
Seorang wanita cantik berdiri didepan cermin, dia sudah siap untuk pergi kesuatu tempat.
Dengan mengenakan mini dress dan high heels yang menambah kecantikannya, dia keluar dari kamar sambil membawa tas kecil yang membuatnya terlihat semakin anggun.
"Anasya, kau mau kemana?"
Suara seorang laki-laki terdengar begitu tegas bertanya padanya.
"Papa, aku mau pergi keluar sebentar."
"Dengan pakaian itu?"
"Pah ayolah, aku tidak akan membuat masalah. Lagipula pakaian ini sedang menjadi style terbaru."
"Ingat jangan berbuat macam-macam."
"Iya Pa, Anasya keluar dulu."
Ya, wanita cantik itu adalah Anasya Gabriel. Cucu perempuan satu-satunya dari keluarga Gabriel.
Hari ini dia berencana untuk menemui Alvaro, karena sehari sebelumnya dia mendapat kabar jika hari ini Alvaro akan bertemu klien disebuah restoran.
Anasya yang sangat ingin memiliki Alvaro berpikir jika itu adalah kesempatan yang bagus untuk bertemu dengannya. Jadi dia berdandan dengan cantik hari ini.
Dengan salah satu mobil miliknya, Anasya pergi meninggalkan rumah besat keluarga Gabriel.
"Hari ini aku akan membuatmu melihat kecantikanku, dan dengan kelembutanku tentu kau akan terpikat. Hanya seorang Amoora Alexander, anak angkat itu. Tidak akan pantas dibandingkan dengan ku."
Didalam mobil Anasya memutar lagu kesukaannya.
"Akhirnya aku akan mendapatkan mu Alvaro Fernandez. Laki-laki yang diinginkan oleh banyak wanita, akan menjadi milikku."
Hayalan Anasya begitu tinggi dengan Alvaro, sehingga Anasya tidak tahu jika perbuatannya akan membuat hal yang tidak diinginkan oleh keluarga Gabriel terjadi.
Tidak lama kemudian Anasya sudah sampai didepan restoran dimana Alvaro bertemu dengan kliennya.
Setelah melihat riasan wajahnya dan dirasa sudah sempurna, Anasya turun dari mobil lalu masuk kedalam restoran itu dengan anggunnya.
Anasya langsung mencari sosok laki-laki yang dia inginkan setelah masuk kedalam restoran.
Mata Anasya berbinar melihat orang yang dia cari sedang duduk dengan seseorang diujung sana.
Anasya lalu berjalan dan duduk dikursi yang letaknya tidak jauh dari kursi Alvaro, sehingga dia bisa dengan bebas menatap laki-laki idamannya itu.
Seorang pelayan restoran datang dan bertanya pada Anasya apa yang ingin dia pesan.
Setelah memesan Anasya kembali memperhatikan Alvaro yang sedang serius membaca beberapa berkas yang mungkin adalah kontrak kerja.
"Dia benar-benar sangat tampan, bahkan ketika sedang serius dia semakin tampan."Gumam Anasya.
Tak berapa lama pesanan Anasya datang, sambil menikmati pesanannya Anasya masih melihat kearah Alvaro.
Lebih dari 30 menit kemudian, Anasya melihat jika Alvaro dan kliennya sudah selesai. Dari tempatnya duduk dia melihat Alvaro berjabat tangan dengan kliennya dan tidak lama kliennya pergi meninggalkan restoran.
Anasya melihat kesempatan untuk duduk bersama dengan Alvaro. Dia lalu bergegas mendekati meja Alvaro.
"Selamat siang tuan Alvaro Fernandez."Ucapnya lembut.
Alvaro menatap Anasya dengan datar, sementara wanita yang ada didepannya tersenyum dengan manis.
Meski begitu Alvaro tidak tertarik sama sekali dengan Anasya yang terlihat mempunyai tujuan tersembunyi.
"Apa saya boleh duduk disini tuan muda Fernandez?"
"Duduk saja, sebentar lagi kursi ini juga akan kosong."
Anasya merasa sedikit kesal karena Alvaro masih berkata dengam dingin padanya, tapi dia menahannya dan terus melemparkan senyum manis pada Alvaro.
"Apa tuan sibuk? Jika tidak bisakah kita makan siang bersama?"
"Maaf saya masih punya pekerjaan yang lain. Dan satu lagi, kita tidak seakrab itu untuk makan siang bersama nona muda Gabriel."
