Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
52


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Sambil mengancingkan lengan kemejanya, Vino melangkah mendekat ke arah istrinya, dengan sorot mata yang memancarkan kebahagiaan, Vino memeluk tubuh Naura dan mencium kepala istrinya.


Naura yang sedang duduk di depan meja rias, mendongakan kepalanya, perlahan Naura membalikan posisi duduknya, matanya tertuju pada dasi suaminya yang terlihat kurang rapi, "ini gimana sih, tumbenan kamu masang dasinya gak bener," Naura berdiri, dengan menjinjitkan kakinya. Tubuh Naura memang tidak tergolong kategori pendek, namun jika di sejajarkan dengan tinggi badan suaminya, dirinya kalah jauh.


Naura membuka simpul dasi suaminya, kemudian dengan cekatan memasangkan kembali dasi itu. Setelah dirasa selesai, Naura tersenyum bangga dengan hasil karyanya, "nah, ini baru keren." Naura mengusap pelan bahu Vino.


Vino tertawa, dengan pelan tangan kekarnya mengusap kepala naura, yang mendapat decakan sebal dari pemiliknya.


Naura mengerucutkan bibirnya, "kamu kebiasaan deh, Mas" dengan terpaksa Naura memanggil suaminya dengan sebutan mas, daripada kena hukuman lagi, pikirnya.


Vino tersenyum menatap wajah istrinya, "nah gitu dong, emang harus nurut jadi istri. Ingat ya, kalau sampai lupa lagi, berarti kamu nantangin aku buat ngasih hukuman lagi."


Hukuman disini, bukan tentang kekerasan yang menyakitkan ya gaes, tapi hukuman yang membuat keduanya bisa melayang karena kenikmatan.


Naura merotasukan matanya, "iya Mas Vino sayang," Naura masih saja kesal pada suaminya itu, saat dirinya menolak memanggil suaminya dengan panggilan Mas, Vino mengancamnya dengan hukuman, tapi Naura yang tidak merasa takut, dan belum mengetahui arti hukuman yang sebenarnya, malah sengaja menantang suaminya itu, berakhirlah Naura dengan keadaan lemas, karena tanpa ampun Vino terus melakukannya sampai beberapa ronde.


Vino menyambar jas juga tas kerjanya, "sebelum aku pergi ke kantor, aku mau jenguk Papa dulu ke rutan," katanya sambil membawa kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.


Naura menyentuh lengan suaminya, "aku mau ikut, boleh gak?"


Vino mengerutkan keningnya, "buat apa kamu ikut, Ra, aku gak mau nanti kamu sedih, gara-gara kena amukan papa aku," kata batinnya.


Seolah mengerti dengan raut wajah suaminya, Naura tersenyum, "aku cuma mau tau kabar Papa."


Vino memegang kedua bahu istrinya, "kamu di rumah aja ya, istirahat," setelah sempat mendaratkan satu kali kecupan di kening istrinya, Vino melangkahkan kakinya.


****


Vino duduk di kursi ruang tunggu, kepalanya mendongak saat melihat sepasang kaki di depannya, "Papa apa kabar?" terlihat dengan jelas rasa bersalah, dari sorot matanya.


"Mau ngapain kamu, kesini!" dengan wajah angkuh, Andre memalingkan pandangannya.


Andre menatap Vino dengan sorot mata yang sangat tajam, "puas kamu! jadi ini cara kamu memperlakukan papa kandung kamu!"


Vino memegang tangan Andre, "Maafin Vino Pah, tapi walau bagaimanapun Papa harus," ucapannya terhenti.


"Pergi kamu! saya cuma butuh anak yang bisa dukung papanya, bukan anak durhaka seperti kamu!" Andre mengangkat telunjuknya, mengarahkan pada wajah Vino.

__ADS_1


Vino memberanikan dirinya untuk menatap wajah Andre, "tapi Pah, semua yang sudah Papah lakukan, itu tidak benar, Papah uda,"


Plak...


Belum sampai Vino menyelesaikan ucapannya, namun satu tamparan di pipi kirinya sudah dulu membuatnya diam mematung.


"Sudah berani kamu, ngelawan Papah kamu sendiri!" Andre hendak kembali menampar Vino, namun suara wanita yang baru datang mengentikannya.


"Berhenti kamu nyakitan anak aku!" Anita yang baru datang, langsung menyorot tajam suaminya, "selama ini aku diam, dengan semua ambisi gila kamu, tapi untuk kelakuan kamu sekarang, tentang kejahatan kamu, ini sudah melampaui batas," Anita menarik napasnya, menghembuskannya dengan kasar.


"Aku mau kita pisah!" satu bulir air mata, tanpa Anita sadari, keluar dari matanya. Belum pernah sebelumnya Anita membayangkan akan mengatakan kata yang di benci Allah itu, tapi setelah melihat Andre memukul Vino, karena menasihati kesalahannya, sungguh Anita tidak bisa menerima itu.


