The Queen Psycho

The Queen Psycho
63


__ADS_3

Saat ini Alvaro dan Amoora memasuki bulan ke 7 menjadi sepasang kekasih, sudah banyak kesalah pahaman dan munculnya orang-orang yang ingin menghancurkan hubungan mereka.


Hari ini secara resmi Alvaro membawa Amoora kerumah untuk diperkenalkan dengan anggota keluarganya, dan itu pun melewati beberapa rintangan dari Amoora yang untungnya berhasil Alvaro lewati.


Amoora yang biasanya akan menatap Alvaro dengan tajam, berkata semau dirinya sendiri. Didepan orang tua Alvaro, dia menjadi seorang yang berbanding terbalik.


Apakah itu karena rasa trauma akan sebuah keluarga atau dia tidak ingin membuat keluarga Alexander malu dengan sikapnya yang arogan.


"Mama, papa. Ini adalah Amoora Alexander, kekasih Alvaro."


Alvaro merangkul bahu Amoora.


"Selamat siang paman, bibi."Ucap Amoora dengan lembut.


Mendengar suara Amoora yang begitu lembut, membuat Alvaro diam seketika. Dalam hati dia terkejut karena Amoora tidak pernah berkata sangat lembut seperti saat ini padanya.


"Anak baik, mari duduk. Alvaro tidak menyulitkan kamu kan?"Tanya ibu Alvaro.


Amoora menggeleng "Tidak bibi."


"Baguslah, dia anak yang cukup keras kepala."Ucap sang ayah.


"Apa ini? Kalian baru saja bertemu dengan Amoora dan menyudutkan ku."


"Kami tidak menyudutkanmu, tapi itu kenyataannya."


Alvaro hanya bisa menghela nafasnya, sementara Amoora tengah menahan tawa.


Ibu Alvaro berjalan dan meraih tangan Amoora lalu menatapnya dengan lembut.


"Kalian harus bahagia, kami tidak akan peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang kamu diluar sana. Karena selama Alvaro menyukaimu, kami yakin kamu adalah pilihan yang tepat untuknya."


"Baik, terima kasih bibi."


"Kenapa masih memanggilku bibi, apa kau tidak ingin menikah dengan Alvaro nanti?"


Wajah Amoora merona saat ditanya perihal pernikahan dengan Alvaro.


"Oh, jadi memang benar kamu tidak mau menikah dengan Alvaro?"


Amoora menggeleng beberapa kali "Bukan, bukan seperti itu. Saya...."


"Ma cukup, jangan menggoda Amoora lagi. Lihat wajahnya sudah seperti tomat."Ucap tuan Fernandez.


Mendengar itu ibu Alvaro tertawa kecil.


"Kamu memang perempuan yang baik, mama senang akhirnya balok es didepan mama mencair dan menemukan wanita pilihannya."


"Balok es?"

__ADS_1


"Ya jika tidak lalu apa, selalu bersikap dingin pada setiap wanita dan tidak ingin disentuh sedikitpun. Bahkan mama harus menahan malu saat kamu tidak datang diacara ulang tahun teman mama."


"Itu karena mama pasti akan memperkenalkan aku dengan anak teman mama disana."


"Ya sudahlah, sekarang mama senang karena sudah ada perempuan yang berhasil mencairkan balok es di hati kamu."


"Ma."


Kedua orang tua Alvaro dan Amoora tertawa.


Amoora tidak menyangka jika didalam rumah Alvaro masih di perlakukan layaknya anak kecil, tapi itu mungkin wajar melihat dia adalah anak tunggal didalam keluarganya.


"Nyonya semuanya sudah siap."Ucap seorang pelayan.


"Ah iya. Ayo sayang kita makan siang dulu."Ajak ibu Alvaro pada Amoora.


"Baik."


Amoora digandeng dengan erat, tentu saja ibu Alvaro tidak ingin memberikan celah pada putranya. Karena hari ini dia ingin terus bersama dengan calon menantunya.


Sementara itu Amoora merasa senang karena kedua orang tua Alvaro bisa menerima dirinya.


Alvaro sendiri juga merasa cukup senang, sebab kedua orang tuanya bisa langsung akrab dengan Amoora. Karena sebelumnya mereka selalu tidak suka jika Alvaro dekat dengan wanita yang tidak mereka kenal.


