The Queen Psycho

The Queen Psycho
62


__ADS_3

Di salah satu restoran keluarga yang mewah, Alvaro membawa Amoora makan malam.


Ini adalah makan malam pertama mereka, setelah mereka resmi menjalin hubungan. Itu karena mereka sibuk, dan tentu karena sebuah drama dari Alvaro Fernandez yang sudah membuat hubungan mereka sempat renggang.


Alvaro melihat Amoora yang tengah menikmati pemandangan dari jendela restoran yang berada dilantai 6.


Sebelumnya dia tidak pernah menyangka, jika wanita yang dulu dia pikir adalah orang yang sangat dingin ternyata begitu mempesona.


"Apa aku begitu cantik tuan muda Fernandez?"Ucap Amoora tanpa menoleh.


Alvaro tersenyum "Bahkan bulan malam ini kalah cantik jika dibandingkan dengan mu."


"Kau pandai merayu."


Alvaro tertawa kecil "Jika aku pandai merayu, mungkin saat ini aku sedang duduk dengan banyak wanita."


"Hmmm, benarkah?"


Alvaro meraih tangan Amoora dan menggenggamnya.


"Ternyata wanita yang dulu menjual mobil sport nya dengan sikap dingin, mempunyai sisi yang sangat hangat dan cantik."


"Jadi, kau menilai aku wanita yang sangat dingin begitu?"


"Hahaha, bukan hanya aku sayang. Bahkan Lexi juga berkata seperti itu saat pertama bertemu dengan mu."


Amoora mengerucutkan bibirnya.


"Tapi, dibalik sikap dinginmu tersembunyi kecantikan, keanggunan dan kehangatan yang tidak bisa sembarang orang melihatnya."


"Meski aku dingin, tapi nyatanya banyak yang menyukaiku. Dan kau termasuk salah satunya tuan muda."


Alvaro mengangguk,mengiyakan apa yang Amoora katakan, karena dia memang sudah terpesona pada Amoora sejak pertama kali mereka bertemu. Rasa penasaran yang begitu kuat dan rasa ingin melindungi yang begitu besar, membuatnya jatuh hati dan ingin memiliki dengan seutuhnya.


"Makanlah, setelah ini aku akan membawamu ke tempat lain."


"Kemana?"


"Kau akan tahu nanti."


"Kau terlalu banyak rahasia, hati-hati nanti cepat tua."


"Hahaha, jika aku menjadi tua. Maka aku adalah orang tua tertampan didunia."


"Hah, besar sekali rasa percaya dirimu."


Amoora menggeleng, dia tidak percaya jika Alvaro sangat percaya diri berkata hal itu didepannya.


Mereka pun melanjutkan makan malam romantis mereka berdua.


Sesaat setelah mereka selesai makan, Alvaro pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Amoora yang ditinggal Alvaro, kembali melihat keluar jendela.


"Wah, ternyata aku tidak salah lihat. Ini memang kamu Amoora."


Seorang wanita yang Amoora kenal tengah berdiri dengan arogann didepannya.


Amoora yang sedang tidak ingin berdebat dengan wanita yang baru datang itu tidak berkata apa-apa. Dia hanya melihat wanita itu dengan datar.


"Cih, berani sekali kamu tidak menjawab apa yang aku katakan."


"Apa aku harus menjawab? Apa tadi kau sedang bertanya padaku? Maaf aku pikir kau sedang berbicara sendiir dan bukan bertanya padaku."


"Kau benar-benar!"


Saat wanita itu akan memukul wajah Amoora, tangan Amoora terangkat dan memegangg tabgan wanita itu. Wanita itu tidak menyangka jika Amoora sekarang sudah berani melawannya dan bahkan menatapnya dengan tajam.


Amoora menghempaskan tangan wanita itu.


"Kau ingin menamparku? Kau masih belum pantas, masih butuh beberapa ratus tahun lagi baru kau bisa."


