The Queen Psycho

The Queen Psycho
25


__ADS_3

Dua hari kemudian, Amoora dan Lexi mengantar Alice kembali ke asrama.


Selama 6 bulan ke depan Alice akan tinggal di asrama dan mengikuti proses belajar mengajar.


"Ingat janji kakak, liburan yang akan datang kita akan pergi keluar negri sesuai dengan keinginan ku."Ucap Alice sebelum turun dari mobil.


"Iya, kakak sudah berjanji dan pasti akan kakak tepati."


Alice tersenyum lebar mendengarnya, Alice memeluk tubuh kakaknya dengan erat.


"Belajar yang benar, dan jangan bikin onar."


"Aku tahu, aku bukan anak kecil lagi."


Lexi mengelus kepala Alice, selama kedua orang tua dan kakek mereka meninggal. Alice adalah satu-satunya keluarga yang paling dia sayangi dan dia lindungi. Bahkan dia rela melakukan apapun demi Alice.


"Baiklah kau sudah bisa turun."


Alice melepaskan pelukan mereka sambil melotot kearah Lexi.


"Lihat kak Amoora, kak Lexi sangat ingin aku segera pergi."


"Bukan begitu sayang, lihat jam tanganmu."Ucap Amoora.


Alice lalu menurut, dia melihat jam tangan dan seketika matanya membulat.


"Oh tidak, aku akan terlambat."


Alice mencium pipi Amoora lalu segera keluar dari mobil.


"Sampai jumpa liburan berikutnya."Ucap Amoora dari dalam mobil.


Alice mengangguk senang lalu melambaikan tangannya sebelum akhirnya dia memasuki gerbang besar asramanya.


"Dia sama sekali tidak berubah."Gumam Lexi.


"Kau sudah berusaha dengan baik, kau adalah kakak yang luar biasa."


Lexi menatap Amoora dan mengangguk.


Mobil melaju meninggalkan asrama Alice dan kembali ke rumah keluarga Alexander.


"Apa rencana kamu selanjutnya?"Tany Lexi.


"Menghancurkan mereka lalu merebut kembali perusahaan."


"Bukankah kamu ingin perusahaan itu hancur?"


"Aku memang ingin menghancurkannya, tapi aku ingat itu adalah perusahaan yang di dirikan oleh kakek dan di wariskan pada ibuku. Dan entah sejak kapan perusahaan itu menjadi milik Imanuel."


"Jadi setelah membuat Bella menjadi benci kepada mereka, selanjutnya apa?"

__ADS_1


"Kau tahu kak, Bella mempunyai seseorang yang sangat menyukainya dan selalu melindunginya. Saat ini aku yakin dia belum tahu kondisi Bella."


"Jadi kau akan memberitahu dia?"


"Bukan aku, tapi Bella sendiri yang akan melakukannya."


Lexi melihat sorot mata Amoora yang dipenuhi oleh rasa benci pada Bella.


"Jangan menatap ku seperti itu. Aku hanya ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan, walaupun dulu aku berhasil melarikan diri dari orang yang disewa mereka untuk melecehkan ku."


Lexi tidak pernah tahu jika selama ini Amoora hidup begitu menderita, keluarga Steve selalu terlihat harmonis diluar. Tapi dibalik itu ternyata ada seorang anak yang mendapatkan perlakuan yang sangat tidak baik. Bahkan dia harus bekerja sendiri untuk membeli barang-barang yang dia inginkan.


"Baiklah, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jika kau membutuhkan bantuan, kakak akan membantu mu."


"Terima kasih kak."


Lexi mengangguk.


Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka sampai didepan rumah besar keluarga Alexander.


"Kau istirahat saja dulu. Aku harus ke markas."Ucap Lexi.


"Iya."


Amoora masuk kedalam rumah.


"Nona sudah kembali?"Sapa seorang pelayan.


"Iya nona, tuan Lexi juga jarang pulang jika nona Alice sedang tidak berlibur."


Amoora mengangguk mengerti.


"Aku ke kamar dulu."


"Silahkan nona."


Amoora lalu berjalan keatas menuju kamar tidurnya.


