Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
8


__ADS_3

Maaf, kalau masih banyak typo yang bertebaran.


-


-


-


Naura berdiri di halte bus, sesekali mengecek jam di tangan nya, yang sudah menunjukan pukul sembilan malam.


Flashback on


Tadi, sewaktu jam kerja selesai, saat Naura mulai membereskan barang-barangnya. Tiba-tiba Sandra memberikan setumpuk pekerjaan. "Hari ini kamu lembur." Perintah nya yang tidak santai.


Padahal, jelas-jelas itu kerjaan yang seharusnya di kerjakan Sandra. Tapi malah di limpahkan ke Naura. Mengingat jabatan nya yang berada di bawah Sandra, Naura hanya pasrah sambil mulai memeriksa kertas demi kertas, yang menampilkan, tanggal, keterangan, dan nominal angka yang berjejer.


Entah kenapa, Sandra yang usia nya sudah 30 tahun itu, yang selalu berpenampilan seksi dan menor, selalu saja memerintah Naura sesuka nya. Dari awal Naura masuk kerja, Sandra sudah terlihat tidak menyukai Naura, entah apa penyebab nya.


Kalau kata Nia sih "mungkin, karena kamu jauh lebih cantik, Ra. Lebih banyak di lirik cowok, apalagi setelah gosip beredar tentang elo yang di taksir Pak Aldi, makin jadi aja kan, sikap sombongnya tuh orang? kamu tau gak, Ra? si Mak lampir itu belum laku loh, makanya kaya gitu deh kelakuan nya kalau sama orang yang dia rasa lebih dari dirinya, hahahaha."


Memang, hanya sama Naura saja, sikap Sandra yang suka seenaknya, Naura jadi teringat sama sahabat nya itu. Tadi, Nia sudah pulang duluan, karena Bunda nya meminta di jemput ke butik, hingga tinggal lah Naura seorang diri di ruangan nya.

__ADS_1


Flashback off


***


Sudah hampir satu jam Naura menunggu, tapi belum juga ada bus yang lewat, nyesel, tau gini, mungkin dari tadi dia pesan ojek online saja.


Saat Naura mengambil handphone nya, dan mulai mengklik sebuah aplikasi. Tiba-tiba bunyi klakson mobil menghentikan jempol tangan nya.


"Mbaknya, pesen Grab ya?" Naura yang merasa tidak asing dengan suara cowok itu mendongak, terlihat kaca mobil yang terbuka, menampilkan cowok yang sedang tersenyum dan memegang gagang stir.


Naura terkekeh, sikap konyol Dimas selalu membuat nya tersenyum. "Kenapa diam aja, ayok masuk," tanpa menunggu lama lagi, Naura membuka pintu mobil dan duduk di samping kemudi, "kamu dari mana, Dim?"


Sambil melajukan mobilnya, Dimas melirik Naura "dari rumah temen. Kamu sendiri, ngapain, Ra? kok jam segini masih belum pulang."


Setelah lampu yang terlihat berubah berwarna hijau, Dimas melajukan mobilnya kembali. "Oh iya Ra, soal kejadian tadi pagi, maaf ya, aku bneran gak liat ada kamu, aku juga minta maaf, sudah ninggalin kamu sama Pak Aldi, tadi aku buru-buru banget soalnya."


Naura tersenyum "enggak apa kok Dim, aku yang minta maaf, aku yang jalannya gak hati-hati."


Dimas mengangguk "tapi kamu, gak di apa-apain Pak Aldi kan, Ra?"


Naura menggeleng dan tersenyum ke arah Dimas "enggak lah, kalaupun aku kenapa-kenapa, mana mungkin sekarang aku bisa masih baik-baik aja kan?" sambil menaik turunkan halisnya, Naura kemudian tertawa.

__ADS_1


Deg, selalu saja jantung Dimas berdetak lebih cepat dari biasanya, saat di samping Naura. Beda halnya dengan Naura yang perasaannya biasa-biasa saja. Naura hanya menganggap Dimas seorang teman, dan tidak punya perasaan lebih dari itu.


Pernah satu kali, Dimas mengungkapkan perasaannya, tapi dengan polosnya, Naura menganggap itu hanya ungkapan candaan. Meskipun sampai sekarang rasa itu masih sama.


Dimas tidak berani lagi mengungkapkan nya, bagi nya, cinta tak harus memiliki, sudah bisa dekat, dan melihat senyum Naura saja sudah lebih dari cukup.


-


-


-


-


-


Kasian ya, Dimas? hahaha


maaf ya Dim, semua akan indah pada waktu nya kok, hanya saja entah kapan waktunya itu datang.


hihihihi..

__ADS_1


Lanjut gak nih??


__ADS_2