The Queen Psycho

The Queen Psycho
48


__ADS_3

Didalam ruangan yang lembab dan hanya diterangi oleh lampu kecil didalamnya, Anasya duduk diatas lantai yang dingin dan juga kotor.


Dia berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya, udara yang pengap dan suasana yang menakutkan membuat Anasya tidak nyaman dan sedikit terisak.


Anasya merasa takut jika dia akan disiksa oleh Amoora setelah melihat ruangan lain yang dia lewati penuh dengan rantai besar, beberapa besi, dll.


'tak tak tak tak'


Suara langkah kaki bersautan semakin mendekat, Anasya semakin merasa takut dan meringkuk dipojok ruangan itu.


'kriet'


Pintu besi terbuka dan terlihat sosok Amoora dan dua orang anak buahnya didepan Anasya.


Terlihat salah seorang anak buah Amoora meletakkan kursi yang kemudian diduduki oleh Amoora.


Mata Anasya menatap Amoora dengan nanar, dia benar-benar benci melihat Amoora yang saat ini sedang duduk dan menatapnya penuh kemenangan.


"Lepaskan aku! Aku akan membuatmu menyesal karena melakukan ini padaku!"Seru Anasya.


Amoora menatap Anasya dengan dingin tanpa peduli dengan suara Anasya yang menggema disetiap sudut ruangan yang tidak begitu terang.


"Lebih baik kau simpan suaramu, karena nanti kau akan membutuhkannya saat menjerit."


"Kau, kau wanita gila. PSYCHOPAT!!"


"Hahahaha nona Anasya, apa kau baru tahu siapa aku? Apa kau tidak mencaritahu akibatnya lebih dulu sebelum mencelakaiku?"


Seorang anak buah Amoora datang membawa sebuah tali, lalu memberikannya pada Amoora.


Mata Anasya membulat, kepalanya menggeleng. Kali ini dia sangat takut karena tatapan Amoora padanya seperti belati yang siap menancap.


Amoora berdiri dan berjalan beberapa langkah mendekati Anasya.


"Jangan mendekat! Kau akan menyesal Amoora! Jangan berani melakukan..... Aaaaaagh!!!!"


Ocehan Anasya berubah menjadi longlongan kesakitan saat Amoora mengayunkan tali yang anak buahnya berikan padanya ketubuh Anasya.


Amoora beberapa kali memukuli tubuh Anasya dengan tali itu, hingga dia melihat bekas merah ditubuh Anasya dan beberapa dari tanda merah itu mengeluarkan darah segar sehingga membuat pakaian yang Anasya kenakn berwarna merah.


"Ingat baik-baik nona Anasya, sebelum kau bertindak lihat dulu siapa lawanmu. Kau yang seperti ini, meskipun aku bukan anggota keluarga Alexander, aku masih bisa membuatmu jauh lebih menderita."


Amoora melemparkan tali tadi lalu berbalik.


"Kau lihat saja, Alvaro.... Dia tidak akan pernah... menjadi milikmu."


"Aku tidak peduli tentang itu, yang aku tahu saat ini cincin untuk nyonya muda Fernandez sudah dia berikan padaku."


Anasya mendongak, dia tidak percaya dengan apa yang Amoora katakan.


"Kalian, patahkan satu kakinya. Lalu minta kak Lexi datang untuk mengembalikan cucu manja ini pada keluarganya."Ucap Amoora sebelum keluar dari ruangan itu.


"Baik bos."


"Tidak! Kalian tidak bisa melakukannya! Amoora aku akan membunuhmu. Aaaaaaaaghhh!!"


Amoora tidak peduli dengan ancaman yang Anasya katakan, karena dia sudah terbiasa mendapat ancaman seperti itu.


Keluar dari ruang yang gelap itu Amoora menggeliat, dia lalu berjalan masuk kedalam mansion.


"Kau!"Seru Amoora yang terkejut melihat Alvaro duduk disofa ruang tv.


"Apa kau baru saja memberi hukuman pada wanita itu?"


"Dia wanita yang menyukaimu, apa kau sama sekali tidak merasa kasihan?"


Alvaro terkekeh, dia lalu berdiri dan berjalan memdekati Amoora.


"Wanita yang menyukaiku banyak, lagipula dia pantas mendapatkannya karena sudah melukaimu."

__ADS_1


Alvaro menyeka keringat yang ada pada kening Amoora.


"Dengan siapa kau kesini?"Amoora mencoba menghindar.


"Diamlah, kau sangat berkeringat."Alvaro menahan bahu Amoora dan kembali menyeka keringat Amoora.


"Aku bertanya padamu."


"Aku datang sendirian."Jawab Alvaro yang dengan serius mengelap dan menatap kening Amoora.


