The Queen Psycho

The Queen Psycho
44


__ADS_3

Beberapa hari kemudian karena Imanuel tidak mau menyerahkan saham miliknya, Amoora pun akhirnya meminta Albert untuk melakukan tindakan terakhir pada perusahaan itu.


Dan hari ini kabar mengenai kehancuran perusahaan milik Imanuel sedang menjadi trending topik di berbagai media dinegara Z di beberapa negara lainnya.


Semua aset milik keluarga Steve disita untuk melunasi hutang-hutang mereka. Begitu juga dengan barang-barang mewah yang mereka miliki.


Bella yang melihat berita itu hanya bisa tersenyum sinis.


"Itulah hukuman untuk kalian yang sudah membuatku seperti ini,kalian memang pantas mendapatkannya."


Bella tidak lagi peduli dengan nasib kedua orang tuanya, bagi Bella setelah mereka menjual dirinya,mereka bukan lagi orang tuanya.


"Kenapa baby, hmm?"Ucap George sambil memeluk Bella dari samping.


"Tidak apa-apa."


George melihat berita di tv yang sedang Bella lihat.


"Kau tidak mau membantu mereka?"


"Untuk apa, mereka sudah begitu kejam padaku."


"Aku lihat tubuh ibumu sangat bagus, mungkin dia bisa membuat para klienku puas seperti denganmy l. Dan kau juga bisa membalas rasa sakit mu padanya."George mencoba menghasut Bella.


Bella diam, dia memang membenci Hana dan Imanuel. Dia ingin mereka merasakan apa yang dia alami saat ini.


Sementara Bella diam, George diam-diam tersenyum licik. Ternyata bukan hanya tubuh Bella yang ingin dia jajahi, tapi tubuh Hanna yang masih sangat bagus pun ingin dia kuasai, karena itu dia menghasut Bella.


"Aku akan memikirkannya, kau tahu sendiri tuan George. Dia adalah wanita yang licik."


"Aku mengerti baby, kau hanya harus membuat ibumu keluar dari negara Z. Sampai disini, aku jamin dia akan merasakan lebih dari yang sudah kamu rasakan."


"Tuan George, apa kau juga tertarik dengan tubuhnya?"


"Tidak ada laki-laki yang bisa menolak tubuh wanita yang begitu indah baby, kau bisa lihat bukan. Dada dan ****** ibumu terlihat sangat padat dan kenyal."


Bella berdecih tidak suka, ternyata walaupun Hanna sudah berumur tapi tubuhnya bisa dibandingkan dengan Bella.


George mendengar Bella, dia lalu mencekik leher Bella.


"Kau tidak lupa dengan apa yang aku tidak suka dari wanita bukan, baby?"Bisik George.


"I....Iya tuan... Maafkan.... Aku..."

__ADS_1


George melepaskan cekikannya, George adalah laki-laki yang licik dan haus akan s*x. Tapi dia tidak segan-segan akan melakukan kekerasan jika ada seorang wanita memperlihatkan rasa tidak suka dengan apa yang George ingikan.


"Ingat baik-baik untuk apa kau kesini baby. Sekarang bersiaplah, para klien ku sudah menunggu diruang rapat."


Bella mengangguk sambil memegangi lehernya dengan gemetar.


Walaupun Bella sering mendapatkan perlakuan seperti itu dari George, dia tidak bisa melakukan apapun. Dia juga tidak bisa keluar dari negara kekuasaan George itu.


Semua orang dinegara itu tahu jika sudah masuk kedalam vila George, maka tidak akan bisa keluar dari sana. Kecuali yang keluar adalah mayat.


Bella berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


George melihat Bella dengan pandangan menghina.


"Apa kau kira aku tidak bisa membawa ibumu kesini? Dasar j*lang tidak tahu diri."Gumam George.


***


Dirumah keluarga Alexander, Amoora yang sudah di izinkan pulang oleh dokter sedang melihat berita tentang kehancuran perusahaan milik Imanuel di televisi.


Semua usahanya selama ini berhasil, sekarang dia tinggal menunggu Lexi mengakuisisi perusahaan itu.


Imanuel tidak punya pilihan selain menjual perusahaan itu untuk menutupi sebagian hutangnya pada beberapa bank.


Amoora mengngguk "Sudah."


"Aku sudah berbicara dengan tuan besar Gabriel. Dia akan membiarkan cucu perempuannya itu menerima hukuman darimu atas apa yang sudah dia lakukan."


Amoora menoleh "Apa dia benar-benar rela? Perempuan itu adalah cucu perempuan satu-satunya dikeluarga Gabriel."


"Amoora, perusahaan keluarga Gabriel dibangun dengan kerja keras tuan besar Gabriel dan istrinya dulu. Dia tentu tidak akan membiarkan anak kecil menghancurkan perusahaan yang sudah dia bangun dan sudah dia pertahankan selama ini."


"Ck ck, sangat kejam."


"Besok lusa dia akan datang kesini. Kau bisa melakukan apapun padanya."


"Termasuk menguliti wajahnya?"


Lexi mengusap kepala Amoora.


"Itu terserah kamu."


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


"Oh iya, hari ini Alvaro akan datang."


"Kak..."


"Amoora, aku tahu kau tidak bisa dengan mudah membuka hatimu dan percaya pada orang lain. Tapi aku sangat tahu bagaimana Alvaro."


"Tapi...."


"Kakak mempercayainya."


Amoora diam, selama ini Lexi dan Alice adalah orang yang sangat dia percayai setelah dia keluar dari keluarga Steve.


Rasa percayanya terhadap orang lain sangat kecil, karena dia sudah sering dikhianati oleh orang-orang yang sangat dia percaya (keluarganya).


"Kalian harus bisa membuka diri kalian satu sama lain, kakak jamin dia masih sendiri dan akan menjagamu dengan baik."


"Kakak."


"Baiklah sudah cukup kamu melihat berita tentang ini, aku akan segera mengambil alih perusahaan itu dan memberikannya padamu."Lexi mengalihkan pembicaraan.


"Terima kasih kak, kau sudah sangat baik padaku."


"Kamu adalah adikku, jadi sudah seharusnya aku melakukan hal ini."


Amoora memeluk Lexi, dia merasa sangat beruntung menjadi anggota keluarga Alexander yang disayangi dan dilindungi.


"Oke, sekarang istirahat. Nanti sore kakak bangunkan kamu."


Amoora mengangguk.


Lexi membantu Amoora berdiri dan memakai tongkat. Amoora tidak mau memakai kursi roda, karena dia merasa tidak leluasa dan tidak akan cepat sembuh jika terus-terusan pakai kursi roda,jadi dia meminta untuk memakai tongkat.


Lexi mengantar Amoora ke kamarnya, dan membantunya berbaring diatas ranjang.


"Istirahatlah."


"Iya kak."


Lexi keluar dari kamar Amoora dan membiarkannya beristirahat.


Didalam kamar Amoora yang belum bisa tidur mengingat perkataan Lexi tadi, dia memang belum benar-benar bisa mempercayai orang lain selain Lexi dan Alice.


"Benarkah dia bisa dipercaya seperti apa yang kakak bilang?"

__ADS_1


Amoora termenung diatas ranjang sampai akhirnya dia tertidur.


__ADS_2