
Satu minggu kemudian, dengan menggunakan mobil mewah Amoora pergi ke pesta ulang tahun keluarga Fernandez bersama Lexi.
Wanita dengan balutan gaun berwarna peach dan riasan yang cukup cantik dan natural, membuatnya sangat mempesona malam itu.
Lexi menggandeng tangan Amoora masuk kedalam ruang pesta. Tidak sedikit orang yang ada disana menatap kearah mereka.
Ada sedikit rasa canggung dan khawatir pada diri Amoora, namun Lexi meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik-baik saja. Ditambah itu adalah pesta yang diadakan oleh keluarga Fernandez, keluarga terkaya di negara Z. Jadi tidak akan ada yang berani berbuat macam-macam.
Amoora melihat keluarga Sam, ditengah-tengah keluarga itu ada Sam yang sedang menikmati minumannnya. Ingin rasanya Amoora menyapa, tapi dia yakin itu hanya akan membuat Sam dalam masalah.
Amoora lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Ternyata sudah banyak yang datang."Gumam Amoora, tapi masih terdengar oleh Lexi.
"Tentu saja, ini pesta mewah. Dan ini adalah kali ketiga dalam 10 tahun keluarga Fernandez mengadakan pesta. Jadi mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk datang."
"Sungguh sangat di segani sekali."
"Kau tahu, CEO yang sekarang memimpin perusahaan milik keluarga Fernandez belum menikah. Dan sepertinya akan menjadi salah satu cara keluarga ini mencari calon menantu yang cocok bagi mereka."
"Huh, pernikahan aliansi."
"Ya begitulah."
"Apa kakak juga akan seperti itu? Menikahi wanita karena sebuah bisnis?"
"Tentu tidak, mereka tidak akan berani melakukan hal itu. Kalaupun berani mereka yang akan rugi."
"Ya aku percaya, mana ada yang mampu menyentuh dirimu."
Amoora dan Lexi larut dalam obrolan mereka, tanpa mereka ketahui sepasang mata menatap tajam Amoora dari jauh.
Pintu besar terbuka lebar, seorang wanita tua yang didampingi oleh seorang pria tampan dan maskulin masuk kedalam ruangan. Sementara di belakang mereka ada tiga orang lagi berjalan mengiringi.
Mereka adalah keluarga Fernandez, keluarga yang mengadakan pesta ulang tahun malam itu.
Mata Amoora manatap dengan lekat pria yang berada disamping nenek berbalut gaun indah yang baru masuk tadi.
"Tuan Alvaro? Jangan-jangan...."
Amoora yang merasa mempunyai ingatan yang begitu buruk sangat kecewa. Dia yang bersikeras tidak ingin bertemu dengan Alvaro, justru malam ini datang ke pesta keluarganya.
Setelah menatap Alvaro, Amoora kemudian melihat nenek yang digandeng oleh Alvaro.
"Bukankah itu adalah nenek yang hampir jatuh dari kursi roda dua tahun yang lalu?"
(Kalau tentang yang lain mah ingat, tapi kalau tentang Alvaro? sepertinya harus di getok dulu kepalanya Amoora ini)
Amoora lalu ingat ucapan Lexi, jika keluarga Fernandez sepertinya akan mencari calon menantu dari acara ulang tahun ini. Kali ini Amoora berpikir jika dia enar-benar sudah salah besar ikut ke pesta ulang tahun itu, ingin rasanya dia berlari dari sana dan tidak kembali lagi.
"Amoora kau baik-baik saja?"Tanya Lexi.
"Iya, iya aku baik-baik saja."
"Kau yakin? Kau terlihat sedikit pucat."
"Aku tidak apa-apa, mungkin bedaknya terlalu tebal."
Lexi mengamati Amoora, seperti ada yang sedang dia sembunyikan.
"Selamat malam tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian. Saya Alvaro Fernandez mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian di pesta ulang tahun nenek saya yang ke 80 tahun. Ditahun ini saya berharap untuk nenek saya agar selalu di beri kesehatan dan bisa terus menemani saya. Karena bagi saya beliau ini adalah panutan utama setelah ayah saya, dan juga wanita yang paling saya cintai setelah ibu saya tentunya. Baik tidak menunggu waktu lama lagi, tolong bawa masuk kuenya."
Seorang pelayan dari hotel tempat mereka mengadakan pesta datang membawa kue yang cukup besar dan indah ke depan Alvaro.
Kue itu lalu di potong oleh nenek Alvaro dibantu oleh Alvaro dan ayahnya.