Alvaro bersiap untuk berdiri, tapi tanpa diduga Anasya menarik tangan Alvaro dan membuat Alvaro yang tidak siap hampir jatuh.
Kopi yang ada dimeja pun tumpah dan membasahi jas milik Alvaro.
"Tidak bisakah seorang wanita terhormat dari keluarga Gabriel tidak melakukan hal yang memalukan seperti ini?"
Seruan Alvaro mengagetkan orang-orang yang ada didalm restoran.
Orang-orang yang mengenal Alvaro mencibir dan menghina Anasya. Karena sudah membuat penguasa bisnis negara Z marah.
Tentu saja mereka tahu seperti apa Alvaro yang tidak menyukai wanita sembarangan, dan sangat menyukai kebersihan.
Mereka juga tidak menyangka jika di keluarga Gabriel ada seorang wanita muda sedang menggoda Alvaro yang terkenal kejam dalam dunia bisnis di depan publik seperti itu.
"Ma...maafkan saya, saya tidak sengaja sungguh."Ucap Anasya dengan suara lemah.
Orang yang duduk tidak jauh dari kursi Alvaro menatap Anasya dengan jijik.
__ADS_1
"Cih, berpura-pura polos dan menyedihkan. Apa dia kira tuan muda Fernandez tidak pernah melihat wanita yang suka berpura-pura seperti dia? Menjijikan."Ucap orang itu menghina.
Alvaro menatap tajam Anasya Gabriel karena kesal.
"Sepertinya aku harus memberi teguran kecil pada keluarga anda agar mereka tidak membiarkan nona muda mereka bertindak seenaknya seperti ini."
"Tidak tuan, saya sungguh tidak sengaja. Saya minta maaf."Mata Anasya mulai berkaca-kaca.
Alvaro tidak peduli dengan apa yang Anasya katakan, dia melenggang pergi meninggalkan tempat itu dengan langkahnya yang lebar.
"Benar-benar menjijikan."
Anasya mematung ditempat, dia merasa sudah dipermalukan dan kesal pada Alvaro yang sama sekali tidak terpesona dengan kecantikan dirinya saat ini, apalagi dia sudah berkata dengan lembut dan tersenyum manis pada Alvaro.
Saat ini Anasya menjadi bahan gosipan para pengunjung restoran, sangat disayangkan jika salah satu anggota keluarga kaya ternyata menggoda Alvaro Fernandez didepan publik.
Dengan cepat Anasya berjalan, dia memberikan beberapa lembar uang pada salah satu pelayan restoran untuk makanan yang sudah dia nikmati lalu keluar dari restoran itu.
Salah satu pengunjung restoran yang duduk disudut lain tersenyum penuh arti sambil menggenggam ponsel ditangannya.
Didalam mobil Alvaro meminta sekertarisnya untuk menarik kembali sejumlah investasi yang dia keluarkan untuk perusahaan keluarga Gabriel, dia ingin menunjukkan pada keluarga itu jika dia tidak menyukai cara kotor yang keluarga itu lakukan dengan meminta salah satu keluarga itu mendekati dirinya.
Tanpa Alvaro tahu, jika itu semua adalah tindakan yang Anasya lakukan atas dasar rasa sukanya sendiri.
"Bagaimana dengan Amoora sekarang?"Tanya Alvaro pada Daniel, asistennya.
"Nona Amoora saat ini sedang bertemu dengan tuan Steve disebuah restoran keluarga, tuan."
"Bertemu dengan Imanuel Steve?"
"Benar tuan, saat ini sudah banyak beredar foto tentang perselingkuhan nyonya Steve dengan beberapa anak muda dan juga foto-foto putri mereka yang sedang bermain dengan beberapa pria di kolam renang. Dan kemungkinan tuan Steve tahu jika itu adalah perbuatan nona Amoora Alexander, jadi tuan Steve meminta bertemu dengannya."
"Apa dia membawa anak buahnya?"
"Iya tuan, dia membawa 2 orang pengawal yang diatur oleh tuan Alexander."
Alvaro mengangguk.
"Batalkan janji sore ini, kita pergi ke restoran itu."
"Baik tuan muda."
Setelah memberitahu supir, mobil berputar arah menuju restoran yang dikatakan oleh Daniel.
***
Didalam restoran keluarga, Amoora duduk dengan santai. Sementara Imanuel dan Hanna menatap Amoora dengan serius.
"Sebenarnya apa tujuanmu melakukan ini? Apa kau ingin melihat perusahaan ku hancur?"Tanya Imanuel dengan emosi.
