The Queen Psycho

The Queen Psycho
53


__ADS_3

Saat ini sudah banyak yang mengetahui jika Alvaro sedang mendekati Amoora karena berita beberapa hari yang lalu.


Ya walaupun berita itu sudah Amoora blokir dari semua media, tapi mereka yang sudah mengetahuinya tidak akan mudah untuk melupakannya. Seperti kedua teman Alvaro yang bernma Sean dan Ken.


Kedua teman Alvaro itu sekarang tengah duduk sambil menatap Alvaro penuh tanya, sebab sudah banyak wanita yang mereka kenalkan pada Alvaro yang berakhir dengan rasa kecewa pada para wanita itu.


Wanita muda bernama Amoora, yang sudah membuat hati Alvaro tergerak. Mereka sangat penasaran padanya dan mencoba mendesak Alvaro untuk mempertemukan mereka dengannya.


"Sudah ku bilang tidak, kalian benar-benar keras kepala."Ucap Alvaro.


"Alvaro, lihat kami. Kami sudah datang dari jauh hanya ingin bertemu dengan wanita yang sudah membuat kepala gunung es kita ini meleleh."Ucap Sean.


"Siapa yang kau bilang kepala gunung es?"


"Sudahlah, kau hanya tinggal memperkenalkan dia dengan kami."Ken menengahi.


"Tidak, tidak. Aku masih mengejarnya, jika kalian bertemu dengannya bisa-bisa kalian akan tertarik."


"Tidak, aku pernah melihatnya di media sosial. Dia memang cantik, tapi tentu aku tidak akan mengambilnya darimu."


"Sudahlah kalian pulang saja, aku tidak akan pernah mempertemukan kalian dengannya sebelum aku benar-benar memilikinya."


"Ayolah Alvaro, kita tidak akan melakukan apapun."


"Kalian pergilah jika tidak ada urusan lain."


"Al..."


'tok tok tok'


Sekertaris Alvaro masuk kedalam ruangan setelah Alvaro mempersilahkannya masuk.


"Tuan, perwakilan dari perusahaan A.L Group ada disini untuk membicarakan kontrak kerja lanjutan."Ucap sekertarisnya.


"Persilahkan dia masuk."


"Baik tuan."


Sekertarisnya keluar lalu mempersilahkan seseorang untuk masuk kedalam ruang kerja Alvaro.


Langkah sepatu terdengar, Alvaro yang mengira jika yang datang adalah Lexi merasa aneh karena suara sepatu yang dia dengar berbeda.


Alvaro menoleh kearah pintu dan matanya membulat melihat siapa yang baru saja masuk kedalam ruang kerjanya.


Seorang wanita mengenakan baju berwarna cream berjalan masuk dengan anggun sambil membawa tas ditangannya.



...Amoora Yang datang ke perusahaan Alvaro menggantikan Lexi....


Bolpoin yang Alvaro pakai terjatuh karena wanita yang sejak tadi menjadi perdebatan antara dirinya dan kedua temannya kini berada tepat didepannya.


"A.. Amoora."Ucap Alvaro yang masih terkejut.


"Selamat pagi tuan Alvaro Fernandez. Maaf, dikarenakan presdir utama A.L Group sedang melakukan perjalan bisnis keluar negeri, jadi saya mewakilinya untuk membicarakan kontrak kerja lanjutan yang sudah anda dan direktur utama bahas minggu lalu."Ucap Amoora dengan lancar dan tenang.

__ADS_1


Alvaro yang masih tidak percaya hanya diam mematung, dia seolah tersihir oleh Amoora. Bukan hanya cantik tapi Amoora juga terlihat sangat elegant.


Kedua teman Alvaro yang melihat reaksi Alvaro menjadi tahu seberapa besar pengaruh Amoora bagi temannya itu.


"Tuan Alvaro Fernandez?"


Amoora mencoba memanggil Alvaro tapi tidak ada respon.


"Ehem, Alvaro."Akhirnya Sean ikut memanggil temannya.


Alvaro tersadar mendengar suara Sean yang cukup kencang.


"Ehem, maaf. Silahkan ikut dengan saya keruang rapat."Ucap Alvaro.


Alvaro dengan cepat berdiri lalu berjalan terlebih dulu untuk membukakan pintu.


"Silahkan."Ucap Alvaro lagi.


Amoora hanya mengangguk lalu keluar dari ruang kerja Alvaro dan mengikutinya keruang rapat yang tidak jauh dari ruang kerja Alvaro.


"Siapkan file yang kemarin aku katakan, dan bawa keruang rapat."Ucap Alvaro pada sekertarisnya.


"Baik tuan."


Alvaro dan Amoora masuk kedalam ruang rapat.


Didalam Alvaro menatap Amoora tanpa berkedip. Amoora mengetahui itu, tapi dia bersikap professional dan tidak terpengaruh oleh tatapan Alvaro.