Tidak ada acara tiup lilin, karena ini adalah pesta ulang tahun seorang nenek berusia 80 tahun. Jadi para tamu undangan bisa memahaminya.
Setelah memotong kue, dan ayah Alvaro mendapatkan kue pertama. Alvaro memberitahu jika pesta resmi dimulai.
Semua tamu undangan pun bisa menikmati pesta mewah itu, begitu juga dengan Amoora dan Lexi.
"Amoora, aku akan kesana sebentar. Kau tunggu aku disini."
"Iya kak."
Amoora melihat Lexi berjalan menuju seseorang yang tidak begitu jauh dari tempatnya berada.
"Ternyata kakak bisa juga sampai di pesta yang mewah ini ya."
Amoora berbalik setelah mendengar suara yang dia kenali.
Saat ini Bella sudah berdiri didepan Amoora dengan gaun berwarna biru yang dihiasi beberapa mutiara pada gaun itu.
Amoora diam tidak menanggapi ucapan Bella, dia tidak ingin membuat keributan di pesta orang lain. Ditambah tujuan dia kesini untuk menemani Lexi sebagai perwakilan dari keluarga Alexander.
"Kau tidak jadi bisu setelah keluar dari rumah kami bukan?"Tanya Bella dengan nada mengejek.
"Rumah kami? Setahuku itu adalah rumah peninggalan kakek dan yang aku ingat dalam surat wasiat kakek, rumah itu akan menjadi milikku setelah aku menikah nanti. Jadi, rumah mana yang kau maksud nona Steve?"
__ADS_1
Bella mengepalkan tangannya, dia sangat ingin menampar wajah Amoora saat ini. Selama ini Amoora tidak pernah mengatakan hal yang begitu pedas dan selalu diam, tapi saat ini dia sudah berani menjawab dan bahkan jawabannya sangat tidak enak didengar oleh Bella.
"Kau, kau sungguh berani mengatakan hal itu Amoora."
"Maaf nona Steve, saya datang kesini untuk memenuhi undangan dari keluarga tuan Fernandez, bukan untuk berdebat denganmu."
"Heh, bilang saja kau tidak berani padaku. Ya tentu saja, kau kan datang kesini dengan laki-laki asing yang membayarmu untuk satu malam."
Mata Amoora menatap tajam Bella, aura yang begitu kuat tersirat dalam mata coklat itu.
"Jangan emosi, aku hanya bercanda saja. Kakak."
Bella berjalan mendekati meja, dia mengambil gelas berisi wine lalu...
'byuuur'
Bella menumpahkan wine itu dengan sengaja pada gaun Amoora.
"Oh ya Tuhan, maaf. Tolong maafkan saya, saya tidak sengaja melakukannya."Ucap Bella dengan nada agak keras dan terdengar menyedihkan.
Beberapa orang yang mendengar Bella segera melihat dua orang wanita itu.
Melihat Bella yang sedang berpura-pura, Amoora berdiri diam. Dia terus menatap Bella seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada gaunnya.
"Tolong maafkan saya, saya tidak sengaja. Saya akan mengganti gaun yang kau pakai malam ini."
Bella meraih tangan Amoora dan berpura-pura memelas agar orang-orang melihatnya dengan kasihan.
Dan benar saja, orang-orang yang melihat itu menilai Amoora tidak punya perasaan dan tidak punya belas kasihan, karena membiarkan Bella memohon-mohon untuk di maafkan oleh Amoora.
"Nona, gaun anda tidak begitu basah dan juga tidak rusak. Maafkan saja nona itu, kasihan dia sudah memohon seperti itu pada anda."Ucap salah seorang tamu.
"Benar nona, jangan terlalu keras."Ucap yang lainnya.
Mendengar pembelaan dari beberapa orang, Bella merasa jika sebentar lagi Amoora akan merasa malu.
"Benarkah jika kau tidak sengaja menumpahkan wine itu pada nona itu?"sebuah suara terdengar dari belakang kerumunan.
Satu persatu orang-orang membuka jalan untuk orang itu.
Melihat laki-laki yang begitu tampan, bahkan lebih tampan dari Kevin. Bella merasa terpesona dan dia langsung memasang wajah sedih didepan laki-laki itu.
"Benar tuan, saya...saya tidak sengaja menumpahkannya."Ucap Bella dengan nada sendu.
Melihat dan mendengar perkataan Bella. Lexi, laki-laki yang saat ini berdiri didekat Amoora menatapnya dengan rasa jijik.
Tatapan Lexi lalu beralih pada Amoora.
Amoora hanya mengangguk pelan.
