The Queen Psycho

The Queen Psycho
23


__ADS_3

Rencana Amoora yang bekerja sama dengan George sudah terdengar oleh Alvaro, begitu juga dengan semua apa yang Amoora dan George lakukan pada Bella.


"Kamu sangat sulit di mengerti. Orang-orang tidak akan menyangka jika wanita yang terlihat lemah melakukan hal yang begitu besar dan bahkan mungkin bisa dikatakan kejam."Gumam Alvaro.


Asisten pribadi Alvaro memberitahu jika semua pertemuan sudah dilakukan, dan nanti malam Alvaro harus menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu pemimpin perusahaan yang bekerja sama dengannya.


Kemarin-kemarin Alvaro mungkin bisa menghindari para orang itu yang ingin mendekatkan putri mereka padanya dengan alasan bisnis, tapi kali ini dia tidak tahu dengan alasan apa agar menghindari mereka.


"Benar-benar tidak ada lelahnya."


Siang ini Alvaro memeriksa semua berkas dan juga pekerjaan karyawannya yang ada di perusahaan.


'tok tok tok'


Asisten Alvaro masuk dengan membawa satu set tuxedo untuk dia kenakan nanti malam.


"Apa aku tidak bisa jika tidak datang?"Tanya Alvaro.


"Tuan muda, mereka pasti akan menilai tuan muda tidak menghargai mereka jika anda tidak datang."


"Hah, mereka ini kapan akan berhenti."


"Ini semua kan juga karena anda tuan muda yang tampan,kaya dan membuat para wanita itu terpesona."


Selama ini tidak ada wanita yang mampu menggerakan hati Alvaro, jangankan menggerakkan hatinya. Alvaro bahkan tidak pernah peduli dengan wanita-wanita yang dia temui.


Tapi setelah dia bertemu dengan Amoora, perempuan yang begitu anggun namun seperti landak yang tidak ingin disentuh oleh orang lain. Alvaro menjadi tidak seperti biasanya yang tidak peduli dan bersikap dingin.


Asisten dan sekertarisnya saja merasa bingung namun bersyukur karena akhirnya tuan muda mereka mendapatkan pencerahan dan mencairkan bongkahan es didalam hatinya, sehingga semua yang ingin Alvaro ketahui tentang Amoora, selalu menjadi hal utama bagi kedua orang kepercayaan Alvaro itu.


"Tuan muda, saya mendengar jika nona Alexander akan mengantar adiknya kembali ke asrama besok lusa."Ucap Daniel.


"Sungguh?"


"Iya tuan muda."

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus kembali sore ini."


"Tidak bisa tuan muda, anda harus menghadiri pesta nanti malam."


"Jika tidak bisa pulang sore ini, untuk apa kau memberitahu ku hal ini?"


"Maaf tuan muda."


Alvaro kadang kesal dengan asisten dan sekertarisnya yang sering membuatnya tidak mempunyai pilihan.


Dengan kesal Alvaro keluar dari kamarnya, membiarkan tuxedo itu tergeletak diatas ranjang tanpa dia sentuh sama sekali.


Daniel sendiri benar-benar tidak tahu, bagaimana bisa tuannya yang sejak dulu tidak ingin dekat dengan wanita justru selalu ingin tahu dan ingin dekat dengan perempuan yang ditinggalkan oleh keluarga Steve itu (Amoora).


"Cinta memang aneh."


Malam harinya Alvaro akhirnya datang dengan terpaksa ke pesta itu didampingi oleh Daniel.


Dia tidak mau orang lain yang mendampinginya, terlebih jika orang itu adalah seorang wanita.


Didalam pesta tidak sedikit orang yang ingin mencari perhatian Alvaro, begitu jiga dengan beberapa pemimpin perusahaan yang bekerja sama dengannya.


"Selamat malam, bagaimana pun saya harus memenuhi undangan yang sudah saya terima."


"Ya anda benar. Oh iya, perkenalkan ini adalah putri pertama saya. Namanya Andine."


"Selamat malam tuan muda Fernandez, senang bertemu dengan anda."Wanita bernama Andine itu mengulurkan tangannya.


"Iya senang berjumpa dengan anda juga nona Andine."


Alvaro sama sekali tidak menyambut tangan wanita itu, dia tidak menyukai hal-hal seperti ini. Terlebih dengan anak-anak mereka yang sangat rela dijadikan pion bagi orang tua mereka.


Karena tidak mendapat sambutan, Andine menarik tangannya dan tersenyum dengan canggung. Sementara Alvaro bersikap biasa saja.


Daniel membisikan sesuatu pada Alvaro yang ditanggapi dengan anggukan.

__ADS_1


"Maaf tuan dan nona, saya harus menemui seseorang."


"Ah iya silahkan tuan."


"Tuan muda Fernandez, maaf apa saya boleh meminta nomor telfon anda?" Tanya Andine dengan berani.


Alvaro mengerutkan dahinya menatap Andine lalu beralih menatap ayahnya.


"Ma...Maaf tuan muda Fernandez, putri saya sangat tidak sopan dengan anda."


Alvaro tidak menanggapi, dia memilih untuk pergi dari sana.


Daniel dan Alvaro berjalan kearah tuan rumah yang mengadakan pesta.


"Selamat malam tuan muda Fernandez. Terima kasih karena sudah menyematkan waktu anda, saya tidak menyangka anda akan datang."Ucap seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah tuan rumah.


"Tentu saya harus datang tuan."


"Anda sudah banyak membantu perusahaan saya, saya benar-benar sangat berterima kasih pada anda."


"Tidak perlu sungkan tuan, tapi saya minta maaf karena tidak bisa berlama-lama."


"Apa anda memiliki masalah tuan muda Fernandez?"


"Tidak, saya hanya merindukan wanita saya saja."


"Wah tidak menyangka, anda seorang pebisnis hebat ternyata orang yang romantis terhadap pasangan anda."


Beberapa orang yang mendengar berbisik, mereka yang tidak pernah tahu jika Alvaro mempunyai pasangan tidak menyangka akan mendengar hal itu.


Alvaro hanya bisa tersenyum, dia tidak ingin menampik ucapan laki-laki itu. Karena dengan begini orang-orang akan tahu jika dia sudah mempunyai pasangan, dan berharap mereka tidak lagi melemparkan putri-putri mereka padanya.


"Baiklah kalau begitu tuan, saya masih harus bersiap-siap untuk pulang besok."


"Tentu tuan muda Fernandez, selamat jalan dan semoga perjalanan anda lancar."

__ADS_1


"Terima kasih tuan."


Alvato dan Daniel berjalan pergi meninggalkan pesta itu, dia benar-benar sudah tidak tahan dengan putri-putri para pemimpin perusahaan disana yang menatapnya dengan tatapan lapar.


__ADS_2