
Siang itu Amoora yang sedang dalam fase malas berbaring didalam kamarnya di mansion.
Setelah memberi tugas pada Lucas dan Albert untuk mengedarkan foto-foto dan video vulgar Bella, dia hanya tinggal menunggu keluarga Steve hancur secara perlahan.
Amoora juga mendapat kabar jika sekarang Bella sudah menjadi wanita simpanan George dan teman-teman George diluar negri.
Ya itu lebih baik dari pada harus ikut menderita bersama kedua orang tuanya di negara Z itu.
Selama Bella tidak melakukan hal yang tidak diinginkan Amoora, Amoora tidak akan melakukan tindakan padanya. George tahu itu dan akan membuat Bella tetap berada dibawah kendalinya.
Amoora sudah bolak balik membaca buku dan memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosan yang dia rasakan, tapi semua tidak berguna.
'tok tok tok'
Amoora mendengar suara ketukan pintu.
Dengan malas Amoora berjalan kearah pintu dan membuka pintu kamarnya.
"Lucas, ada apa?"
"Bos, bos Lexi datang."
"Aku mengerti."
Lucas lalu pergi meninggalkan Amoora.
Amoora berjalan menuruni tangga, dia mendengar beberapa orang sedang berbicara dibawah.
"Tumben sekali, dengan siapa kakak berbicara?"Gumam Amoora.
Setelah sampai diruang tamu, kedua mata Amoora membulat melihat siapa yang tengah berbicara dengan Lexi.
"Kakak."
Lexi menoleh begitu juga dengan orang yang bersama dengan Lexi.
"Amoora, apa kau sedang tidur siang tadi?"
Amoora berjalan mendekati Lexi, dia menatap kakaknya dan orang yang ada disamping kakaknya bergantian.
"Kenapa kakak membawanya kesini?"
Lexi tersenyum "Duduklah dulu, akan kakak jelaskan."
"Kak, apa kakak tahu apa yang sudah kakak lakukan? Dan bukankah kakak tahu tempat apa ini?"
Amoora yang merasa kesal karena Lexi melakukan hal tanpa sepengatahuannya menjadi sedikit emosi.
"Nona Amoora tolong jangan emosi dulu,saya..."
"Tuan Alvaro Fernandez yang terhormat. Bukankah saya sudah mengatakan kepada anda, jika saya tidak bisa menjalin hubungan dengan anda. Apakah anda tidak mengerti apa yang saya katakan?"
Ya, orang yang bersama dengan Lexi adalah Alvaro. Dia sengaja membawa Alvaro ke mansion milik Amoora agar Alvaro tahu kehidupan Amoora yang lain.
Tapi tindakannya membuat Amoora marah dan tidak mau mendengarkan penjelasan darinya.
__ADS_1
"Amoow, tolong tenang. Kakak akan menjelaskannya."
"Lebih baik kakak bawa tuan muda Fernandez ini pulang."
"Amoora."
Amoora menatap Lexi dengan tajam, baru kali ini Lexi mendapat tatapan itu dari Amoora.
Tanpa mau mendengar perkataan lain dari Lexi, Amoora berjalan dengan cepat kembali ke kamarnya.
"Alvaro, kau sudah melihatnya sendiri."
"Iya, tapi aku tetap ingin memilikinya."
"Kau sama keras kepalanya dengan dia."
"Tidak apa-apa, hari ini dia tidak menerimaku. Tapi tidak lama lagi dia akan menerimanya."
"Sudahlah, ayo aku antar kamu pulang."
"Iya. Ah Lexi, besok lusa ada acara penyambutan cucu dari pemilik perusahan XX. Kau akan datang?"
"Iya, dia sudah mengundangku tentu aku akan datang."
"Itu bagus."
Lexi dan Alvaro masuk kedalam mobil dan tak lama mobil melaju keluar dari halaman mansion.
Didalam kamar Amoora merasa sangat kesal pada Lexi yang membawa Alvaro ke mansionnya.
Amoora menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, nafasnya memburu karena emosi.
'Ting'
Suara notifikasi pada ponsel nya berbunyi.
Kak Lexi : "Amoora, besok lusa kita mendapatkan undangan acara penyambutan cucu dari rekan kerja kakak. Kakak mau kmu ikut dengan kakak untuk menggantikan Alice."
"Aaaaaagh kakak, kau menyebalkan sekali!"
Amoora membuang ponselnga keatas ranjang. Disaat emosinya masih ada, Lexi malah memintanya ikut ke sebuah acara.
Walaupun Amoora kesal dengan Lexi, tapi dia tidak bisa menolak untuk mendampingi kakaknya. Karena undangan itu ditujukan pada keluarga Alexander, dan dia adalah salah satu anggota keluarga Alexander sekarang.