"Benar, kami sudah mengurusmu dengan baik. Apa begini caramu berterima kasih?"Ucap Hanna menimpali.
Amoora menatap kedua orang didepannya dengan dingin.
"Heh, berterima kasih kepada kalian, apa kalian sedang bermimpi?"
"Amoora!"
"Tuan Imanuel Steve yang terhormat, aku bahkan belum membuat perhitungan dengan anda yang mengambil satu perhiasan milik ibuku dulu. Apa anda masih ingat dengan itu?"
"Satu set perhiasan?"Tanya Hanna heran.
"Jadi anda tidak tahu nyonya Steve jika suami anda..."
"Amoora, perhiasan itu adalah milik Hanna bukan milik ibumu!"
"Hahaha jika itu milik nyonya Hanna, jadi kenapa perhiasan itu ada pada ibuku dulu?"
"Itu karena..."
"Tunggu! Bagaimana bisa dia tahu tentang perhiasan itu?"Tanya Hanna pada Imanuel.
Imanuel diam, dia tidak tahu hraus berkata apa.
"Tentu saja karena aku sudah mendapatkan perhiasan itu kembali nyonya Hanna."
"Apa maksudmu?"
"Oh jadi anda tidak tahu jika suami anda sudah melelangkan perhiasan itu dengan harga 3 miliar."
Kedua mata Hanna terbuka lebar, dia sama sekali tidak tahu jika Imanuel berani berbuat hal itu.
Hanna sudah berencana akan meninggalkan Imanuel jika perusahaan itu hancur, dengan perhiasan itu dia bisa hidup sendiri diluar negeri tanpa harus hidup susah dengan Imanuel. Tapi sekarang dia tidak bisa melakukannya karena perhiasan itu sudah jatuh ketangan Amoora.
"Imanuel, apa maksudnya ini! Kau... Kau menjual perhiasanku!"
"Kondisi keuangan perusahaan sedang tidak baik, karena itu aku melelangkan perhiasan itu. Aku akan membelikan mu...."
"Apa anda tidak melihat kondisi perusahaan anda sekarang? Anda ingin berjanji akan membelikan perhiasan lain yang lebih mahal pada istri anda tuan Imanuel Steve."
__ADS_1
"Diam kamu wanita j*lang! Ini semua juga karena kamu. Karena kamu pasti karena kamu, kau menyebarkan foto-foto Bella dan aku! Kau penyebab ini semua!"
'Plak!'
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi kiri Hanna.
"Apa kau buta, atau kau tidak punya cermin dirumah mu nyonya Hanna? Kau memanggil ku j*lang, jika begitu lalu aku harus memanggimu apa? Orang yang sudah menghancurkan rumah tangga orang lain sebagai wanita simpanan!"
"Kau!"
"Amoora! Lancang sekali kamu mengatakan itu, sia-sia aku membesarkanmu!"Bentak Imanuel.
"Hahaha membesarkanku? Sepertinya anda lupa tuan Steve, sejak anda membawa wanita simpanan anda ini dan anak-anaknya. Anda tidak lagi peduli dengan kehidupanku. Apakah aku sakit, apakah aku kelaparan, apakah aku mendapatkan perlakuan tidak baik. Anda tidak peduli, anda seolah tidak ingin tahu apapun tentangku. Dan sekarang anda berkata jika anda berkata jika anda mengurus dan membesarkanku. Anda sangat humoris sekali tuan Steve."
"Kau! Kau anak tidak tahu diuntung, aku menyesal membiarkan mu hidup. Seharusnya aku juga membunuhmu bersama dengan ibumu dulu!"
'Brak!'
Amoora menendang meja yang ada didepan mereka dengan keras sehingga membuat Hanna dan Imanuel jatuh kelantai.
"Kalian yang sudah membuat ibuku meninggal, tapi kalian sama sekali tidak merasa bersalah. Imanuel Steve, jika bukan karena ibuku apakah kau bisa menjadi seorang direktur diperusahaan itu? Bahkan tanpa ibuku, kau mungkin masih seorang karyawan bank swasta sekarang."
Imanuel dan Hanna sangat ketakutan melihat Amoora yang berubah drastis. Mereka mengira Amoora adalah wanita lemah sama seperti dulu, sehingga mereka terus menekannya.
"Kau..."
"Ini adalah pembalasan tuan Steve, aku harap kalian sudah siap hidup dijalanan beberapa hari lagi."
Imanuel menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak mau jika harus hidup susah. Bahkan kali ini akan lebih susah dari kehidupannya sebelum bertemu dengan ibu kandung Amoora.
