The Queen Psycho

The Queen Psycho
37


__ADS_3

Dua hari kemudian Amoora mendapakan informasi jika Imanuel pergi ke pasar gelap untuk melelangkan satu set perhiasan langka yang hanya satu-satunya didunia.


Amoora tertarik dengan perhiasan itu, dia juga penasaran seperti apa dan dari mana Imanuel mempunyai perhiasan itu.


"Setahu ku dia tidak mempunyai perhiasan langka, kecuali.... Br*ngsek! Ternyata dia yang mengambil perhiasan milik ibu yang pernah ibu ceritakan padaku dulu. Kau benar-benar ingin ku hancurkan Imanuel!"


Amoora mengepalkan tangannya kuat, dia sangat marah karena kelakuan Imanuel yang sangat memalukan dan tidak tahu terima kasih pada ibunya.


"Lucas, pesan tiket masuk ke pasar gelap untuk besok. Aku akan mengambil perhiasan milik ibuku yang sudah dicuri oleh Imanuel."


"Baik bos."


Lucas segera melakukan perintah dari Amoora.


Amoora selalu mencoba mencari dimana perhiasan yang ibunya ceritakan saat masih dirumah keluarga Steve setelah ibunya meninggal.


Selama ini Amoora tidak tahu jika perhiasan itu disimpan oleh Hanna dan hanya Imanuel yang tahu, karena dulu Imanuel berkata jika perhiasan itu sudah dijual oleh ibunya. Tapi Amoora yakin jika ibunya tidak akan melakukan itu.


Sekarang setelah Amoora tahu jika Imanuel melelangkan satu perhiasan langka, dia yakin kalau itu adalah perhiasan ibunya yang selama ini disembunyikan oleh Imanuel dan Hanna.


"Aku akan mendapakan kembali semua yang sudah kau ambil dari ibuku, dan aku ingin lihat bagaimana kau hidup selanjutnya."


Rasa benci Amoora kepada Imanuel dan Hanna semakin besar, dia sudah tidak bisa lagi membendung emosinya dan ingin segera menghancurkan dua orang itu.


"Amoora."


Amoora menoleh dan melihat kakaknya berdiri disampingnya.


"Kak Lexi."


"Aku dengar kau ingin ke pasar gelap?"


"Iya."


"Tumben sekali, apa ada yang kau inginkan?"


"Aku ingin mendapatkan satu set perhiasan milik ibuku yang sudah diambil oleh Imanuel."


"Perhiasan?"


"Iya, itu adalah perhiasan dengan rubi berwarna merah yang ibuku dapatkan dari Imanuel sebagai hadiah ulang tahun. Tapi sebelum ibu meninggal, dia mengambil dan memberikannya pada wanita simpanannya itu."


Lexi melihat wajah Amoora yang diselimuti aura kebencian.


"Aku akan ikut denganmu."


"Kakak akan ikut?"


"Iya, itu adalah barang berharga yang harus kau dapatkan. Jadi tentu saja aku harus ikut."


"Terima kasih kakak."


"Ah iya, sepertinya Alvaro juga akan pergi kesana."

__ADS_1


"Ck, kenapa harus ada dia,sangat menyebalkan."


"Kau sepertinya tidak suka jika bertemu dengan Alvaro. Padahal di pesta tuan Gabriel, kakak lihat kamu dan Alvaro cukup dekat."


"Sama sekali tidak. Dan aku sangat menyesal karena sudah berbicara dengan dia di pesta itu."


"Hmm kenapa?"


"Hah, kemarin lusa setelah aku membeli beberapa senjata aku mampir ke toko kue dan bertemu dengan cucu dari tuan Gabriel. Kau tahu apa yang dia katakan kak?"


Lexi menggeleng.


"Dia mengancamku, dia ingin aku tidak lagi berbicara apalagi menggoda Alvaro."


"Hahaha ternyata saingan cinta."


"Omong kosong, mananya saingan cinta? Aku malah berterima kasih kalau wanita itu bersama dengan Alvaro Fernandez. Jadi dia tidak akan lagi muncul didepanku."


Lexi menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti apa yang ada didalam otak adiknya. Ada laki-laki sukses yang dia kenal baik menyukainya, tapi Amoora malah tidak suka, padahal banyak wanita yang rela hanya dijadikan teman ranjang asal bisa bersama dengan Alvaro.


"Sudahlah, ayo kakak ingin memperlihatkan sesuatu padamu."


"Apa?"