Saat ini mereka sudah berada diruang makan, makanan yang dimasak oleh koki pun sesuai dengan makanan kesukaan Amoora yang Alvaro tahu dari Lexi dan Albert.


"Kau harus makan yang banyak, agar kau bisa memukul dengan keras saat Alvaro menyulitkanmu."Ucap ibu Alvaro sambil memberikan sepotong daging pada Amoora.


"Ehem, sudah hentikan. Kita makan dulu."Ucap tuan Fernandez.


Mereka lalu memulai makan malam dengan damai.


Kedua orang tua Alvaro sangat bahagia, karena akhirnya mereka bisa bertemu dengan Amoora. Wanita yang sangat dicintai dan selalu menjadi bahan cerita oleh Alvaro.


Sehari sebelumnya, Alvaro berkata kepada kedua orang tuanya jika dia akan memperkenalkan Amoora pada mereka.


Kedua orang tua ini sangat bahagia, sebelumnya mereka sudah tahu siapa dan bagaimana kehidupan Amoora. Jadi mereka tidak mempersulit Amoora dengan menanyakan kehidupannya dimasa dulu.


Bagi tuan Fernandez dan istrinya, Alvaro menemukan wanita yang tepat adalah sebuah kebahagiaan tersendiiri. Karena setelah dia ditinggalkan oleh seorang wanita, kehidupannya hanya tertuju pada pekerjaan saja.


Selesai makan malam, mereka duduk ditaman samping rumah sambil menikmati udara malam yang sejuk setelah musim dingin berlalu.


"Amoora, apa yang kamu sukai sayang?"Tanya ibu Alvaro.


"Tentu saja aku mah."Jawab Alvaro dengan pedenya.


"Mama tidak bertanya padamu, dan yang mama tanyakan itu makanan dan yang lainnya. Kamu tidak termasuk didalamnya."


"Ck."

__ADS_1


"Apa kau suka berbelanja?"


"Saya tidak begitu suka."


"Hmm, kalau liburan? Ah, mama mau ajak kamu liburan ke negara XX."


"No!!"


Alvaro menggelengkan kepalanya, dia sangat tahu tujuan mamanya. Dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Apa, kenapa mama tidak boleh ajak Amoora berlibur."


"Tidak, Amoora akan pergi bersamaku."


Alvaro langsung menarik tangan Amoora dan merangkulnya dengan erat didepan kedua orang tuanya.


"Alvaro, kamu kekanakan."Ucap Amoora pelan.


"Lihatlah putramu Pa, dia benar-benar tidak mau jauh dari menantuku." Gerutu ibu Alvaro pada suaminya.


Sekarang wajah Amoora sudah benar-benar merah, mereka sama-sama tidak mau mengalah untuk bersama dengannya.


"Sudah cukup, tanyakan saja pada Amoora. Dia mau ikut berlibur dengan mama atau dengan Alvaro."Ucap tuan Fernandez.


Alvaro menatap Amoora dengan tatapan khawatir, dia tidak mau berbagi waktu Amoora dengan orang lain termasuk dengan orang tuanya sendiri.


"Amoora."


Amoora menatap ibu Alvaro.


"Jadi bagaimana Amoora?"Tanya tuan Fernandez.


"Sayang, aku mohon."


"Amoora, mama mohon. Mama ingin liburkan dengan kamu."


Mata Amoora menatap ibu Alvaro, tapi tubuhnya di peluk dengan erat dari samping oleh Alvaro.


Tuan Fernandez hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia lalu berdiri dan mendekati Amoora.


"Ikut Papa sebentar."


Tangan Amoora di gandeng tuan Fernandez.


"Papa juga mau ikut berebut?"Tanya Alvaro.


"Kau kira Papa tidak ada kerjaan!"


Alvaro diam, dia membiarkan Amoora dibawa oleh ayahnya keruang kerja.

__ADS_1


"Biarkan saja, Mama yakin ada sesuatu yang ingin Papa mu katakan pada Amoora."


Alvaro hanya mengangguk. Dia lalu duduk disamping ibunya.


__ADS_2