
Esok harinya Amoora mendatangi mansion itu dengan Lexi. Mereka ingin melihat secara langsung bagaimana mansion itu.
Ketika mereka sampai di mansion ternyata orang-orang dari kantor agenci mansion sudah datang dan tengah membersihkan dan melakukan pengecekan pada mansion itu.
Selain alat kebersihan, mereka juga membawa alat untuk mendeteksi apakah ada cctv tersembunyi atau alat penyadap di mansiom itu.
"Apa kau suka?"Tanya Lexi pada Amoora.
"Ya, ini jauh lebih besar dari perkiraanku. Kamar-kamarnya juga cukup besar."
"Kau bisa membuat tiga anak buahmu tidur dalam satu kamar nanti."
"Ya kau benar, bahkan 4 orang juga mungkin masih bisa."
Amoora dan Lexi berjalan untuk melihat setiap ruang didalam mansion yang belum ada barang apapun.
"Kau sudah membeli barang-barang untuk mansion ini?"
"Ya sebgaian besar sudah, karena aku juga akan memindahkn barang-barang yang ada di tempat lama kesini."
"Hmm baiklah, nanti aku akan minta beberapa anak buah untuk membantu."
"Terima kasih kakak."
Lexi menatap Amoora dengan wajah terkejut. Pasalnya ini kali pertama Amoora memanggilnya kakak.
"Ada apa? Bukankah usiamu lebih tua dariku?"
"Hanya lebih tua satu tahun, kenapa aku merasa seolah-olah kita terpaut sangat jauh."
"Hahahaha."
Amoora dan Lexi kini telah sampai didepan kolam renang yang berada dibelakang mansion.
"Jika Alice tahu disini ada kolam renang yang besar seperti ini, dia pasti akan langsung merengek untuk berenang."
"Apa di tempatmu tidak ada kolam renang?"
"Ada, hanya saja kolam itu sudah sering dipakai untuk latihan."
"Hmm begitu."
Saat mereka tengah berbicara, seseorang mendatangi mereka berdua.
"Permisi nona, tuan. Kami sudah melakukan semua tugas kami."Ucap seorang pekerja pada Amoora dan Lexi.
"Baik, terima kasih atas kerja keras anda dan kawan-kawan anda."Ucap Amoora.
"Sama-sama nona. Kalau begitu kami permisi."
"Silahkan."
Lexi melihat senyum manis Amoora pada petugas itu, senyuman yang selalu membuat dia bertanya seperti apa kehidupan wanita yang ada didepannya saat ini, sehingga dia memilih untuk masuk kelingkaran hitam yang begitu keras dna berbahaya.
"Hmm sepertinya sudah harus dibawa kesini semua barang-barangnya."
"Jadi apa kita akan lembur?"
"Bukan kita, Bos besar seperti mu tidak perlu turun tangan. Aku tidak akan sanggup untuk menghadapi tatapan semua anak buahmu."
"Hahaha baiklah, baiklah kalau begitu aku akan menyuruh mereka membantu beres-beres ditempat lama mu."
"Ya itu lebih baik."
Mereka lalu berjalan untuk melihat paviliun dan yang lainnya.
__ADS_1
"Aku tadi lihat ada dua kamar utama di lantai dua, apa kau akan menggunakan salah satu dari kamar itu untuk ruang pribadi mu? Karena aku yakin satu ruangan lagi akan kau pakai untuk tempat tidurmu."
"Aku pikir tidak."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada kamar itu?"
"Tentu saja untuk kamar Alice. Aku tidak mungkin membuatnya tidur dengan anak buahku saat dia menginap disini."
Lexi tertegun dengan ucapan Amoora. Mereka adalah orang luar bagi Amoora, tapi Amoora memperlakukan Lexi dan Alice seperti keluarga mereka sendiri.
"Ada apa?"
"Tidak, tidak apa-apa."
"Aku tahu mungkin aku terlalu jauh melangkah, sampai aku melakukan hal itu pada kalian. Hanya saja..."
"Tidak apa-apa, aku justru merasa senang kau melakukan itu. Selama ini Alice ingin mempunyai kakak perempuan, dan dia pasti senang jika kau mau menganggapnya sebagai adikmu sendiri."
