Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
Hotel


__ADS_3

Wajah Naura terus tersenyum, menyaksikan suaminya yang terlihat begitu bahagia. Namun perlahan, senyum dari kebahagiaan Naura mulai memudar, dia ingat betul kejadian itu, saat dirinya sedang menonton siaran berita di televisi, dirinya melihat suaminya yang sedang melakukan peresmian gedung, dirinya melihat Vino dengan seorang wanita yang ada di samping suaminya. Meskipun Naura tidak tau, siapa wanita itu, dan bagaimana hubungannya dengan suaminya. Namun hati Naura lebih dulu terlanjur panas.


Berita itulah yang membuat Naura mendadak kontraksi.


"Siniin bayi aku!"


Vino yang sedang asik memperhatikan bayinya, seketika tersentak, tidak seperti biasanya, istrinya itu berkata dengan nada yang tinggi.


Dengan langkah yang pelan, Vino berjalan menuju ranjang istrinya, "terima kasih ya Sayang, kamu sudah melahirkan bayi yang begitu cantik," ujar lelaki itu, langsung memberikan bayi mungilnya, "aku sangat beruntung memiliki kalian," ujarnya kemudian.


Naura memalingkan pandangannya ke arah lain, "enak banget ya kamu, pergi keluar kota ninggalin istri yang sedang hamil besar, terus di sana malah asik di temenin perempuan lain," ketus wanita itu dengan pipi yang sudah mengembung karena menahan emosi.


Vino hendak memeluk tubuh istrinya, namun dengan cepat wanita itu langsung menepisnya.


Aldi masuk ke ruangan Naura, "udah, Ra. marahin aja, dia emang kurang ajar jadi suami," gerutu lelaki itu yang terus mengompori adiknya.


"Diem deh lo!" ketus Vino yang langsung melemparkan tatapan tajam ke arah Aldi.


Dengan hebohnya, Anita masuk ke ruangan itu, "mana cucu oma?" tanya wanita yang baru saja berganti status menjadi seorang oma.


Anita langsung mengambil alih, menggendong cucu pertamanya, "mau di kasih nama siapa nih?" tanya wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya.


Dengan cepat Aldi langsung melangkah, mengusap dengan penuh hati-hati pipi bayi mungil itu, "namanya Dira aja."


"Enak aja, Vira dong, Vino Naura, kan cocok," ujar Vino yang langsung menggeser tubuh Aldi.


Andre yang dari tadi berdiri di samping pintu, pria itu mengeluarkan suaranya, "apapun namanya, yang penting harus ada nama Sanjaya di belakangnya," ujar pria itu yang kini sudah berdiri di belakang tubuh Anita.


Keduanya sudah sepakat untuk melanjutkan pernikahan mereka, dan Andre berjanji akan menjadi sosok suami yang lebih baik lagi.


"Woah, gabisa dong! harusnya Wisnutama yang menjadi nama belakang cucu pertama saya," ujar pria yang baru masuk dengan merangkul lengan Naumi.


Andre mendongak, menatap pria yang usianya tidak beda jauh dari usianya, "dimana-mana tuh, yang di bawa nama dari bapaknya, gak ada sejarahnya nama ibunya yang di bawa," ujar pria itu dengan sebelah ujung bibirnya yang sudah tertarik ke atas.


Rainald tersenyum devil, "Saya bisa loh, lanjutin gugatan yang kemarin," ancam pria itu yang kini berhasil menciptakan senyum penuh kemenangan karena berhasil membuat mulut lawannya seketika menjadi bungkam.


Perdebatan mereka kembali berlangsung saat Aldi kembali mengajukan usulnya. Namun suara tangisan bayi yang begitu keras, seketika membungkam semua mulut yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Naura cape, boleh gak kalau kalian ributnya di luar saja," ucap wanita itu yang berhasil membuat satu persatu orang yang ada di dalam melangkahkan kakinya keluar.


"Pergi lo sonoh!" Vino tersenyum sinis, saat Aldi melayangkan tatapan permusuhan padanya, dan keluar dari ruangan itu.


Naura mendelik sebal, "kamu juga pergi!" perintahnya mutlak, tidak peduli saat suaminya itu memohon untuk tetap menemaninya.


****


Aldi nampak berjalan dengan seorang sekertaris yang berada di belakangnya, memasuki restoran ternama, lelaki itu akan mengadakan meeting bersama kliennya.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, saat mendengar nama gadis yang selama ini dia ingin temui, namun dia menahannya, karena tidak ingin mengganggu gadis itu.


