The Queen Psycho

The Queen Psycho
64


__ADS_3

Sejak pulang dari rumah Alvaro, Amoora terlihat lebih banyak diam dari sebelumnya.


Dia juga tidak begitu sering datang ke perusahaan Alvaro, karena semua pertemuan dilakukan oleh sekertarisnya. Dia juga menolak ajakan Alvaro keluar untuk makan bersama dengan berbagai macam alasan.


Saat ini Amoora tengah duduk di ruangannya, menatap laptop yang berada tepat di depannya.


Braak!


Pintu ruang kerja Amoora terbuka dengan lebar.


Mata Amoora menatap orang yang sudah dengan lancang menerobos masuk kedalam ruang kerjanya.


Alvaro, orang yang membuka pintu itu berjalan dan berdiri didepan meja kerja Amoora dan menatap Amoora dengan serius.


Amoora menghela nafas, lalu meminta sekertarisnya menutup kembali pintu ruang kerjanya.


"Katakan, apa yang kau lakukan tadi?"Tanya Amoora.


Alvaro berjalan mendekati Amoora, dengan gerakan cepat Alvaro memutar kursi kerja yang Amoora duduki dan menarik tengkuk Amoora lalu mencium bibirnya.


Amoora yang tiba-tiba mendapat serangan seperti itu hanya bisa diam.


"Kau benar-benar menyebalkan Amoora Alexander."Ucap Alvaro.


"Ada apa dengan dirimu?"


Alvaro menyentuh pipi Amoora dan menatap kedua matanya dengan lekat "Aku sangat merindukan mu. Bukankah sangat jelas, sayang?"


Amoora tersenyum, ini baru beberapa hari mereka tidak bertemu. Tapi Alvaro seperti sudah ditinggalkan selama berbulan-bulan.


"Kenapa kau tersenyum, apa kau tidak merindukan ku?"


"Dasar kekanak-kanakan. Ayo ikut aku."


Amoora menarik tangan Alvaro dan membawanya duduk di sofa yang ada didalam kantornya.


"Ada apa?"Tanya Alvaro.


"Diamlah disini, aku harus menyelesaikan file yang sedang aku kerjakan. Tidak akan lama."


"Amoora."


Amoora mengelus pipi Alvaro dan tersenyum "Hanya sebentar."


Amoora berbalik dan berjalan ke kursi kerjanya, seolah tidak ada Alvaro disana Amoora kembali pada pekerjaannya.


Dengan serius dan teliti Amoora menatap layar laptopnya dan jemarinya juga mengetik dengan lincah diatas keyboard.


Alvaro yang melihatnya hanya bisa diam, tentu sebagai seorang pebisnis dia sangat tahu jika dia tidak bisa mengganggu Amoora yang tengah serius dengan pekerjaannya.


Sekitar 2 jam kemudian, Amoora merenggangkan tubuhnya.


"Sudah selesai?"


Amoora terkejut mendengar suara Alvaro yang ternyata masih duduk di sofa ruang kerjanya.


"Kamu masih disini?"

__ADS_1


Alvaro sudah bisa menebak hal itu akan terjadi, dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayo, kita makan malam diluar."


"Tapi aku...."


"Tidak ada tapi, sudah beberapa hari ini kamu menolak ku untuk makan diluar. Kau juga bahkan meminta sekertaris mu yang datang ke perusahaan."


"Tapi Alvaro.."


"Aku bilang tidak ada tapi. Ayo."


Ceklek


"Amoora sayang, apa pekerjaan mu sudah selesai?"


Alvaro dan Amoora melihat kearah pintu, dan disana sudah berdiri dua orang yang sangat Alvaro kenal.


"Apa yang kalian lakukan disini, mama, papa?"Tanya Alvaro.


"Al...varo.... Kenapa kamu disini?"


Alvaro menatap Amoora seolah menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


Amoora yang bingung harus berkata apa hanya bisa tersenyum canggung, dia lalu menatap tuan Fernandez untuk membantunya.


"Ehem, karena kita bertemu disini. Lebih baik kita pergi makan malam bersama."Ucap tuan Fernandez.


Amoora merasa lega karena tuan Fernandez mengerti tatapan memohonnya.


Alvaro yang masih ingin tahu tujuan orang tuanya hanya bisa mengikuti keinginan mereka, dan mereka pun akhirnya keluar bersama untuk makan malam.


"Huuuft, untung saja."


Kali ini Amoora hanya bisa berkata seperti itu dalam hati, karena kedatangan Alvaro ke perusahaannya memang diluar dugaan.


Mereka berempat pun akhirnya keluar bersama dari perusahaan A.L Group untuk makan malam.


Alvaro yang mengemudikan mobilnya masih bertanya dalam hati, kenapa orang tuanya datang ke perusahaan Amoora. Dia sangat tahu bagaimana kedua orang tuanya itu, tidak mungkin jika tidak ada maksud apa-apa mereka datang menemui Amoora.


Amoora tahu arti kediaman Alvaro saat ini, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa pada kedua orang tua Alvaro.


Flashback on


Setelah Amoora masuk kedalam ruang kerja, tuan Fernandez memintanya duduk di sofa.


"Nona Amoora Alexander."Ucap tuan Fernandez.


Amoora menatap mata tuan Fernandez, seolah mencari tahu apa yang ayah Alvaro ini inginkan.


Tuan Fernandez berjalan dan duduk didepan Amoora, dia meletakkan dua buah map yang cukup tebal berwarna coklat tua.


