Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
40


__ADS_3

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri . (Ar-Rad:11)


---------------------------------------------


Hati Naura mencelos, menerima perlakuan Vino yang selalu membuatnya terlena. Tapi, dia sudah berjanji kepada Ayahnya.


Vino terus memikirkan tentang perubahan sikap Naura yang tiba-tiba.


Sudah hampir pagi, namun mata lelaki itu, masih belum bisa dia pejamkan.


Vino menatap sendu wajah Naura yang masih terpejam, tangannya bergerak menyingkirkan setiap helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


****


Tumpukan berkas di meja Vino, sama sekali tidak dia pedulikan, pikirannya masih saja tertuju pada perempuan yang membuat hatinya gusar.


"Arghhhhh," Vino mengacak rambutnya kasar, tadi saat dirinya berangkat kerja, Naura masih saja memperlakukannya dengan dingin, bahkan Naura tidak mengantarkan Vino sampai ke luar rumah.


Flashback on


Setelah Naura masuk ke kamar, Vino memanggil seseorang di rumahnya, "Bik Sumi!" Vino sedikit berteriak menyebut nama salah satu pelayan yang ada di situ.


Terlihat wanita paruh baya, yang berjalan tergopoh-gopoh saat namanya di panggil.


Tanpa basa basi, Vino langsung melontarkan pertanyaan, "Bibik tau, kemana saja Naura kemarin?" Vino menunggu jawaban dari pelayan rumahnya.


Bik Sumi menundukan kepalanya, "saya tidak tau Tuan, tapi saya melihat, kemarin nona sangat buru-buru waktu berangkat."


Flashback off


Vino mengalihkan pandangannya, saat satu notifikasi masuk ke ponsel miliknya.


Vino mengaktifkan alat pendengar suara, yang terhubung ke alat yang sudah Vino pasang.


"*Hallo, Ra? Ini Ayah. Kamu masih ingatkan sama rencana awal kita?"


Vino terus mendengarkan suara pria yang sedang berbicara dengan Naura.


"Kamu juga harus janji, kamu akan ninggalin anak dari lelaki jahat itu," terdengar helaan napas dari Naura."


Vino mengerutkan keningnya, setelah mematikan alat pendengar yang terhubung dengan ponsel Naura.


Tadi pagi, Vino sempat memasang alat penyadap di ponsel milik Naura. Saat istrinya itu masih tidur.

__ADS_1


Vino bergumam, "Ayah? anak penjahat? Siapa mereka?" Kepala Vino terus berputar, memikirkan semua itu.


Vino menekan tombol pada telpon yang ada di ruangannya, "gue tunggu lo, di ruangan."


Tanpa menunggu lama, Riko yang sudah diperintah oleh sahabatnya, masuk ke ruangan Vino.


Riko menarik kursi yang ada di hadapan Vino. Dengan santai, lelaki itu mendudukinya. Seolah bisa menebak dari ekspresi Vino, tanpa basa-basi Riko langsung bertanya, "ada yang harus gue kerjakan?"


****


Vino terus mendengarkan setiap kalimat dari mulut sekertarisnya. Riko sudah mendapatkan semua info tentang masa lalu Ayah Naura.


Vino menganggukan kepalanya, "lalu, kenapa Ayah Naura seperti menyimpan dendam pada keluarga gue?"


Riko sempat berpikir, mendapat pertanyaan dari sahabat sekaligus atasannya, lalu lelaki itu berujar, "kalau untuk itu, gue gak tau, yang pasti, setelah gue memeriksa semua file dua puluh lima tahun yang lalu, mereka pernah menjalin suatu kerjasama."


Riko menatap datar wajah Vino, "kenapa gak lo tanyakan saja sama bokap lo?" tanya lelaki itu kemudian.


Benar juga yang di katakan Riko. Tapi sangat tidak mungkin, jika Vino menanyakan hal seperti itu, apalagi menyangkut kejadian yang sudah lampau.