Mungkin jika orang lain akan merasa takut dengan tatapan Alvaro, tapi itu tidak berarti bagi Amoora.


"Saya sudah berkata jika direktur utama sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negri."


"Bukankah ada sekertarisnya?"


"Diperusahaan tidak ada direktur utama, tentu sekertaris bertugas menggantikan beliau sementara waktu agar tidak ada orang yang keluar masuk sembarangan kedalam ruang kerja direktur."


Saat Alvaro akan berkata lagi, suara ketukan berbunyi lalu sekertaris Alvaro masuk membawakan sebuah map yang berisi file yang mereka butuhkan.


"Aku masih ingin berbicara denganmu, jadi kita akan menandatangani ini setelah selesai berbicara."Ucap Alvaro.


"Tuan Alvaro Fernandez, saya mempunyai rapat dengan klien lainnya. Jadi saya mohon untuk bersikap profesional, jika ada yang ingin anda bicarakan mengenai hal diluar pekerjaan. Anda bisa menemui saya secara pribadi."


Alvaro mengerti jelas dengan apa yang Amoora katakan, dan tentu dia tidak bisa untuk tidak bersikap profesional seperti yang Amoora katakan saat ini.


"Baik."


Alvaro menghembuskan nafasnya lalu membuka map yang berisi file, dia kemudian mulai menjelaskan poin demi poin dari kerja sama lanjutan yang akan mereka sepakati.


Setelah 30 menit Amoora mengangguk mengerti dan dia pun menempelkan cap stempel milik Lexi dan stempel perusahaan diatas file untuk menggantikan tanda tangan Lexi.


"Baik, terima kasih atas kerjasamanya nona Amoora Alexander. Semoga kerja sama kita semakin baik dan berhasil."Ucap Alvaro sambil mengulurkan tangannya.


"Tentu tuan Alvaro Fernandez."Amoora menyambut uluran tangan Alvaro.


Cukup lama Alvaro menggenggam tangan Amoora yang seolah tidak ingin melepaskannya.

__ADS_1


"Ehem, tuan Alvaro Fernandez."


Alvaro tidak bergeming, dia justru menarik tangan Amoora dan memeluknya dengan erat.


"Aku sangat merindukan mu."Ucap Alvaro pelan.


Amoora diam, dia ingat apa yang kakaknya katakan untuk bisa menjaga emosinya apalagi terhadap Alvaro.


"Tuan Alvaro Fernandez."


"Sebentar lagi, aku ingin memelukmu sebentar lagi."


Amoora membiarkan Alvaro memeluknya untuk beberapa saat.


"Aku takut."Ucap Alvaro membuat Amoora bingung.


"Takut?"


Alvaro mengangguk "Aku sangat takut ketika kau datang kesini, melewati begitu banyak karyawanku."


"Apa yang anda takutkan?"


"Aku takut mereka akan menyukaimu dan kau... juga akan menyukai salah satu dari mereka."


Amoora tercengang, entah apa yang ada didalam pikiran Alvaro saat ini. Tapi bagi Amoora semua itu sangat aneh.


"Berhenti berpikir yang...."


"Berjanjilah, berjanji padaku kalau kau tidak akan menyukai orang lain."


"Anda bukan siapa-siapa saya tuan Alvaro Fernandez, dan saya kesini juga karena kita punya...."


'cup'


Satu kecupan mendarat di bibir Amoora yang tipis, mata Amoora membulat terkejut karena kelakuan Alvaro.


Amoora mendorong tubuh Alvaro tapi Alvaro tidak melepaskan pelukannya, bibirnya terus melesat menciumi dan ******* pelan bibir Amoora.


Tubuh Amoora terdorong kebelaknag hingga akhirnya dia terpojok pada dinding ruang rapat.


Alvaro membelai bibir Amoora dengan lembut, membawa Amoora kedalam suasana yang tenang dan nyaman hingga akhirnya Amoora membuka bibirnya dan mereka saling berpagutan.


Selang beberapa saat Alvaro melepaskan ciumannya dan menyatukan kening mereka.


"I love you, I love you Amoora."Ucap Alvaro pelan seperti sedang berbisik.


Amoora diam, dia masih setia memejamkan matanya setelah mereka berciuman.


Alvaro menjauhkan wajahnya dari wajah Amoora lalu mengangkat wajah yang menunduk itu, membelai pipi putih Amoora lalu mengecup keningnya beberapa saat.


"Aku tidak akan pernah menyakiti dan meninggalkanmu. Aku bersumpah, aku sangat mencintaimu."


Amoora mengangguk pelan dan perlahan membuka matanya, menatap kedua mata Alvaro yang menatapnya penuh cinta.


Alvaro memeluk tubuh Amoora erat, dan kali ini Amoora membalas pelukan Alvaro. Dia akhirnya mencoba percaya dan membuka hatinya pada Alvaro.

__ADS_1


__ADS_2