The Queen Psycho

The Queen Psycho
55


__ADS_3

Akhir pekan datang, Amoora memutuskan untuk bersantai dirumah karena akhir-akhir ini dia merasa sangat lelah. Selain membantu Lexi mengurus perusahaan, dia juga masih harus mengurus dokumen tentang perusahaan milik Imanuel yang sudah di akuisisi oleh Lexi.


Awalnya Amoora ingin menghancurkan atau menjual perusahaan itu, tapi dia tidak cukup hati melakukannya karena itu adalah hasil kerja keras kakek dan ibunya dulu.


Lexi yang sudah satu minggu lebih berada diluar negri belum bisa kembali karena terjadi sesuatu dengan anak perusahaan.


Koki di kediaman Alexander membuatkan Amoora cemilan, dan saat ini Amoora tengah duduk santai didepan tv sambil menikmati cemilan yang ada didepannya.


Tidak ada kegiatan hari ini, sebab Amoora juga mengistirahatkan anak buahnya dari jadwal latihan.


'ddrrrrrrrrrttttt'


Ponsel Amoora bergetar diatas meja, Amoora melihat siapa yang menghubunginya.


"Alvaro?"


Sejenak Amoora berfikir lalu menggeser icon berwarna hijau.


"Iya."


"Amoora, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."Ucap Alvaro diseberang sana tanpa basa basi.


"Tidak, aku ingin bersantai hari ini."


"Kau bisa bersantai disana."


"Aku tidak mau."


"Ayolah, aku jamin kau akan merasa lebih santai dan nyaman."


"Memang kau mau mengajakku kemana?"


"Kau akan tahu nanti."


"Aku tidak mau."


Amoora langsung memutuskan sambungan telfonya dan meletakkan ponselnya diatas meja.


Hari ini Amoora hanya ingin berdiam dirumah, kemanapun orang akan mengajaknya dia tidak tertarik.


Selesai melihat acara yang dia suka, Amoora mematikan tv lalu pergi ke kamarnya.


"Nona."Panggil seorang pelayan.


"Iya, ada apa?"


"Tuan Lexi berpesan, sore nanti nona Amoora di minta untuk pergi ke mall yang ada di pusat kota."


Amoora mengangguk "Aku mengerti. Terima kasih."


Awalnya Amoora merasa aneh karena setiap Lexi ingin meminta atau mengatakan sesuatu padanya tidak langsung menghubunginya, hingga akhirnya Lexi memberi tahu jika semua demi melindungi dirinya, karena Lexi juga melakukan itu pada Alice.


Lexi melakukan itu juga agar orang-orang dirumah tahu bagaimana hubungan dirinya dengan kedua adiknya.


Amoora merenggangkan tubuhnya lalu berbaring diatas ranjang, dia memeluk guling yang ada disampingnya.


Waktu masih pagi, dan hari ini dia bangun terlalu pagi karena sudah terbiasa. Bahkan dia belum mandi, hanya gosok gigi dan mencuci wajahnya saja.


Lambat laun mata Amoora terpejam dan mengantarkan dirinya kealam mimpi.


Siang harinya Amoora bangun, dia merasa tidurnya cukup nyenyak setelah sibuk beberapa hari ini.


Mata Amoora membulat saat dia melihat Alvaro duduk di sofa yang ada didalam kamarnya.


"Kau, bagaimana kau ada di kamar ku?"Tanya Amoora sambil bangun dari tidurnya.


Alvaro berdiri lalu menghampiri Amoora sambil tersenyum.


"Aku sudah dapat ijin dari Lexi."


"Kak Lexi."Amoora meremas selimutnya.

__ADS_1


Alvaro melihat Amoora sangat menggemaskan saat kesal, dia duduk disamping Amoora lalu membelai rambutnya.


"Mandilah, aku akan menunggumu di bawah. Kau pasti sudah lapar."


Amoora membuang nafasnya lalu pergi ke kamar mandi dengan kesal.


Alvaro hanya terkekeh, apapun yang Amoora lakukan itu akan terlihat sangat menarik bagi Alvaro dan dia berharap semua itu hanya dia yang bisa melihatnya.


Sambil menunggu Amoora, Alvaro membuka jendela dan berjalan ke balkon kamar.


Dari sana Alvaro melihat halaman samping dan halaman belakang rumah, kolam renang yang cukup luas dan taman bunga yang terlihat indah membuat ketenangan tersendiri.


"Apa kau terbiasa melakukan apapun yang kau mau dikamar orang lain, tuan muda Fernandez?"


Alvaro menoleh, dia melihat Amoora berdiri sambil berkacak pinggang.


"Tidak lama lagi ini akan menjadi kamar ku juga."


"Ck, hayalan mu terlalu tinggi."


Alvaro tersenyum, dia menghampiri Amoora lalu mencubit kedua pipi Amoora dengan gemas.


"Semua akan terjadi cepat atau lambat sayang."


Amoora menyingkirkan tangan Alvaro dari pipinya.


