
Pagi hari, Naura terbangun dari mimpi panjangnya, perempuan yang sudah tidak gadis itu merasa aneh saat melihat keadaan sekeliling nya. "Gue dimana?"
Naura menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, Naura langsung berdiri. "Awww," perempuan itu merasakan sakit di pangkal paha nya, dan badannya sungguh terasa remuk.
Perempuan itu kembali mengingat mimpinya semalam, matanya langsung membulat sempurna. Tapi melihat keadaan nya yang masih memakai baju yang dia kenakan semalam, Naura bener-bener yakin, kalau semalam tidak terjadi hal terlarang, dan itu hanya sebuah mimpi.
Lalu, kenapa dirinya bisa berada di tempat ini, Naura terus memutar otaknya, mengingat apa saja yang di lakukannya semalam. "Kemana Nia dan Andin?" Mengingat kedua sahabatnya, Naura langsung mencari ponsel nya, bermaksud menghubungi sahabat nya itu.
Naura menghela napas, ternyata tas selempangnya ada di atas nakas, di samping ranjang yang dia duduki. Dengan cepat, Naura mengambil ponsel nya, dilihatnya ada pesan yang masuk.
Nia : Elo dimana, Ra? Andin mabuk parah banget ini, gue harus cepat bawa dia pulang. Gapapa kan, lo pulang sendiri? sorry ya gue tinggal.
Naura teringat, sebelum kesadarannya hilang, Naura memang melihat kondisi Andin yang udah parah, dan entah apa yang ada di pikiran sahabatnya itu, sepertinya Andin juga sedang punya masalah.
Naura yang sudah membaca pesan dari sahabatnya, tanpa membalas pesan itu, dia memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
Sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing, Naura melangkah dengan sangat pelan, Pangkal pahanya bener-bener terasa sakit dan sedikit perih, tapi Naura terus melangkah, tujuannya dia ingin ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Naura membesarkan bola matanya, saat melihat bagian dada, juga tangan nya, penuh dengan tanda merah, "kenapa badan gue pada merah kaya gini, apa ini pengaruh dari minuman yang gue minum semalam? apa mungkin, gue alergi sama minuman kaya gitu ya?" gumam Naura dalam hati.
__ADS_1
Naura hanya mengedikan bahu, dia harus segera meninggalkan tempat ini. Naura keluar dari kamar mandi, di ambilnya tas selempangnya. Dengan langkah yang sedikit pelan, sambil menahan rasa sakit di pangkal paha nya, Naura keluar dari kamar besar yang sangat mewah itu.
Dirinya masih saja bingung, kenapa dia bisa berada di situ, terlebih, saat dia keluar tadi, ternyata pintunya tidak di kunci.
Naura terus berjalan menyusuri lorong. Langkahnya terhenti, setelah menemukan lift di depannya. Dengan cepat, Naura menekan tombol lift.
Setelah lift itu berhenti dan pintunya terbuka, Naura langsung keluar, pandangannya melihat ke seluruh bagian ruangan. "Ini kan lobi, hotel yang semalam di pakai pesta."
Naura mengerutkan keningnya, "jadi semalam, gue bukannya pulang ke kontrakan sempit gue, tapi malah masuk ke kamar mewah pasilitas VIP." Dirinya masih saja bingung.
"Lalu, kenapa gue bisa masuk ke kamar semewah itu, gue kan gak punya akses." Tanpa memperdulikan pikirannya yang masih di penuhi berbagai pertanyaan, Naura segera mengambil ponselnya, membuka sebuah aplikasi, untuk memesan taxi.
***
Naura mendudukan dirinya di atas kasur, badan nya sangat lengket, hendak membuka pakaian yang dia kena kan, tapi suara getaran ponsel menghentikan niatnya.
Naura membuka ponselnya, dilihatnya satu pesan masuk dari ibu nya.
Ibu : Ra, makasih ya, Ibu sudah mengambil uang yang kamu kirim, kenapa jumlahnya besar banget, itu melebihi yang Ibu butuhkan. Kamu pasti sudah susah payah ya, mencari uang itu, demi ibu. Maafin Ibu ya, sudah menyusahkan kamu.
__ADS_1
Pesan dari ibunya itu semakin membuat kepala Naura pusing, bagaimana tidak, ibunya mengatakan bahwa dirinya sudah mentransfer uang, sedangkan, Naura sendiri tidak pernah mengirimnya, boro-boro bisa mengirim uang untuk ibu, untuk membayar kontrakan saja, Naura masih bingung. "Apa mungkin ada orang yang salah mentransfer uang? atau mungkin itu rejeki tak terduga dari Allah."
Semua yang terjadi bener-bener membuat kepala Naura semakin pusing, "sudahlah yang terpenting sekarang Ibu sudah mendapatkan uang, biar nanti gue cari tau, dari mana sebenarnya uang yang masuk ke rekening Ibu."
Naura segera melangkah ke kamar mandi, sudah tidak bisa di tunda lagi, badannya bener-bener sangat lengket.
Naura membuka semua pakaiannya, dengan mata yang membulat sempurna, Naura menjerit, "aakkkhhh." Ternyata bukan cuma di bagian dada saja yang terdapat tanda merah, tapi, di bagian perut bahkan paha. Naura juga kaget, saat melihat di bagian celana dalamnya terdapat darah.
Naura mengernyit, merasa belum waktunya datang bulan, tapi kenapa bisa ada darah? balik lagi, naura hanya berpikir semua itu karena dirinya terlalu capek, dan efek dari minuman aneh itu
"Pokok nya gue janji, gak akan pernah nyentuh minuman kaya gitu lagi." Sambil terus menggerutu, Naura mengguyur seluruh tubuhnya.
***
Di tempat yang berbeda, seorang lelaki terus saja menggerutu. "Si4l, gara-gara bokap, rencana yang udah gue susun, gagal total," Aldi terus menggerutu saat mengingat kejadian semalam, saat dirinya berhasil membuka kunci kamar, hendak masuk ke dalam kamar itu, namun, langkahnya terhenti karena ponselnya terus berdering.
Awalnya, Aldi hanya membiarkan saja, tapi papanya itu mengirim satu pesan yang isinya mengancam Aldi. Sehingga dengan terpaksa Aldi menemui papanya, dan meninggalkan rencana terakhirnya yang sudah di depan mata.
Bersambung...
__ADS_1