The Queen Psycho

The Queen Psycho
70


__ADS_3

Beberapa hari setelah Alvaro melamar Amoora, dia melakukan jumpa pers dan memberitahu kepada semua orang tentang kabar bahagia itu.


Alvaro juga memberitahu jika dalam beberapa bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan, dan beberapa media akan diundang untuk meliput hari yang paling bersejarah dalam hidupnya itu.


Setelah jumpa pers dilakukan, berita mengenai pertunangan dan pernikahan Alvaro dan Amoora menjadi trending topik di beberapa media besar yang ada didalam maupun diluar negeri. Bagaimana pun Alvaro adalah anak tunggal dari keluarga terkaya di negara Z, dan mempunyai banyak aset di beberapa negara.


Amoora melihat jumpa pers yang dilakukan oleh Alvaro lewat ponselnya, dia merasa sekarang akan sulit untuk dia keluar rumah.


Itu karena Alvaro memperlihatkan foto saat dia melamar Amoora, dan dia juga memperlihatkan foto saat mereka pergi berdua.


"Seharusnya dia tidak perlu memperlihatkan foto kami, sekarang orang-orang tahu siapa aku."


Amoora meletakkan ponselnya disisi ranjang. Dia lalu menatap cincin yang melingkar dijarinya.


"Dia cukup pintar dalam membuat desain cincin seperti ini."


Tok tok tok


Amoora bangkit dari ranjangnya dan berjalan untuk membuka pintu kamar.


"Kakak."


"Orang dari galeri sudah datang."


"Baik, terima kasih kak."


Amoora berjalan menuju ruang tamu dengan Lexi untuk menemui orang dari galeri yang akan membantunya mencetak undangan dan juga sovenir untuk para tamu undangan di hari pernikahannya dengan Alvaro.


"Selamat siang nona Alexander."


"Selamat siang. Terima kasih sudah datang kesini."


"Tidak masalah, ini sudah jadi tugas kami."


Mereka lalu duduk bersama, orang dari galeri itu menunjukkan beberapa contoh desain undangan yang hanya akan di cetak sekali. Yang artinya jika sudah dibuat, maka mereka tidak akan menggunakan desain itu lagi, dan jika ada orang yang membuatnya sama seperti miliknya, orang itu akan dituntut. Karena itu sudah menjadi hak milik bagi pemesan undangan itu.


"Menurut kakak yang mana?" Tanya Amoora.


"Lebih baik kau tanya pada Alvaro."

__ADS_1


"Beberapa hari ini dia sibuk, dan dia menyerahkan senuanya padaku."


"Kalian ini."


Lexi lalu melihat 4 undangan yang Amoora pilih dari sekian banyak desain undangan.


"Kakak rasa ini bagus, desainnya tidak begitu mewah tapi cukup elegant dan warnanya juga bagus."


Amoora melihat desain undangan yang dipilih oleh Lexi.


"Kalau begitu aku pilih ini saja."


"Kau yakin?"


"Iya, aku tidak begitu mengerti tentang desain seperti ini."


"Baiklah kalau begitu."


Hampir dua jam mereka berdiskusi menentukan desain undangan dan sovenir yang akan dipakai untuk pernikahn Alvaro dan Amoora.


"Baik, semua sudah saya masukkan kedalam data. Untuk desain, warna undangan, type tulisan dan sovenir. Kami akan melakukan yang terbaik."


"Baik, terima kasih karena sudah menggunakan jasa kami nona dan tuan muda Alexander."


"Iya."


"Kalau begitu, saya undur diri."


"Iya silahkan."


Setelah orang dari galeri pergi, Amoora menghempaskan tubuhnya ke belakang dan bernafas dengan lega.


"Ternyata hanya memilih desain undangan dan sovenir saja sudah sangat lelah dan pusing." Ucap Amoora.


"Kalian belum memilih gaya untuk dekorasi pernikahan kalian, dan juga gaun pengantin dan gaun pesta nanti."


"Aaagh kakak benar. Tidak bisakah aku melewatkan semuanya?"


"Kau ingin membuat pernikahan mu dengan anak orang terkaya di negara ini menjadi bahan perbincangan yang tidak baik?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, tapi apa aku benar-benar harus melakukan semuanya?"


"Bersabarlah."


Amoora mendengus kesal, dia tidak menyangka jika sebelum menikah dia akan dihadapkan dengan hal yang merepotkan seperti ini.


***


Sementara itu di perusahaan, Alvaro tengah bersiap untuk melakukan rapat dengan beberapa ketua bagian yang ada di perusahaannya.


Alvaro melihat ponselnya dan melihat berita tentang pertunangan dan pernikahannya dengan Amoora, senyumannya mengembang dan dia terlihat begitu bahagia.


"Aku akan membuat pernikahan kita menjadi pernikahan yang paling indah di negara ini. Sehingga banyak orang yang terinspirasi oleh keindahnnya, seperti kau yang selalu menginspirasi hidupku, Amoora."


Sekertaris Alvaro memberitahu jika semua orang sudah berkumpul dan siap diruang rapat.


Alvaro keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju ruang rapat.


Rapat berlangsung seperti biasa, suasana tegang selalu menyelimuti para karyawan Alvaro. Itu karena mereka khawatir akan melakukan kesalahan pada Alvaro, dan juga aura yang di keluarkan oleh Alvaro membuat mereka sulit untuk bergerak.


Dua jam kemudian rapat selesai. Semua karyawan keluar dari ruang rapat, wajah mereka yang tadinya tegang dan pucat menjadi berseri lagi, seolah baru keluar dari gua kematian.


Alvaro memang terkenal pebisnis yang dingin dengan pandangan yang sangat tajam. Pantas untuk ditakuti oleh banyak perusahaan di berbagai negara. Ditambah lagi perusahaannya sudah bekerjasama dengan perusahaan milik keluarga Alexander, orang yang ingin berulah pasti akan berfikir 100 kali.


Alvaro kembali ke ruang kerjanya. Diatas meja ponselnya bergetar beberapa kali.


Pada layar ponsel, Alvaro melihat sebuah pesan dari Amoora.


Amoora ♡ : Alvaro, bisakah untuk dekorasi pernikahan, hotel dan semuanya kau yang urus? Aku benar-benar tidak tahu hal-hal seperti ini. Aku sudah cukup pusing saat memilih desain undangan dan sovenir hari ini.


Alvaro tersenyum melihat isi pesan dari Amoora.


Selama ini Amoora memang hidup didalam dunia yang berbeda dari wanita kebanyakan, jadi tentu saja hal ini membuatnya sangat pusing dan lelah.


Amoora pasti lebih memilih untuk membuat rancangan penyerbuan, dari pada harus memilih desain atau dekorasi.


Tapi bagaimana pun, Alvaro ingin Amoora yang memilihnya sendiri. Itu akan memberikan kesan tersendiri bagi pernikahan mereka nanti.


(Maaf karena belakangan ini Linlin sangat sibuk dengan pekerjaan, jadi Linlin baru bisa up sekarang. Terima kasih karena selalu mendukung Linlin ✌😁)

__ADS_1


__ADS_2