Amoora bangkit dan berjalan keruang pakaian, dia melihat beberapa dress didalam lemari yang cukup besar.
"Baiklah, aku akan memakai yang ini saja."Ucap Amoora sambil mengambil salah dress dari dalam lemari.
Amoora memisahkan dress itu dari dress dan gaun yang lainnya.
Keluar dari ruang ganti, Amoora menerima sebuah panggilan telefon.
'Nomor tak dikenal'
Itu yang tertulis diatas layar ponsel Amoora.
__ADS_1
Amoora menerima panggilan itu dengan tenang.
"Halo, siapa ini?"
"Halo, Amoora. Ini... ini Papa."Ucap Imanuel diseberang telefon.
"Oh ternyata tuan Imanuel Steve."
"Kenapa kau memanggil Papa seperti itu? Kita adalah keluarga."
"Maaf tuan Steve, apkah tuan melupakan sesuatu, atau tuan Steve sedang bercanda dengan ku?"
"Amoora, jangan berkata...seperti itu. Papa... papa tahu papa salah. Tapi...."
"Selama lebih dari 10 tahun anda tidak pernah menganggap ku sebagai anggota keluarga anda. Ketika istri dan putri tersayang anda menjebak dan menykiti ku, anda seolah tidak tahu apapun. Dan sekarang anda berkata jika kita adalah keluarga setelah anda tahu aku sudah menjadi anggota keluarga Alexander."
"Amoora, itu... itu memang salah Papa dan bukankah itu sudah berlalu. Bertahun-tahun Papa juga menghidupi kamu."
"Heh, menghidupi ku? Perusahaan yang saat ini anda pijak saja itu milik ibuku dan setelah ibuku meninggal, aku berusaha sendiri untuk hidup, bekerja setelah pulang sekolah. Bahkan aku mengandalkan diriku sendiri ketika kuliah dan mencari pekerjaan!"
"Amoora, jangan tidak tahu berterima kasih kamu! Jika kamu tidak tinggal di keluarga Steve, mungkin sudah sejak dulu kamu hidup di jalanan."
"Hahaha, tuan Steve. Apa anda lupa rumah siapa yang sekarang anda tinggali? Itu adalah rumahku yang ibuku berikan padaku sebelum ibuku meninggal, apa anda kira aku tidak tahu?"
Imanuel Steve terkejut mendengar Amoora berkata seperti itu, dia tidak menyadari jika selama ini Amoora sudah tahu tentang rumah itu. Imanuel jadi merasa takut, jika Amoora juga mengetahui bagaimana ibunya meninggal.
"Kenapa tuan Steve, apa anda terkejut? Anda menghubungi ku, apa anda berpikir dengan mengatakan semuanya lalu aku akan merasa tertekan dan menolongmu?"
"Apa maksudmu?"
"Perusahaan sedang berada dalam puncak kehancuran saat ini, dan saya rasa tidak akan sampai akhir bulan perusahaan itu akan benar-benar hancur."
"Amoora, omong kosong apa yang sedang kau katakan! Perusahaan ku tidak akan hancur."
"Oh, jadi untuk apa tuan Steve menghubungi ku, tidak mungkin hanya ingin membicarakan hal yang tidak penting bukan?"
"Benar, aku menghubungimu karena aku mau kau bicara dengan tuan Alexander agar membantu perusahaan ku."
"Hahaha atas dasar apa aku harus melakukan apa yang kau inginkan tuan Steve?"
"Kau adalah anakku! Jadi kau mempunyai kewajiban untuk membantuku!"
"Walaupun kau berlutut didepan makam kakek dan ibuku, aku tidak akan pernah menolong mu. Jika kau tidak ingin aku membongkar bagaimana kau dan istrimu memisahkan aku dan ibuku, maka jangan pernah lagi menggangguku."
Amoora memutuskan sambungan telefonnya. Hatinya bergemuruh, matanya merah mengingat semua perkataan yang Imanuel katakan tadi.
"Hah, keluarga. Bahkan jika aku mati oleh istri dan anakmu. Kau juga tidak akan peduli Imanuel Steve."
Tangan Amoora mengepal kuat, dadanya terasa sesak.
"Aku tidak akan memaafkan kalian, sampai kapanpun!"
Amoora sudah tidak lagi peduli pada keluarga itu sejak ibunya meninggal, hanya karena rumah dan perusahaan itu milik ibunya yang diberikan oleh kekaknya, dia bertahan.
Tapi setelah mendapatkan penghinaan dan menghadapi berbagai jebakan dari istri dan anak simpanan itu, akhirnya Amoora meninggalkan rumah dan keluar dari keluarga Steve.
__ADS_1