The Queen Psycho

The Queen Psycho
29


__ADS_3

Dua hari kemudian, Amoora sudah siap dengan dress berwarna cream tanpa lengan yang di padukan dengan tas slempang kecil. Sementara rambutnya dia biarkan terurai.


"Baiklah, aku tidak perlu memakai gaun untuk terlihat formal dalam acara ini."


Amoora keluar dari kamar lalu turun kelantai satu untuk menemui kakaknya yang sudah menunggu disana.


"Kak."


Lexi melihat Amoora datang.


"Kau yakin akan memakai itu?"


"Aku tidak suka memakai gaun, ini terlihat lebih santai namun tetap bagus. Lagipula acaranya diluar ruangan."


"Baiklah kalau begitu."


Lexi dan Amoora berjalan keluar rumah, didepan rumah sudah terparkir indah mobil yang akan Lexi pakai.


Lexi membukakan pintu mobil untuk Amoora.


"Terima kasih kak."


Lexi mengangguk, setelah Amoora masuk dan menutup kembali pintu mobil Lexi pun masuk dari pintu sebelahnya.


Dengan kecepatan sedang Lexi melajukan mobilnya menuju tempat pertunangan yang tertera di kartu undangan.


"Apa yang datang adalah orang penting semua?"Tanya Amoora.


"Aku tidak tahu, tapi jika dilihat dari latar belakang keluarga Louis kemungkinan begitu."


"Pantas saja tuan muda Fernandez juga di undang."


"Apa kau akrab dengannya?"


"Tidak juga, bisa dikatakan hanya kenalan."


"Keluarga Fernandez tidak bisa di remehkan, mereka tidak mudah untuk dihadapi. Kau harus berhati-hati."


"Kakak tenang saja, aku sudah tahu."


"Bagus kalau begitu."


Setengah jam kemudian mereka sampai di tempat pertunangan.


Lexi dan Amoora turun dari mobil. Mereka disambut oleh banyaknya rangkaian bunga yang tertata dengan rapi dan indah.


"Mereka sangat pintar menata bunga-bunga ini."


"Kau benar. Ayo kita temui tuan Louis dan tunangannya dulu."


Amoora mengngguk, dia mengalungkan tangannya pada lengan Lexi lalu berjalan kearah Louis dan pasangannya.


"Selamat atas pertunangan anda tuan Louis."Ucap Lexi pada Louis.


"Hahaha terima kasih tuan Alexander. Apakah ini....?"


"Perkenalkan dia adik saya, Amoora."


"Selamat atas pertunangan anda tuan Louis."


"Terima kasih."


Louis, Lexi, Amoora dan Clara saling bercengkrama.


"Kak, aku kesana sebentar."Ucap Amoora berbisik pada Lexi.


Lexi mengangguk. Setelah Amoora meminta izin pada Louis dan Clara, dia meninggalkan tiga orang itu.


"Akhirnya bisa keluar dari pembicaraan itu, aku benar-benar tidak bisa mengerti obrolan mereka."Gumam Amoora.


Untuk menghilangkan rasa bosannya, dia memutuskan untuk melihat pemandangan yang ada disekitar tempat pertunangan itu.


Alvaro yang baru saja sampai melihat Amoora yang tengah berjalan, Alvaro terpesona melihat kecantikan Amoora. Walau Amoora hanya memakai dress sederhana tapi dia terlihat sangat elegant dan cantik.



Riasan yang tipis namun memancarkan kecantikan yang mempesona.

__ADS_1


"Dia memang seperti malaikat, dia sangat tahu bagaimana harus memadukan busana dan riasan. Sangat cantik dan mempesona."


Alvaro berjalan mendekati Amoora yang sedang berdiri disisi lapangan tempat pertunangan.


"Apa nona Amoora selalu terlihat seperti ini?"Ucap Alvaro dari belakang Amoora.


Amoora menoleh dan tersenyum saat melihat Alvaro dibelakangnya.


"Seperti ini...?"


"Sangat cantik dan mempesona."


"Saya tidak secantik wanita-wanita yang ada disana tuan muda Fernandez, jadi jangan terlalu memuji."Amoora menunjuk sekumpulan wanita yang ada di sisi lain dengan kepalanya.


"Tidak, saya lihat nona Amoora yang paling cantik disini."


"Terima kasih kalau begitu. Apa tuan muda Fernandez baru datang?"


"Emm."


"Kalau begitu anda harus menyapa pasangan yang berbahagia hari ini lebih dulu."


"Tidak apa-apa, aku akan melakukannya nanti."


Amoora hanya mengangguk menaggapi ucapan Alvaro.


Tidak lama kemudian acara pertunangan di mulai.


Semua tamu undangan menjadi saksi dimana Louis dan Clara saling menyematkan cincin pertunangan mereka yang indah.


Ucapan selamat dari orang-orang terucap dengan senyum yang bahagia.


"Selamat untuk pertunangan anda dengan nona Clara, tuan Louis."Ucap Alvaro.


"Terima kasih tuan muda Fernandez."


"Selamat untukmu nona Clara."


"Terima kasih sudah datang."


"Iya."


"Maaf tuan Alexander, apa saya bisa mengajak adik anda untuk keluar?"Tanya Alvaro tanpa basa basi pada Lexi.


"Apa tuan Alvaro sedang meminta izin dariku untuk berkencan dengan adikku?"


Alvaro dan Lexi tertawa bersama, sementara Amoora hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua pria yang ada didepannya.


"Jadi apakah boleh?"


"Asal kau bisa menjaga adikku dengan baik, aku tidak bisa melarangnya."


