
Pagi ini perusahaan Imanuel gempar karena beredar foto-foto vulgar Bella yang tengah tidur dengan seorang laki-laki yang mengenakan topeng.
Bukan hanya di blog perusahaan, tapi wallpaper disetiap komputer yang ada di perusahaan itu adalah foto-foto vulgar Bella.
"Ya Tuhan, bukankah ini nona muda Steve? Ini, apa ini benar dia?"Ucap salah satu karyawan.
"Iya ini benar dia. Kenapa dia melakukan hal menjijikan itu?"Ucap yang lainnya.
"Lihatlah tulisan itu."
"Apa? Jadi direktur memberikan anaknya sendiri demi bisnis!"
"Ya Tuhan sangat kejam sekali."
Para karyawan sangat ribut setelah melihat foto-foto Bella dilayar komputer mereka.
Orang-orang penanggung jawab IT di perusahaan Imanuel tidak bisa melakukan apapun, karena semua sistem telah dirusak dan tidak bisa diperbaiki.
Sementara diruang rapat, Imanuel tengah menahan rasa marah dan malu didepan para pemegang saham dan investor.
Dilayar besar yang ada didepan Imanuel terpampang dengan sangat jelas foto-foto Bella yang sama seperti pada komputer para karyawannya.
Para pemegang saham dan investor saling berbisik dan tidak menyangka jika Imanuel akan bertindak begitu jauh dan kejam pada putrinya hanya demi perusahaan.
"Tuan Steve, apa penjelasan anda tentang foto-foto itu?"Ucap salah satu pemegang saham.
"Benar tuan Steve, saya yakin jika saat ini foto-foto sudah dilihat oleh para karyawan anda."
Imanuel mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras mendengar bisikan dan berbagai pertanyaan dari mereka yang ada didalam ruang rapat.
'Braaaaak!'
Suara gebrakan meja yang cukup keras membuat semua orang yang ada disana terkejut dan diam.
"Aku akan menyelidiki tentang foto-foto itu."
Imanuel hanya mengatakan itu sebelum melangkah keluar dari ruang rapat, dan membiarkan para pemegang saham dan investor bingung dan saling bertanya.
Dengan langkah lebar Imanuel berjalan menuju lift.
Tatapan penuh tanya disertai bisikan para karyawannya tentang foto-foto itu terdengar saat Imanuel berjalan melewati tempat kerja mereka.
"Bagaimana bisa jadi seperti ini? Siapa orang yang berani melakukannya?"
Imanuel segera menekan tombol lift yang membawanya langsung kelantai bawah.
Tidak berbeda jauh dari karyawan dilantai atas, di lobi sebagian karyawan juga menatap Imanuel penuh dengan tanya dan rasa tidak percaya.
Imanuel keluar dari gedung perusahaan dan masuk kedalam mobil yang sudah siap didepan perusahaan.
"Kerumah."Ucap Imanuel singkat pada supirnya.
Tanpa berkata apa-apa supir langsung melajukan mobil ke rumah keluarga Steve.
__ADS_1
***
Di perusahaan milik Alvaro, sekertaris Alvaro sedang melaporkan apa yang terjadi di perusahaan Imanuel saat ini.
"Foto-foto itu tidak bisa dihapus?"Tanya Alvaro.
"Benar tuan."
"Sepertinya dia mempunyai seorang hacker hebat yang berada disampingnya."
"Benar tuan, sistem keamanan perusahantuan Steve bisa dikatakan cukup kuat. Jika bukan hacker yang sangat ahli, tidak mungkin bisa melakukan hal itu."
"Baik, kau bisa keluar."
Sekertaris Alvaro mengngguk lalu keluar dari ruang kerja Alvaro.
"Setelah membuat Bella jatuh, dengan waktu yang bersamaan dia membuat perusahaan dan keluarga itu hancur. Kejam tapi penuh dengan pertimbangan. Dia memang berbeda."Gumam Alvaro.
Alvaro mengingat apa yang Lexi katakan padanya jika Amoora adalah seorang ketua mafia.
"Bagaimana mungkin wanita yang terlihat anggun dan lemah itu adalah seorang mafia? Tapi... dengan keadaan dia didalam rumah keluarga Steve, sangat mustahil memiliki mobil sport yang aku inginkan."
Semakin lama Alvaro memikirkan Amoora, semakin besar rasa penasarannya.