"Baiklah, terima kasih."
Selama ini Lexi memang sudah sangat berusaha menjadi seorang kakak juga seorang ayah bagi Alice. Tapi dia tidak bisa menyangkal, jika adiknya sangat ingin mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita. Entah itu sebagai ibu atau kakak.
Lexi sendiri belum ingin menikah dengan wanita manapun, tamparan yang begitu keras dari keluarga mantan kekasihnya dulu membuat dia bersikap sangat dingin pada para wanita.
Mungkin hanya Amoora yang baru bisa menyentuh hatinya, karena Amoora telah menyelamatkan adiknya dulu.
"Baiklah karena disini sudah selesai, aku harus kembali ke rumah dan melihat apakah mereka sudah bersiap untuk pindah atau belum."
Amoora dan Lexi berjalan keluar dari mansion, mereka menaiki dua mobil yang berbeda. Karena setelah ini mereka akan kembali ke rumah masing-masing.
Di tengah jalan menuju rumahnya Amoora melihat seorang laki-laki yang pernah menjadi pangeran di hatinya. Ada rasa kecewa pada tatapan Amoora saat melihat laki-laki itu, namun dia langsung menepis perasaannya.
"Sekarang aku bukan lagi Amoora yang berusia 22 tahun itu, yang mudah di bohongi dan di bodohi oleh orang lain, bahkan oleh keluargaku sendiri."Amoora menggenggam erat kemudi mobilnya.
Walaupun laki-laki itu sangat Amoora cintai, tapi dia tidak bisa memungkiri jika dia sangat kecewa saat laki-laki yang dia cintai itu lebih mempercayai perkataan Bella yang sudah membuat cerita palsu tentangnya.
Dari dalam mobil Amoora melihat para anak buahnya tengah mengangkat satu persatu barang-barang yang akan di pindahkan ke mansion baru kedalam mobil box.
"Kalian benar-benar sangat cepat bergerak."Ucap Amoora setelah keluar dari mobil.
"Bos."Ucap beberapa anak buah Amoora serentak.
"Setelah ini kita akan tinggal di mansion yang lebih besar dari ini, dan tempatnya akan lebih jauh dari area perkotaan, jadi kalian bisa berlatih tanpa memikirkan orang-orang yang ingin tahu apa yang kalian lakukan didalam mansion."
"Terima kasih bos, kau adalah orang yang sangat baik dan mengerti kami."
Amoora mengangguk "Ayo pindahkan semuanya, agar kita bisa cepat-cepat pergi."
"Siap bos."Ucap mereka lagi dengan tegas dan serentak.
Amoora sangat bahagia mempunyai mereka. Walaupun tidak ada ikatan keluarga, tapi bagi Amoora lebih baik hidup dengan mereka yang bisa menghargai dirinya, dari pada harus hidup dengan orang-orang yang ingin menyingkirkannga.
'tin tin'
Suara klakson mobil berbunyi, Amoora melihat kearah pintu gerbang. Dia melihat salah satu orang kepercayaan Lexi melambaikan tangan pada Amoora.
"Buka gerbangnya."Ucap Amoora pada anak buahnya yang menjaga pintu gerbang.
Setelah terbuka, tiga mobil box masuk kehalaman rumah besar Amoora.
"Akhirnya kalian datang juga."Ucap Amoora pada Roy, orang kepercayaan Lexi.
"Hehehe maaf kak, tadi kami harus mengambil satu mobil box lagi karena takut kurang."
"Baiklah tidak apa-apa. Ayo bantu kami mengeluarkan barang."
__ADS_1
"Baik kak."
Roy dan anak buah Lexi lalu membantu memindahkan barang-barang yang masih belum dimasukkan kedalam mobil.
2 Jam kemudian, semua barang-barang sudah masuk kedalam 8 mobil box. Amoora melihat rumahnya kini telah kosong tanpa satu barang pun, begitu juga dengan ruang bawah tanah dan dua bangunan yang ada disamping rumahnya.
"Baiklah, semua sudah beres, ayo kita ke mansion baru kita."
Amoora dan semua anak buahnya berangkat ke mansion, namun karena mereka tidak ingin menjadi pusat perhatian jadi mereka pergi ke mansion secara terpisah dan dengan selisih waktu 30-40 menit.
