
Amoora saat ini sedang melatih anak buahnya menembak dengan sniper, selain itu dia juga mengajari anak buahnya yang perempuan menggunakan panah.
Ketika dia sedang mengajari mereka, tiba-tiba pintu ruang latihan terbuka dengan sangat keras. Semua orang melihat kearah pintu.
Amoora dan anak buahnya melihat Lexi masuk kedalam tempat latihan dengan langkah cepatnya.
Tubuh Amoora tertarik dan jatuh kedalam pelukan Lexi.
"Dasar bodoh!"Ucap Lexi.
"Ka... Kakak, kau kenapa?"
"Kenapa kau tidak bilang pada kakak kalau kemarin ada orang yang mengganggu mu?"
Amoora diam sejenak dan teringat kejadian ketika dia dan Anggie dihadang oleh beberapa preman suruhan wanita yang mengaku calon istri kakaknya itu.
"Harusnya kau bertanya pada wanita yang mengaku sebagai calon istrimu, kenapa meminta para preman untuk menyakitiku dan kak Anggie."
Lexi menatap Amoora "Apa kau terluka?"
Amoora menggelang "Aku tidak apa-apa."
"Syukurlah."
"Apa Alvaro yang memberitahu mu tentang ini?"
"Bukan, Anggie menelfon ku, karena itu aku segera pulang."
"Harusnya kau tidak perlu pulang, kau sangat sibuk disana. Lagipula aku bisa menghadapi mereka semua."
'Tak'
"Aw, kenapa kau memukulku kak?"
"Apa kau pikir karena kau kuat, kau jadi merasa bisa menghadapi semuanya, hmm?"
"Sshhhh bukan begitu, tapi aku sudah tahu kemampuanku. Kalau aku tidak bisa, aku pasti menghubungi Carlos atau Albert untuk membantuku."
Lexi menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Iya, iya maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Hmm, aku tahu kau sangat kuat dan pintar. Tapi bukan berarti kau harus menghadapi semuanya sendiri Amoora."
"Iya aku tahu kak."
Lexi mengusap kening Amoora ynag dia jitak tadi. Dalam hidup Lexi, dia sudah bersumpah pada dirinya sendiri jika dia akan melindungi kedua adiknya, Alicia dan Amoora. Jadi dia tidak akan memaafkan siapa pun yang melukai mereka berdua.
"Aku akan membuat perhitungan pada wanita itu."
Amoora meraih tangan Lexi "Tunggu, beritahu aku siapa wanita itu dulu."
"Ayo ke mansion, kakak akan memberitahu mu."
Amoora mengangguk.
"Kalian latihan apa yang aku ajarkan tadi."Ucap Amoora pada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik bos."Ucap anak buah Amoora serentak.
Amoora dan Lexi keluar dari tempat latihan dan berjalan menuju mansion.
"Duduklah."
Amoora menuruti Lexi, dia duduk disofa yang ada di ruang keluarga.
"Jadi, siapa wanita itu?"
"Dia adalah wanita yang sudah lama menyukai kakak. Dulu kami teman satu sekolah, karena sejak dulu kakak tidak pernah menyukainya dia jadi seperti itu."
"Tapi kenapa dia berkata kalau dia calon istri kakak?"
"Kakak juga tidak tahu, seingat kakak setiap kakak dekat dengan teman perempuan, dia selalu membuat teman-teman perempuan kakak ketakutan dan karena itu tidak ada yang berani dekat dengan kakak."
"Ck, ternyata masih ada wanita yang seperti itu."
"Tentu saja masih."
"Lalu bagaimana kakak akan membuat perhitungan pada dia?"
"Kakak akan bertemu dengan orang tuanya, kebetulan perusahaan mereka bekerja sama dengan perusahaan kakak. Jadi kakak bisa sedikit memberi peringatan padanya lewat perusahaan mereka."
"Hmm, kalau begitu kakak urus saja. Aku malas berurusan dengan mereka."
"Tentu saja, dia sudah mengganggu adik dan calon istri kakak. Dia pasti akan mendapat pelajarn langsung dari kakak."
"Nah bagus."
Lexi mengacak-ngacak rambut Amoora.
Amoora merapikan kembali rambutnya yang acak-acakan karena Lexi.
Lexi hanya tertawa melihat Amoora yang kesal karenanya.
"Sudahlah, kakak akan menemui keluarga wanita itu sekarang karena besok kakak harus mengurus anak perusahaan lagi."
"Iya kak."
Lexi berdiri dan berjalan keluar dari mansion Amoora.
