Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
56


__ADS_3

Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Naura langsung membalikan piring yang ada di hadapan Vino, dan mengisinya dengan nasi, "udah, cepetan makan, aku gak mau debat lagi sama kamu!"


Keheningan terjadi beberapa saat, Naura terus pokus pada piring yang ada di hadapannya. Dengan gerakan cepat, Naura menyuapkan sendok yang berisi nasi ke mulutnya, padahal di mulutnya masih ada isinya. Sehingga pipi Naura terlihat tembem.


Vino sekuat tenaga menahan senyumnya yang hampir pecah saat memperhatikan istrinya, "pelan-pelan aja, nanti keselek," katanya, sambil menyodorkan satu gelas air.


"Bodo omot," katanya tanpa menoleh pada suaminya. "Ukhuk, ukhuk," Naura langsung mengambil gelas yang tadi di sodorkan oleh suaminya dan meneguk sampai tak tersisa. Tenggorokannya terasa panas, bahkan matanya terlihat mengeluarkan air.


Dengan sigap, Vino langsung berdiri, menepuk pelan punggung istrinya, "kamu gak papa kan?" dengan wajah panik, Vino menyodorkan gelas miliknya, yang belum sempat dia minum.


"Aku gak papa kok," Naura menunduk, "tapi aku malu banget Vino!" lanjutnya dalam hati.


Vino mengusap lembut kepala Naura, "kan aku tadi udah ngingetin," katanya sambil menatap wajah istrinya.


Naura memberengut, "iya, aku yang ngeyel gak dengerin kamu, udah ah, aku udah kenyang," Naura berdiri, mengambil piring bekasnya makan ke arah wastafel cuci piring.


Vino langsung berdiri, "kamu mau ngapain?" dengan cepat, tangannya merebut piring kotor yang ada di tangan istrinya.


"Aku mau cuci piring, Mas, siniin gak!" Naura berusaha merebut kembali piringnya, meskipun usahanya itu tidak berhasil, karena Vino sudah lebih dulu mencucinya.


"Loh, kok malah kamu yang cuci, yaudah aku ambil piring bekas kamu makan, tapi nanti aku yang cuci," Naura langsung kembali ke meja makan.


Naura sudah kembali dengan piring kotor bekas Vino, dan gelas bekas minum mereka berdua, "kamu udah kan nyucinya? awas, yang ini biar aku yang cuci."


Vino kembali merebut piring kotor itu, lalu menyimpan di wastafel, "udah ini biar nanti di cuci sama bibi, mendingan sekarang kamu temenin aku renang yu."


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, tangan kekar Vino langsung merangkul tubuh istrinya. Naura yang sudah pasti tidak dapat menolak permintaan Vino, hanya pasrah menyamakan langkahnya dengan langkah suaminya itu, "ngapain sih jam segini renang, orang kalau renang tuh pagi-pagi, bukan sore."


****


Vino sudah siap dengan hanya mengenakan celana renang pendek berwarna hitam, tanpa mengenakan atasan, yang berhasil memperlihatkan dadanya yang berbentuk kotak-kotak. "Sayang ayo."


Naura sedang sibuk dengan ponsel di tangannya, "ayo," jawabnya tanpa menolehkan wajahnya.


'Glek,' Naura menelan ludahnya dengan paksa, saat baru menyadari penampilan suaminya. Meskipun bukan kali pertama dirinya melihat suaminya tanpa pakaian, tapi entah kenapa, matanya masih saja selalu terpana pada tubuh kekar itu.


Tanpa berkedip, Naura mematung, menatap tubuh suaminya, "wow suami aku seksi banget," gumamnya sangat pelan, namun masih bisa terdengar jelas oleh telinga Vino.


Vino tersenyum melihat wajah bengong istrinya "kenapa hemm? aku gak cocok ya? pakai celana ini?"


Dengan cepat, Naura menggeleng, "cocok kok, cocok banget malah kamu terlihat,-" ucapannya menggantung, saat melihat tatapan Nakal suaminya.


"Terlihat seksi maksudnya?" Vino tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


Naura merutuki kebodohannya, pipinya sudah merah merona karena malu sudah keceplosan memuji suaminya, "udah ah ayo," Naura mencoba mengalihkan dengan melingkarkan tangannya di lengan Vino.

__ADS_1


Vino mengulum bibirnya, kepalanya dicondongkan, berbisik tepat di pinggir telinga istrinya, "kalau kamu mau, aku rela kok gak jadi renang."


Mata Naura membulat, dengan cepat dirinya langsung melangkah, hingga tangannya terlepas dari tangan suaminya.


"Hey, kenapa buru-buru begitu, apa kita mau melakukannya di kolam?" Vino tertawa, membayangkan wajah istrinya yang sudah pasti sedang kesal karena dirinya.


"Kenapa sih, punya suami pikirannya mesum mulu!" Naura terus melangkah dengan mulut yang masih saja menggerutu.


****


Naura sudah duduk di atas kursi santai panjang dan datar yang terbuat dari rotan, di sebelahnya sudah ada 2 orange jus dan satu piring cemilan, yang baru saja di antarkan oleh pembantunya.


Vino yang baru saja melakukan pemanasan, menolehkan kepalanya pada Naura, "serius kamu gak mau ikutan renang?"