**


Di perusahaan wajah Alvaro nampak tidak bersahabat. Itu semua karena rapat yang dilakukan oleh dewan direksi perusahaan yang tiba-tiba pagi ini, sehingga membuat Alvaro kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Amoora.


Sejak pagi sampai sekarang suasana hati Alvaro tidak baik, karyawan perusahaan pun menjadi korban tidak terkecuali dengan sekertarisnya.


'Braaaaak!'


Suara lembaran sebuah map berisi berkas menggema diruang kerja Alvaro.


"Apa kalian semua sudah tidak ingin bekerja disini lagi? Bagaimana bisa pekerjaan seperti ini saja kalian tidak mampu mananganinya?"Seru Alvaro.


Para karyawan menundukkan kepala mereka karena takut pada Alvaro.

__ADS_1


Selam ini jika ada pekerjaan yang tidak baik Alvaro memang akan marah, tapi tidak sampai seperti hari ini.


"Keluar kalian, perbaiki semuanya dan berikan pada saya setelah makan siang!"


"Ba...Baik tuan."


Para karyawan itu buru-buru mengambil berkas yang Alvaro lempar tadi lalu keluar dari ruang kerja Alvaro.


Dikursi kebesaran Alvaro memijat pangkal hidungnya.


"Kenapa sulit sekali untuk bertemu denganmu. Baru kali ini aku dibuat benar-benar gila."


Alvaro yang sejatinya seorang pria berkarisma dan di kejar banyak wanita, saat ini justru tengah mengalami yang namanya mengejar wanita yang belum tergapai.


Setelah lebih dari 4 tahun dia menutup hati karena dulu pernah di khianati oleh kekasihnya, hati Alvaro akhirnya tergerak oleh seorang wanita, yakni Amoora Alexander.


Perasaan yang sekarang dia rasakan tidak sama seperti yang dia rasakan dulu terhadap mantannya, mungkin karena Alvaro merasa Amoora berbeda dengan kebanyakan wanita yang mudah jatuh hati saat melihatnya atau mungkin hanya tergiur oleh harta keluarga Fernandez.


Alvaro yang sudah tidak tahan memutuskan untuk keluar, hari ini dia tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Didalam kepalanya dipenuhi oleh Amoora, orang yang belum bisa dia temui sampai sekarang.


Alvaro keluar dari ruang kerjanya, berjalan melewati meja kerja sekertarisnya.


"Batalkan semua janji dan rapat hari ini."Ucap Alvaro pada sekertarisnya.


"Baik tuan."


Alvaro naik kedalam lift yang sudah terbuka, dia lalu menekan tombol "⭐" pada lift yang akan membawanya langsung ke tempat parkir bawah tanah khusus presdir.


Sampai ditempat parkir Alvaro langsung berjalan menuju mobil yang terletak tidak begitu jauh.


Dengan cepat Alvaro mengemudikan mobilnya keluar dari tempat parkir.


Saat ini dia ingin pergi ke sebuah kafe pertama kali dia bertemu dengan Amoora.


Sampai didepan kafe Alvaro turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam kafe itu, didalam kafe Alvaro mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman.


Alvaro berjalan kearah kursi yang kosong dan duduk disana.


Tidak berselang lama seorang pelayan kafe datang dan memberikan buku menu pada Alvaro.


"Kopi Americano."


"Baik, mohon tunggu sebentar tuan."


Setelah pelayan itu pergi Alvaro melihat sekeliling kafe, tempat itu benar-benar memberikan kenangan tersendiri bagi Alvaro, bahkan sampai saat ini dia tidak menyangka jika wanita yang terlihat sederhana memiliki mobil limited edition yang sempat tidak bisa dia miliki.


Tak lama pelayan itu kembali ke meja Alvaro dan memberikan kopi yang Alvaro pesan tadi.


Tidak jauh dari tempat Alvaro duduk, ada seseorang yang melihat kearah Alvaro. Seperti seorang wanita yang sudah mengenal Alvaro, namun ragu untuk mendekatinya.


(*Jangan lupa untuk like dan meninggalkan jejak kalian di kolom komentar ya para readers ku tersayang, biar Linlin makin semangat up lagi***😁**)

__ADS_1


__ADS_2