The Queen Psycho

The Queen Psycho
21


__ADS_3

'Dor dor dor'


Dari jam 6 pagi Amoora sudah berada didalam ruang latihan menembak, dia ingin mengasah kecepatan menembaknya.


Karena hari ini dia akan sangat sibuk, jadi dia memutuskan untuk berlatih pada pagi hari. Dan inilah dia.


Amoora mungkin sudah sangat ahli dalam menembak, namun saat pikirannya terganggu konsentrasinya akan pecah. Jadi dia berpikir untuk lebih keras berlatih lagi.


Lucas dari arah pintu berjalan mendekati Amoora.


"Bos."


Amoora yang mengetahui kedatangan Lucas menghentikan aktivitasnya dan membuka penutup telinga yang dia pakai.


"Kenapa?"


"Tuan George mengirim pesan, dia bilang tuan Steve sudah setuju menyerahkan putrinya."


Amoora tersenyum dingin mendengar perkataan Lucas.


"Dia memang orang yang seperti itu. Baiklah kita akan melihat pertunjukan. Katakan pada George untuk mengambil foto-foto vulgar Bella sebelum melakukan hal yang dia inginkan."


"Baik bos."


Amoora meletakkan pistol diatas meja latihan lalu keluar dari ruang latihan itu.


"Pagi bos."Sapa beberapa anak buah Amoora yang ada di halaman belakang.


"Pagi, sarapan yang cukup."


"Baik bos."


Amoora berjalan melewati anak buahnya dan masuk kedalam mansion.


"Bos, pagi-pagi bos dari mana?"Tanya Albert.


"Latihan."


Albert hanya mengangguk.


"Albert, nanti kau ikut aku ke suatu tempat."


"Siap bos."


Amoora melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya yang ada dilantai atas.


"Kak Albert, tumben sekali bos latihan pagi-pagi."Tanya salah seorang anak buah Amoora.


"Mungkin bos sedang merasa bosan."Jawab Albert asal.


"Oh..."


Albert dan yang lainnya kembali meneruskan sarapan mereka.


Didalan kamar Amoora membuka jaketnya lalu melemparkan jaket itu kedalam ranjang yang berisi baju kotor miliknya.


Amoora menyambar handuk yang ada disamping pintu kamar mandi lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


20 menit kemudian Amoora keluar dengan mengenakan jubah handuk yang membungkus dirinya.


Amoora duduk didepan meja riasnya lalu mengambil hairdryer. Dengan gerakan yang terbiasa Amoora mengeringkan rambutnya yang cukup panjang itu.


Selesai mengeringkan rambut, Amoora berjalan menuju ruang ganti lalu menutup pintu ruang ganti itu.


10 menit kemudian Amoora keluar dengan setelan rok hitam selutut di padukan dengan kemeja lengan pendek berwarna biru muda.


Amoora kembali duduk didepan meja riasnya. Hari ini dia ingin mengikat rambut panjangnya, karena cuaca akhir-akhir ini cukup panas.


Selesai dengan dirinya, Amoora keluar dari kamar. Dia berjalan menuju ruang makan yang sudah cukup ramai.


"Wah ramainya."Ucap Amoora.


Para anak buah Amoora menatap Amoora.


"Pagi bos." Ucap mereka.


"Iya pagi juga, makan sarapan kalian dengan baik."


"Iya bos."Ucap mereka lagi bersamaan.


Amoora duduk di tengah-tengah anak buahnya. Ini adalah pemandangan biasa di pagi hari, karena Amoora tidak membedakan mereka dengan memisahkan ruang makan mereka dan dirinya.


Bagi Amoora makan bersama dengan mereka mempunyai kesenangan tersendiri. Dia juga merasa lebih nyaman dan hangat saat berkumpul dengan mereka.


"Bos, apa hari ini bos akan keluar?"Tanya salah satu anak buahnya.


"Iya, kenapa?"

__ADS_1


"Tidak bos, aku hanya bertanya saja."


"Bohong bos, dia ingin dibelikan sesuatu."Ucap yang lainnya.


"Kau ini, tidak bos. Dia berbohong."


Semua yang ada disana tertawa begitu juga dengan Amoora.


Selesai sarapan Amoora masuk kedalam ruang kerjanya, sementara anak buah Amoora kembali berlatih.


Didalam ruang kerja Amoora melihat layar laptopnya, dia tengah memantau cctv yang sudah dia pasang disebuah ruangan kemarin.


Merasa semua sudah pas dan tinggal menunggu Bella dan George saja. Amoora mematikan laptopnya lalu keluar dari ruang kerjanya.


"Albert."


"Iya bos."


"Kita pergi sekarang."


"Siap bos."


Albert pergi ke garasi untuk mengambil mobil.


Amoora menunggu Albert didepan mansion, saat Albert sudah didepan mansion dengan mobilnya. Amoora langsung masuk dan duduk di kursi belakang.


"Kita kemana bos."


"Ke hotel X."


"Baik bos."


Albert mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju hotel X yang Amoora katakan.


**


Di perusahaan milik Imanuel, Bella tengah duduk disofa yang ada didalam ruang kerja Imanuel.


Bella tidak tahu kenapa Imanuel membawanya ke perusahaan hari ini.


Dari ruang istirahat yang ada didalam kantor, Imanuel berjalan mendekati Bella sambil membawa sebuah paper bag.


"Nanti kau pakai baju ini."Ucap Imanuel.


"Apa ini Pa?"


"Kenapa Bella harus ikut?"


"Nanti kamu akan tahu."


"Papa..."


