Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
50


__ADS_3

Kalau ada typo, kasih tau ya. Hehehe


Happy reading gaes!!


-


-


-


Mata Naura berbinar, "kalau begitu, ambil saja darah aku, Mam, kebetulan golongan darahnya sama."


Anita menyentuh pundak menantunya, "kamu lagi hamil sayang, jadi gak bisa donor darah."


"Kalau begitu, biar saya saja yang menjadi pendonornya."


Semua orang mengalihkan perhatiannya pada sosok pria yang baru saja berdiri di hadapan mereka.


"Ayah." Rainald tersenyum pada putrinya, "kebetulan golongan darah Ayah sama," katanya.


Tatapan Naura terlihat sendu saat menatap ayahnya, "tapi, bagaimana dengan kondisi ayah?"


Rainald mengusap kepala Naura, "Ayah sudah sehat, lagipula ini waktu yang tepat, untuk Ayah membalas semua pengorbanan yang sudah lelaki itu lakukan pada Ayah."


Arya yang sedang duduk, mendongakan kepalanya, menatap sosok pria yang akan mendonorkan darahnya. Arya masih dapat mengingat, siapa pria itu.


Rainald berjalan, setelah tersenyum pada Naura, dirinya juga sempat mengatakan akan baik-baik saja. Dengan cepat dirinya mengikuti langkah suster yang akan mengambil darahnya.


Setelah dokter mendapatkan 1 kantung labu dari Rainald, operasi untuk pengangkatan peluru dari tubuh Aldi langsung di lakukan.


Rainald memaksakan dirinya untuk terus mendonorkan darahnya, dan sekarang tubuhnya berbaring di atas ranjang rumah sakit, karena lemas. Naura tanpa lengah, terus menjaga ayahnya.


Melihat kekhawatiran yang terpancar dari sorot mata sang anak, Rainald mendongakan wajahnya, "Ayah enggak apa-apa kok, kamu tidak usah khawatir." Rainald tersenyum, menyentuh punggung tangan Naura yang berada di atas pergelangan tangannya.


Suara pintu terbuka mengalihkan tatapan keduanya. "Vino, gimana? kamu sudah tau siapa orang-orang yang tadi datang kerumah ayah?" tanya Naura penasaran.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, dengan wajah sendu, tatapan Vino beralih pada sosok pria yang sedang menatapnya datar.


"Suami kamu pasti sudah mengetahui siapa dalang dibalik itu semua" potong Rainald dengan cepat.

__ADS_1


Vino mengangkat wajahnya, ada rasa bersalah sekaligus kesedihan yang terpancar dari sorot matanya, "saya sudah melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib, dan papa saya sudah di tangkap karena perbuatannya."


Rainald sempat tertegun, mendengar penuturan menantunya, namun tatapan datarnya kembali dia tujukan pada lelaki itu, "yakin kamu? berani ngelakuin itu sama papa kamu sendiri!"


Vino mengangguk, dengan langkah pelan, dirinya mendekatkan tubuhnya pada sang papa mertua, "saya sungguh meminta maaf, atas semua yang sudah papa saya lakukan selama ini sama Ayah."


Rainald dapat melihat ketulusan dari sorot mata itu, "saya tidak butuh kata maaf dari kamu!"


Naura mendongak, menatap sang ayah yang menolak permintaan maaf dari suaminya, "kenapa, Ayah?" Naura berucap lirih.


Vino yang sudah pasrah hanya menunduk. Dirinya sudah tau tentang semua kesalahan yang di lakukan papanya.


Rainald menatap Naura,"Ayah tidak menerima maaf dari suami kamu. Karena yang salah bukan dia, tapi papahnya!"


Rainald menghela napasnya, "tapi ayah juga belum sepenuhnya ikhlas menerima kenyataan kalau yang menjadi suami kamu itu dia," Rainald beralih menatap wajah Vino yang masih menunduk, "hati ayah gak ikhlas, kalau ternyata kamu menikah dengan lelaki yang ternyata anak dari seorang perampok, yang baru saja hampir membunuh Ayah."


****


Anita sudah menyelesaikan tugasnya, wanita itu keluar dengan wajah yang terlihat lelah.


Vino yang baru keluar dari ruangan Rainald, langsung menghampiri mamanya, disusul dengan Arya yang dari tadi menunggu kabar tentang putranya, "bagaimana keadaan Aldi?" tanya Arya dan Vino barengan.


Anita melangkah pergi, menuju ruangannya. Dengan cepat, Vino mengikuti langkah mamanya.


