
Setelah tau bahwa orang tuanya sering datang ke perusahaan untuk membawa Amoora makan, Alvaro juga melakukan hal itu.
Satu keluarga itu seperti tidak mau mengalah satu sama lain, dan saat ini Amoora seperti sebuah piala yang tengah diperebutkan oleh mereka bertiga.
"Papa, Mama. Untuk apa kalian setiap hari datang ke perusahaan Amoora?" Tanya Alvaro yang sudah tidak tahan dengan kedua orang tuanya.
"Kau sendiri kenapa setiap hari datang kesini? Perusahaan bukan tempat untuk bermain-main Alvaro." Ucap tuan Fernandez tidak mau mengalah.
Melihat dua laki-laki yang tidak mau mengalah membuat Amoora menjadi pusing. Keduanya sungguh seperti anak kecil.
"Aku adalah kekasih Amoora, tentu saja aku berhak datang kesini. Kami juga mempunyai kerja sama."
"Oh benarkah? Kalau begitu Papa juga datang untuk menemui calon menantu Papa. Tidak salah bukan?"
Perdebatan yang tidak akan ada ujungnya, sekarang bahkan untuk mengangkat bolpoin pun Amoora seperti tidak bisa.
Ceklek
Lexi masuk kedalam ruang kerja Amoora. Dia melihat satu keluarga Fernandez tengah berdiri didalam ruangan itu, sementar sang pemilik ruangan duduk di kusri kerjanya.
"Ada apa ini?" Tanya Lexi.
Tuan Fernandez dan Alvaro berhenti berdebat. Tuan Fernandez terlihat tengah merapikan jasnya dan Alvaro menatap Lexi yang masih menunggu jawaban salah satu dari mereka.
"Tuan dan nyonya Fernandez. Apa yang sedang kalian lakukan di perusahaan ini?"
"Ehem, maaf karena sudah mengganggu pekerjaan anda tuan Alexander. Kami datang kesini sebenarnya untuk meminta pendapat Amoora tentang pernikahan mereka berdua nanti." Ucap tuan Fernandez.
Amoora yang mendengar itu sangat terkejut, dia sontak berdiri dan mengerutkan keningnya.
Lexi menatap Amoora yang sangat terkejut itu dan tahu jika bukan hal itu yang sedang mereka bicarakan.
"Oh benarkah? Tapi bukankah lebih baik membicarakan hal seperti itu di rumah, bukan di perusahaan seperti ini. Dan lagi pula Amoora adalah tanggung jawab saya, benarkan tuan Fernandez?"
Apa yang Lexi katakan benar, dan sebenarnya itu adalah alasan yang tuan Fernandez buat agar dia tidak malu, dan juga dia ingin menguji reaksi Amoora.
"Ya anda benar, hanya saja Alvaro sulit diajak untuk menemui anda."
Lexi menatap Alvaro "Sungguh? Apa itu artinya dia tidak siap untuk bersama dengan adik saya, tuan Fernandez?"
Lagi Lexi berhasil membuat tuan Fernandez diam, lidah Lexi memang sangat tajam. Dan dia juga mempunyai kepintaran dalam berdebat dengan orang lain.
"Cukup Pa, kau tidak perlu menutupi rasa canggung Papa dan Mama disini."
Alvaro berjalan kearah Lexi.
"Kami kesini ingin mengajak Amoora makan siang, dan kami tidak sedang membahas apapun. Karena seperti yang kau katakan, hal seperti itu harusnya dibicarakan di rumah."
"Apa hanya itu?"
Alvaro mengangguk "Iya, dan karena kau sudah pulang. Bagaimana jika kau juga ikut bersama dengan kami?"
__ADS_1
Lexi melihat kearah Amoora.
"Baiklah aku akan ikut."
Alvaro mengangguk.
Tuan dan nyonya Fernandez hanya bisa mengikuti apa yang sudah menjadi keputusan itu, bagaimana pun mereka juga merasa bersalah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Walau keluarga Alexander adalah orang terkaya kedua, namun tuan Fernandez tidak ingin menyinggungnya.
Sudah banyak orang yang tahu bagaimana Lexi dalam bertindak, kekuatan yang ada didalam perusahaan dan ditambah dia adalah seorang bos mafia membuat banyak pengusaha tidak ingin berurusan dengannya.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi sekarang." Ucap Alvaro.
Mereka pun keluar dari perusahaan A.L Group.
Lexi, seperti biasa akan berjalan disamping Amoora. Sebagai seorang kakak, dia tentu ingin selalu melindungi adiknya.
Mereka berlima makan siang di restoran keluarga. Kedua orang tua Alvaro yang biasanya akan memberikan Amoora makanan, sekarang hanya bisa menikmati makanan mereka sendiri.
Aura Lexi bisa dibilang sangat mendominasi didalam ruangan itu. Dan itu tentu saja membuat Alvaro senang, karena hanya dia yang bisa memberikan makanan untuk Amoora didepan Lexi.