"Tidak, aku tidak mau. Amoora ayah mohon padamu jangan lakukan itu, kita adalah keluarga dan perusahaan itu adalah perusahaan milik ibumu, kau tidak boleh menghancurkannya. Amoora..."
"Benar Amoora, ibumu akan sedih jika melihat perusahaannya hancur oleh dirimu. Amoora."
'Brak'
Pintu ruangan terbuka lebar, seorang laki-laki berjalan masuk kedalam ruangan itu didampingi oleh asistennya.
"Tuan muda Fernandez."Gumam Imanuel Steve.
"Jika kalian merasa ibu kandung nona Amoora akan bersedih karena perusahaan itu hancur olehnya, maka lebih baik aku yng menghancurkannya. Apakah boleh nona Amoora?"
Amoora menatap Alvaro dengan datar.
"Tidak bisakah anda tidak ikut campur dengan masalah pribadiku tuan muda Fernandez?"
"Tentu tidak bisa, kau adalah calon nyonya muda Fernandez masa depan. Jadi aku harus terlibat dalam semua urusanmu."
Amoora tercengang mendengar perkataan yang tidak tahu malu dari mulut Alvaro.
Bukan hanya Amoora, Imanuel dan Hanna pun terkejut mendengar jika Amoora akan menjadi nuonya muda Fernandez.
"Tuan Steve, jika saya tidak salah ingat kau masih mempunyai hutang sebesar 5 miliar pada anak perusahaan saya. Bagaimana anda akan melunasi hutang itu?"Ucap Alvaro dengan serius.
"Sa.. Saya pasti akan melunasimya tuan muda, beri saya waktu lagi."
"Jika tidak, anda jual saja semua saham anda yang ada diperusahaan pada nona Amoora untuk melunasi hutang itu. Atau jika tidak cukup anda bisa menjual perusahaan itu."
"Itu tidak mungkin, saya tidak akan menjual perusahaan itu. Perusahaan itu adalah milik saya."
"Milikmu? Bukankah baru saja kau dan istrimu berkata jika itu adalah perusahaan milik ibuku?"Ucap Amoora merendahkan.
Imanuel dan Hanna seperti dua ekor tikus kecil yang siap diterkam oleh dua harimau yang sedang kelaparan saat ini.
Mereka tidak lagi bisa berkata apa-apa.
"Aku akan melunasi hutang itu, jika kau bersedia menjual semua sahammu dan mengembalikan perusahaan itu padaku."Ucap Amoora lagi.
"Kau! Dasar anak durhaka! Ayahmu sudah mengurus perusahaan itu selama lebih dari 10 tahun. Tapi kau..."
"Diam! Anda hanya seorang wanita simpanan, apakah punya hak berbicara disini?"Seru Alvaro.
Amoora sudah sangat muak melihat mereka berdua yang sudah hidup mewah dengan harta yang ibunya tinggalkan, dia tidak akan rela sebelum mengambil kembali apa yang bukan milik mereka.
"Aku akan memberikan uang setiap bulannya pada kalian dari hasil kerja keras putri kalian diluar negri. Jadi kalian tidak akan terlalu menderita. Silahkan pikirkan keputusan kalian, jika tidak minggu depan aku benar-benar akan membuat perusahaan itu hancur dan kalian akan menjadi gelandangan. Karena ibuku pasti akan lebih rela melihat perusahaannya hancur dari pada harus terus menghidupi kalian orang-orang yang kejam dari hasil perusahaannya."
Setelah mengatakan itu Amoora pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh kebelakang.
Alvaro yang merasa sudah tidak ada pembahasan lagi ikut keluar untuk menyusul Amoora.
"Dasar j*lang."Ucap Hanna setelah Alvaro keluar.
"Kau bahlan lebih j*lang, bermain dengan beberapa anak muda. Kau dan putrimu benar-benar j*lang yang sudah membuat perusahaanku hancur."
"Apa kau bilang?"
"Lebih baik kau tidak kembali lagi kerumah, jika kau kembali aku akan mematahkan kakimu."
Hanna menelan ludahnya, dia sangat takut melihat sorot mata Imanuel yang begitu dingin padanya.
__ADS_1
Mereka tidak menyangka jika hari ini akan datang, dan semuanya adalah Amoora yang melakukan.
Imanuel Steve berdiri lalu merapikan pakaiannya sebelum dia keluar dari dalam ruangan meninggalkan Hanna yang masih duduk dilantai karena ketakutan.