
Waktu yang paling membahagiakan untuk semua perempuan ialah, saat dirinya, akan dinikahi oleh pasangannya.
Tapi, tidak dengan Naura, hari ini, tepat setelah waktu yang sudah disepakati. Naura malah bersedih, mengingat masadepannya yang sudah hancur. "Aku terpaksa menikah, dengan lelaki yang tidak aku cintai." Dalam hati, Naura terus meratapi nasibnya.
Naura sudah memakai gaun berwarna putih, pemberian Dimas. Gaun itu terlihat sangat pas di tubuh Naura.
Meskipun gaun itu jauh dari kata mewah, tapi, Naura tetap terlihat anggun. Wajah cantiknya diberi sedikit polesan make up, menjadikan dirinya terlihat begitu cantik.
Naura memandang keluar, dari jendela kaca kamarnya. Pandangan perempuan itu terlihat kosong.
Suara pintu terbuka, membuat Naura menghentikan lamunannya.
"Waw, kak Naura cantik banget." Dita adik Naura, datang dengan senyum yang mengembang, adiknya itu sudah mengetahui kejadian yang menimpa kakanya. Dita juga ikut merasakan kesedihan yang di alami kakaknya itu.
"Kak Naura kuat, pasti bisa melalui semua ini, yang sabar ya, Kak." Dita memeluk kakak nya itu dengan penuh sayang.
"Kak Dimas, kayaknya baik banget ya orangnya," imbuh Dita kemudian sambil berbisik di telinga kakaknya yang masih berada dipelukannya.
Setelah pelukan mereka terlepas, Naura tersenyum ke arah adiknya itu. Pikiran Naura bercabang, saat mendengar nama calon suaminya itu. "Dimas emang baik, dia rela menjadi ayah dari bayi yang sedang aku kandung," jawab Naura dalam hati.
"Kak, sudah siap belum?" Lisna adik bungsu Naura terlihat sedikit berlari ke arahnya.
"Pengantin pria sudah datang," imbuh gadis itu kemudian yang langsung menarik tangan Dita.
Kedua adik Naura bergegas keluar, untuk menyambut kedatangan mempelai pria.
Naura yang tinggal sendiri di kamarnya, tanpa sadar air matanya jatuh, dia meratapi nasibnya. "Enggak, aku pasti bisa bahagia dengan Dimas. Suatu saat aku pasti bisa menerimanya." Naura bergumam dalam hati sambil terus meyakinkan dirinya.
"Sayang, kamu sudah siap nak?" tanya wanita yang kini berdiri dibelakang Naura.
Dengan cepat Naura mengusap air mata yang membasahi pipinya. Dia tidak mau ibunya melihat kalau dirinya sedang menangis. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban kepada Naumi.
Naumi tersenyum dengan pilu, sungguh tidak tega melihat anaknya. Wanita itu dapat menebak, kalau Naura sangat terpaksa dengan pernikahannya. Perlahan Naumi merangkul tubuh anaknya, menuntun Naura menuju tempat untuk acara akad.
Akad akan di adakan di luar rumah, karena mengingat rumah Naura memang sangat kecil.
Naura mengedarkan pandangannya. "Bu? kenapa banyak banget orang yang datang?" tanya perempuan itu sambil mengedarkan pandangannya.
Naumi tersenyum. "Mereka semua sodara, dan tetangga kita, ibu gak enak kalau gak ngasih tau."
__ADS_1
Naura memang tidak mau terlalu banyak orang yang hadir, bahkan acara nikahannya juga sangat sederhana, hanya acara akad, itu semua merupakan syarat yang di ajukan Naura kepada Dimas. Dengan tatapan datar, Naura melihat Dimas, yang hanya didampingi orangtuanya. Naura juga melarang Dimas, supaya lelaki itu jangan terlalu banyak membawa orang.
Dimas tersenyum merekah, saat melihat Naura yang di gandeng ibunya kini sedang melangkah kearahnya dan duduk di sampingnya.
"Kamu begitu cantik, Naura," bisik lelaki itu. Dirinya sadar kalau Naura hanya terpaksa menerima dirinya. Tapi itu tidak masalah untuknya, yang terpenting dia akan segera memiliki perempuan itu.
Dimas tersenyum kecut, saat mengingat beberapa hari kebelakang, saat usahanya berhasil. "Gak sia-sia gue, ngebuat tuh orang brengsek kecelakaan," gumamnya dalam hati.
