
PART INI MENCERITAKAN KEHIDUPAN AMOORA SEBELUM DIA MEMUTUSKAN UNTUK MENJALANI KEHIDUPANNYA DI DUNIA BAWAH.
Jalanan sore itu masih cukup ramai, masih banyak orang yang berlalu lalang.
Amoora yang tengah membeli makanan kesukaannya secara tidak sengaja melihat seorang gadis berusia sekitar 14 tahun tengah dibawa dengan paksa kedalam sebuah gang diseberang jalan oleh 4 orang laki-laki.
Mungkin ada beberapa orang yang melihat itu namun tidak peduli, bagi mereka tidak ikut campur urusan orang lain adalah penyelamatan diri yang paling baik.
Amoora yang tidak bisa melihat itu berjalan dengan cepat kearah gang dimana gadis itu dibawa.
Dengan keberanian yang tidak begitu banyak Amoora berjalan masuk kedalam gang yang cukup dalam itu. Disaat Amoora masuk, beberapa laki-laki yang membawa gadis itu sudah merobek baju yang gadis itu pakai.
Tangan Amoora mengepal dengan kuat, dia sungguh geram melihat apa yang ada didepannya.
"Apa yang kalian lakukan?"Ucap Amoora dengan lantang.
Para laki-laki itu menoleh dan melihat Amoora, mereka menatap Amoora dengan tatapan menghina.
"Heh, siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami. Pergilah kalau kau tidak mau bernasib sama dengannya."
Amoora semakin geram, dengan gerakan cepat Amoora melemparkan dua buah batu yang entah darimana dia dapatkan kearah para laki-laki itu.
"Aaaagh s*ialan! Dasar wanita j*lang!!"Teriak seorang laki-laki yang kepala terkena batu itu.
"Tangkap wanita itu!"Ucap salah seorang lagi dari mereka.
Dua orang laki-laki berjalan dengan cepat kearah Amoora, Amoora melihat ada balok kayu, lalu dengan cepat Amoora mengambil balok kayu yang tidak jauh dari tempat dia berdiri.
Dengan sekuat tenaga Amoora mencoba melawan dua laki-laki itu, sementara gadis yang akan di lecehkan itu mencoba menghubungi seseorang secara diam-diam.
Gadis itu memgambil ponsel yang ada ditasnya yang tergeletak tidak jauh darinya. Dia mengirimkan lokasi dimana dia berada, dan mengirim pesan S.O.S pada seseorang.
Setelah itu dia memasukkan lagi ponslenya.
'braaaaaakk!'
Amoora terlempar tepat didepan gadis itu. Gadis itu terkejut melihat Amoora tak berdaya didepannya, gadis itu dengan takut menarik tangan Amoora dan memeluknya.
Wajah dan tubuh Amoora penuh memar, bahkan disudut bibirnya terdapat darah yang masih segar.
"Kenapa kau kesini, kau tidak mengenalku. Kau mencari mati nona."Ucap gadis itu pada Amoora.
"Jangan takut, aku akan melindungimu. Aku yakin akan ada orang yang menolong kita."
Gadis itu tidak tahu kenapa Amoora berkata seperti itu padanya, mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi hari ini dengan beraninya dia rela di pukuli hanya untuk menyelamatkan dirinya dari para laki-laki b*jingan itu.
Gadis itu mempererat pelukannya pada tubuh Amoora yang sudah lemah, dia menatap 4 laki-laki yang ada didepannya dengan takut. Air matanya mengalir, dia tidak ingin mereka menyakitinya dan juga menyakiti orang yang sudah melindunginya.
"Hahaha lihatlah sudah tidak ada lagi orang yang melindungi mu, bahkan kakakmu saja tidak akan bisa menemukanmu. Jadi lebih baik kau menyerah dan patuh dengan kami."Ucap laki-laki dengan tato di tangan kirinya.
"Kalian benar-benar br*ngsek!"
"Hahaha salahkan takdir mu yang menjadi adik dari Lexi! Jika kakakmu tidak membuat masalah dengan bos kami, kau juga tidak akan berakhir dibawah tubuh kami nanti."
Suara gelak tawa para laki-laki itu memenuhi gang yang cukup dalam itu.
Air mata gadis itu terus mengalir, dia sungguh ketakutan dan berharap kakaknya segera datang dan menyelamatkan dia juga wanita yang ada dalam pelukannya.
"Ayo jangan buang-buang waktu, kita selesaikan semuanya."
Mereka berjalan mendekati gadis itu dan Amoora dengan tatapan lapar, sebagian tubuh gadis itu telah terekspos dan membuat mereka semakin tidak tahan.
'praaaaang'
Suara botol pecah membuat langkah mereka terhenti, Amoora yang masih ingin melindungi gadis itu melemparkan botol kaca kosong pada mereka.
"Cih, kau sudah tidak berdaya tapi masih ingin menghalangi kami. Benar-benar cari mati."
Langkah lebar salah seorang dari mereka mendekati Amoora, dia menarik leher Amoora dari pelukan gadis itu.