Amoora sendiri masih tidak yakin dengan rencana Lexi pada keluarga wanita itu, dia sangat tahu seperti apa wanita sepertinya. Kemarin mungkin dia dan Anggie selamat karena dia bisa menghadapi para preman itu, tapi dia tidak bisa menjamin jika wanita itu akan diam saja walau Lexi sudah turun tangan.
"Aku harus membuat rencana untuk wanita itu."
Amoora mengesampingkan urusannya dengan wanita yang mengaku calon istri kakaknya, dia kembali ke tempat latihan untuk melihat bagaimana anak buahnya berlatih.
Hari itu Amoora seharian di mansion, karena Alvaro juga sedang berada diluar kota untuk bertemu dengan kliennya. Sementara Amoora tidak ke perusahaan karena tidak ada masalah yang sangat mendesak, jadi dia menyerahkan semua pada sekertaris kepercayaan Lexi.
Dua jam setelah melatih anak buahnya, Amoora duduk bersantai didepan kolam renang.
"Bos, bos!"Seru salah seorang anak buahnya.
"Ada apa?"
"Bos, coba anda lihat ini. Bukankah ini tuan muda Fernandez?"
__ADS_1
Amoora melihat sebuah berita pada layar ponsel anak buahnya.
Mata Amoora menatap dengan tajam judul berita yang dia lihat. Disana juga terdapat sebuah foto yang dapat dipastikan itu adalah foto Alvaro dan seorang wanita.
"Seorang CEO mana mungkin hanya mempunyai satu orang wanita."Ucap Amoora.
Amoora mengembalikan ponsel milik abak buahnya.
"Bo... Bos, anda tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja."
Anak buah Amoora terlihat ketakutan, dia tahu Amoora sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Amoora menyunggingkan senyuman yang sulit di mengerti lalu berdiri dari duduknya.
Anak buah Amoora melihat bosnya masuk kedalam tempat latihan menembak.
Ucapan baik-baik saja yang terlontar dari bosnya hanya sebuah ucapan saja. Anak buah Amoora langsung memberitahu Carlos agar segera menghubungi Lexi untuk menenangkan bosnya yang terlihat sedang marah.
20 menit kemudian Lexi datang dengan helikopternya, dia juga sudah melihat berita yang Amoora lihat dan dengan geram memarahi Alvaro lewat telfon, karena berita itu tidak akan tersebar jika Alvaro tidak mengijinkannya.
Dor, dor, dor, dor, dor, dor, dor, dor.
Suara tembakan beruntun terdengar sangat kencang dari dalam tempat latihan.
Lexi melihat beberapa papan target sudah berlubang, dan semua lubangnya mengenai titik vital manusia.
Dapat dipastikan Amoora sudah menembakkan lebih dari 50 peluru ke papan target.
"Amoora."
Amoora mendengar namanya dipanggil, tapi dia tidak menoleh dan meneruskan tembakannya pada papan target yang berjarak ±5 meter darinya.
"Amoora berhenti."
Sekarang Lexi berdiri disampingnya dan memegang senapan yang Amoora pakai.
"Hentikan, itu tidak akan membuat mu merasa lebih baik."
Lexi melihat air mata Amoora mengalir dari balik kaca mata pelindung.
Dengan perlahan Lexi mengambil senapan dari tangan Amoora lalu memeluk tubuh adiknya.
"Kakak sudah menghubungi Alvaro dan meminta dia untuk pulang secepatnya."
Amoora hanya diam, tubuhnya bergetar dalam pelukan Lexi. Bagaimana pun Alvaro adalah laki-laki pertama yang dia percayai selain Lexi setelah dia mendapatkan pengkhianatan dari keluarganya.
Lexi menepuk punggung Amoora pelan beberapa kali mencoba menenangkan adiknya.
"Percaya pada kakak, dia akan menjelaskan semuanya. Dia juga tidak tahu jika ada seseorang yang diam-diam memotretnya dan memberitakan hal yang tidak benar tentangnya dan kliennya."
Amoora mengangguk, dia memeluk Lexi erat.
Saat ini hanya Lexi yang menjadi tumpuan dirinya, hanya bahu Lexi yang dapat menopang tubuhnya yang tidak berdaya. Dan hanya Lexi orang yang sangat dia percayai.
Lexi membelai rambut Amoora yang masih enggan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Bagi Lexi kebahagiaan dua adiknya sangat berharga dan sangat diutamakan, jadi meski dia harus menghancurkan keluarga nomor satu di negara Z, dia pasti akan melakukannya.