
"Hah, sangat membosankan."
Amoora meletakkan ponselnya disisi ranjang. Dia bergulang guling diatas ranjang dengan rasa bosan yang sudah di puncak kepalanya.
Kemarin Alice sudah berangkat untuk mengikuti pelatihan sebelum dia masuk ke sekolah militer, dan itu membuat hari libur Amoora menjadi membosankan lagi.
Semua anak buah Amoora sudah ditangani dengan baik oleh Lucas dan Albert. Itu karena Lexi meminta Amoora agar tidak terlalu sering turun tangan dalam melatih mereka.
"Aagh, apa yang harus aku lakukan lagi. Kakak membuat hari libur ku sangat membosankan."
Amoora keluar dari kamarnya, dia pergi keruang tv.
"Tumben sekali tidak ada orang."
Amoora berjalan ke ruang makan dan dapur, tak satupun orang yang dia temui dirumah yang besar itu.
"Kemana mereka?"
Amoora menghempaskan tubuhnya pada sofa di ruang tv lalu mengambil remote tv.
"Kenapa hampir semua berita di tv memberitakan model ini? Apa sudah tidak ada model yang lainnya?"
Amoora mematikan tv dan meletakkan kembali remote diatas meja.
Dengan malas Amoora kembali ke kamarnya, dia melihat kunci mobil diatas nakas dan dia memutuskan untuk pergi keluar.
Memakai kaos tanpa lengan dan celana panjang Amoora keluar dari rumah dengan mengendarai mobilnya.
"Dirumah tidak ada orang sama sekali, kak Lexi juga tidak ada. Sebenarnya apa yang sedang semua orang rencanakan?"
Amoora yang tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya merasa curiga, ditambah lagi Alice pergi secara mendadak dua hari sebelum hari yang di tentukan.
"Hmm sudahlah, aku tidak ingin memikirkannya. Terserah mereka mau berbuat apa."
Amoora terus melajukan mobilnya. Tapi tanpa Amoora sadari ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang.
Sementara itu dirumah, Lexi yang mendapat kabar jika Amoora telah pergi meninggalkan rumah langsung bergegas pulang, tentu bersama dengan semua pelayan yang bekerja dirumahnya.
Tak lama Alvaro dan anak buah Lexi juga anak buah Amoora datang membawa beberapa barang untuk menghias rumah besar itu.
"Oke, waktu kita tidak banyak. Jadi kita akan melakukannya dengan cepat." Ucap Lexi.
"Siap bos!" Ucap semua anak buah Lexi dan Amoora.
Setelah mendengar perintah dari Lexi, semua orang melakukan tugas mereka masing-masing.
Lexi menghampiri Alvaro dan menepuk bahunya.
"Cuma ini yang aku bisa lakukan, selebihnya aku serahkan padamu."
"Kau tenang saja, adik iparmu ini akan membuat Amoora sangat terpesona."
"Ck, kalau kau sudah menganggap dirimu sebagai adik ipar. Harusnya kau panggil aku dengan sebutan kakak ipar."
"Hahaha kau bisa saja."
Alvaro dan Lexi melihat semua orang sibuk menghias ruang tamu yang cukup besar itu dengan berbagai hiasan yang cantik, tidak lupa berbagai bunga dan lampu ditata dengan sangat rapi.
Dua jam kemudian, deru mobil terdengar diluar rumah. Salah satu anak buah Lexi mengintip dari tirai jendela yang sengaja ditutup.
Anak buah Lexi mengangguk, memberikan kode jika yang datang adalah Amoora.
Amoora mematikan mesin mobilnya lalu turun dari mobil, dengan membawa beberapa paper bag Amoora berjalan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Ceklek
Amoora melihat sekeliling rumah yang nampak sangat gelap tidak seperti biasanya. Dia berjalan lebih dalam ke rumah dan meletakkan bawaannya diatas lantai.
"Ada apa ini, kenapa jadi gelap seperti ini?"
Duk
"Aw."
Amoora tidak sengaja menendang meja yang ada didepannya, instingnya mulai bekerja. Dia melihat sekeliling dan mengambil pistol yang dia simpan didalam tasnya.
Klek
Sebuah lampu sorot menyala, Amoora melihat Alvaro berdiri tidak jauh darinya dan tengah melihat kearahnya.
"Amoora Alexander."
Amoora mwnatap Alvaro, sudah lama Amoora tidak mendengar Alvaro memanggil nama lengkapnya.
Klek
Lampu ruangan menyala semua. Amoora melihat sekeliling, ruangan yang dihias indah dengan begitu banyak bunga disetiap sudut ruangan.
Amoora menatap Alvaro yang masih berdiri ditempatnya.