Naura menggeleng, "enggak, aku liatin kamu aja," perhatiannya langsung kembali lagi pada ponselnya, memotret suaminya untuk di pamerkan di akun media sosial miliknya. Naura sudah menulis caption pada photo Vino, "tinggal kirim deh. Ehh gak jadi di posting ah, entar malah disangka jualan, terus banyak yang minat sama suami aku," Naura menggeleng, jempolnya langsung meng close aplikasinya. Naura menaruh ponselnya di atas meja kecil yang ada di sampingnya.


Merasa sudah bosan dengan ponselnya, perhatiannya dialihkan pada suaminya, yang masih berenang, "Mas, kayaknya seger banget ya?"


Vino renang dengan gaya bebas, mendekat ke arah kursi duduk, "seger banget, makanya ayo."


"Tapi aku gak bisa renang, lagian itu kayaknya dalem banget deh, aku takut."


Vino naik, "kenapa takut, kan ada aku, ayo kita renang bareng, nanti aku ajarin kamu. Lagian renang bagus tau buat ibu hamil."


Naura yang sempat ragu, akhirnya mengangguk, "yaudah, aku ganti baju dulu deh," Naura langsung pergi ke kamar. Sementara Vino duduk menunggu istrinya itu, sambil memasukan cemilan ke mulutnya.


Belum sempat kakinya di langkahkan, Naura sudah muncul dengan kimono handuk yang menutupi tubuhnya.


Vino memegang tangan Naura, ditatapnya wajah istrinya, "kok lama banget sih?"


Naura menatap datar wajah suaminya, "aku bingung, mau pake baju yang mana, modelnya kaya gitu semua, kamu sengaja ya beliinnya yang kaya gitu!" dengan wajah yang sudah merona, Naura menatap suaminya.


Sekarang Vino baru mengerti, kenapa istrinya bisa sampai satu jam mengganti pakaian. Vino dapat membayangkan gimana kesalnya istrinya itu, "padahal kalau kamu bingung, gak usah pake apa-apa aja, gapapa kok, kan disini cuma ada aku aja."


Naura melotot, tangannya langsung mendaratkan cubitan di pinggang suaminya, "rasain kamu, biar gak mesum terus tuh otaknya."


"Ampun yang, ampun, sakit aww," Vino terus memohon, tangannya memegang tangan Naura yang masih setia mencubit keras pinggangnya.


Naura melepaskan tangannya, "awas kamu ya, sampai ngomong kaya gitu lagi, bukan cuma pinggang kamu aja yang bakal jadi korban!"


"Iya-iya, galak banget sih, untung sayang," katanya yang berhasil membuat pipi istrinya semakin memerah.


Vino sudah turun ke kolam, menunggu Naura yang masih saja berdiri di atas pembatas. "Buka dong kimononya, ayo turun, aku pegangin."


Naura menghela napas, dengan ragu, membuka kimono da menyimpannya di atas kursi panjang yang tadi di dudukinya.

__ADS_1


"Wow," satu kata yang keluar dari mulut Vino, mulutnya terbuka lebar, matanya hampir saja keluar, karena melihat begitu seksinya tubuh istrinya. Naura memakai bikini yang hanya menutupi bagian penting tubuhnya saja.


"Ini gimana turunnya?"


"Mas, kok malah bengong sih?" Naura mencipratkan air ke wajah suaminya.


"Eh iya, kenapa?" Vino mengusap wajahnya, "sabar dulu, jangan disini," Vino mencoba menenangkan benda pusakanya yang sedikit bereaksi.


"Kamu turun lewat sini, tapi pelan-pelan," Vino menuntun tangan Naura yang sedang menuruni tangga kolam.


Saat menginjak tangga terakhir, kaki Naura terpleset, untung Vino dengan sigap berhasil menangkap tubuh istrinya.


"Uhh," Vino membesarkan bola matanya, saat tubuh Naura menyentuh bagian pusakanya, "sayang, renangnya nanti aja ya," bisiknya di pinggir telinga Naura.


Naura mengerutkan keningnya, "ihh kan kamu yang ngajakin aku, gimana sih! lagian aku juga pengen bisa renang, kaya kamu Mas."


Vino menghembuskan napasnya pelan, "yaudah, tapi jangan godain aku lagi ya,"


Naura memutar bola matanya, "siapa juga yang godain kamu!"


Vino menarik pelan tangan istrinya ke tengah kolam, membuat Naura menjadi ketakutan, "Mas aku takut, kok makin kesini makin dalam sih.


"Kamu pegangan ya," Vino memposisikan dirinya, membelakangi istrinya, tangannya mengambil kedua tangan Naura, dan menyimpannya di pinggir lehernya, "pegang yang erat, tapi jangan nyekik.


Setelah Naura mengangguk, mengikuti perintahnya, Vino langsung mengambil ancang-ancang, "siap yang?"


-


-


-


-


-


**Siap gak nih? 😂😂


Udah dulu ya, kepanjangan ini nulisnya, hehe


Nyang bingung mau ngoment, tulis aja, next..😁


Jempolnya jangan lupa ya, di klik.


Vote, vote, vote..

__ADS_1


Terima kasih🤗


Salam... Semangat**


__ADS_2