedikit keluar dari ujung bibir Amoora sambil tersenyum.
"Tidak perlu buru-buru, waktu masih panjang untuk meyakinkan kamu. Ya... walaupun sekarang aku yakin kalau kau sudah mempunyai perasaan padaku sedikit."
"Buang rasa percaya dirimu itu."
"Apa kau mau makan kue yang lain?"Tanya Alvaro mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, terima kasih."
"Baiklah kalau begitu ikut aku."
"Kemana?"
__ADS_1
"Kau akan tahu nanti."
Alvaro mengambil es kopi milik Amoora lalu meminumnya sedikit kemudian menarik tangan Amoora untuk ikut dengannya.
Amoora yang tidak bisa melepaskan genggaman tangan Alvaro pada tangannya hanya bisa pasrah dan mengikutinya.
Alvaro membukakan pintu mobil untuk Amoora.
"Naiklah."Ucap Alvaro.
Walaupun tidak mau, tapi Amoora tetap harus naik kedalam mobil karena Alvaro tidak mau melepaskan tangannya.
Setelah melihat Amoora duduk dengan baik, Alvaro menutup pintu mobil lalu berlari kecil memutari mobil dan masuk kedalam mobil lewat pintu disebelahnya.
Sebelum menyalakan mesin mobil Alvaro menatap Amoora sambil tersenyum.
"Cepat jalan, jika tidak aku akan keluar."Ucap Amoora.
"Iya."
Alvaro lalu menyalakan mobilnya lalu melajukan mobilnya pergi ketempat yang Amoora tidak ketahui.
Didalam mobil sesekali Alvaro melirik kearah Amoora yang sepertinya lebih fokus melihat keluar jendela.
"Mau aku buka?"Tanya Alvaro.
Amoora menoleh "Tidak perlu."
Alvaro hanya mengangguk.
Hampir satu jam mereka berkendara, akhirnya sampai disebuah butik dengan desain bangunan yang cukup cantik dan elegant.
Alvaro keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Amoora.
"Ayo."
"Kenapa kau membawaku kesini?"
"Tentu saja... kau harus tampil dengan sangat cantik besok."
"Bukankah aku berkata tidak mau?"
"Aku juga berkata jika aku tidak mendengar penolakan darimu."
"Iya sayang."
Amoora terdiam, dia benar-benar akan jadi gila jika lama-lama bersama dengan Alvaro.
Tanpa menunggu Alvaro, Amoora berjalan dengan cepat masuk kedalam butik itu. Sementara Alvaro hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Selamat datang tuan dan nona."Ucap seorang karyawan toko.
"Iya, bawakan gaun pesta yang cocok untuknya. Ingat jangan yang terlalu glamor dan terbuka."Ucap Alvaro.
"Baik tuan."
Amoora hanya diam dan duduk disofa untuk menunggu gaun yang akan dibawakan.
"Kau haus?"
"Tidak."
Alvaro duduk disamping Amoora yang masih cemberut dan melipat tangannya didepan dada.
Tak berapa lama karyawan tadi datang dan berkata jika beberapa gaun sudah siap diruang ganti.
"Pergi dan cobalah, aku ingin melihatnya."
"Kenapa tidak kau saja yang pergi?"
"Itu gaun pesta sayang, untukku akan ada orang yang menyiapkan tuxedo sesuai dengan gaun yang kau pakai nanti."
Amoora menghela nafas kesal, dia lalu berdiri dan pergi meninggalkan Alvaro yang semakin lama semakin menjadi dengan memanggilnya sayang.
Sekitar 5 menit kemudian Amoora keluar dengan gaun pesta pertama yang dia coba, Alvaro melihatnya dengan teliti lalu menggeleng.
Amoora yang melihat itu menatapnya kesal, itu karena dia harus kembali masuk keruang ganti dan mencoba gaun yang lain.
Ini adalah gaun keempat yang Amoora coba, dia keluar dari ruang ganti dengan wajah kesalnya.
"Jika kau tidak memilih juga, aku akan pergi sekarang dan membiarkanmu memakai semua gaunnya."Ucap Amoora.
Alvaro terkekeh mendengar ucapan kesal Amoora, dia lalu berdiri dan berjalan mendekati Amoora.
