Tiba-tiba Hamil

Tiba-tiba Hamil
memar


__ADS_3

Nakisya begitu kesal, melihat kelakuan lelaki yang akan menjadi suaminya itu, "Bunda harus tau, dia lelaki tega, Bunda!" teriak gadis itu dengan kesal.


"Ngapain teriak-teriak?"


Nakisya tersentak, melirik ke arah lelaki yang baru datang dari belakang tubuhnya, "kok balik lagi?" tanya gadis itu yang kini memalingkan wajahnya.


Aldi mencubit gemas pipi gadis itu, "udah ayo naik," ujar lelaki itu dengan menarik sebelah tangan Nakisya.


Nakisya mengembungkan pipinya, "bukan aku loh yang mau," ucap gadis itu dengan tubuh yang sudah duduk di jok belakang.


Aldi terkekeh, "iya, ini aku yang ngajak kamu, sayang," ucap lelaki itu yang berhasil membuat pipi Nakisya menjadi merah bak kepiting rebus.


"Ih ngeselin!" gerutu gadis itu dengan memalingkan wajahnya.


Namun diam-diam gadis itu mengulum bibirnya, "kok aku deg-degan ya di panggil seperti itu," gumam Nakisya dalam hati.


Aldi menarik tangan gadis itu, melingkarkannya di perutnya, "aku gak bawa helm 2, jadi kamu harus pegangan ya, berabe kalau jatuh."


Nakisya yang hendak menarik tangannya kembali, mengurungkan niatnya, saat Aldi dengan cepat menjalankan motornya dengan kencang.


Gadis itu hanya pasrah, dengan posisi tubuh yang hampir menempel di punggung lelaki itu, aroma dari parfum yang di pakai lelaki itu, menguar ke hidung Nakisya, aroma segar, namun kalem, membuat gadis itu nyaman saat menghirupnya.


Tiba-tiba, Aldi menghentikan motornya secara mendadak, membuat kening gadis itu terbentur pada helm yang di kenakan oleh Aldi.


"Aww, Bang Al sengaja ya!" tuduh gadis itu yang kini mengusap keningnya.

__ADS_1


Aldi memutar tubuhnya, "maaf, aku beneran gak sengaja, tadi ada kucing nyebrang," ujar lelaki itu yang langsung memeriksa kening Nakisya.


"Kening kamu memar, ini harus segera di obatin." Aldi meniup-niup kening gadis itu, "aku beneran minta maaf ya," imbuhnya kemudian, terlihat sorot mata bersalah dari lelaki itu.


Diam-diam Nakisya tersenyum, melihat raut wajah panik dari lelaki itu, membuat dirinya jadi terenyuh, "udah gak papa, nanti juga hilang kok, cuma merah, gak berdarah."


Aldi mengusap pelan ujung kening gadis itu, "kamu tunggu disini sebentar ya," setelah mengatakan itu, Aldi langsung berlari menuju sebuah warung yang tidak jauh dari situ.


"Habis ngapain," tanya gadis itu saat melihat Aldi yang kembali dengan keresek kecil di tangannya.


Aldi mengeluarkan isi dari kresek itu, "ini buat ngompres kening kamu, biar cepat hilang memar nya."


Dengan telaten, lelaki itu mengompres kening Nakisya, dengan es batu yang di bungkus handuk kecil.


Nakisya terus memperhatikan lelaki itu, merasa tidak kuasa dengan detak jantung yang semakin berdetak tidak karuan, gadis itu menyuruh Aldi untuk menghentikan tindakannya.


Merasa aneh dengan tingkah gadis itu, Aldi mengerutkan keningnya, lelaki itu kembali menjalankan motornya.


Setelah kejadian tadi, keduanya hanya diam, Aldi yang terus pokus melihat jalanan, sedangkan Nakisya, gadis itu merasakan detak jantungnya yang semakin memburu dengan cepat.


"Sya?" panggil lelaki itu yang membuat sang empunya nama mendongak.


"Apa?"


"Kamu kan baru lulus sekolah ya?" tanya lelaki itu yang berhasil membuat Nakisya tampak penasaran dengan kalimat yang akan terlontar dari mulut lelaki itu.

__ADS_1


Aldi berdehem, "coba aku test, kamu tau gak berapa kedalaman samudra pasifik?" lanjut lelaki itu dengan nada yang terdengar serius.


Nakisya mulai berfikir, "aku lupa, Bang Al emang tau?"


"Aku sih gak tau pasti, cuman aku yakin, enggak lebih dalam dari perasaan aku ke kamu."


"Hahahaha."


Keduanya terus tertawa dengan saling melempar gombalan satu sama lain, sampai tak terasa motor yang di tumpangi keduanya sudah sampai di depan pintu rumah Nakisya.


"Bang Al, makasih ya, udah ngehibur aku dan buat aku lupa sama tuh cowok brengs*k," ujar gadis itu yang sudah turun dari jok motor Aldi.


Aldi tersenyum, mengangguk sebagai balasan ucapan Nakisya.


"Tapi jangan seneng dulu, bukan berarti aku udah nerima perjodohan kita gitu aja ya," imbuh gadis itu kemudian.


Senyum lelaki itu memudar, Aldi menatap datar gadis itu, tangannya langsung menepuk pelan puncak kepala Nakisya, "iya gapapa, aku sabar nunggu kok. Udah sonoh masuk, jangan lupa belajar!"


Nakisya mengerutkan keningnya, "belajar apa? kan udah lulus."


"Belajar untuk nerima kenyataan, kalau kita itu jodoh."


**Ahh Bang Al, sa ae luπŸ˜‚πŸ˜‚


Seperti biasa ya, aku minta dukungannya, masih ingat kan apa aja? (oke gak usah di jawab, langsung gerakin aja jempolnya)πŸ™πŸ™πŸ˜‚ πŸ˜‚

__ADS_1


Hatur Nuhun


Wilujeng wayah kie ka sadayanaπŸ€—πŸ€—**


__ADS_2