
Amoora yang sedang tidak ingin melakukan apapun hanya berdiam didalam kamar dan menguncinya.
Meski Lexi dan Anggie terus mengetuk dan memanggilnya, Amoora tidak peduli.
Setelah dia membaca berita tentang Alvaro kemarin, dia diam dikamarnya dan sama sekali tidak mau keluar. Entah itu hanya sekedar untuk minum.
Lexi yang tidak pernah melihat Amoora seperti ini langsung menghubungi Alvaro agar dia datang ke mansion Amoora secepatnya.
Lexi dan Anggie tidak tahu dengan jalan pikiran Alvaro saat ini, dimedia beredar fotonya dengan wanita lain tapi dia membiarkan begitu saja sampai hari ini. Sementara Amoora melarang Lexi untuk menghilangkan berita itu, dia ingin Alvaro sendiri yang melakukannya.
Sudah lebih dari dua jam Lexi dan Anggie menunggu Alvaro yang belum datang juga.
Akhirnya Lexi pergi bersama dengan Albert untuk menemui Alvaro secara langsung.
Dengan cepat Albert melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Fernandez.
Belum sampai dirumah Alvaro, tiba-tiba Albert menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa Albert?"Tanya Lexi.
"Bos, itu bukannya tuan muda Fernandez?"
Albert menunjuk sebuah kafe yang berjarak tidak jauh dari mobil mereka.
Tangan Lexi mengepal kuat saat melihat Alvaro sedang duduk bersama dengan wanita yang ada didalam berita kemarin.
Lexi keluar dari mobil dan berjalan menuju kafe itu dengan aura membunuhnya.
"Alvaro Fernandez!"
Suara yang begitu menggema berhasil membuat semua pengunjung kafe melihat kearah Lexi sesaat setelah Lexi masuk kedalam kafe itu.
Alvaro berdiri dan menatap Lexi yang menatapnya dengan tajam.
Dengan langkah lebar Lexi mendekati Alvaro.
"Jadi, kau sedang sibuk melayani wanita lain disini."
Wanita yang dimaksud Lexi berdiri dan menatap Lexi.
"Maaf tuan, apa ada kesalahan pahaman disini?"Tanya wanita itu.
Lexi menatap wanita itu "Tidak ada nona, aku hanya ingin mwmberitahu pada tuan muda Fernandez jika dia sudah berhasil membuat adikku mengurung dirinya didalam kamar sejak kemarin."
"Maksud anda?"
__ADS_1
Lexi kembali menatap Alvaro "Aku harap kau bisa memberikan penjelasan yang bagus padaku dan Amoora. Dan jika terjadi sesuatu padanya, menyingkirkan perusahaan dan keluargamu dari negara Z bukanlah masalah besar untuk ku. Ingat itu tuan muda Fernandez."
Setelah mengatakan itu Lexi berjalan keluar dari kafe.
Alvaro hanya diam mendengar semua perkataan Lexi, dalam hati dia sangat membenci dirinya saat ini karena tidak bisa mengatakan apapun untuk menjelaskan semuanya didepan wanita yang bersamanya saat ini.
"Tuan muda, siapa laki-laki itu? Dan apa maksud perkataannya tadi?"
"Dia temanku, dan tidak ada maksud apa-apa dari perkataannya. Ayo kita lanjutkan saja."
Alvaro duduk dikursinya, dia meminum kopi miliknya dengan tenang seolah tidak terjadi apapun.
Meski dia bersikap tenang, tapi pikiran Alvaro fokus pada keadaan Amoora, karena Lexi berkata jika Amoora mengurung dirinya sejak kemarin. Yang artinya dia sudah tahu berita yang sengaja dia buat di media.
Lexi dan Albert kembali ke mansion Amoora, disepanjang jalan dia memikirkan sikap Alvaro yang seperti itu.
"Bos, apa yang harus kita lakukan?"
"Tunggu dua hari lagi, jika sampai besok lusa dia tidak memberikan penjelasan apapun padaku. Aku tidak akan segan untuk bertindak padanya."