"Semua sudah siap?" SlTiba-tiba suara penghulu mengambil alih semua perhatian mereka.
Dimas mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Naura, perempuan itu hanya terdiam wajahnya menunduk, menahan air matanya yang hampir tak terbendung.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Naura Putri Aghniya binti Rainald Wisnutama dengan maskawin tersebut dibayar tu-," kalimatnya terhenti, saat tiba-tiba seseorang datang menghentikannya.
"Bukan dia yang seharusnya menikah dengan Naura," ucap lelaki yang seketika membuat semua mata tertuju pada dirinya.
"Aldi," Naura berkata lirih sambil mengerutkan keningnya. Naura bingung, kenapa lelaki itu tiba-tiba datang.
Wajah Dimas merah padam, lelaki itu mengepalkan tangannya. "Brengsek!" lelaki itu menggerutu dalam hati.
"Siapa kamu?" Bambang yang merupakan adik dari Naumi, berdiri dari duduknya, lelaki itu sedikit heran dengan lelaki yang tiba-tiba datang dan menghentikan acara nikahan keponakannya.
Mata Naura membulat, saat dirinya melihat Vino datang dengan luka perban di kepalanya. "Tapi, kenapa lelaki itu berkata harus menikahiku?" Naura berkata dalam hati, semakin tidak mengerti dengan semua ini.
Naumi berdiri dari duduknya. "Sebenarnya ada apa ini? siapa kalian?" tanya wanita yang kini memegang dadanya, ini terlalu mendadak, dan wanita itu, sangat bingung dengan semuanya.
Kini kedua keluarga itu berada di dalam ruangan, Vino, meminta maaf kepada Naura, dan menceritakan semuanya. Naumi yang marah mendengar pengakuan lelaki itu sempat beberapa kali menampar pipi Vino.
Naura masih terkejut mendengar semua kenyataan ini. Tenggorokannya seolah tercekat, tak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya air mata yang trus menerobos keluar, tanpa bisa ia tahan.
"Jadi gimana?" Andre Papanya Vino menunggu jawaban dari Naumi dan Naura. Naumi hanya mengangguk, walau bagaimanapun, memang Vino yang seharusnya bertanggung jawab terhadap putrinya. Tapi semuanya Naumi serahkan kembali pada Naura.
"Gak tau bu, Aku bingung," jawaban Naura, berhasil membuat hati Vino mencelos.
"Jadi Naura, hamil duluan?"
"Jadi sebenarnya siapa ayah dari bayi yang di kandung Naura?"
"Kenapa jadi banyak yang mau menikah dengan Naura?"
__ADS_1
"Jangan-jangan semua lelaki itu pernah berhubungan dengan Naura."
Saat Naura dan yang lain keluar, berbagai bisik para tamu yang datang, sudah tak lagi Naura hiraukan, dia hanya duduk disamping lelaki yang mengaku sebagai ayah dari bayi yang ada di kandungannya.
Vino mulai menjabat tangan dari wali hakim, lelaki itu mulai mengucapkan kalimat sakral.
Dengan pikiran yang terus berkelana. Tubuh Naura mulai terasa membeku, dia tidak kuasa untuk melakukan apapun. Kepala Naura mulai pusing, pandangannya sudah semakin kabur.
"Jadi gimana?" tanya seseorang yang terdengar samar di telinga Naura.
"Sahhhh!" suara para tamu yang menjawab dengan keras.
Brakkk...
Kepala Naura yang semakin pusing, mengakibatkan Naura kehilangan kesadarannya.
Dengan sigap, Vino langsung mengangkat tubuh perempuan yang sekarang sudah menjadi istrinya itu. Dibaringkan tubuh Naura di atas ranjang kecil yang ada di kamar Naura.
"Maafin aku, Naura." Vino menyentuh pipi Naura, dan mengusap pipi itu dengan sangat pelan.
Plak...
Naura yang sadar setelah dirinya merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh keningnya, langsung menampar keras pipi Vino.
Wajahnya merah padam, Napasnya memburu. "Jangan kamu pikir, setelah berhasil nikahin aku semuanya akan selesai!Kamu-,"
Naura mengatur napasnya, mengarahkan telunjuknya ke wajah Vino. "Cowok brengsek, yang udah hancurin masa depan aku."
-
-
-
-
-
Jangan lupa like, koment sama Votenya ya...
__ADS_1