Alvaro lalu memutuskan untuk pergi ke perusahaan Lexi. Dia ingin tahu apa rencana Amoora selanjutnya, karena dengan begitu dia bisa membantu Amoora.
Meski sudah mengetahui siapa Amoora, Alvaro masih tetap ingin bersama bahkan ingin selalu melindungi Amoora dari siapapun yang akan membuatnya terluka, dan dia ingin menjadi orang pertama yang membantu Amoora saat Amoora membutuhkan bantuan.
Alvaro keluar dari perusahaan, dia membatalkan semua rapat dan janji hari ini. Baginya saat ini yang terpenting adalah Amoora.
Walaupun sikap Amoora kepada dirinya tidak begitu baik, tapi Alvaro yakin itu akan berubah.
Sampai didepan perusahaan Lexi, Alvaro turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam gedung perusahaan itu.
Sebelum Alvaro berjalan kedepan meja resepsionis, Alvaro terlebih dulu menghubungi Lexi.
Tak berapa lama seorang laki-laki menghampiri Alvaro dan membawanya ke kantor Lexi.
'tok tok tok'
Setelah mengetuk pintu dan mendapat izin dari Lexi, orang yang membawa Alvaro yang tak lain adalah sekertaris Lexi masuk kedalam.
"Tuan, tuan muda Alexander sudah disini."
"Biarkan dia masuk."
Sekertaris Lexi mengangguk lalu mempersilahkan Alvaro untuk masuk kedalam ruang kerja Lexi.
"Ada apa tuan muda Fernandez tiba-tiba datang ke perusahaan saya?"Tanya Lexi.
"Dimana Amoora?"
Lexi menatap Alvaro "Dia ada dirumah."
__ADS_1
"Aku ingin menemuinya."
Lexi berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Alvaro.
"Tahan dulu, biarkan dia bermain sedikit lebih lama dengan keluarga itu."
"Tapi dia akan dalam bahaya, bagaimana jika keluarga itu mencari orang untuk menghadapinya?"
Lexi tersenyum mendengar ucapan Alvaro yang sepertinya mengkhawatirkan Amoora.
"Duduklah dulu."
"Lexi, kau tahu bagaimana..."
"Lihatlah, apa kau masih seorang CEO yang terkenal dengan aura dingin dan tak tersentuh itu?"
"Ini sama sekali tidak ada hubungannya."
"Sepertinya kau tidak tahu kalau semuanya Amoora sendiri yang melakukan."
Alvaro tidak mengerti.
"Mungkin sebagai seorang pebisnis kau akan menghadapi para penjilat yang tidak tahu malu dengan berbagai trik licik mereka, begitu juga dengan Amoora. Dia melakukan trik yang dulu pernah Bella lakukan pada dirinya."
"Maksud mu Amoora..."
"Dia pernah di jebak oleh Bella, Bella ingin Amoora menjadi bahan cacian dan menjadi wanita yang tidak suci lagi. Tapi itu semua gagal, karena Amoora berhasil kabur."
Lexi melihat wajah serius Alvaro yang selama ini tidak pernah dia lihat, kecuali ketika dulu saat Alvaro kehilangan Clara.
"Kau tenang saja, kita hanya akan menjadi penonton. Dia bekerja sama dengan George yang tidak akan mudah untuk dihadapi."
Alvaro diam, dia mencoba memahami semuanya.
"Aku akan membawamu bertemu dengan Amoora setelah semuanya selesai."
Alvaro mengangguk.
"Kau terlihat seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya."
"Omong kosong!"
"Hahaha sudahlah, ayo kita keluar untuk makan siang. Rasa khawatir mu itu juga membutuhkan tenaga."
"Ck, kau benar-benar menyebalkan seperti dulu."
"Ayolah, aku sangat mengenal Amoora. Aku mengatakan itu karena aku tahu Amoora bisa menghadapinya. Lagipula mereka tidak akan tahu jika Amoora yang melakukannya."
"Baiklah, kau sudah mengatakan itu. Jadi aku akan percaya."
Lexi mengajak Alvaro untuk makan disebuah restoran keluarga yang tidak begitu jauh dari perusahaannya.
Dalam hati Lexi berharap jika Amoora akan luluh dengan perlakuan Alvaro padanya.
__ADS_1
Walau sampai sekarang Lexi masih tidak percaya jika Alvaro akan menjadi sangat sensitise mengenai Amoora.
(Aura bucin mulai terlihat😅)