Terjadi keributan di ruangan itu, Andre yang tidak terima hampir saja bersujud di depan istrinya.


Penjaga lapas datang, "maaf, waktu kunjungannya sudah habis, kalian bisa kembali berkunjung lagi lain waktu," Andre berdiri, diikuti satu orang sipir di belakangnya. Sesekali dirinya melirik ke arah istrinya, yang sudah melangkah pergi bersama Vino.


****


Vino mendudukan tubuh mamanya di atas sofa besar yang ada di ruang tamu. Setelah pulang dari rutan, Anita meminta Vino untuk mengantarkannya ke rumah.


Vino menatap wajah mamanya dengan sendu, "Mama yakin, sama keputusan Mama?"


Anita menatap lurus, pandangannya kosong, "Mama sudah yakin, dan akan secepatnya mengurus surat gugatan ke pengadilan."


Vino memeluk tubuh mamanya, "Mam, apa gak sebaiknya di pikirkan lagi. Vino gak mau nanti Mama menyesal, lagi pula, mungkin Papa punya alasan kenapa dia bisa sekejam itu," Vino melepaskan pelukannya, kembali menatap wajah Anita.


"Tidak ada alasan yang benar, untuk sebuah tindakan kejahatan," Anita berkata dengan wajah datar, setelah mengusap air mata di pipinya, Anita mengambil ponsel yang ada didalam tas jinjingnya.


****


Riko menghela nafas, akhirnya dengan kekuatan uang, dia berhasil menghapus semua berita mengenai keluarga Vino, " ribet banget sih, mereka yang berbuat, gue yang harus nutupin semuanya, untung gue di bayar,hahahha" Riko baru saja keluar dari sebuah kantor media percetakan.


"Riko!" suara seorang perempuan yang tidak asing, menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu mobil.


Seorang perempuan cantik, dengan penmpilannya yang seksi, terlihat berjalan kearahnya.


Riko mengerutkan keningnya, samar-samar dia pernah mengenal perempuan itu, tapi dia lupa, "siapa ya?" Riko bertanya saat perempuan itu berdiri di depannya.


Perempuan itu tersenyum lalu memberengut, "ih, kok kamu lupa sih sama aku!" perempuan yang belum Riko ketahui namanya itu terlihat kesal, menghentakan sebelah kakinya, lalu dengan tak tau malunya bergelayut di tangan kanan Riko.

__ADS_1


Mendapat perlakuan seperti itu, Riko malah bergidik ngeri, perlahan tangannya melepaskan tangan perempuan itu, "sorry, gue beneran gak inget sama kamu."


Perempuan itu kembali tersenyum, "aku Mela, ingat gak? kita pernah sekelas waktu SMA," Mela menaik turunkan alisnya.


Riko tampak mengingat nama itu, "oh iya, gua baru inget sekarang, kalau gitu gue duluan ya, lagi buru-buru soalnya," Riko langsung membalikan tubuhnya.


Namun lagi-lagi perempuan itu mengentikan nya, "bentar dong, kok buru-buru sih, kita kan belum ngobrol, baru ketemu juga," dengan panjang lebar, Mela berusaha mencegah Riko.


Riko benar-benar sudah elfeel dengan perempuan itu, dia ingat, waktu SMA Mela selalu saja mengejarnya, bahkan sampai rela menawarkan tubuhnya, asalkan Riko mau jadi pacarnya.


"Sorry banget, gue beneran lagi di tungguin bos gue!" dengan cepat, Riko langsung membuka pintu mobilnya, dan mendudukan tubuhnya di depan kemudi.


Dengan cepat pula, tangan Mela menahan pintu mobil Riko, "oke, tapi sebelumnya aku mau kamu jawab satu pertanyaan dari aku," Mela menapilkan wajah puppy eyes.


Dengan wajah datar, Riko menatap Mela, "apa?"


Mela yang merasa di berikan kesempatan, matanya langsung berbinar, "seperti apa istri idaman, kamu?" dengan cepat, pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


Riko memasangkan kunci, dan mulai menstater mobilnya, "istri idaman gue itu, yang gak sibuk nanyain tipe istri idaman, tapi yang sibuk memperbaiki iman."


Mela yang masih menahan pintu mobil Riko, repleks menurunkan tangannya. Mendengar jawaban dari Riko, hatinya langsung mencelos.


Dengan cepat, Riko langsung menutup pintu mobilnya, dan melajukan kendaraannya, meninggalkan Mela yang masih mematung di tempatnya.


-


-


-


-


-


Ada yang minat sama Riko??



**Maafkeun ya, ceritanya mulai teu pararuguh, imajinasi aku semakin low, gaess.

__ADS_1


Apa iya, karena kurang VoteπŸ˜πŸ˜‰πŸ˜Š


Salam... Semangat**!!!


__ADS_2