Aldi menoleh, dia melihat beberapa orang lelaki yang duduk di atas kursi. Dan Aldi tau betul siapa salah satunya, "Doni!" gumam Aldi dalam hati, yang langsung duduk tidak jauh dari tempat mereka, dengan posisi yang membelakangi.


Menyadari gelagat atasannya yang sedikit berbeda, sekertaris itu mengerutkan keningnya, "ada apa Pak?" tanyanya.


Aldi menoleh sekilas, "kamu tunggu saya di sana," perintahnya sambil mengarahkan telunjuknya pada meja yang ada di bagian ujung, yang langsung di turuti oleh sekertaris itu.


"Gue kan dari dulu juga bilang, Nakisya itu cuma gue jadiin mainan. Gue gak serius lah sama dia, dari dulu gue mau putusin tuh cewek, tapi dilihat dari sikapnya, kayaknya dia cinta mati sama gue, jadi gue biarin aja dia nikmatin status jadi cewek gue."


"Wah parah lo, kasian dong tuh cewek, mending buat gue aja kalau gitu, dia cantik man," ujar salah satu lelaki yang duduk bersama Doni.


Terdengar tawa Doni yang nyaring, "kemarin gue putusin dia, gara-gara dia gak mau gue ajakin main-main di hotel, tapi tadi dia hubungin gue, katanya dia mau nemuin gue."


Aldi menoleh sekilas, saat suara kursi terdengar, ternyata Doni berdiri dan melangkah dari meja itu.


"Kalau elo mau, ambil aja, tapi nanti bekas gue!" imbuh Doni kemudian, yang sangat jelas terdengar oleh telinga Aldi.


Rahang Aldi sudah mengeras, dia sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya terhadap Doni. Dia sungguh tidak terima kalau gadis itu hanya di jadikan mainan oleh cowok yang di anggap kekasihnya.


"Brengs*k!" gumam Aldi yang hendak menyusul lelaki itu.


Langkah Aldi terhenti, saat berpapasan dengan 2 orang yang sedang dia tunggu.


"Pak Aldi? sudah lama menunggu?" tanya pria paruh baya yang datang dengan wanita yang ternyata sekertarisnya.


Dengan pandangan yang masih memperhatikan punggung Doni, Aldi mengangguk, "iya, eh enggak Pak, saya baru saja sampai, tapi-,"

__ADS_1


Kalimat Aldi terhenti, saat pria itu menepuk pundaknya, "baiklah, kalau gitu mari kita bicarakan masalah pekerjaan kita sekarang," ajak pria itu yang kini sudah lebih dulu melangkahkan kakinya.


Aldi menjadi dilema, di sisi lain dirinya ingin segera memberikan pelajaran pada lelaki brengs*k itu, namun sekarang dirinya sedang berhadapan dengan seorang klien penting, yang juga sudah dia kenal, tidak mungkin kalau dirinya membatalkan begitu saja meetingnya, dan membuat kliennya itu kecewa.


Akhirnya Aldi memutuskan untuk, mengikuti klientnya itu.


****


Setelah selesai meeting, Aldi langsung menginjak gas mobilnya, menuju rumah Nakisya. Lelaki itu sudah tidak dapat menahan dirinya untuk membongkar semua kebusukan tentang Doni kepada gadis yang dia cintai.


Suara bel yang berbunyi, membuat Widya menghentikan aktifitasnya, wanita itu segera membuka pintu, "eh ada Nak Aldi, mau cari Kisya ya?" tanya wanita itu.


Aldi tersenyum, "iya, Tante. Apa Nakisya nya ada?" tanya lelaki itu yang sedikit gugup, karena sudah begitu lama tidak bertemu langsung dengan gadis itu.


Widya membalas senyum ramah Aldi, "tadi dia pamit keluar, katanya sih mau ketemu sama temannya, mau ngerayain kelulusan."


Mendengar jawaban dari wanita itu, pikiran Aldi langsung tidak tenang, setelah berpamitan pada Widya, lelaki itu langsung memasuki mobilnya.


Dengan cepat, Aldi mengambil ponselnya, membuka sebuah apkikasi yang terhubung dengan GPS yang sempat dia pasang di gelang gadis itu.


"Hotel Bima," gumam lelaki itu, dengan bola mata yang sudah membulat sempurna.


-


-


-


**Ngapain tuh Si Nakisya pergi ke hotel🤔🤔😂😂


Janga lupa di klik jempolnya ya, Rate nya juga, bintang 5 ya, Vote yang banyak, pake point yang gratis, tapi yang mau pake koin juga gapapa, dengan senang hati akumah😁


+ Komengnya juga ya, next aja kalau bingung mah😅


Terima kasih


Salam... Semangat🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2