"Aku mengerti bos."
"Untuk sekarang, kau awasi Alvaro. Aku ingin lihat ada hubungan apa dia dengan wanita itu sampai berani menyakiti adikku."
Sampai di mansion, Anggie yang masih berada disana segera mendekati Lexi.
"Bagaimana?"
"Laki-laki s*alan itu sedang bersama dengan wanita yang ada didalam berita di kafe."
"Apa, bagaimana mungkin? Mereka berdua..."
"Aku juga tidak menyangka dia akan melakukan itu."
"Mungkin dia terpaksa melakukannya untuk tujuan lain. Kau juga pernah melakukannya."
"Tapi setidaknya dia berbicara dengan Amoora dan aku terlebih dulu. Kau lihat sekarang bagaimana dengan Amoora."
Anggie mengusap lengan Lexi, mencoba menenangkan calon suaminya itu.
Anggie sangat paham dengan perasaan Lexi saat ini, karena bagi Lexi kedua adiknya sangat berharga.
"Duduk dan tenangkan dirimu dulu."Ucap Anggie.
Lexi menuruti Anggie, dia duduk dan mengatur nafasnya agar lebih baik setelah terbawa emosi tadi.
__ADS_1
Didalam kamar, Amoora yang sejak kemarin mengurung diri hanya tiduran diatas ranjang tanpa berbuat apa-apa.
Dia ingat orang-orang yang sudah memghianati dan menyakitinya dulu, sampai akhirnya Alvaro mendekati dirinya dan berhasil membuatnya nyaman.
Tangan Amoora mengepal, air matanya tidak lagi jatuh.
Saat ini yang dia butuhkan hanya penjelasan dari Alvaro, dia ingin tahu alasan apa yang akan Alvaro berikan padanya mengenai hubungan dia dengan wanita itu.
Jika memang wanita itu adalah kekasih barunya, maka dia akan pergi meninggalkannya. Karena Amoora tidak ingin terus disakiti.
Merasa terus tiduran diranjang membuat tubuhnya kaku, Amoora turun dari ranjang dan merenggangkan tubuhnya.
Didalam kamar Amoora membuat satu ruang pribadi, didalamnya ada beberapa panah, barbel dan alat olahraga kecil lainnya.
Amoora menghabiskan waktu didalam ruangan itu.
Keringat membasahi tubuh Amoora setelah melakukan olahraga didalam ruangan itu.
Walaupun tidak ada makanan yang masuk kedalam tubuhnya sejak kemarin, tapi Amoora masih bisa berjalan dengan baik setelah berolahraga.
Amoora masuk kedalam kamar mandi, dia ingin berendam untuk menghilangkan suasana hatinya yang tidak baik.
1 jam kemudian dia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju close in closet.
Setelah berganti pakaian Amoora kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Dia tidak berniat untuk keluar dari kamarnya.
Tubuhnya sudah terbiasa menahan lapar saat di keluarga Steve. Jadi dia tidak merasa lapar sedikitpun setelah melakukan berbagai olahraga tadi.
Amoora yang merasa mengantuk mulai memejamkan matanya.
'ddrrrrrrrrtt ddrrrrrrrrrtt'
Ponsel Amoora bergetar, tapi dia tidak bergerak sedikitpun untuk mengangkat ponselnya.
Sudah berkali-kali ponsel Amoora bergetar tapi tidak diangkatnya.
Disisi lain orang yang menghubungi Amoora merasa khawatir, meski Amoora marah tapi dia selalu mau mengangkat telfonnya.
"Apa yang sudah terjadi padanya, kenapa dia tidak mengangkat ponselnya?"
Orang yang menghubungi Amoora membuang ponselnya keatas ranjang karena kesal. Dia duduk disisi ranjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"**"*, harusnya aku tidak bertindak sejauh ini. Tapi jika tidak seperti ini, aku tidak akan bisa mendapatkan informasi dari wanita itu."
Alvaro, laki-laki yang menghubungi Amoora hanya bisa menahan semua perasaannya saat ini.
__ADS_1