Sejak dulu keluarga Alexander memang memiliki aura yang sangat mendominasi dan sangat kuat, sehingga siapapun seolah tidak berani melakukan hal yang bisa membuatnya tersinggung.
Tuan Fernandez adalah salah satu orang yang bisa dikatakan tidak ingin menyinggung keluarga Alexander. Meski dia tahu jika Alvaro berteman dengan Lexi.
"Tidak perlu tegang seperti itu tuan Fernandez. Saya tidak seperti ayah saya yang menyeramkan itu." Ucap Lexi setelah mereka selesai makan.
"Iya, tentu saja."
Tuan Fernandez mengangguk "Saya bisa mengerti itu."
"Jadi, apa rencana kalian?" Tanya Lexi pada Alvaro dan kedua orang tuanya.
"Saya ingin mereka menikah ditahun ini."Ucap nyonya Fernandez yang sejak tadi diam.
"Tahun ini?"
"Benar, mereka sudah menjalin hubungan selama 7 bulan. Itu sudah cukup lama."
"Lalu, bagaimana dengan kalian berdua? Apa kalian sudah saling mengerti satu sama lain?" Saat ini Lexi menatap Amoora dan Alvaro.
Amoora dan Alvaro diam.
"Apa kau sudah percaya dan yakin pada Alvaro, Amoora?"
Amoora menatap Alvaro, didalam hatinya ada sedikit keraguan setelah Alvaro membuatnya salah paham tentang hubungannya dengan seorang wanita terakhir kali.
"Amoora." Alvaro menggenggam tangan Alvaro.
"Maaf, beri aku sedikit waktu." Ucap Amoora.
__ADS_1
Lexi dan Alvaro bisa mengerti itu, tapi kedua orang tua Alvaro yang tidak tahu tentang kesalah pahaman yang pernah Amoora dan Alvaro alami menjadi bertanya-tanya dalam hati.
"Baiklah, saya sangat senang karena bisa makan bersama dengan keluarga Fernandez." Ucap Lexi.
"Itu tidak masalah tuan Alexander, kami juga sangat senang."
"Kalau begitu, kami rasa kami harus pamit sekarang. Karena kami harus menjemput adik kami yang akan pulang dari asramanya."
"Tentu saja tuan Alexander. Terima kasih untuk waktu anda."
Lexi dan tuan Fernandez berjabat tangan, kemudian dia dan Amoora keluar dari ruang VIP restoran keluarga itu.
Setelah Lexi dan Amoora keluar, kedua orang tua Alvaro menatap Alvaro penuh tanya.
"Apa yang terjadi, kenapa Amoora berkata dia membutuhkan waktu lagi?" Tanya tuan Fernandez pada Alvaro.
Alvaro diam, karena dia melakukan semuanya tanpa sepengatahuan ayah dan ibunya.
"Alvaro, katakan pada kami."Ucap nyonya Fernandez.
"Semua salah Alvaro. Aku.... Yang membuatnya ragu."
Nyonya Fernandez menyentuh bahu Alvaro.
"Ceritakan pada kami, kami tidak bisa membantu mu jika kami tidak tahu."
Alvaro menarik nafas panjang sebelum dia menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.
"Konyol! Kenapa kamu tidak mengatakan itu pada Papa? Papa bisa mendapatkan apa yang kamu cari Alvaro. Dan tentu tanpa membuat Amoora seperti itu."Seru tuan Fernandez.
"Itu tidak mungkin Pa, informasi yang Alvaro butuhkan memerlukan kesepuluh sidik jarinya dan juga kode rahasia itu dia simpan pada tubuhnya."
"Jadi maksud kamu, kalian sudah...."
Alvaro menggelengkan kepalanya.
"Tentu tidak Ma, meski dia sangat pintar dan licik, kami sama sekali tidak pernah melakukannya."
"Lalu bagaimana cara mu mendapatkan kode itu?"
"Alvaro membawanya ke hotel saat dia percaya jika aku menyukainya, dan saat didalam hotel aku membuatnya tidak sadar dan meminta Daniel untuk menyalin kode yang ada di tubuhnya itu."
"Jadi dia membuat tato kode itu ditubuhnya?"
Alvaro mengangguk "Itu ada di punggung bagian bawah. Dan diselangkangannya."
"Dia benar-benar tidak tahu malu, membuat tato sampai disana."
"Orang seperti itu akan melakukan banyak hal Ma."
"Lalu bagaimana Amoora?" Tanya tuan Fernandez.
__ADS_1
"Dia merasa dihianati dan tidak percaya pada Alvaro. Karena itu Alvaro sangat menyesal sudah membuatnya terluka."
Nyonya Fernandez memeluk Alvaro, bagaimana pun semua yang Alvaro lakukan demi keluarganya. Dan itu tidak mudah untuk di lakukan.