Alvaro mengulurkan tangannya dan mengangguk pada Amoora.
Dengan pelan dan penuh tanya Amoora berjalan mendekati Alvaro, pistol yang semula akan Amoora todongkan kembali dia simpan didalam tasnya.
Amoora menghentikan langkahnya satu meter didepan Alvaro dan menatapnya dengan serius.
Kedua mata Amoora membulat saat tiba-tiba Alvaro berlutut didepannya dengan sebuah cincin berlian didalamnya.
"Aku tidak tahu dengan cara apa agar kau yakin dengan apa yang aku rasakan padamu. Dan aku juga tidak tahu harus bagaimana agar kau percaya jika aku sangat mencintaimu dan selalu ingin berada disisi mu. Dengan ini, aku ingin kau tahu dan mengerti semua rasa cintaku hanya untukmu."
Amoora melihat kedua mata Alvaro yang memancarkan cinta yang begitu besar padanya.
"Amoora Alexander, will you marry me?"
Alvaro masih berlutut didepan Amoora dan menatap lekat dengan cinta yang tulus.
"Alvaro, apa kau tahu jika laki-laki tidak harus berlutut didepan seorang wanita?"
"Aku tahu.Tapi aku tidak peduli, selama itu adalah wanita yang aku cintai dan berharga bagiku. Aku akan melakukannya."
Amoora menarik nafas dan mengangguk.
"Berdirilah."
"Kau belum menjawab pertanyaan ku."
"Jika kau tidak berdiri aku tidak akan pernah menjawabnya."
Alvaro diam, dia tentu sangat ingin Amoora menjawabnya. Tapi jika dia berdiri sekarang...
"Jadi kau tidak mau jawaban dariku?"
"Tidak, tidak. Aku akan berdiri sekarang."
Dengan pelan Alvaro menuruti keinginan Amoora. Dia kini berdiri didepan Amoora.
__ADS_1
Amoora menatap Alvaro dan tersenyum.
"Aku tidak suka melihat seorang laki-laki berlutut didepanku hanya untuk melakukan hal ini. Bagiku yang pantas berlutut adalah mereka yang sudah menyinggungku, kau tahu maksudku bukan."
Amoora berjalan mendekati Alvaro.
"Alvaro Fernandez, bisa kau ulangi pertanyaan mu?"
Alvaro menatap Amoora.
"Will you marry me, Amoora Alexander?"
Amoora diam, dia menatap Alvaro dengan tajam.
Jantung Alvaro berdetak cepat, dia takut jika Amoora tidak ingin menikah dengannya dan pergi dari kehidupannya.
"Alvaro."
Alvaro mengepalkan tangannya, menyiapkan diri dengan jawaban yang akan Amoora berikan padanya. Dia sudah siap untuk mendengarkan semuanya, siap jika Amoora menolaknya.
"I will."
"Baiklah, aku bisa menerima kepu.... Apa? Kau, kau bilang apa?"
Amoora tersenyum "I say, I will Mr. Alvaro Fernandez."
Senyum Alvaro mengembang, dia langsung memeluk Amoora dengan erat.
"Horee!!!"
Kedua orang tua Alvaro, Lexi dan beberapa anak buahnya juga anak buah Lexi keluar dan bertepuk tangan dengan penuh bahagia dan semangat melihat akhirnya Amoora menerima Alvaro.
"Kalian."
Lexi menganggukan kepalanya, dia tertawa bahagia melihat adiknya mendapatkan orang yang benar-benar mencintainya.
Alvaro meraih tangan Amoora lalu memasangkan cincin berlian pada jarinya.
"Aku sangat mencintaimu, Amoora."
"Terima kasih. Aku juga mencintaimu."
Alvaro kembali memeluk Amoora.
"Jangan memeluk kakakku terlalu erat, tubuhnya kecil. Kau bisa membuat tulangnya patah kakak ipar."
Alvaro melepaskan pelukannya.
Amoora berbalik dan melihat Alice membawa bunga mawar merah untuk Amoora.
"Kau ternyata belum berangkat."
"Tentu saja, jika aku berangkat aku tidak akan bisa melihat kebahagiaan kakak secara langsung. Lagi pula, latihannya akan di mulai besok lusa, jadi besok aku baru berangkat tidak akan ada masalah."
"Kau ini."
Alice memberikan bunga mawar pada Amoora, dan memeluk kakaknya dengan sangat bahagia.
"Kau harus selalu bahagia kakak."
"Terima kasih."
Lexi sangat beruntung memiliki dua adik yang saling menyayangi itu. Bagi Lexi mereka adalah orang yang paling berharga didunia, dan kebahagiaan mereka adalah yang paling utama.
__ADS_1