
Dua hari kemudian, Amoora sudah siap dengan dress yang dipilihnya.
Sementara itu Lexi juga sudah siap dengan setelan tuxedo berwarna hitam dengan kemeja warna navi yang sedang menunggu Amoora keluar dari kamarnya.
...Lexi Alexander ...
Setelah menunggu selama 20 menit akhirnya Lexi mendengar suara sepatu menuruni tangga.
Lexi menoleh dan melihat Amoora menggunakan dress pilihannya dan riasan yang tidak begitu tebal namun terlihat sangat natural dan cantik.
"Dia selalu bisa terlihat mempesona dimata orang lain."
Amoora berjalan mendekati Lexi lalu tersenyum.
"Apa aku terlihat cantik?"
"Tentu, kamu selalu cantik."
"Kakak."Bibir Amoora mengerucut.
"Hahaha sudah, kita akan terlambat kalau tidak berangkat sekarang."
"Iya."
Lexi menggandeng tangan Amoora lalu berjalan keluar rumah.
Amoora melihat supir dan mobil sudah siap didepan rumah.
"Tumben sekali kau tidak mengemudi sendiri malam ini?"Tanya Amoora.
"Malam ini kita pasti akan menemui banyak orang penting, dan setidaknya aku akan ikut minum untuk menghargai mereka. Jadi tidak mungkin aku membawa mobil sendiri kesana."
"Hmm begitu."
"Ayo."
Amoora mengangguk.
Supir membukakan pintu mobil untuk Amoora dan Lexi, kemudian dia pun segera masuk kedalam mobil dan melajukan mobil itu menuju hotel dimana pesta diadakan.
"Apa kau tidak menyukai gaun pesta?"Tanya Lexi.
Amoora mengangguk "Gaun pesta terlihat sangat glamor. Aku tidak suka."
"Tapi mungkin kalau kau yang memakainya akan terlihat cantik."
"Itu tidak akan, walaupun cantik aku tidak mau memakainya."
Lexi tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana perkembangan keluarga itu? Aku dengar Imanuel Steve sedang mencari pinjaman dan investor untuk perusahaannya."
"Mungkin tidak sampai akhir bulan ini perusahaannya akan hancur."
Lexi melirik kearah Amoora "Apa dia menghubungimu?"
Amoora diam sesaat, Lexi melihat tangan Amoora mengepal.
"Laki-laki tua itu tanpa rasa malu dan bersalah memintaku untuk menolongnya. Aku yakin dia tidak bisa mendapatkan orang yang mau membantunya lagi."
Lexi meraih tangan Amoora dan menggenggamnya.
"Kau tidak perlu memikirkannya, lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Aku akan selalu mendukung mu."
"Iya, aku tahu."
__ADS_1
Lexi menepuk pelan beberapa kali punggung tangan Amoora, memberikan dukungan dan perlindungan bagi adik perempuannya itu.
Amoora menatap keluar jendela.
"Ah benar, aku belum menanyakan kenapa kau membawa dia ke mansion ku?"Amoora menatap lekat Lexi, seolah sedang mengunci mangsanya.
"Ya... aku pikir dia baik dan sangat cocok denganmu."Ucap Lexi merasa sedikit bersalah.
"Kau tahu aku malas berhubungan dengan orang lain, apalagi aku sudah menjalani kehidupan dijalan ini."
Lexi bisa mengerti rasa takut yang Amoora rasakan saat ini, karena dia juga pernah merasakannya saat menyukai seorang wanita dulu.
"Kau belum mencoba membuka dirimu untuk orang lain, jadi kau berkata...."
Lexi menghentikan ucapannya karena melihat tatapan Amoora yang seperti sedang mengancam musuhnya.
"Baiklah, aku tidak akan ikut campur dengan urusan kalian. Tapi sebagai seorang kakak, aku ingin melihat kamu mempunyai seorang pria yang bisa melindungimu."
Amoora menundukkan wajahnya sedikit, dia mengerti dengan kekhawatiran yang Lexi rasakan. Tapi saat ini Amoora merasa di belum bisa.
"Pikirkan pelan-pelan. Aku dan Alice akan selalu ada untuk kamu dan akan selalu menyayangimu."
"Terima kasih kakak."
Lexi mengangguk dan tersenyum.
Tidak lama kemudian mereka tiba didepan hotel yang cukup besar. Supir pribadi Lexi turun dan membukakan pintu mobil untuk Lexi dan Amoora.
"Baiklah, ayo kita masuk."
Amoora mengangguk, dia lalu memeluk lengan Lexi dan berjalan disamping Lexi.
Mereka masuk kedalam hotel dan naik kelantai 5 dimana ada sebuah ruangan besar tempat diadakannya pesta penyambutan cucu dari rekan kerja Lexi (dulunya rekan kerja tuan besar Alexander).
