The Queen Psycho

The Queen Psycho
49


__ADS_3

Hari ini Amoora ingin menikmati waktu luangnya, dia berniat untuk pergi menemui temannya disebuah cafe.


Dengan pakaian yang menurut dia cukup santai, Amoora melenggang keluar dari mansion sendirian.



...Amoora Alexander...


Dengan mobil kesayangannya dia pergi dari mansion ke cafe dimana dia akan bertemu dengan temannya.


Setelah beberapa teman baiknya meninggalkan dia dulu, Amoora mempunyai satu teman baik yang menerima siapa dirinya. Bahkan dia mendukung apa yang Amoora lakukan, jika itu untuk melindungi dirinya.


Sampai di cafe, Amoora mencari dimana temannya itu.


"Amoora!"


Suara wanita yang cukup kencang membuatnya menoleh dan seketika tersenyum dan melambaikan tangannya.


Amoora berjalan menghampiri wanita itu dengan senyum lebarnya.


"Apa kau sudah menunggu lama?"Tanya Amoora sambil duduk.


Wanita itu menggeleng "Tidak, aku baru sampai 5 menit yang lalu."


"Baguslah, aku pikir kau sudah menungguku terlalu lama."


"Hahaha tentu tidak."


Tak lama seorang pelayan cafe datang.


Setelah kedua wanita itu memesan, pelayan pergi dari meja mereka.


"Bagaimana, apa kakimu sudah baik-baik saja?"


"Iya, aku sudah tidak apa-apa."


"Aku minta maaf karena aku baru kembali dari luar negri, jadi aku tidak bisa menjengukmu."


"Tidak apa-apa. Oh iya, bagaimana orang yang dijodohkan dengan mu?"


Wanita itu menyipitkan matanya menatap Amoora.


"Hahaha ayolah, aku sangat penasaran."


"Nanti akan ku kasih tahu."


"Yaah, baiklah."


Wanita itu bernama Anggie, dia berusia 28 tahun. Walaupun lebih tua dari Amoora, tapi mereka berteman cukup baik dan saling mendukung satu sama lain.



...Anggie Thompson (28 tahun)...


...Teman baik Amoora...


Mereka berdua saling berbicara tentang kehidupan mereka masing-masing, karena mereka sangat jarang bertemu.


Tapi ketika mereka tengah asik berbicara, Amoora melihat Sam dan Cecilia. Dua orang yang pernah menjadi teman baik dia dulu.


Anggie juga melihat dua orang itu dan hanya tersenyum.


"Apa kamu sudah tidak berhubungan dengan mereka lagi?"Tanya Anggie.


Amoora menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya mereka sudah mengganti nomor telfon mereka."


"Oh benarkah?"


"Mungkin, karena setelah hari itu mereka tidak pernah menghubungi aku lagi, dan nomor mereka selalu tidak aktif saat aku menghubunginya."


"Heh, lucu sekali mereka."


"Biarkan saja."


Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Terima kasih."Ucap Anggie pada pelayan itu.


"Kau masih menyukai itu?"Tanya Amoora.


"Tentu, kemanapun aku pergi. Aku tidak akan mengubah minuman atau makanan yang aku suka."

__ADS_1


"Hahaha benar."


Amoora dan Anggie menikmati pesanan mereka.


Sementara dimeja lain, Cecilia yang mengetahui ada Amoora di cafe itu hanya bisa memperhatikannya dari jauh.


"Kadang aku rindu berkumpul dengan Amoora."Celetuk Cecilia.


Sam menatap Cecilia dengan heran karena tidak tahu maksud ucapan Cecilia yang menyebut nama Amoora setelah sekian lama meninggalkan Amoora.


Dari mejanya Cecelia bisa melihat tawa bahagia Amoora yang sedang bercanda dengan temannya. Ada rasa bersalah dan juga rindu dengan Amoora, dia merasa sudah mengkhianati teman baiknya dan itu pasti membuat Amoora merasa kecewa dan tidak adil.


Disisi lain Amoora dan Anggie tidak peduli dengan orang lain yang melihat kearah mereka, karena sesekali tawa mereka agak keras.


Hari ini Amoora merasa senang karena bertemu dengan Anggie yang sangat mengerti dirinya.


"Kenapa kau tidak mengangkat telfonku?"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang Anggie.


"Kak Lexi."


"Lex.... xi?"Ucap Anggie sedikit terkejut.


Lexi yang tadinya menatap Amoora beralih menatap Anggie dengan tatapan terkejut.


"Kamu."


Amoora melihat Lexi dan Anggie bergantian.


"Kalian saling kenal?"Tanya Amoora.


Anggie menatap Amoora dan mengangguk pelan.


"Ehem, dia... calon kakak iparmu."Ucap Lexi terus terang.


Mata Amoora membulat, sementara Anggie menunundukkan wajahnya.


"Kalian.... Sejak kapan?"


"Kakak akan memberitahu mu nanti, sekarang ikut kakak dulu ke perusahaan."


"Tapi...."Ucapan Amoora terhenti saat melihat Lexi.


Lexi menatap Anggie dan mengelus kepalanya pelan.


Anggie mengangguk menyetujui Lexi.


Amoora yang masih bingung hanya bisa diam.


"Ayo cepat."Ucap Lexi pada Amoora.


Lexi menarik tangan Amoora pelan agar Amoora segera berdiri dan ikut dengannya.