Amoora menggenggam lengan lelaki itu dengan erat, lehernya terasa begitu sakit karena laki-laki itu mencekiknya sangat kuat.
'Braaaaak!'
"Oh, jadi kalian yang sudah bosan hidup di dunia ini?"
Suara beberapa langkah kaki mendekat kearah mereka, laki-laki yang tadi mencekik leher Amoora melepaskan cekikannya lalu berjaln mendekati teman-temannya.
__ADS_1
Langkah kaki semakin lama semakin dekat, mata gadis itu berbinar setelah tahu jika orang baru saja datang adalah kakaknya dan tiga orang anak buahnya.
"Kakak."Ucap gadis itu dengan lemah.
"Oh tuan Lexi, cepat juga kau sampai. Sayangnya kami belum mencicipi adik tersayang mu."
"Ya sayang sekali para b*jingan seperti kalian akan berakhir hari ini."
"B*ngsat, kau pikir siapa kau!"
"Kalian bereskan mereka dengan cepat."Ucap Lexi pada ketiga anak buahnya.
Para laki-laki itu dan tiga anak buah Lexi pun tidak bisa menghindari baku hantam didalam gang itu.
Lexi dengan cemas berjalan mendekati adiknya, dia membuka jaket lalu memakaikannya pada gadis itu.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku... Aku tidak apa-apa kakak. Tapi.... Tapi wanita itu.."
Lexi menoleh dan melihat Amoora yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"Jangan khawatir, kita akan membawanya ke rumah sakit."
"Iya, aku mohon selamatkan dia. Dia sudah menolongku dari mereka."
"Iya, aku akan melakukan semuanya untuk menyelamatkan wanita itu."Lexi memeluk tubuh adiknya yang masig gemetar.
10 menit kemudian keempat laki-laki itu sudah tidak lagi bernyawa ditangan anak buah Lexi.
"Lempar para b*jingan itu ke markas mereka."
"Baik bos."
Mereka memindahkan empat laki-laki itu kedalam mobil, dan membiarkan dua anak buahnya melemparkan 4 mayat itu ke markas mereka.
Salah satu anak buah Lexi nembantu Lexi membawa Amoora kerumah sakit.
Dengan cepat Amoora dilarikan keruang UGD setelah mereka sampai di rumah sakit.
Sementara gadis itu dibawa keruangan lain untuk menerima pemeriksaan dari dokter keluarga Lexi.
"Tuan tenang saja, tidak ada luka yang membahayakan. Untung saja nona muda diselamatkan tepat waktu, jika tidak...."
"Terima kasih dokter. Dan tolong selamatkan orang yang sekarang berada di ruang UGD. Dia adalah orang yang sudah menyelamatkan adik saya."
"Tentu, sebagai dokter keluarga kalian. Saya akan melakukan yang terbaik."
Dokter itu lalu keluar dari ruangan untuk memeriksa Amoora didalam ruang UGD.
2 jam kemudian Amoora dibawa keluar dari ruang UGD. Tubuhnya penuh dengan perban, dan lehernya harus memakai penyangga karena ada sedikit gagar otak pada kepalanya.
Gadis itu dan Lexi masuk keruang rawat Amoora, setelah Amoora di pindahkan ke ruang rawat.
Gadis itu melihat Amoora dengan mata berkaca-kaca. Selama ini selain keluarga dan satu teman baiknya, tidak ada orang lain lagi yang peduli dengannya. Tapi wanita yang tengah terbaring lemah itu justru rela mati demi menyelamatkannya.
"Kakak, apakah dia akan baik-baik saja?"
"Iya kakak yakin dia akan baik-baik saja."
Lexi mencoba menenangkan adiknya.
"Dia adalah wanita yang baik, aku tidak ingin dia mati karena ku."
"Itu tidak akan pernah terjadi."
Gadis itu mengangguk, dia masih menatap wajah Amoora yang pucat diatas ranjang.
***
Esok harinya Amoora mengerjapkan matanya, jari tangannya bergerak secara perlahan.
"Aku...Aku dimana?"Gumam Amoora.
Amoora melihat sekeliling dengan pelan, kepalanya masih terasa begitu pusing dan tubuhnya sangat sakit.
'ceklek'
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, Amoora melihat seorang pria berjalan kearahnya.
"Kau sudah siuman, bagaimana keadaan mu? Apa ada yang sakit?"Tanya pria asing yang ada didepan Amoora.
"Siapa kamu?"
"Ah maaf aku lupa memperkenal diri. Nama ku adalah Lexi Alexander, aku kakak laki-laki dari perempuan yang kamu tolong kemarin disebuah gang."
Mata Amoora terkesiap saat mendengar gadis itu.
"Dimana dia? Apakah dia baik-baik saja?"Tanya Amoora dengan nada cemas.
Lexi tertegun sejenak, dalam keadaan seperti ini wanita yang ada didepannya masih merasa khawatir dan menanyakan tentang keadaan adiknya.