"Ayo ikut saja."


Amoora mengikuti Lexi. Mereka masuk kedalam ruang kerja Lexi yang ada di mansion Amoora.


"Apa sekarang dia jadi simpanan para pria tua itu?"Tanya Amoora.


"Itu semua adalah klien George. Kau tahu bukan siapa George? Dia tentu tidak ingin rugi memelihara Bella, setiap satu minggu sekali Bella akan melayani beberapa klien George, dan George tentu akan mendapatkan banyak keuntungan."


"Dasar laki-laki sampah."


"Kau tahu, selain George ada orang lain yang lebih sampah dari dia."


"Siapa?"


"Charlie."


"Charlie, pengusaha terkenal dari negara Y?"


"Benar. Dia seorang pengusaha kaya nomor 2 disana. Dia terkenal mempunyai banyak wanita, tapi orang-orang tidak tahu jika wanita yang diberitakan dengannya adalah wanita yang bekerja di club malam dan kasino miliknya sebagai wanita penghibur."


"Wah."


"Tidak hanya itu, istri Charlie bahkan pernah melakukan hal intim dengan pengusaha terkaya di negara itu hanya untuk sebuah kerjasama."


"Benarkah? Sangat menjijikan."


"Yaah itulah Charlie, dia tidak akan segan-segan melakukan apapun demi kekuasaan. Bahkan dia tidak peduli dengan kehidupan istri dan anak-anaknya diluar sana, selagi tidak membuatnya terganggu."


"Sangat bebas sekali tuan Charlie ini."

__ADS_1


"Benar."


Amoora terdiam sesaat.


"Jika aku melemparkan Hanna kedepan tuan Charlie, sepertinya akan sangat menyenangkan."


Lexi tertegun mendengar apa yang Amoora katakan.


"Benar-benar Psycho, dia tidak akan melepaskan dengan mudah orang yang dia benci."


"Kau akan membantuku kan kak?"


"Ah, em tentu."


"Oke, aku akan membuat rencana agar dengan suka rela Hanna merangkak dibawah kaki Charlie."


Lexi hanya tersenyum mendengar ucapan Amoora yang penuh dengan kebencian itu.


Itu adalah hukuman bagi orang yang sudah membuat Amoora marah, Hanna dan Imanuel sudah membuatnya kehilangan ibu dan kakeknya, jadi tentu saja Amoora tidak akan melepaskan mereka.


"Kalian akan merasakan penderitaan yang membuat kalian lebih memilih mati daripada hidup di dunia."


Amoora keluar dari ruang kerja Lexi, dia harus mempersiapkan sesuatu karena besok dia harus pergi ke pasar gelap untuk acara lelang.


'ting'


Notifikasi dari ponsel Amoora berbunyi.


Alvaro Fernandez : Selamat siang nona Alexander. Besok apa anda punya waktu? Aku ingin mengajak anda untuk mengikuti pelelangan.


Amoora : Maaf saya tidak punya waktu, dan saya juga tidak ingin mempunyai musuh yang menyebalkan. Jadi saya mohon kepada tuan Alvaro Fernandez agar tidak menganggu saya lagi. Terima kasih.


Amoora benar-benar kesal karena Alvaro masih saja mengganggunya.


"Ini semua karena kakak yang membantu dia."Gerutu Amoora.


Untuk saat ini Amoora tidak ingin memikirkan hal lain, dia mempunyai tujuan utama besok. Jadi Alvaro bagi Amoora bukan hal yang penting untuk dia pikirkan.


***


Ditempat lain, Alvaro terlihat bingung dengan balasan pesan dari Amoora.


"Seorang musuh yang menyebalkan?"Gumam Alvaro.


Alvaro membaca pesan singkat dari Amoora beberapa kali, tapi dia tidak tahu maksud Amoora berkata seperti itu padanya.


"Aku harus menanyakan ini pada Lexi."


Alvaro adalah salah satu contoh seorang CEO yang mempunyai kemampuan 0 dalam hal percintaan dengan Amoora.


Mungkin dia bisa tahu motif tersembunyi dari para kliennya yang selalu memperkenalkan anak-anak mereka padanya. Sehingga selalu terlihat dingin dengan tatapan menyeramkan didepan para merkea. Tapi dengan Amoora, semuanya seperti lenyap dan terlihat seperti laki-laki yang sangat polos.


(CEO dominan yang polos didepan wanita yang dia sukai 🤣)

__ADS_1


__ADS_2