Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
54


__ADS_3

Arya melempar photo itu ke arah tempat sampah yang ada di ruangannya.


Ting, tong, ting, tong..


seorang pelayan di rumah Arya sedikit berlari ke arah pintu, setelah pintu terbuka, terlihat seorang pria paruh baya berdiri, dengan senyum yang tertuju pada wanita di hadapannya.


"Apakah betul, ini rumah Aldi?"


"Iya betul, Tuan mau ketemu sama Den Aldi?" setelah mendapat anggukan dari pria di hadapannya, wanita yang bekerja sebagai pembantu di rumah Arya itu membuka pintu dengan lebar, "silahkan masuk Tuan."


Rainald berjalan, mengikuti langkah wanita di depannya, langkahnya terhenti, saat melihat pelayan itu berdiri di samping sosok lelaki, yang sedang memunggunginya, "maaf Den, ada orang yang ingin bertemu dengan Den Aldi."


"Aldi melirik pelayannya, kemudian mengalihkan pandangannya pada orang yang di maksud, "oh, Om ayahnya Naura ya?"


Rainald tersenyum, mengangguk sebagai jawaban. Setelah di persilahkan duduk, dirinya mendudukan tubuhnya di atas sofa yang berada di hadapan Aldi.


Rainald menatap Aldi dengan sorot mata bersalah, entah kenapa tiba-tiba ada perasaan yang aneh pada hatinya, perasaan yang sama seperti saat dirinya sedang bersama Naura.


Setelah beberapa saat terjadi keheningan diantara keduanya, Rainald berdehem, untuk mengusir kecanggungan pada dirinya, walau bagaimanapun dirinya belum mengenal sosok Aldi sebelumnya, "bagaimana keadaan kamu sekarang? maaf ya, saya baru bisa nengok kamu sekarang, maaf juga, gara-gara nolongin saya, kamu jadi harus ngalamin semua ini."


Semakin lama Rainald memperhatikan Aldi, dirinya semakin merasa banyak kesamaan fisik antara Aldi dengan dirinya.


"Saya sudah sembuh kok. Om gak usah merasa bersalah seperti itu, ini sudah takdir Om. Justru saya yang mau ngucapin terimakasih, karena Om sudah rela mendonorkan darah untuk saya."


Setelah keduanya saling mengucap kata maaf, dan saling berterima kasih, kecanggungan keduanya jadi mencair, dengan cepat keduanya sudah terlihat sangat akrab.


Pelayan wanita melangkah dari arah dapur, dengan nampan yang berisi gelas minuman yang berada di tangannya.


Arya yang sedang menuruni anak tangga, melirik sekilas ke arah ruang tamu, keningnya mengerut saat melihat sosok pria yang tidak terlihat wajahnya, karena posisinya yang membelakangi arahnya.


Arya yang berpapasan dengan Jenab, menanyakan siapa tamu yang datang, namun pelayannya itu hanya menjawab 'tidak tau Tuan, katanya mau bertemu sama Den Aldi.'


Arya melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, dirinya merasa penasaran dengan tamu anaknya.


"Rainald?" tubuh Arya menegang, saat dirinya mengetahui siapa tamu anaknya itu.

__ADS_1


Saat namanya disebut, Rainald mengangkat kepalanya, wajahnya berubah datar, saat bertatapan dengan pria yang pernah ada di masa lalunya, pria yang sudah membuat kekasihnya pergi meninggalkannya, demi sosok Arya.


Rainald berdiri menghadap Arya, sebisa mungkin dirinya bersikap biasa saja, "Pak Arya, apakabar?"


Arya mengangkat tangannya, membalas jabatan tangan Rainald, "saya baik, ada perlu apa ya, Anda kesini?"


Rainald tersenyum ramah, membalas tatapan Arya yang terlihat datar, "saya cuma mau melihat keadaan orang yang sudah menolong saya, dari kejahatan Kakak Anda," Rainald menyunggingkan senyumannya, saat melihat tatapan bersalah dari mata pria yang ada di hadapannya.


Tubuh Arya mematung, mengingat bahwa gara-gara kakaknya dirinya hampir kehilangan Aldi, meskipun Arya tau, anak buah Andre tidak sengaja melakukannya.


Rainald tersenyum saat melihat raut wajah Arya, seolah teringat kembali dengan masa lalunya, Rainald memperdekat jaraknya dengan Arya, "oh iya, saya baru mendengar tentang kabar pernikahan Anda dengan Dina, yang ternyata tidak berlangsung lama, sayang sekali ya, padahal kalian sangat serasi waktu itu," Rainald tersenyum sinis, saat menyebutkan nama perempuan yang pernah ada di hatinya.


Aldi yang melihat wajah tegang dari kedua pria yang ada di dekatnya, berdehem "Pah, sambil duduk saja ngobrolnya. Om Rainald, silahkan di minum dulu air nya."