Wanita itu memegangi tangannya yang terasa sakit karena Amoora.


"Kau hanya wanita j*lang yang merayu banyak laki-laki. Aku yakin sekarang kau berhasil merayu laki-laki tua, makanya kau bisa makan di restoran mewah ini."


Amoora melipat tangannya didepan dada dan mencibirnya.


"Laki-laki tua, apakah seleraku begitu rendah seperti mu?"


Emosi Amoora semakin naik, tangannya mengepal.


"Jika aku yang kau sebut laki-laki tua, lalu bagaimana kau akan menyebut laki-laki tua yang sebenarnya nona?"


Suara berat yang begitu tegas terdengar dari belakang wanita itu.


Alvaro menatap wanita itu dengan tatapan dinginnya.


Wanita itu yang mengenal Alvaro membuka matanya lebar dan mundur beberapa langkah.


"Tu... Tuan muda Fernandez."


Alvaro berjalan melewati wanita itu dan mendekati Amoora.


"Kau tidak apa-apa?"Alvaro mengelus pipi Amoora lembut.


Amoora menggeleng "Aku baik-baik saja."


"Tuan muda Fernandez, anda jangan tertipu dengan wanita itu. Dia sudah menggoda banyak laki-laki."


Alvaro melirik pada wanita itu "Oh benarkah, kalau begitu aku akan menjadi laki-laki terakhir yang tergoda olehnya."


Wanita itu tidak menyangka jika Alvaro akan mengatakan hal yang tidak dia duga.

__ADS_1


Tangan wanita itu mengepal karena merasa iri pada Amoora yang bisa mendapatkan semua yang ingin dia dapatkan.


"Ayo kita pergi, aku tidak ingin berlama-lama disini."Ajak Alvaro.


Amoora mengangguk.


Alvaro menggandeng tangan Amoora pergi meninggalkan wanita itu yang sedang menahan emosinya terhadap Amoora.


Didalam mobil Alvaro menatap Amoora seolah ingin tahu siapa wanita yang sudah membuat bualan didalam restoran tadi.


"Hmmm, dia adalah temanku saat masih disekolah menengah. Dia termasuk anak orang kaya, tapi sejak dulu tidak menyukai ku karena pacarnya adalah teman baikku. Dia merasa karena aku, hubungannya dengan pacarnya itu berakhir."


Alvaro mengangguk, dia meraih tangan Amoora lalu mengecupnya.


"Aku percaya, calon nyonya muda keluarga Fernandez tidaklah wanita yang tidak punya aturan."


"Hahaha kau ini."


"Baiklah, ayo kita pergi. Aku sudah berkata akan membawamu ke suatu tempat."


Alvaro menyalakan mobilnya dan melajukannya ke tempat yang akan dia tunjukan pada Amoora.


"Ini sangat indah."


Amoora mengagumi tempat yang dijanjikan oleh Alvaro.


"Aku senang kau menyukainya."Ucap Alvaro sambil memeluk Amoora dari belakang.


"Apa kau sering membawa pacarmu kesini?"


Alvaro menggeleng "Kau yang pertama, kamu adalah wanita pertama yang aku bawa kesini."


"Benarkah, jadi nona Clara tidak pernah?"


"Tidak pernah."


Amoora mengangguk.


"Aku bersungguh-sungguh sayang."


"Iya, aku percaya."


Alvaro membalikkan tubuh Amoora dan menatap dua mata yang indah itu.


"Menualah bersamaku, aku akan membuatmu selalu bahagia."


Amoora diam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia merasa jantungnya akan melompat saat itu.


Tangan Alvaro terulur dan mengelus pipu Amoora, perlahan namun pasti Alvaro menempelkn bibirnya pada bibir Amoora.


Kedua orang yang saling mencintai itu saling berciuman dengan hangat, menyalurkan rasa cinta yang telah tumbuh begitu indah.

__ADS_1


__ADS_2