'cup'


Alvaro tiba-tiba mengecup kening Amoora.


"Sudah selesai."Alvaro tersenyum lebar.


Amoora mendorong tubuh Alvaro, dia melotot karena lagi-lagi Alvaro melakukan hal yang membuat Amoora kesal.


"Hadiah kecil, karena kamu sudah melakukan yang terbaik untuk menghukum wanita itu."


"Ck."


Amoora berlalu meninggalkan Alvaro menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


"Dia sangat menggemaskan saat malu dan kesal."


Alvaro kembali duduk untuk menunggu Amoora selesai membersihkan diri.


Tak lama terdengar suara deru mobil datang didepan mansion.


"Moora!"Sebuah teriakan terdengar dari ruang tamu.


Alvaro berdiri dan melihat Lexi, ternyata yang berteriak tadi adalag Lexi.


"Alvaro, sedang apa kau disini?"Tanya Lexi heran.


"Aku baru memberikan hadiah pada Amoora."


"Iya, hadiah."


"Hadiah apa?"Lexi melihat kesana kemari.


"Kau tidak perlu tahu."


"Ck, dimana Moora?"


"Moora?"


"Huh, Amoora."


"Oh, dia ada dikamarnya."


Lexi berjalan ke kamar Amoora meninggalkan Alvaro sendirian.


'tok tok tok'


"Moora!"


"Iya kak, sebentar."Terdengar suara dari dalam kamar.


'ceklek'


"Apa sudah selesai?"Tanya Lexi langsung.


"Sudah, sebentar lagi mereka akan membawanya keluar."


"Kau jadi menguliti dia?"


"Tidak, aku hanya memberikan peringatan kecil padanya dengan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan padaku."

__ADS_1


Lexi mengerti dan mengangguk.


"Lalu Alvaro, kenapa dia disini?"


Amoora mengangkat kedua bahunya.


"Biarkan saja, selesai mengurus wanita itu aku melihatnya sudah duduk santai diruang tv."


Lexi menggelengkan kepalanya.


"Ayo turun, kau harus mengembalikan nona itu."Ajak Amoora.


Lexi dan Amoora pergi ke lantai bawah lalu berjalan kehalaman samping.


Lexi melihat seorang wanita dengan tubuh penuh bekas pukulan dari tali yang darahnya sudah mulai mengering.


Alvaro yang mendengar sedikit keributan pergi ke halaman samping dan terkejut melihat tubuh Anasya penuh dengan luka, dan darah.


"Bagaimana?"Tanya Lexi pada Alvaro.


"Kau.... melakukannya sendiri?"Tanya Alvaro pada Amoora.


"Tentu saja."


"Masukan dia kedalam mobil."Lexi memerintah pada anak buah Amoora.


Dua anak buah mengangguk lalu melakukan apa yang Lexi perintahkan.


"Kak, katakan pada keluarga Gabriel, aku minta maaf karena memberi mereka sedikit kejutan."


"Tenang saja, hanya sedikit luka dan kaki patah. Tidak akan ada masalah."


Alvaro mendengar percakapan mengerikan dua kakak beradik yang seolah-olah tubuh manusia adalah boneka yang bisa dipatahkan dengan sangat mudah.


"Baiklah, kakak pergi sekarang."


"Emm iya."


"Ayo kau harus ikut."Lexi menyeret Alvaro.


"Tidak, kenapa aku harus ikut?"


"Dia wanita yang menyukai mu. Jika kau tidak suka, maka kau harus mengatakannya didepan keluarganya dan berkata agar tidak lagi menganggu adikku."


"Tapi...."


"Lakukan, atau kau tidak akan pernah mendapatkan Moora."Ancam Lexi.


"Oke, oke aku ikut. Tidak asik sekali ancamanmu itu."


"Kalau tidak begitu, kau tidak akan pernah mau pergi."


Dengan terpaksa Alvaro akhirnya ikut dengan Lexi pergi ke keluarga Gabriel.


Sementara Amoora hanya melihat kedua orang yang menurutnya sangat cocok dalam hal keanehan.


"Sudah kalian cepat pergi."Ucap Amoora.


"Iya, nanti sore aku kesini lagi."Ucap Lexi.


"Iya."


"Aku ju...."


"Kau tidak perlu, aku akan sibuk dengan kak Lexi sore nanti."


Alvaro menghela nafas dengan berat "Ya,baiklah"


Lexi dan Alvaro pergi kerumah keluarga Gabriel menggunakan mobil mereka masing-masing.

__ADS_1


"Akhirnya selesai. Aku harap tidak ada orang lain yang otaknya dangkal seperti dia."


Amoora kembali masuk kedalam mansion dan bersiap untuk pergi juga.


__ADS_2