"Kalau begitu teruslah berhayal."


"Hahaha kau sangat menggemaskan."


"Cukup, sekarang katakan apa yang kau lakukan disini?"


"Tadi pagi aku sudah bilang kalau aku ingin membawamu ke suatu tempat."


"Jadi kau masih ingin mengajak ku keluar?"


Alvaro mengangguk "Tentu saja."


"Kau mau?"


"Jika aku bilang tidak, apa kau tidak akan memaksaku?"


Alvaro hanya nyengir mendengar perkataan Amoora, karena Alvaro tentu akan terus merayu Amoora sampai dia mau ikut.


Amoora tidak tahu harus bagaimana berurusan dengan CEO yang terkenal dingin dan kejam itu. Bagi Amoora, Alvaro bukan hanya tidak kejam dan dingin, tapi dia adalah CEO yang paling narsis dan sulit dihadapi, apalagi jika itu berkaitan dengan yang namanya pergi bersama.


Mereka keluar dari rumah dan pergi menuju tempat yang Alvaro katakan.


Mobil melaju kearah pinggiran kota, melewati beberapa desa dan pegunungan.


"Sebenarnya kita mau kemana?"Tanya Amoora.


"Nanti kamu akan tahu."


Alvaro membelokan mobilnya, memasuki area jalan berbatu.


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir dua jam, mereka sampai disebuah bangunan kayu yang sangat bagus dan hangat.


"Ayo turun."


Amoora dan Alvaro keluar dari mobil.


"Itu vila mu?"


Alvaro mengangguk "Iya, ayo masuk."



...Vila Alvaro didalam hutan...


Alvaro menggandeng tangan Amoora masuk kedalam vila.

__ADS_1


Amoora menatap takjub setiap sudut bagian dalam vila itu, tertata sangat rapi dan bagus.


"Bagaimana, kau merasa nyaman disini?"


Amoora mengangguk "Ini lumayan, aku tidak menyangka saat kita berada didalam akan terasa hangat walaupun diluar sedang dingin."


Alvaro mendekati Amoora lalu memeluknya dari belakang "Ini adalah satu-satunya vila yang aku bangun sendiri."


"Maksudmu, ini di bnagun dengan tanganmu sendiri?"


Alvaro mengangguk.


"Vila ini aku yang mendesain, semua bahan-bahannya aku yang memilih, dan barang-barang yang ada didalam juga aku yang membuat dan membelinya sendiri."


Amoora diam.


"Aku pernah bersumpah pada diriku sendiri, aku hanya akan membawa wanita yang sangat aku cintai ke vila ini."


Amoora tertegun dengan apa yang Alvaro katakan.


Alvaro memper-erat pelukannya "Aku sangat mencintai mu, aku tidak ingin kau menjadi milik orang lain, Amoora."


"Alvaro, kita baru saja kenal beberapa bulan."


"Aku tahu, tapi aku tidak bisa memungkiri jika aku sudah jatuh cinta padamu. Tidak bisakah kamu merasakannya juga?"


Amoora menarik nafas lalu menghembuskan perlahan, dia mencoba melepaskan pelukan Alvaro lalu berjalan mendekati jendela.


"Hidup itu tidak ada yang tahu Alvaro, aku tidak tahu dimasa depan akan hidup berapa lama. Kau tahu bagaimana kehidupan ku."


"Aku tahu dan sangat mengerti, karena itu aku ingin melindungimu."


Amoora menggeleng "Kamu tidak mengerti."


Alvaro berjalan mendekati Amoora lalu meraih dan menggenggam tangannya.


"Tidak bisakah kita mencoba, tidak bisakah kau memberiku kesempatan dengan pasti. Aku bersumpah hanya ada kamu dalam hidupku."


"Aku tidak mempermasalahkan wanita-wanita yang mengejarmu, karena aku tidak peduli. Tapi aku tidak mempunyai kekuatan untuk melindungimu dari semua musuhku dan Lexi."


Alvaro tersenyum dan membelai pipi Amoora.


"Aku yang akan melindungimu, kau tidak perlu berpikir cara untuk melindungiku. Cukup kau berada disisiku, semuanya akan menjadi baik."


"Alvaro."


Alvaro menarik tangan Amoora lalu mendekap tubuhnya seolah takut akan kehilangan.


"Aku berjanji akan melindungimu, aku tidak akan pernah membuatmu kecewa. Aku mohon."


Amoora diam sejenak lalu menganggukkan kepalanya.


Alvaro tersenyum merasakan anggukan kepala Amoora, lalu memper-erat pelukan mereka.


"I love you, I love you Amoora."


Amoora membalas pelukan Alvaro.


Akhirnya penantian dan usaha Alvaro meyakinkan Amoora berbuah manis, Amoora seutuhnya menerima Alvaro.



...Kamar didalam vila Alvaro ...



...Ruang tv didalam vila Alvaro ...



...Dapur dan Tempat makan didalam vila Alvaro ...

__ADS_1


__ADS_2