"Ambilkan satu set baju couple yang sudah aku pesan minggu lalu."Ucap Alvaro pada karyawan toko sambil memberikan selembar kertas.
__ADS_1
"Baik tuan."
Amoora menatap Alvaro dengan mata bulatnya seolah ingin sekali dia melahap Alvaro saat itu juga karena kesal.
"Kalau kau sudah memesan bajunya, untuk apa kau memintaku mencoba ini dan gaun-gaun yang sebelumnya?"
"Aku hanya ingin lihat apakah gaun-gaun itu cocok padamu atau tidak."
"Alvaro Fernandez, kau benar-benar menyebalkan!"Seru Amoora sebelum dia berbalik dan berjalan masuk kedalam ruang ganti.
Alvaro hanya terkekeh melihat tingkah Amoora yang benar-benar kesal padanya.
Para karyawan toko hanya bisa senyum-senyum melihat Amoora dan Alvaro yang mereka kira adalah sepasang kekasih.
"Tuan ini adalah setelan couple yang anda pesan."
Alvaro menerima set tuxedo dari karyawan toko itu.
"Berikan gaun itu padanya dan bantu dia sedikit menata rambutnya."
"Baik tuan."
Alvaro pergi keruang ganti yang lainnya untuk mencoba tuxedo yang dia bawa.
Beberapa menit kemudian Alvaro keluar terlebih dulu dari Amoora, dia berdiri didepan cermin yang tersedia didepan ruang ganti lalu membenarkan dasi yang dia kenakan.
Dua menit kemudian Alvaro terdiam mematung saat melihat Amoora yang baru saja keluar dari ruang ganti disebelahnya.
"Sangat cantik."Gumam Alvaro.
Amoora belum menyadari jika dia berdiri disamping Alvaro yang sedang bercermin.
Saat dia menoleh, kedua mata mereka saling menatap dan mengunci beberapa saat.
"Ehem."Amoora mencoba melihat sekitar karena canggung setelah mereka saling menatap satu sama lain.
Alvaro berjalan mendekat.
"Sangat cantik, untuk hiasan leher dan yang lainnya kau pakai satu set perhiasan yang sudah aku berikan padamu."
"Kau... Ternyata kau sudah merencakannya."
Alvaro tersenyum dan membelai pipi Amoora dengan lembut.
"Untuk mengejarmu, aku harus mempunyai banyak rencana."
"Jika begitu, kau bisa mencari wanita yang lain."
"Sayangnya aku tidak bisa, kau wanita satu-satunya yang ingin aku miliki didunia ini."
Deg
Deg
Deg
Tiba-tiba jantung Amoora berdetak sangat cepat, wajahnya seolah terbakar. Sangat panas.
"Aku.... sudah mencoba gaunnya, kau juga sudah mencoba tuxedo itu. Sekarang... Aku ingin pulang."
"Tunggu."
"Apa?"
Alvaro mengambil ponselnya lalu menyalakan kamera.
"Sekali saja."
"Tidak mau."
Amoora akan melangkah, tapi tangannya ditarik oleh Alvaro sehingga dia jatuh dalam pelukan Alvaro dan tepat pipi Amoora menyentuh bibir Alvaro.
'cekrek'
Sebuah foto yang begitu manis sudah tertangkap dengan baik.
"Kau sangat menyebalkan."Amoora mendorong tubuh Alvaro lalu berlari kearah ruang ganti.
Alvaro yang ditinggal Amoora hanya bisa diam, dia lalu melihat layar ponselnya. Alvaro membuka album dan melihat fotonya dengan Amoora tadi, bibirnya melengkung menebarkan senyum sempurnanya.
"Dia wanita yang sangat cantik, dan tidak mudah didapatkan."
Alvaro memasukkan ponselnya kedalam saku celana seolah takut orang lain akan melihat, lalu berjalan keruang ganti untuk berganti pakaian.
Setelah keduanya berganti mereka keluar, Alvaro meminta karyawan toko untuk membungkus beberapa gaun yang Amoora coba tadi.
Alvaro ingin Amoora menjadi wanita yang paling cantik dipesta pembukaan cabang perusahaan pamannya nanti.
__ADS_1