
Keesokan harinya Amoora menerima tamu yang tidak pernah dia duga di perusahaan. Iru karena tamu yang datang adalah seorang wanita yang baru saja bertemu dengannya kemarin saat dirumah Alvaro.
Saat ini Amoora duduk didepan seorang wanita cantik dan cukup anggun itu.
"Nona Allie, jika tidak salah itu nama mu bukan?" Tanya Amoora.
Wanita bernama Allie itu tersenyum sinis pada Amoora "Ingatanmu cukup bagus nona Amoora Steve, atau sekarang saya harus memanggil anda nona muda Alexander."
Amoora tersenyum, dia mengerti ucapan Allie hanya memancing emosinya. Tapi Allie tidak tahu jika dia tengah berhadapan dengan siapa.
"Terima kasih. Kau panggil saja aku nona Alexander, tapi jika kau tidak keberatan kau bisa mulai memanggil ku kakak ipar."
"Kau! Berani sekali kamu!"
Amoora terkekeh pelan, wanita yang mempunyai mental seperti ini ingin melawannya. Bukankah dia hanya akan menghamburkan uang untuk melakukam banyak hal nantinya?
"Jadi apa tujuan anda menemui ku nona Allie?"
"Kau pasti tahu dari Alvaro siapa aku. Tapi kau tidak tahu bagaimana perasaan ku padanya."
Amoora tersenyum, dia mengambil cangkir berisi teh didepannya lalu meminum teh itu perlahan.
"Jadi, apakah saya harus peduli dengan perasaanmu dan wanita-wanita lain yang menyukai Alvaro, nona Allie?"
Allie tertegun dengan ucapan Amoora.
"Apa maksud mu? Kau sudah tahu aku menyukai Alvaro, jadi lebih baik kau pergi darinya!"
Amoora meletakkan kembali cangkir tehnya.
"Nona Allie. Di dunia ini kau tidak bisa mendapatkan semua yang kau inginkan. Termasuk seseorang yang sudah akan menikah dan tidak menyukaimu."
"Kau...."
"Ada banyak wanita cantik yang menyukai Alvaro diluar sana. Apakah aku harus menurut dan memberikan Alvaro kepada mereka yang berkata seperti mu, nona Allie? Jika seperti itu aku sama saja seperti seorang pecundang, karena tidak bisa bertahan dari kalian para wanita yang terlalu tinggi berhayal bisa bersama dengan calon suamiku."
"Amoora Alexander!"
"Jangan berteriak padaku nona Allie. Aku tidak tuli, aku bisa mendengar suaramu yang sangat merdu."
Allie mengepalkan tangannya. Dia sangat kesal dengan apa yang sudah Amoora katakan padanya.
"Kau akan menyesal karena sudah merebut Alvaro dariku!"
"Tentu saja tidak. Karena yang aku tahu kami sangat saling mencintai, dan kau hanyalah adik sepupu jauh Alvaro."
Allie yang tidak tahan dengan ucapan Amoora, pergi dengan emosi yang tertahan. Dia merasa kesal karena sudah dibuat malu oleh perkataan Amoora yang tidam bisa dia lawan.
Amoora yang sudah terbiasa menghadapi wanita-wanita seperti itu hanya bisa tersenyum.
"Berapa banyak lagi wanita yang tidak terima kau menjadi suamiku, Alvaro?"
Amoora berdiri dan kembali ke meja kerjanya karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum dia mengambil cuti untuk menikah nanti.
**
Sementara itu Alvaro yang juga sangat sibuk. Bukan hanya disibukan dengan pekerjaan, tapi dia juga disibukan dengan persiapan pernikahannya dengan Amoora beberapa hari lagi.
__ADS_1
Semua persiapan pernikahan mereka sudah hampir selesai, hanya tinggal pergi ke toko bunga untuk memesan beberapa karangan bunga cantik dan ke toko berlian untuk mengambil perhiasan yang sudah Alvaro pesan.
Daniel yang melihat tuan mudanya bekerja begitu keras merasa kasihan. Tapi ketika dia menawarkan diri untuk membantu mengurusnya, Alvaro menolak dengan alasan dia ingin pernikahannya diurus oleh dirinya sendiri dan Amoora.
Apa yang Alvaro katakan tentu tidak bisa dibantah. Jadi mau tidak mau Daniel harus menurutinya.
Hari semakin sore. Satu per satu karyawan di perusahaan Alvaro mulai keluar dari gedung untuk pulang kerumah mereka masing-masing.
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Alvaro tersadar dari pekerjaannya.