Melihat itu Bella merasa sangat kesal, karena setiap laki-laki yang Amoora kenal pasti tampan dan kaya.
Lexi melihat gaun yang Amoora kenakan, ada noda wine pada gaun Amoora dibagian bawah.
"Saya dengar anda tadi berkata, jika anda akan mengganti gaun ini. Apakah benar?"
Bella menelan ludahnya pelan, tidak mungkin bukan laki-laki yang saat ini ada didepannya akan benar-benar meminta ganti rugi.
"Be....Benar tuan. Saya akan menggantinya, karena bagaimana pun ini kesalahan saya. Tapi...."
"Baik, kalau begitu kau bisa mengirimkan uang ganti rugi untuk gaun ini sebesar 45 juta ke nomor rekening ini."
Lexi memberikan sebuah kartu dimana terdapat nomor rekening dan namanya.
Bella menerima kartu itu dengan perasaan yang sangat tidam nyaman.
"Lexi Alexander."Bella membaca nama yang ada diatas kartu itu.
Mendengar nama yang di ucapkan oleh Bella. Beberapa orang mundur beberapa langkah, bahkan orang yang tadi membela Bella bergegas pergi karena tidak ingin berurusan dengan keluarga Alexander.
"Nona itu adalah anggota keluarga Alexander, sepertinya wanita ini akan mendapat masalah besar."Bisik seorang tamu undangan.
Dari arah lain sepasang suami istri berjalan mendekati kerumunan itu.
"Bella."Seorang wanita memanggilnya.
Bella, Amoora dan Lexi menatap wanita dan laki-laki yang baru datang itu.
Mereka adalah Imanuel Steve dan Hana, istrinya.
Imanuel menatap Amoora, matanya meradang penuh amarah pada Amoora dan....
'Plak!'
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat pada pipi Amoora. Imanuel menampar Amoora tepat didepan Lexi.
"Dasar kurang ajar! Apa kau mau mempemalukan Bella disini. Bukankah kau keluar dari keluarga Steve atas kemauanmu sendiri? Jadi kenapa kau melakukan ini padanya?"Ucap Imanuel dengan geram pada Amoora.
Amoora tidak menjawab, dia bahkan tidak mengangkat tanganyya untuk menutupi pipinya yang sudah ditampar oleh ayahnya.
__ADS_1
Melihat Amoora ditampar, Bella diam-diam tersenyum dalam pelukan ibunya, hana.
"Anda sungguh hebat tuan Steve. Bahkan pesta yang saya buatpun tidak bisa anda hargai."
Suara tegas dan lantang terdengar. Para tamu undangan melihat Alvaro berjalan kearah mereka.
Imanuel yang menyadari perbuatannya saat ini merasa takut dan gemetar, emosinya selalu meluap-luap setiap melihat Amoora. Jadi tidak menyadari saat ini berada dimana.
"Tu....Tuan muda Fernandez."
Alvaro berhenti berjalan, dia menatap Amoora yang diam seperti patung disamping Lexi. Sementara Lexi tengah menatap Imanuel dengan penuh rasa benci.
"Bahkan didepan tuan Alexander, anda berani menampar seorang wanita. Anda sangat hebat tuan Steve."
Mendengar itu Imanuel langsung menoleh dan melihat laki-laki yang sejak tadi berdiri disamping Amoora. Dan seketika matanya membulat.
"Sepertinya orang-orang yang datang ke pesta anda tidak menyambut keluarga Alexander kami ini tuan muda Fernandez. Jika tidak, bagaimana mungkin mereka berani menghina bahkan menampar adik perempuan saya tepat didepan saya."Ucap Lexi.
Imanuel, Hana dan Bella terkejut mendengar perkataan Lexi.
Mereka tidak tahu jika saat ini Amoora sudah menjadi anggota keluarga Alexander. Begitu juga dengan Alvaro yang baru saja mengetahui hal itu.
"Tu...Tuan Alexander, anda... anda pasti bercanda."Ucap Imanuel tidak percaya.
"Tuan Steve, mungkin keluarga anda tidak pernah menganggap Amoora sebagai anggota keluarga anda. Tapi bagi saya dan keluarga Alexander, dia adalah sebuah mutiara berharga yang harus dijaga dengan kasih sayang."
"Tuan Alexander, anda tidak boleh berkata seperti itu. Amoora, dia..dia adalah wanita pembawa sial. Itu kenapa kami.."
"Bella!"
Bella diam seketika saat mendengar Imanuel membentaknya.
Alvaro melihat tangan Amoora mengepal dengan erat, dia tahu jika Amoora saat ini sangat marah. Tapi Amoora hanya diam menahannya.