"Kalau begitu aku tinggal dulu."Ucap Amoora pada Anggie.


"Iya."


Amoora berjalan dengan cepat karena tangannya ditarik oleh Lexi hingga mereka keluar dari cafe.


Diluar sudah ada seorang anak buah Lexi yang akan membawa mobil Amoora kembali ke rumahnya. Sementara Amoora akan satu mobil dengan Lexi.


"Sebenarnya ada apa kak?"Tanya Amoora.


"Aku sudah melihat semua keuangan perusahaan Imanuel Steve. Ada beberapa masalah didalamnya, jika kau ingin mengambil alih perusahaan itu kau harus tahu semuanya. Dan juga ada beberapa point yang harus kamu lihat sendiri."


"Kau bisa membawanya kerumah,kak."


"Tidak, aku tidak mau kau melakukan pekerjaan kantor dirumah atau di mansion."


Amoora hanya bisa menghela nafas, dia sangat tahu bagaimana kakaknya yang sangat tidak suka membawa pekerjaan kantor kedalam rumah.


Bagi Lexi pekerjaan kantor harus dilakukan diperusahaan atau diluar rumah. Karena jika mengerjakan didalam rumah, maka tidak akan ada waktu berkumpul bersama.


Ya itu memang masuk akal juga.


Mobil terus melaju menuju perusahaan milik Lexi.


Sampai didepan perusahaan, Lexi dan Amoora masuk kedalam gedung. Beberapa karyawan yang baru pertama kali melihat Lexi membawa seorang wanita ke perusahaan mengira jika Amoora adalah kekasihnya.


Melihat beberapa pasang mata melihat kearahnya, Amoora hanya bisa menghela nafas.


"Benar-benar, apakah kau tidak pernah membawa seorang wanita keperusahaan?"Bisik Amoora pada Lexi.

__ADS_1


"Pernah. Alice."


"Kak!"


"Sudah biarkan saja mereka."


Lexi dan Amoora kini berada didalam lift yang akan membawanya kelantai dimana Lexi mengatur semuanya.


'ting'


Pintu lift terbuka, Lexi dengan langkah lebarnya berjalan melewati beberapa meja kerja karyawannya, disusul oleh Amoora dibelakangnya.


Sama seperti yang Amoora lihat dilantai bawah, karyawan yang melihat Amoora menatapnya dengan heran dan ada juga menatap dengn binar, seolah menemukan bahan gosip baru.


'ceklek'


"Ayo masuk."Ucap Lexi.


Amoora menurut dan mengikuti Lexi masuk kedalam ruang kerjanya.


"Bukankah ini cukup megah, kakak?"


"Ini tidak lebih besar dari milik Alvaro."


"Huh, berhenti membicarakan dia."


"Baiklah, kau duduklah dulu."


"Em."


Amoora duduk di sofa panjang yang ada didalam ruangan itu.



...Ruang kantor Lexi Alexander...


Amoora melihat kakaknya sedang membolak balik beberapa dokumen yang sepertinya menyangkut perusahaan milik Imanuel dulu.


10 menit kemudia, Lexi berdiri dan berjalan kearah Amoora.


"Baca ini."


Lexi memberikan dokumen yang tadi dia lihat, lalu dia duduk diseberang meja tepat didepan Amoora duduk.


Amoora menerima dokumen itu lalu membacanya dengan teliti. Matanya melebar saat membaca beberapa point yang membuat perusahaan jatuh ketangan Imanuel dulu.


Tangan Amoora memegang dokumen itu dengan erat, dia tidak menyangka jika Imanuel berani melakukan hal yang memalukan dan menjijikan seperti itu.


"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan, kamu masih mau mengurus perusahaan itu atau menghancurkannya lalu membangunnya kembali dengan desain yang lebih bagus dan bahan bangunan yang lebih baik."Ucap Lexi.


"Membangun perusahaan tidak semudah dan semurah itu kak."


"Kamu adalah keluarga Alexander, jangankan satu gedung. Kamu bahkan bisa membuat tiga gedung perusahaan sekaligus."


"Cih, boros sekali."


"Hahaha, semua keputusan ada ditanganmu. Sebagai kakak, aku akan selalu mendukung dan melindungimu."


"Aku mengerti, terima kasih kakak."


"Berikan itu padaku, aku akan kembali menyimpannya."


Amoora mengangguk lalu memberikan dokumen tadi pada Lexi.


"Kita keluar, makan siang."


"Perutku sudah kenyang setelah makan beberapa kue dengan Anggie tadi."


"Ah, oh iya."


Amoora menatap kakaknya dengan tajam.


"A.... apa?"


"Apa? Apa kakak tidak merasa kalau kakak harus memberiku sebuah penjelasan?"


Lexi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tahu jika sekarang dia tidak melakukan yang Amoora inginkan maka dia akan merasakan badai besar dirumahnya.


"Kak!"


"Iya, iya aku akan jelaskan."


Lexi kemudian menjelaskan semuanya pada Amoora dengan detail, karena jika tidak Amoora akan bertanya ini dan itu yang akan membuatnya lebih kewalahan.

__ADS_1


Ya, walaupun Lexi adalah seorang ketua mafia yang sangat ditakuti. Tapi dalam hidupnya hanya pada ibu, Alice dan Amoora, dia akan merasa takut.


Mungkin karena dia benar-benar menyayangi keluarganya, jadi dia tidak ingin menyakiti mereka.


__ADS_2