"Bos, apa tidak akan terjadi sesuatu? Kita memakai mobil terlalu banyak."
"Tidak akan apa-apa, aku sudah memberikan rute jalan yang berbeda untuk menuju mansion. Walaupun jalan utama tetap ada satu jalan yaitu melewati jalan di bawah gunung."
Karena sebelumnya Amoora telah mempelajari rute-rute jalan menuju mansionnya agar dia bisa memasang cctv tersembunyi untuk berjaga-jaga, jadi dia mengerti jalan mana saja yang bisa di lewati mobil box dengan aman.
Tepat pukul 3 sore semua mobil box dan mobil yang membawa anak buah Amoora sampai didepan mansion tanpa ada satupun masalah.
Setelah beristirahat selama 10 menit, mereka lalu mulai membongkar dan memasukkan barang-barang dari mobil box.
Ada yang menata ruang tamu, ruang makan, ruang tv, tempat gym, dan juga kamar. Semuanya sibuk, entah itu laki-laki maupun perempuan.
Amoora yang melihat semuanya bekerja keras merasa sangat bahagia, dia lalu pergi ke suatu tempat dengan mobilnya.
Walaupun ini di bilang berat dan melelahkn akhirnya mereka bisa menyelesaikan menata barang-barang itu pada jam 8 malam.
"Baiklah, ayo kita makan malam dulu. Aku sudah membelikan kalian makanan."Seru Amoora yang tengah membawa beberapa kantong plastik dikedua tangnnya.
Dua orang anak buahnya menghampiri dan membantu Amoora membawa plastik-plastik itu.
"Didalam mobil masih ada yang lainnya, kalian bantu aku ambilkan."
Beberapa anak buah mengangguk dan berjalan keluar untuk mengambil makanan yang dimaksud oleh Amoora.
Semua orang berkumpul di ruang tv yang cukup luas, ada juga yang makan diruang keluar yang tidak jauh dari ruang tv.
"Terima kasih kalian sudah sangat bekerja keras hari ini, walaupun sangat melelahkan, tapi ini cukup memuaskan."Ucap Amoora.
"Bos jangan berkata seperti itu, kami yang seharusnya berterima kasih pada bos. Karena bos kami mempunyai tempat tinggal yang layak, makan dengan baik dan mempunyai pakaian yang bagus."
"Benar bos, kita juga bisa mempunyai keluarga disini. Jika bos tidak membawa kami hari itu, entah kami akan hidup seperti apa sekarang."
Bagi anak buah Amoora, Amoora adalah dewi pelindung dan malaikat. Disaat semua orang meremehkan mereka, menghina dan mencela mereka, Amoora justru mengulurkan tangan dan mau merawat mereka, mengajari mereka cara bertahan hidup. Karena itu mereka bersedia mengikuti Amoora sampai saat ini.
Anak buah Lexi sendiri tidak menyangka jika Amoora sangat hangat kepada orang lain, dan dia juga sangat baik. Sungguh sangat disayangkan karena Amoora terjun kedunia bawah.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, dan mereka akhirnya bisa menyelesaikan perkerjaan mereka yang tersisa.
"Baiklah karena semuanya sudah beres kami akan kembali ke markas kami."Ucap Roy pada Amoora.
"Terima kasih, kalian sudah sangat membantu hari ini. Oh iya katakan pada Lexi untuk datang besok lusa. Aku membuat perayaan untuk mansion baru dan dia harus datang. Kalian juga datanglah."
"Baik kak, kalau begitu kita pergi dulu."
"Iya."
Amoora melihat mobil mereka keluar dari halaman mansion dan tidak butuh waktu lama kedua mobil itu tidak lagi terlihat.
"Baiklah, karena sudah malam kalian bagi kamar kalian masing-masing. Karena kamarnya cukup luas, maka satu kamar akan diisi 3-4 orang. Kalian mengerti?"
"Mengerti bos."
"Kalau begitu istirahatlah. Besok kita masih harus memasang beberapa cctv dan yang lainnya disekitar mansion."
"Baik bos."
__ADS_1
Setelah itu Amoora berjalan menuju kamarnya dilantai atas, begitu juga dengan para anak buah Amoora.