Vino juga merasa aneh dengan kegiatan papanya, meskipun Andre sudah pensiun dari kerjaannya, tetapi papanya itu masih saja selalu sibuk, keluar rumah tanpa mengatakan kepada siapapun kemana dia akan berangkat.


"Lebih baik, gue cari tau sendiri," gumam Vino dalam hati.


****


Namun senyumnya terbit, saat melihat Naura yang berbaring di atas sofa dengan buku yang ada di atas perutnya, mata istrinya itu terpejam.


Vino melangkah ke arah Naura, membungkukan tubuhnya. Dikecupnya dengan pelan dahi istrinya itu.


Naura yang belum sepenuhnya terlelap, perempuan itu tersentak langsung membuka matanya.


Naura bangun, merubah posisinya menjadi duduk, "kamu sudah pulang?" tanya perempuan itu dengan datar.


Tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya, Vino langsung berhambur memeluk erat tubuh mungil Naura.


Vino teringat dengan perkataan pria yang menelfon Naura, meskipun Naura tidak mengatakan 'iya' kepada pria itu, tetap saja Vino sangat takut kehilangan istrinya.


"Apapun kesalahan aku, atau keluarga aku. Aku mohon, kamu jangan tinggalin Aku, Ra."


Naura mengerjap pelan, mulutnya yang sedikit terbuka, seperti akan menyampaikan sesuatu, namun perempuan itu mengurungkannya.


Vino menatap sendu wajah Naura, dan kembali memeluk tubuh Naura.

__ADS_1


Naura mengangkat kepalanya, "kamu kenapa berbicara seperti itu?" tanya perempuan itu, sedikit curiga.


Vino menggeleng, mencoba berkilah, "aku melihat sikap kamu berubah, dan aku takut, kamu berpikiran untuk meninggalkan aku," ujar lelaki itu dengan tatapan penuh permohonan yang terpancar dari sorot matanya.


Vino menatap wajah Naura dengan sendu, "berjanjilah, kita akan selalu bersama, sayang," imbuh lelaki itu kemudian, yang membuat Naura tertegun.


Ada gelenyar aneh, saat Naura mendengar kata sayang dari Vino, hatinya seketika luluh.


Naura berjalan ke arah ranjang, mendudukan tubuhnya di situ. Tatapannya terlihat kosong, "aku memang sangat membenci orang yang sudah membuat Ayah hancur, aku juga sangat marah, saat mengetahui ternyata, selama ini aku jauh dengan ayah kandung aku, karena ulah Papa Andre. Tapi apa aku adil, saat Vino yang tidak tau apa-apa mendapatkan balasan dari kekejaman papanya," Naura terus bergumam dalam hatinya.


Vino yang melihat Naura melamun, langsung melangkah ke arahnya. Dengan perlahan, Vino yang berada di depan tubuh Naura, menyentuh pipi mulus istrinya, "aku percaya, kamu gak akan setega itu, memisahkan aku dan anak kita."


Deg, ,


Tanpa sadar, butiran bening menetes dari mata perempuan itu. Bagaimana mungkin, dirinya sempat berpikiran, untuk meninggalkan Vino.


Naura tidak mau, anak di perutnya bernasib sama, dengan dirinya.


Vino mengusap air mata yang membasahi pipi Naura,


hatinya terluka, saat melihat wajah sedih istrinya, "kamu kenapa nangis?" tanya lelaki itu dengan lirih.


Naura menggelengkan kepala, menatap sendu wajah suaminya, tangannya dia angkat, menyentuh pipi Vino. Keduanya saling bertatapan, dengan detak jantung yang saling memburu.


Kedua tangan Vino memegang tengkuk istrinya, membuat perempuan itu langsung memejamkan matanya.


Saat wajah Vino mulai mendekat ke wajahny, bibir keduanya saling bertemu, dan mereka melakukannya.


-


-


-


-


-


**Hallo... masih pada semangat gak nih??


Kalau bikin cerita adegan gituan, dosa gak sih? SERIUS NANYA!😂😂


Jangan lupa ninggalin jejak ya gaes. Like, koment, sama Vote.

__ADS_1


Salam... Semangat**


__ADS_2