"Dia baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menolong adikku."Ucap Lexi dengan senyum tulusnya.
"Tidak apa-apa, aku juga akan melakukan hal sama jika itu terjadi pada orang lain."
"Kau memang orang yang baik nona. Oh iya nona, kau tidak sadarkan diri sejak kemarin, saya khawatir keluargamu akan cemas mencarimu."
Amoora tersenyum getir mendengar perkataan Lexi.
"Mereka tidak akan cemas, bahkan mereka akan merasa senang jika aku tidak kembali."
Lexi terkejut, diusia yang masih terbilang muda. Wanita didepannya sudah mempunyai kehidupan yang cukup menyedihkan didalam rumahnya.
"Itu tidak benar, mereka pasti mengkhawatirkan mu. Ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Aku Amoora Steve."
"Kau... Putri dari keluarga Steve?"
"Benar."
"Tapi aku tidak pernah melihat mu sebelumnya."
"Tentu, karena keberadaan ku tidak pernah dianggap oleh mereka, aku adalah putri dari istri pertama Imanuel Steve. Tapi dia tidak pernah memandangku disana setelah ibuku tidak ada. Hah, bahkan dia membawa wanita simpanan dan kedua anaknya kerumah beberapa hari setelah ibuku meninggal."
Kini Lexi tahu kenapa Amoora mengatakan jika keluarganya tidak akan pernah mengkhawatirkan dirinya.
"Tidak apa-apa, kau masih mempunyai aku dan keluargaku."
Amoora menatap Lexi penuh tanya, dia tidak mengerti maksud dari perkataan Lexi.
"Aku berhutang budi padamu. Bukan hanya aku, tapi juga keluargaku. Karena kau, adikku selamat dari orang-orang yang ingin melecehkan dan membuat nama baik keluargaku hancur."
Amoora hanya bisa menatap Lexi, sudah sangat lama dia tidak mendengar perkataan yang tulus dari orang lain selain teman-teman baiknya.
Satu minggu kemudian Amoora keluar dari rumah sakit, dokter mengijinkannya keluar tapi dia masih harus melakukan pemeriksaan satu minggu sekali.
(Skip ya, supaya tidak terlalu panjang)
Setelah Amoora benar-benar pulih, keluarga Lexi mengundang Amoora kerumah mereka untuk berterima kasih secara langsung pada Amoora.
Amoora akhirnya mengetahui nama gadis yang dia tolong, namanya adalah Alice Alexander, dia masih sekolah. Karena kakaknya yang menjadi ketua mafia, dia hampir mendapatkan pelecehan itu.
Satu tahun setelahnya ayah Lexi meninggal, dan hanya Lexi satu-satunya keluarga yang Alice miliki sekarang.
Karena Lexi tidak begitu tenang pada Alice, maka Lexi memasukkan Alice ke sekolah yang mempunyai asrama khusus dan hanya akan pulang kerumah saat liburan sekolah tiba.
(Disini ibu Lexi meninggal saat Alice berusia 4 tahun. Ayah Lexi adalah pemilik kasino terbesar di negara Z, dan mempunyai koneksi bagus dengan dunia bawah. Karena itu dia tidak keberatan Lexi menjadi bos mafia)
Amoora yang setiap hari mendapat perlakuan tidak adil dari kelurganya mengikuti Lexi ke markas besar milik Lexi.
Disana Amoora sempat dibuat terkejut dan takut karena bukan hanya anak buah Lexi yang begitu banyak dan berbadan besar, tapi disana juga terdapat banyak senjata api.
Setiap dua minggu sekali Lexi membawa Amoora ke markasnya, dan lama kelamaan Amoora menjadi terbiasa.
Suatu hari Amoora yang telah di khianati oleh kekasihnya pulang kerumah, dan belum sempat dia masuk kedalam kamarnya. Ayah Amoora, Imanuel memanggilnya.
Didalam ruang kerja Imanuel, Amoora mendapatkan pukulan keras dari ayahnya. Imanuel merasa jika Amoora tidak berguna karena sudah membuat keluarga dari kekasihnya kecewa dan membatalkan kontrak kerjasama dengan perusahaannya.
Sehari setelahnya, Amoora datang pada Lexi dan meminta Lexi untuk mengajarinya bagaimana cara bertarung, cara menembak dan cara menggunakan geranat.
Lexi sempat terkejut dan menolak, tapi Amoora memohon padanya. Amoora ingin menjadi lebih kuat agar bisa menghadapi keluarganya yang sangat membenci dan ingin menyingkirkannya.
Selama 6 bulan Lexi mengajari Amoora, sampai akhirnya Amoora yang memang cerdas bisa menggunakan senjata api, bertarung dan menggunakan geranat dengan baik.
__ADS_1
Dan satu setengah tahun kemudian, dengan tekat yang bulat Amoora membuat kelompok mafianya sendiri, dibantu oleh Lexi dan anak buahnya membimbing dan melatih anak buah yang Amoora bawa.