"Jangan banyak bertanya lagi, kita berangkat sekarang. Jika tidak kita akan terlambat."


Bella yang ingin protes tidak berani saat melihat wajah serius Imanuel.


Selama ini Bella sangat dimanja oleh Imanuel dan Hanna, jadi dia tidak pernah melihat wajah Imanuel yang seperti sekarang ini.


Dengan terpaksa Bella mengikuti keinginan Imanuel untuk ikut bersamanya menemui rekan kerja Imanuel.


Didalam mobil Imanuel dan Bella saling diam.


Bella yang takut dengan wajah serius Imanuel memilih diam dari pada dia dimarahi oleh Imanuel. Sementara Imanuel, dia bingung dengan apa yang dia lakukan sekarang.


Imanuel melirik kearah Bella.


"Maafkan papa, ini semua demi perusahaan dan keluarga kita Bella."


Imanuel mengehentikan laju mobilnya saat mereka sampai didepan sebuah hotel.


"Papa, ini.... hotel?"


"Iya, rekan papa meminta papa bertemu di restoran yang ada didalam hotel ini."


Bella mengangguk, dia mengerti tentang hotel mewah yang juga menyediakan restoran keluarga didalamnya. Jadi dia sama sekali tidak curiga kepada Imanuel.


"Ayo turun."Ucap Imanuel.


"Iya."


Imanuel dan Bella turun dari mobil lalu berjalan masuk kedalam hotel itu.


Mereka berjalan menuju lift hotel. Didalam lift, Imanuel menekan tombol nomor 5.


'ting'


Lift berhenti dan pintu lift terbuka tepat dilantai 5.

__ADS_1


Imanuel dan Bella keluar dari lift lalu berjalan ke sebuah ruangan yang berada di ujung koridor.


"Kau ganti pakaian dulu, papa akan menunggu disini."


"Baik Pa."


Bella lalu masuk kedalam toilet yang tidak jauh dari sana.


10 menit kemudian Bella keluar dengan mengenakan sebuah dress dengan lingkar leher cukup panjang, sehingga bagian dada atasnya sedikit terlihat.


"Papa, apa papa yakin dengan pakaian ini?"Tanya Bella.


"Iya, ayo kita masuk. Sebentar lagi rekan kerja papa akan sampai."


Bella merasa sedikit ragu untuk mengikuti Imanuel, dia takut tapi tidak berani membantah Imanuel.


Mereka berdua masuk kedalam ruang VIP yang sudah di pesan sebelumnya oleh George.


"Duduklah dulu, sebentar lagi dia akan datang."


Bella dengan takut duduk di kursi, dia meremas dress yang dia kenakan. Bella tidak tahu tujuan Imanuel membawanya ke tempat itu, ditambah dengan pakaian yang sekarang dia pakai.


"Pa, sebaiknya Bella pulang saja."Ucap Bella dengan ragu-ragu.


"Tidak, kau tidak boleh pulang. Akan sangat memalukan jika kau pulang."


"Tapi Pa..."


Belum selesai Bella berbicara, pintu ruangan terbuka dan derap langkah kaki terdengar begitu nyaring didalam ruangan itu.


Imanuel berdiri, dia melihat George masuk kedalam ruangan.


"Selamat siang tuan George."Ucap Imanuel dengan ramah.


"Selamat siang tuan Steve. Maaf saya sedikit terlambat."


"Tidak apa-apa tuan."


George melihat seorang wanita duduk di kursi sambil menundukkan kepalanya.


"Apa dia putri anda tuan Steve?"


"Benar, benar tuan. Dia adalah Bella, putri saya satu-satunya."


Imanuel menarik pelan tangan Bella memintanya untuk berdiri dan menyambut tuan George.


"Se... Selamat siang tuan."Ucap Bella terbata-bata.


"Iya, kau cukup cantik."


"Terima kasih tuan. Maaf dia sedikit pemalu."Ucap Imanuel.


"Tidak apa-apa. Ayo silahkan duduk."


Imanuel dan Bella duduk, begitu juga dengan George yang memilih duduk disamping Bella.


Kali ini Bella merasa benar-benar takut, karena dia sedikit mengerti dengan dunia seperti ini. Apalagi di pernah ingin menjebak Amoora dengan cara melemparkan Amoora pada seorang pengusaha, tapi pada akhirnya gagal.


Tangan Bella meremas dress nya dengan erat, tubuhnya mulai gemetar.


"Papa, kenapa papa membawa Bella kesini. Papa, tidak mungkinkan..."


Imanuel dan George tidak memperdulikan bagaimana perasaan Bella saat ini, karena mereka tengah membahas bagaimana kerjasama mereka nanti.


'ceklek'


Suara pintu terbuka, seorang pelayan membawa sebotol anggur dan tiga buah gelas kedalam ruangan.


"Ini anggur yang anda inginkan tuan."Ucap pelayan itu.


"Iya."


George menatap pelayan itu yang dibalas dengan anggukan ringan oleh pelayan.


Dengan professional pelayan itu membuka tutup botol dan menuangkan anggur kedalam tiga gelas itu.


"Mari kita bersulang untuk kerja sama ini."Ucap George.


Imanuel mengambil gelas yang ada didepannya, dia lalu menoleh kearah Bella agar Bella juga melakukan hal yang sama.


Dengan takut Bella mengambil gelas berisi anggur didepannya.


'Ting'


Suara tiga gelas saling bersentuhan.


Mereka bertiga meminum anggur itu, Bella yang tadinya merasa takut menjadi lebih sedikit tenang karena tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2