Rainald tersenyum melirik Aldi, "Terimakasih, Aldi. Tapi sepertinya saya mau langsung pulang saja," Rainald memperdekat jaraknya dengan Aldi, "semoga luka kamu cepat pulih ya," Rainald nenepuk pelan pundak Aldi, "jaga diri kamu baik-baik ya, Om pamit."


Aldi yang mendapat perlakuan seperti itu, tubuhnya menegang, jantungnya tiba-tiba berdetak tidak seperti biasanya, seolah baru tersadar, Aldi yang melihat Raindald sudah melangkah menuju pintu keluar, berjalan menghampiri Rainald, "Om!"


Rainald menghentikan langkahnya, menoleh pada suara lelaki yang memanggilnya, "iya, kenapa nak?" tanpa sadar, Rainald menyebut kata 'nak' pada lelaki yang ada di hadapannya.


"Sama-sama, lain kali kalau ada waktu luang, kita ngobrol-ngobrol sambil ngopi bareng, ya?" Rainald tersenyum dengan jawaban Aldi yang mengatakan 'iya,' dirinya langsung melangkah, keluar dari rumah besar milik Arya.


Aldi membalas lambaian tangan Rainald, dirinya langsung melangkah menghampiri Arya yang masih berdiri menatapnya.


"Pah, Aldi mau tanya sesuatu sama Papah" Aldi mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di samping tubuh Arya. Kepalanya mendongak, menatap wajah papanya, "kok Papa bisa kenal sama Om Rainald?, terus tadi aku juga denger dia nyebut nama Mama. Apa jangan-jangan, Om Rainald juga tau dimana mama sekarang?"


Arya melirik sekilas ke arah Aldi, "Papa lagi sibuk! gak ada waktu buat jawab pertanyaan kamu, yang gak penting."


****


Vino baru saja sampai di kantor, sebenarnya Vino tidak tega, meninggalkan Anita yang sedang terpuruk. Namun Riko terus saja menghubunginya, mengatakan ada hal penting yang harus di kerjakan oleh Vino.


"Halah, tinggal tanda tangan aja, lo sampe bilang hal penting, lo kan udah biasa pakai tandatangan gue!" Vino melempar map yang sudah di tandatanganinya, ke arah Riko.


Riko mendelik kesal, tangannya langsung mengambil map itu, "bukan masalah tandatangannya beg*! tapi soal isi surat perjanjiannya, gue gak mau gegabah kalau tanpa ijin dari elo."

__ADS_1


Vino berjalan ke arah jendela, "elo kan udah tau, kalau tender besar kayak gitu, lo langsung setuju aja, yang penting elo udah yakin dan kenal sama tuh klien."


Riko tersenyum saat mengingat klien yang tadi bertemu dengannya, lebih tepatnya, putri dari kliennya "ya jelas lah gue kenal, orang dia bokapnya perempuan yang gu," seolah menyadari ucapannya yang baru saja terlontar begitu mulus, Riko langsung merutuki kebodohannya, "sia*!"


Vino langsung membalikan tubuhnya, "apa tadi, lo ngomong apa?" Vino sangat penasaran, dengan perkataan sahabatnya, "yang tadi lo mau ceritain siapa? jangan-jangan di belakang gue lo udah punya gebetan baru nih, kasih tau dong," Vino menaik turunkan alisnya.


Riko bergidik ngeri melihat Vino, dia memang jarang menceritakan hal yang berhubungan dengan masalah pribadinya. Sekalinya Riko keceplosan, dirinya tidak menyangka dengan respon yang di berikan sahabatnya itu.


"Ah ngapain sih lo, kepo banget kayak Dora! gak usah tau urusan orang, urusan lo aja udah banyak banget." Riko nyengir, dengan takut dirinya langsung berlari ke arah pintu, dirinya sudah dapat menebak dengan apa yang akan di lakukan atasan sekaligus sahabatnya itu.


Vino yang geram dengan jawaban Riko, langsung menyorot tajam ke arah sahabatnya, "kurang ajar! elo tuh monye* nya!"


-


-


-


-


-


**Ihh... Vino kepo dehπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Kemarin aku kan minta Vote nya seikhlasnya ya??πŸ˜„


Nah, sekarang mah aku mintanya yang banyak dong, boleh kan😁😁


Nyang bingung buat dapatkan point. Kalian klik tulisan POINTKU yang ada di tampilan beranda, trus klik tulisan yang warna biru.


Lalu, klik judul Tiba-tiba Hamil, klik VOTE, terus aja di klik sampe banyak, heheeeπŸ™πŸ€—


Like, koment juga ya, jan lupa😁


Terima kasih

__ADS_1


Salam... Semangat**


__ADS_2