Lexi dan Amoora masuk kedalam ruang pesta yang besar dan mewah itu. Tidak sedikit orang-orang penting yang Lexi kenal sudah berada disana, termasuk dengan Alvaro yang sedang berbicara dengan salah satu tamu undangan.
...Amoora Alexander ...
"Dia selalu tampil cantik, dengan pakaian yang sederhana namun terlihat sangat elegant."
Alvaro dibuat tidak konsentrasi setelah melihat sosok wanita yang dia impikan.
"Apa itu adik perempuan tuan Alexander yang beberapa minggu lalu diangkat?"Tanya salah seorang tamu yang berdiri dengan Alvaro.
"Benar, dia adalah nona Alexander pertama."
"Jika dilihat sepertinya anda menyukai dia, tuan muda Fernandez."Ucap yang lainnya.
Alvaro tertegun sejenak lalu tersenyum tipis.
"Apakah begitu terlihat?"
"Siapapun akan terpesona padanya tuan, tapi saya tidak menyangka jika anda benar-benar menyukainya."
"Ya, tapi sangat sulit mendapatkan perhatiannya."
"Benarkah, anda adalah tuan muda keluarga Fernandez. Banyak wanita yang mnegejar anda, tapi anda justru harus mengejar nona muda Alexander. Ini sungguh mengejutkan."
"Saya juga tidak tahu kenapa saya sangat menyukai dia dan ingin memilikinya, walaupun sangat sulit mendapatkankan."
"Terus berjuang tuan, saya yakin anda bisa mendapatkan."
"Terima kasih."
Disudut lain sepasang mata yang indah sedang menatap Alvaro, matanya tidak bisa beralih dari sosok laki-laki tampan itu.
__ADS_1
Pemilik mata indah itu berjalan mendekati Alvaro bersama dengan seorang laki-laki paruh baya disampingnya.
"Selamat malam tuan-tuan, selamat malam tuan muda Fernandez."
"Selamat malam tuan besar Gabriel."
"Terima kasih sudah datang di pesta kecil ini."
"Kami tentu harus datang tuan."
"Oh benar, saya perkenalkan cucu saya yang baru kembali dari luar negri. Namanya Anasya Gabriel."
"Selamat malam tuan-tuan semua."Ucap Anasya dengan lembut.
"Senang bisa berjumpa secara langsung dengan anda nona muda Gabriel."
"Terima kasih."
Anasya Gabriel melirik kearah Alvaro yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara kecuali membalas sapaan dari Gabriel.
"Dia sangat tampan, aku harus bicara dengan kakek agar bisa berhubungan dengannya."
Alvaro merasa sudah sering berada pada posisi sekarang, dimana para rekan kerjanya memperkenalkan putri atau cucu mereka padanya, jadi Alvaro tidak begitu merespon ucapan Gabriel.
"Maaf tuan Gabriel, saya harus menemui seseorang."Ucap Alvaro yang melihat Amoora berdiri sendirian di balkon.
"Tentu tuan muda Fernandez, silahkan."
Tanpa melihat kearah Anasya, Alvaro berjalan pergi meninggalkan kerumunan orang-orang itu.
Alvaro mengambil dua gelas wine lalu membawanya kearah balkon.
"Selamat malam nona Amoora."Ucap Alvaro.
Amoora menoleh.
"Ah anda tuan muda Fernandez, selamat malam."Ucap Amoora datar.
Alvaro memberikan salah satu wine yang dia bawa kepada Amoora.
"Terima kasih."
"Sepertinya anda tidak begitu suka dengan pesta seperti ini."
Amoora mengangguk "Iya, sangat membosankan."
Alvaro menyesap wine nya.
Disudut lain Anasya yang sedang mencari Alvaro melihat Alvaro sedang berbicara dengan akrab bersama dengan seorang wanita yang tidak dia kenal.
Tatapan tidak suka terpancar dari kedua mata Anasya, tangan mengepal karena dia merasa jika laki-laki yang dia inginkan ternyata disukai oleh wanita lain.
"Semua yang aku mau, aku pasti mendapatkannya. Begitu juga dengan kamu Alvaro Fernandez."
Amoora yang merasakan jika dirinya tengah diawasi berbalik untuk melihat siapa orang yang diam-diam mengawasinya.
"Ada apa nona Amoora?"Tanya Alvaro heran.
"Tidak ada apa-apa."Ucap Amoora dengan cepat.
Amoora lalu berbalik dan melihat beberapa bagunan yang ada dibawah hotel itu.
"Aneh, siapa yang sedang mengawasiku?"
Walaupun Amoora belum sampai satu tahun menjadi ketua mafia, tapi dia sangat sensitiv terhadap hal-hal yang mengincar dirinya.
Sementara di tempat lain, Lexi melihat Amoora dan Alvaro bersama. Ada sedikit senyum dia sunggingkan dibibirnya.
__ADS_1
Lexi tentu berharap dua orang itu bisa saling terbuka satu sama lain dan bisa bersama nantinya.