Seorang wanita dari balik pintu masuk kedalam ruang kerja Alvaro sambil tersenyum manis.
"Kenapa kau kesini sayang?" Tanya Alvaro saat melihat wanita yang dia cintai berdiri didepannya.
"Seseorang berjanji akan makan malam denganku. Tapi sampai 30 menit aku menunggu tidak seorang pun datang menjemputku di perusahaan."
Alvaro terkejut dan langsung melihat jam tangan yang melingkar sempurna di tangan kirinya.
"Ya Tuhan. Sayang aku minta maaf, aku tidak tahu jika sudah jam segini."
Alvaro berdiri dan berjalan cepat mendekati Amoora dengan rasa bersalahnya.
"Aku benar-benar minta maaf."
Amoora tersenyum, dia tahu jika Alvaro sangat sibuk akhir-akhir ini.
"Iya aku bisa mengerti."
"Baiklah, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Amoora.
"Hanya tinggal sedikit lagi."
"Kalau begitu kau selesaikan dulu. Aku akan menunggumu."
"Terima kasih sayang."
Alvaro mengecup kening Amoora sebelum dia kembali duduk didepan meja kerjanya.
Sementara Alvaro bekerja, Amoora mwnunggunya sambil duduk di sofa dan memainkan ponselnya.
15 menit kemudian, Alvaro membereskan semua berkas yang ada diatas meja kerjanya dan menutup laptopnya.
"Amoora."
Amoora menoleh pada Alvaro.
"Kau sudah selesai?"
Alvaro mengangguk "Sudah, ayo kita makan malam."
Amoora mengangguk, dia lalu berdiri dan berjalan menghampiri Alvaro.
Mereka berdua keluar dari ruangan sambil bergandengan tangan.
"Daniel, kau bisa pulang sekarang." Ucap Alvaro saat melewati meja asisten pribadinya itu.
__ADS_1
"Baik tuan muda."
Alvaro mengangguk.
Amoora menyapa Daniel sebelum mereka pergi dan menghilang dibalik lift.
Didalam mobil Amoora melihat jalanan yang cukup padat dan langit yang sudah mulai gelap.
"Kau ingin makan apa sayang?" Tanya Alvaro.
"Aku ingin seafood."
"Seafood? Baiklah."
Dengan kecepatan sedang Alvaro melajukan mobilnya ditengah banyaknya kendaraan lain di jalan raya.
10 menit kemudian mereka sampai didepan rumah makan seafood yang cukup besar di kota itu.
Alvaro membawa Amoora masuk kedalam rumah makan dengan gaya klasik dan bernuansa hangat itu.
Mereka duduk di kursi yang tidak begitu kedalam, karena hampir semua kursi sudah penuh.
Seorang pelayan mendekati Alvaro dan Amoora. Dia memberikan buku menu pada mereka.
Setelah mereka berdua memesan makanan, pelayan itu pergi.
"Apa kau sering kesini?" Tanya Amoora.
"Tidak, hanya jika ingin makan seafood saja. Karena yang aku tahu rumah makan ini cukup enak dan bersih."
Amoora mengangguk mengerti.
"Besok kau mau ikut ke toko bunga?" Tanya Alvaro.
"Toko bunga?"
"Iya, kita perlu memesan beberapa bunga segar untuk dekorasi pernikahannya."
"Oke aku akan ikut."
Alvaro mengangguk dan tersenyum.
Tak lama makanan yang mereka pesan sampai. Mereka pun menikmati makanan yang sudah mereka pesan itu.
Dari luar rumah makan sepasang mata tengah menatap Alvaro dan Amoora penuh rasa benci.
"Amoora Alexander. Dia hanya seorang anak angkat, tidak pantas untuk kak Alvaro!"
Tangan orang itu meremas stir mobil dengan erat seolah dia sedang mencekik leher Amoora. Dia tidak terima jika laki-laki yang sudah lama dia sukai menjadi milik orang lain.
Orang itu kemudian menghubungi seseorang dengan ponselnya sambil terus melihat kearah Alvaro dan Amoora yang terlihat tengah teratawa bersama didalam rumah makan.
"Iya, lakukan dengan baik. Aku akan memberikan bonus jika pekerjaan kalian memuaskan." Ucap orang itu pada seseorang yang dia hubungi.
Setelah menghubungi seseorang dia tersenyum dengan rasa bencinya.
Sementara Alvaro dan Amoora yang tidak tahu jika seseorang tengah merencanakan sesuatu, masih menikmati makanan mereka sambil sesekali bercanda.
__ADS_1