"Tuan Alexander, ini adalah pesta yang keluarga Fernandez buat. Dan anda sangat diterima disini."Ucap Alvaro.
Lexi meraih tangan Amoora yang mengepal, dan menggenggam tangan itu. Menyalurkan kekuatan untuk adiknya yang dia tahu pasti tengah menahan semua perasaannya.
"Kita pulang?"Tanya Lexi pada Amoora dengan lembut.
Amoora mengangguk pelan.
"Maaf tuan muda Fernandez. Saya harus membawa adik saya pergi dari sini."
Alvaro menatap Amoora dengan tatapan penuh tanya.
"Tidak! Dia tidak boleh pergi."Seru Bella.
"Bella!"
"Papa, kau tidak tahu apa yang wanita gila itu katakan. Dia berkata jika rumah kita adalah rumah miliknya. Dan dia akan mengusir kita dari sana."
"Bella, papa bilang diam!"
"Tidak pa, dia..."
"Nona Steve, apa anda merasa belum puas?"Ucap Amoora memotong perkataan Bella.
Mata Amoora menatap tajam Bella.
"Selama lebih dari 10 tahun kau mengambil semua yang aku miliki, bahkan kasih sayang ayahku pun kau ambil. Selama 10 tahun juga kau selalu melakukan apa yang kau inginkan dan selalu melemparkan kesalahan padaku. Kau dan ibumu selalu meminta uang padaku ketika aku masih bekerja disebuah kafe. Kau dan ibumu juga telah memfitnahku didepan keluarga teman-teman baikku, agar mereka tidak mau lagi berteman denganku. Dan sekarang aku tidak mempunyai teman sama sekali, dan itu berkat kalian. Tapi sepertinya itu belum cukup bagi kalian."
Air mata yang sekuat tenaga Amoora tahan akhirnya mengalir dengan cepat di pipi putihnya.
"Mungkin semua orang tidak ada yang tahu jika aku juga putri dari keluarga Steve. Itu karena kalian menyembunyikan kenyataan siapa aku sebenarnya, dan hanya memperkenalkan putri juga putra tersayang kalian pada dunia."
Para tamu dan juga Alvaro tidak menyangka jika keluarga Steve seperti itu.
"Keluarga yang kalian banggakan dan kalian agungkan hanya sebuah kedok. Bahkan jika aku tidak memberi tanda tangan pada dokumen yang kau bawa saat itu, kau juga tidak mungkin menjadi seorang pemimpin di perusahaan keluarga Steve saat ini."
"Omong kosong apa yang kamu katakan, Amoora!"Imanuel tidak bisa membiarkan Amoora terus berbicara buruk tentang keluarga Steve.
"Tamparan ini adalah tamparan yang ke 435 kali dalam satu tahun ini. Dan ke depannya aku tidak akan membiarkan satu orang pun dari keluarga Steve memukulku lagi."
Keluarga Steve tidak menyangka jika selama ini Amoora ternyata mengingat berapa banyak tamparan dan pukulan yang mereka berikan padanya.
Alvaro mendengar betapa tajamnya kata-kata yang Amoora ucapkan pada keluarga Steve dengan penuh penekanan.
"Tuan Alvaro Fernandez, maaf sudah membuat pesta ulang tahun nenek anda menjadi seperti ini. Saya akan meminta maaf secara langsung pada nenek anda atas kejadian ini nanti."Ucap Amoora.
"Ini bukan salah anda nona Alexander. Anda bisa menggunakan ruang istirahat untuk mengobati luka anda."
"Tidak, saya akan membiarkan luka ini sampai sembuh dengan sendirinya. Agar saya selalu ingat bagaimana perlakuan keluarga Steve terhadap saya. Dengan begitu saya bisa memilih dengan cara apa saya membalas mereka."
Imanuel, Hana dan Bella merasa terintimidasi oleh tatapan Amoora yang penuh dengan kebencian dan dendam pada mereka.
"Tapi nona Amoora.."
"Maaf tuan Alvaro Fernandez, saya dan kakak saya harus segera pulang. Permisi."
__ADS_1
Amoora menarik pelan tangan Lexi untuk meninggalkan pesta ulang tahun itu. Dia sudah tidak mau berada disana lebih lama lagi, terlebih keluarga teman-temannya melihat kejadian itu.
Jangan lupa untuk selalu dukung Linlin ya, dengan memberi vote dan meninggalkan jejak kalian pada kolom komentar. Biar Linlin semakin semangat lanjut ceritanya 😉.