Setelah sampai di ruangan Anita, dengan posisi yang masih berdiri, Vino mengatakan kejadian yang menimpa Aldi itu karena ulah papanya. Anita yang sedang membuka perlengkapan operasi langsung shock, badannga mendadak lemas, saat Vino mengatakan papanya sudah berada di kantor polisi.


Anita membekap mulutnya tidak percaya. Dirinya memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, jadi tidak terlalu banyak mengetahui tentang kegiatan suaminya di luar.


Vino langsung memeluk tubuh Anita, "maafin Vino Mam, maaf karena sudah membongkar kejahatan Papa," tanpa Vino sadari, air matanya menetes.


Anita mengusap punggung Vino, "yang kamu lakukan sudah benar, memang sudah seharusnya papa kamu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi walau bagaimanpun dia tetap papah kamu, Mama minta, kamu jangan membencinya."


Vino mengangguk, semakin mempererat pelukannya, "Vino benar-benar gak nyangka, papah bisa melakukan semua itu."


Tangan Anita terangkat untuk mengusap air mata yang lolos membasahi pipinya, "dari dulu, papah kamu memang selalu berambisi untuk mendapatkan keinginannya. Tapi mama gak pernah menyangka, kalau tindakannya bisa sejauh itu."


Berita mengenai kejadian yang menimpa Aldi, juga mengenai tertangkapnya Andre sudah tersebar di berbagai situs online dan surat kabar. Para wartawan sudah berkumpul di halaman rumah sakit, untuk mendapatkan informasi pentingnya.


"Tambahkan penjagaan yang lebih ketat, jangan sampai ada wartawan yang bisa masuk kesini" Perintah Vino tegas, pada beberapa orang yang berbaju hitam dan bertubuh besar.

__ADS_1


****


Vino dan Naura sudah berada di rumahnya, dengan menggunakan jalan rahasia di bagian belakang rumah sakit, keduanya berhasil keluar.


Keduanya mendudukan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga. "Ra, setelah kejadian tadi, kamu gak akan ninggalin aku kan?" mata sendu Vino menatap wajah Naura.


Naura tersenyum, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang milik suaminya, "setelah aku gak perawa* dan sekarang hamil anak kamu, mana mungkin aku ninggalin kamu."


Wajah polos Naura menatap manik hitam milik Vino, "maaf, aku gak sebodoh itu! nanti malah keenakan kamunya dong, bisa cari gadis yang lebih muda." Naura melipat tangannya di atas dada, pipinya terlihat mengembung, dengan bibir yang mengerucut, membuat Vino sangat gemas untuk mencubitnya.


"Awww," Naura meringis saat Vino menyentil keningnya, meskipun tidak sakit, namun Naura terus mengusap di bagian keningnya itu.


Vino tersenyum menatap wajah Naura, yang semakin hari malah semakin terlihat cantik, bagian tubuhnya juga semakin terlihat berisi di bagian-bagian tertentu, "mana mungkin aku berani berpaling pada yang lain, kalau yang ini aja selalu membuat aku kewalahan." Vino menyentuh hidung Naura, lalu mengedipkan sebelah matanya, membuat perempuan itu memberikan tatapan curiga kepadanya.


Vino mulai mencondongkan tubuhnya. Dengan cepat, Naura yang sudah bisa menebak dengan tindakan yang akan di lakukan suaminya itu, langsung mendorong tubuh suaminya, "aku lapar," Naura berdiri, melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Vino mendengus kesal, tapi senyumnya terbit saat melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan.


Dengan sedikit berlari, Vino mengejar tubuh istrinya, "loh kok kamu malah diam, katanya lapar?" kening Vino mengkerut saat melihat Naura hanya menatap masakan di atas meja itu dengan tatapan tanpa minat.


Dengan wajah datar Naura menggelengkan kepalanya, "tadi aku lihat gosip yang lagi viral, tentang pasangan yang baru nikah, eh masa istrinya gak bisa masak indomie."


Vino tersenyum, dengan cepat menarik pergelangan tangan istrinya, "memang cuma aku yang paling beruntung, dapetin istri kayak kamu, udah cantik, pinter masak lagi." Vino mencium punggung tangan istrinya.


Mendengar gombalan receh dari suaminya, Naura dengan malas merotasikan matanya, "iya, tapi sekarang aku jadi pengen makan indomie, kamu buatin ya, aku penasaran kamu bisa gak buatnya?"


-


-


-


-


-


**Otewe ending nih kayaknya😄, tapi boleh dong aku minta pointnya yang banyak, buat kenang-kenangan😁


Terima Kasih

__ADS_1


Salam... Semangat**!!!


__ADS_2