"Didalam dua map itu ada foto-foto Alvaro, dan juga ada aset yang akan Alvaro miliki kelak."


Amoora menatap dua map yang ada diatas meja.


"Map yang pertama berisi semua foto Alvaro saat dia baru lahir hingga dia berusia 12 tahun."

__ADS_1


Tuan Fernandez menatap Amoora yang diam.


"Dan map yang kedua ini adalah berisi semua aset keluarga Fernandez, mulai dari vila, resort,hotel dan beberapa perusahaan yang ada didalam maupun diluar negeri."


Amoora menatap tuan Fernandez.


"Maaf tuan Fernandez, saya tidak tertarik mengenai seberapa banyak aset atau kekayaan yang Alvaro miliki kelak. Dan saya yakin anda tahu itu."


Tuan Fernandez mengangguk, dia memang sudah tahu jika Amoora tidak seperti wanita kebanyakan yang mendekati Alvaro hanya untuk sebuah kekayaan atau mendapatkan posisi yang lebih bagus didunia sosial.


"Jadi, apa tujuan anda memberitahu semua ini kepada saya tuan Fernandez?"


Tuan Fernandez menatap balik Amoora, dia lalu berdiri dan berjalan membelakangi Amoora.


"Anak itu, dia sama sekali tidak mau mewarisi semua kekayaan keluarga Fernandez. Dia bilang, jika dia tidak bisa menikah dengan wanita yang dia cintai itu tidak akan membuatnya berubah."


"Berubah?"


Tuan Fernandez mengangguk.


"Setelah tahun dimana dia ditinggalkan oleh seorang wanita, hidupnya seperti sebuah robot pekerja. Bahkan dia tidak peduli dengan dirinya sendiri, dia membawa perusahaan ketingkat tertinggi dalam waktu yang cukup singkat, dan membuat keluarga Fernandez menjadi keluarga terkaya di negara Z yang di pandang dan di hormati oleh banyak orang. Dia melakukan semua itu karena dia berharap wanita yang pernah meninggalkan dia akan kembali padanya setelah melihat dia berhasil."


Tuan Fernandez masih sangat ingat bagaimana Alvaro bekerja siang dan malam, bahkan dia sampai tertidur beberapa kali diruang kerjanya.


"Saya tidak ingin memaksakan keinginan saya pada nona Amoora. Tapi, jika nona Amoora tidak benar-benar mencintainya, lebih baik kalian..."


"Tuan Fernandez. Sebuah hubungan dapat bertahan atau tidak jika diantara kedua orang yang terlibat mempunyai rasa cinta dan kepercayaan. Dan rasa cinta itu dipupuk oleh sebuah perbuatan-perbuatan kecil yang membuat orang bahagia, sementara kepercayaan dapat dibangun dari hal-hal kecil seperti membiasakan memberitahu apa yang kita rasakan dan kita lakukan kepada orang yang kita cintai."


Amoora berdiri dan menatap tuan Fernandez yang tengah menatapnya.


"Alvaro, dia adalah satu-satunya laki-laki yang sangat menyebalkan, yang sulit ditangani, yang tidak mudah di bodohi dan ingin selalu mendominasi. Anda mungkin hanya melihat jika dia adalah laki-laki yang akan terus terpaku pada masa lalunya, dan saat menjalin hubungan akan mengalami hal yang sama. Tapi.... Anda belum mengenal bagaimana Alvaro pada sisi yang lain."


Tuan Fernandez menatap lurus pada Amoora, dia sangat mengerti apa yang dikatakan oleh wanita yang ada didepannya saat ini.


"Aku mengerti. Sepertinya putraku telah menemukan mutiara paling berharga yang terkubur didasar laut yang paling dalam."


"Anda terlalu tinggi memuji tuan Fernandez, bukankah anda sudah tahu bagaimana kehidupan saya sebelum saya masuk kedalam keluarga Alexander?"


Tuan Fernandez tersenyum dan mengangguk. Tentu saja tuan Fernandez tahu jika Amoora pasti sudah mengerti jika mereka mencari tahu tentang kehidupan Amoora.


"Selama bisa membuat putra ku bahagia dan merubah semua masa lalunya yang tidak baik berubah. Keluarga Fernandez tidak akan pernah peduli dengan bagaimana kau hidup, dan kami akan melindungi mu."


"Apakah sekarang aku mempunyai tambahan pelindung disamping ku?"


Tuan Fernandez tertawa, dia sangat menyukai Amoora yang lugas dan tanpa harus berpura-pura didepannya seperti wanita-wanita yang berpura-pura polos serta anggun yang pernah dia temui.


"Baiklah, kalau begitu setiap hari aku dan istriku akan datang ke perusahaan A.L Group untuk mengajak mu makan."


"Makan? Setiap hari?"


"Iya, makan siang dan makan malam. Aku sangat ingin segera mempunyai cucu, dan aku sangat tahu pekerja keras seperti mu selalu makan tidak teratur. Jadi sebagai ayah mertuamu aku akan mendisiplinkan itu."


Amoora hanya bisa diam menatap tuan Fernandez dengan tidak percaya.


Flashback off


Dan itulah kenapa beberapa hari ini Amoora selalu menolak ajakan makan dari Alvaro dan dia juga menghindari pertemuan dengan Alvaro, karena itu akan sangat merepotkan mengingat dirinya menjadi rebutan antara Alvaro dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2