"Tentu saja, aku bahkan akan menggunakan nyawaku sebagai jaminan."


"Hahaha tidak perlu seperti itu."


Wajah Amoora sudah mulai merah. Dia berfikir ketika kakaknya berkata jika dia harus hati-hati dengan Alvaro, mereka mempunyai hubungan yang tidak baik. Tapi ternyata justru sebaliknya.


"Mereka ini benar-benar."


Acara pertunangan selesai. Alvaro yang sudah mendapat izin dari Lexi, membawa Amoora pergi ke suatu tempat.


"Sepertinya tuan muda Fernandez ingin mengatakan sesuatu pada saya."


"Kau sangat jeli nona muda Alexander."


"Jadi apa yang ingin tuan muda Fernandez katakan pada saya."


"Saya akan mengatakannya nanti."


"Baiklah, tapi sebenarnya anda akan membawa saya kemana?"


"Nona Alexander akan tahu nanti."


Amoora hanya mengangguk lalu diam.


30 menit kemudian mereka telah tiba disebuah tebing yang dipagari oleh besi.

__ADS_1


Dari atas tebing itu mereka bisa melihat pemandangan kota dibawahnya, pemandangan yang sangat indah dan juga angin sejuk yang menerpa tubuh mereka dengan lembut.


"Ini sangat indah."


"Benar, aku sangat suka datang kesini ketika kepala dipusingkan oleh semua pekerjaan."


"Orang sukses pasti akan merasakan hal seperti itu."


Alvaro tidak menjawab, dia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


"....Wanita itu adalah mantan ku."


Amoora menoleh dan manatap alvaro, dia tidak mengerti apa yang Alvaro katakan dan siapa wanita itu.


"Clara, wanita yang bertunangan dengan Louis. Dia adalah mantan kekasih ku dulu."


"Apa itu alasan tuan muda Fernandez tidak ingin menyapa mereka saat baru sampai disana?"


"Tidak, dia adalah wanita yang dulu meninggalkan aku tanpa alasan dan tiba-tiba datang dengan kartu undangan pertunangan setelah lebih dari 4 tahun menghilang."


"Pasti sangat sulit."


"Ya, saat itu aku tidak tahu kesalahan apa yang aku lakukan padanya. Aku selalu mencarinya untuk meminta penjelasan, tapi aku tidak bisa menemukannya dan seiring berjalannya waktu aku tidak ingin lagi mencari tahu dimana dia dan tidak ingin lagi tahu alasan dia meninggalkan aku."


Amoora menatap Alvaro, seorang pria kaya dan tampan juga bisa mengalami kisah cinta yang seperti ini. Tapi Amoora tidak menyadari jika saat ini Alvaro tidak lagi menggunakan kata "saya-anda" dalam berbicara.


"Semuanya sudah lewat, dia juga sudah memiliki tunangan dan tidak lama lagi akan menikah."


"Benar, jadi karena itu aku lebih memilih untuk mendekatimu ketika baru sampai disana."


"Apakah hanya itu alasannya?"


"Iya, karena waktu itu aku seperti melihat malaikat yang sedang berdiri dengan rambut terurai."


"Sepertinya tuan muda Fernandez kita saat ini sedang menggoda."


"Hahaha aku tidak pandai menggoda wanita. Semua yang aku katakan benar."


Amoora duduk disebuah batu yang ada disana.


"Hidup dan hati orang tidak ada yang mengetahui. Bahkan orang itu sendiri juga tidak akan tahu dengan baik."


"Apa nona muda Alexander ini pernah mempunyai pengalaman percintaan yang tidak baik?"


"Aku belum pernah berpacaran sebelumnya."


"Sungguh?"


Amoora mengangguk "Setiap ada seorang laki-laki mendekati saya, Bella akan lebih dulu merebutnya atau mengatakan hal yang tidak baik tentang saya. Jadi saya tidak punya kesempatan."


Alvaro duduk disamping Amoora.


"Sekarang dia tidak akan lagi bisa melakukan itu, jadi bisakah nona muda Alexander memberi kesempatan?"


Amoora menatap Alvaro.


"Maksudnya?"


"Aku ingin menjalin hubungan dengan nona muda Alexander yang terhormat ini. Apakah bisa memberiku kesempatan?"


Amoora berdiri dan menatap Alvaro tidak percaya.


"Tuan muda Fernandez, lelucon anda sangat tidak lucu."


"Aku tidak sedang bercanda."


Amoora menggelengkan kepalanya "Tidak, tidak."


Saat ini Amoora masih belum sepenuhnya membalas dendam pada keluarga Steve, dan ditambah dia adalah ketua mafia. Dia sangat tahu apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti Alvaro mengetahui indentitasnya sebagai ketua mafia.


"Amoora..."


"Maaf, saya ingin pulang sekarang."


Alvaro menatap Amoora dengan sendu, selama ini dia tidak pernah membuka hatinya. Dan baru kali ini dia bisa membukanya untuk Amoora, tapi...


Amoora berjalan dan masuk kedalam mobil terlebih dulu dan tidak lama Alvaro menyusul masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Selama perjalanan kerumah keluarga Alexander, mereka berdua diam tanpa mengatakan satu katapun.


Amoora masih tidak percaya jika Alvaro akan mengatakan hal itu padanya. Sebenarnya Amoora tidak membenci Alvaro, dia justru senang jika Alvaro menyukainya. Tapi dia tidak ingin tujuannya untuk menghancurkan keluarga Steve gagal setelah menjalin hubungan dengan Alvaro. Dan dia juga tidak ingin ditinggalkan setelah Alvaro tahu siapa dia sebenarnya.


__ADS_2